
Happy Reading 😉
🍃🍃🍃
Celia merasakan hangatnya pelukan Khai, dapat ia cium wangi maskulin yang ia rindukan beberapa hari ini, rasanya nyaman sekali. Begitu pula yang dirasakan oleh Khai, pemuda berkulit sawo matang itu menghirup dalam-dalam aroma wangi vanila khas wangi rambut Celia, baru wangi rambutnya saja sudah bikin Khai mabuk kepayang, apalagi wangi yang lainnya.
Beberapa saat terbuai dengan dekapan hangat kekasih hati yang membuat Celia lupa dunia, akhirnya ia kembali tersadar, Celia mengurai pelukannya, memundurkan tubuhnya selangkah menjauh dari Khai, lalu dengan gemas Celia menyarangkan pukulan-pukulan di dada bidang milik prianya itu.
"Iiiih Khai jahat, ngagetin, untung Celia gak punya penyakit jantung, kenapa gak ngabarin kalau udah disini, tadi Celia pikir kamu belum dateng," cerocos si gadis berparas ayu khas wanita desa itu tak mau berhenti, seperti ayam yang mau bertelur.
Khai tersenyum menanggapi aksi kesal kekasihnya, pukulan-pukulan yang Celia layangkan tak ada artinya untuk seorang Khai, otot-otot dadanya yang liat justru merasa seperti sedang di massage, hasil dari latihan penyegaran yang rutin dilakukan.
"Biar surprise sayang," ucap Khai, ia menangkap tangan Celia yang masih terus melayangkan bogemannya, menautkan jemari mereka.
"Aku kangen, jangan marah-marah terus." Khai mencubit dengan gemas pipi chubby Celia dengan tangan kirinya yang bebas.
Celia kembang kempis mendapat gombalan receh dari Khai, pipinya yang putih nan halus bersemu merah. Setiap pemuda satu ini jantungnya tak pernah bisa ia kontrol, maunya jedag-jedug ajeb-ajeban, saingan sama bedug buka puasa. Celia menundukkan kepalanya malu-malu kucing, malu-malu tapi mau, mau digombalin lagi sama babang tampan di depannya ini.
"Yuk pulang, bukannya nanti kamu harus masuk kerja, setidaknya biar bisa istirahat dulu barang sebentar," Khai mengusap dengan lembut kepala Celia, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu karena diterbangkan oleh angin.
__ADS_1
"Aku cariin taksi ya, nanti aku ikutin dari belakang," imbuh Khai.
"Loh kok pakai taksi?"
"Terus kamu mau boncengan naik si bray? Kasian kamunya sayang, capek habis perjalanan jauh, belum lagi dengan barang bawaan kamu, lebih baik naik taksi, lebih aman dan nyaman sayang," jelas Khai, matanya mengedar, menyapu sekeliling area pul bus mencari taksi untuk Celia.
Celia hanya mengangguk, menuruti apa yang Khai katakan meski sebenarnya ia rindu dan ingin dibonceng dengan motor saja, tapi Khai benar, barang bawaan Celia akan menyulitkan dirinya sendiri.
Setelah mendapatkan taksi, Khai memvantu memasukkan barang-barang Crlia kedalam bagasi. Setelah itu ia bicara pada sopir taksi itu untuk mengantar Celia ke alamat budhenya. Khai mengikuti taksi yang ditumpangi oleh kekasihnya itu dari belakang. Ia tak akan membiarkan Celia dalah bahaya.
Celia duduk gelisah, sesekali ia menoleh kebelakang demi bisa melihat apakah Khai masih mengawalnya. Hati gadis bermata bulat itu menghangat melihat Khai masih setia dibelakang taksi, celia merasa begitu dicintai dan diperhatikan oleh Khai. Hingga tidak terasa perjalanan dari pul bus sampai kerumah budhe Rani begitu singkat. Celia turun dari taksi persis di depan rumah budhenya, Khai memarkirkan kuda besinya untuk membantu Celia mengeluarkan barang-barang nya dari dalam bagasi.
"terima kasih mas, kalau bwgitu saya permisi," pak sopir dan taksinya pun segera melaju pergi meninggalkan mereka.
Khai tersenyum melihat gadis pujaan hatinya menggeret koper dan memasukkannya ke teras rumah, tak tinggal diam Khai segera membantunya. Tangan kokoh Khai dengan entengnya mengangkat kardus oleh-oleh yang notabene lumayan berat karena diisi uli kesukaan budhe Rani.
"Sayang, aku langsung pulang ya, kamu istirahat dulu, masih ada waktu buat istirahat sebentar," Khai berpamitan, ia tak mungkin terlalu lama berada disana mengingat waktu baru menunjukkan pukul 2.30 pagi waktu setempat, bisa-bisa ia dan Celia dikeroyok warga, kalau dinikahin mah enak-enak aja, tapi kalau diarak keliling komplek kan auto malu-maluin, malunya tujuh turunan tujuh tanjakan gak kelar-kelar.
"Iya Khai, makasi ya sayangnya aku, udah di jemput terus dianterin sampe rumah."
__ADS_1
"Anything for you my little fairy."
"Alah bisa ae buntelan kemenyan," Celia tertawa, bersiap kabur masuk kedalam pagar, namun Khai lebih dulu mencekal tangan gadis itu.
"Apa tadi? Buntelan apa?" ulang Khai.
"Apa? Enggak kok, buntelan cinta ... iya buntelan cinta," Celia semakin ingin tertawa melihat wajah kecut Khai.
"Nih, kalau aku buntelan kemenyan berarti kamu kemenyannya ya, kan sepaket," Khai mengacak rambut Celia gemas. Mereka tertawa bersama, Celia seakan lupa akan masalah besarnya.
Setelah Khai pulang, Celia segera masuk kedalam rumah, ia punya kunci cadangan jadi tak perlu membangunkan budhe dan pakdhenya.
Celia langsung masuk ke dalam kamarnya yang beberapa hari ini ia tinggalkan, tak ada debu, budhe Rani pasti membersihkannya. Gafis bermata bulat itu merebahkan tubuhnya yang pegal-pegal karena kelamaan duduk di bus.
Celia menghela nafas, untung saja tadi saat diantar oleh Khai budhe juga pakdhenya tidak ada yang bangun. Nanti sebentar lagi Celia harus menghadapi budhe pakdhenya, juga mbak Devi, lebih baik ia hemat tenaganya untuk kembali bermelow-melow ria. Celia memejamkan mata nya, nencoba untuk tidur sebentar, namun nihil, ia tak bisa tidur bermacam pikiran berseliweran di dalam otaknya, tentang bagaimana ia akan menghadapi budhe pakdhenya nanti, tentang Khai yang belum tahu soal rumitnya hubungan mereka, bagaimana cara untuk menyampaikannya pada Khai, Celia tak ingin melihat Khai sedih. Tak bisa ia bayangkan bagaimana reaksi Khai nanti. Celia memeluk gulingnya, jemari lentiknya membuat ukiran-ukiran abstrak.
Sudah tiga puluh menit berlalu, Celia tak kunjung bisa tidur, ia beranjak bangun untuk mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk menghubungi Khai, menanyakan apakah dia sudah sampai dirumah, juga sekalian memberi kabar pada orangtuanya jika ia sudah sampai di rumah budhe Rani.
Celia belum lega jika Khai belum membalas pesannya, pasalnya ia tahu persis bagaimana bahayanya jalanan di jam-jam rawan seperti saat ini. Jaman lagi susah, hidup lagi pada capek-capeknya, cari kerjaan susah, harga bahan pokok makin meroket naik, hingga tak sedikit yang memilih jalan ninjanya di lembah hitam. Ada jambret, begal, juga geng motor yang selalu membuat para pengendara terutama sepeda motor menjadi ketar-ketir, mereka tak segan menghilangkan nyawa orang, entah sudah berapa banyak korban, tak pandang bulu, mau itu lelaki atau perempuan, tua atau muda. Selalu ada patroli dari pihak berwajib, namun pun selalu ada celah untuk mereka bisa berbuat kejahatan, seakan tak ada kata jera.
__ADS_1