Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 44


__ADS_3

Hello guys ... 😊 Your vote, like and coment is author's support system 😊 Big hug and thanks for always being there 😘


Happy Reading 😉


🍃🍃🍃


Pak Sujadi merogoh ponselnya yang ia simpan di dalam saku celana. Sejak dari datang tadi ia langsung fokus pada pekerjaannya, meski dengan sesekali wajah putri cantiknya yang sedang menangis mengusik konsentrasinya.


Saking banyaknya hal yang dipikirkan, pak Sujadi sampai terlupa untuk mengisi daya pada ponselnya.


Laki-laki yang sudah banyak asam garam dalam lika-liku kehidupannya itu mendudukkan dirinya di kursi, tangan kokohnya memutar anak kunci lalu menarik laci yang terdapat dibawah meja kerja, tempat ia menyimpan barang-barang pribadinya juga ada beberala peralatan kerja. Netra coklatnya yang cekung termakan usia memindai mencari-cari sesuatu, setelah menemukan apa yang dicari ia segera mengambilnya, tak butuh waktu lama, daya ponselnya mulai terisi begitu ia menyambungkannya pada stopkontak.


Pak Sujadi menyandarkan tubuhnya di kursi, sudah lebih dari setengah abad dia hidup dunia ini, tapi baru kali ini ia merasa begitu rumit.


"Huufftt ...," hanya terdengar helaan nafas berat, seberat beban yang ia pikul sebagai seorang ayah yang memiliki seorang putri, ia harus memastikan jika putrinya mendapatkan jodoh yang baik, yang bertanggung jawab dunia akhirat. Bukan perihal mudah baginya untuk memilih calon suami bagi sang putri tercinta, karena kelak suaminya lah yang akan menggantikan perannya untuk senantiasa menjaga dan melindungi putrinya, dan apa yang terjadi, putri yang ia selalu banggakan, memilih calon yang dia rasa tak akan bisa membahagiakan putrinya. Pak Sujadi merasa lebih tua tentulah lebih berpengalaman tentang permainan di dunia, cinta buta hanya ada di awal saja, toh pada akhirnya cinta tak akan bisa membuat perut menjadi kenyang, dan ia tak ingin Celia merasakan hal seperti itu, sampai di detik ini, pendirian pria paruh baya yang sebagian rambutnya sudah dikudeta oleh uban itu masih kokoh, tidak menyetujui hubungan Celia dengan Khai, meski belum sekalipun ia belum bertemu dengan Khai, itu tak mempengaruhi keputusannya. Kata-kata putrinya tempo hari masih bercokol dihatinya.


Pak Sujadi melirik kearah ponselnya yang baru terisi daya seperempatnya, tak sabar ia pun menghidupkan ponselnya, seperti ada yang tidak beres, tapi entah apa, hanya naluri yang mendorongnya.

__ADS_1


Begitu ponselnya sudah menyala kembali, muncul notifikasi panggilan tak terjawab dari putra bungsunya, juga ada pesan yang segera ia buka.


Jantungnya seperti berhenti saat itu juga, tanpa banyak basa-basi, pak Sujadi segera melesat, ijin pulang karena ada yang mendesak. Di sepanjang jalan menuju rumah, pikiran lelaki paruh baya itu dipenuhi dengan pikiran yang macam-macam tentang putrinya. Ia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa tidak mengisi daya ponselnya hingga ia tidak bisa dihubungi, membuatnya tidak tahu jika putri yang sangat ia sayangi sedang tidak baik-baik saja, pingsan tak berdaya. Bahkan ia sampai tak mencoba untuk menghubungi balik putra atau istrinya untuk mendapat perkembangan kondisi Celia.


Sampai di depan rumahnya, pak Sujadi langsung berlari masuk kedalam rumah, disana ada Wingit yang sedang duduk di kursi ruang tamu, "lee, mbakmu pie (lee, mbakmu gimana)," tanya pak Sujadi, netranya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.


"Mbak Celia wonten ten kamare pak, sakniki nembe tilem, Alhamdulillah sampun sae (Mbak Celia ada di kamarnya pak, sekarang sedang tidur, Alhamdulillah sudah baikan)." Wingit menatap ayahnya sedih, baru kemarin mereka tertawa bersama, bahagia karena kakaknya pulang, tapi dengan begitu cepat tawa itu harus berubah menjadi air mata.


Melangkah melewati Wingit, langkah lebar pak Suijadi membawanya pada putri cantik yang sedangnya lelap tetidur di atas ranjang. Pak Sujadi dengan duduk disamping putrinya, ditatapnya wajah teduh Celia, masih tetap cantik menuruni kecantikan ibunya, meski tak bisa dipungkiri pak sujadi melihat gurit-gurit kesedihan yang masih jelas tercetak di wajah ayu Celia, dengan pelan ia mengelus ramput Celia, penuh kasih dan sayang. Pak Sujadi sangat sedih melihat keadaan Celia, seumur hidupnya, baru pertama kali ini Celia sakit sampai pingsan, biasanya yang ia lihat adalah senyum ceria sang putri, sekarang yang terlihat hanya Celia yang lemah, penuh kesedihan.


Pak Sujadi mendapati sang istri tengah duduk ditepi ranjang, ia diam saja, tak menyadari keberadaan suaminya. Perlahan pak Sujadi mendekat, ia duduk disamping bu Sujadi, membuat wanita paruh baya yang merupakan belahan jiwanya selama lebih dari seperempat abad, dan akan selalu menjadi belahan jiwanya sampai kapan pun.


"Bu ...," pak Sujadi memegang pundak sang istri, mengusapnya pelan, tak ada respon dari sang istri, bu Sujadi diam, ia menutup rapat mulutnya.


"Huffttt ...," meloloskan nafas, pak Sujadi masih mencoba bersabar menghadapi istrinya, ditatapnya manik coklat sang istri yang hanya fokus memandang kedepan, tanpa mau menoleh padanya, mencoba menyelami apa yang sedang istrinya pikirkan.


"Bu, Celia sudah dipanggilkan bidan atau dokter?" bu Sujadi hanya menggeleng menjawab pertanyaan dari suaminya.

__ADS_1


"Bapak mengerti bu, bapak mengerti arti diamnya ibu, ketahuilah bu, keputusan yang bapak ambil memang mendadak, bapak juga sedang buntu saat itu, pikiran bapak kalut, tapi meskipun begitu, bapak tidak asal dalam mengambil keputusan, bapak sudah lama mengenal teman bapak itu juga anak-anak dan keluarganya, mereka orang baik, berasal dari keluarga baik-baik, sudah jelas bibit bebet dan bobotnya. Bapak minta maaf sama Ibu, tidak melibatkan ibu dalam mengambil keputusan," terlihat jelas jelas penyesalan di mata pak Sujadi.


Lama hening, hingga lirih terdengar isakan sang istri, mata indah milik istrinya yang sudah lebih dari 25 tahun ia tatap setiap hari sudah nampak sembab, menandakan ia yang sudah lama menangis. Sudah berpuluh tahun menikah, baru kali ini sang istri menangis menyimpan luka, hati pak Sujadi pun perih melihatnya.


"Ibuk takut Celia kenapa-kenapa pak," bu Sujadi menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah.


"Iya bu, bapak mengerti."


"Pak, tolong ubah keputusan bapak."


Pak Sujadi meraih tangan sang istri, menggenggamnya penuh rasa cinta, tak seperti semalam atau pagi tadi yang masih diselimuti emosi dan ego yang pada akhirnya juga menyakiti sang istri.


"Bapak akan coba memikirnya kembali bu, biarkan bapak berpikir sejenak untuk bisa kembali mengambil keputusan."


Bu Sujadi mengangguk, meng_iyakan suaminya.


Tak tahan melihat istrinya yang sesenggukan, pak sujadi menarik sang istri kedalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2