Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 8 : Saya Bukan Ibu - Ibu


__ADS_3

Hoooaaammm ... Mmpphh ... Celia menggeliat dalam balutan selimutnya, seperti seekor ulat, tapi sayang bukan ulat sutera, coba kalo ada ulat sutera segede Celia, yang nemu auto kaya. Tangannya keluar menggapai meja disebelah tempat tidur, meraba-raba mencari handphone yang dari tadi sudah berdering alarmnya.


"Udah jam empat aja sih, perasaan baru merem bentar, baru juga kenalan sama mas Siwon, belum sempet nanya alamat sama nomor hp nya." Ia berdecak, matanya ingin kembali terpejam.


"Huaaa...masih ngantuk, badan pada ngrenteg, kenapa sih harus ada macet, kan jadinya harus berangkat pagi-pagi buta, matahari aja masih tidur, Celia udah harus berangkat kerja." Bukannya bangun Celia malah menggerutu. Kebiasaan ngedumel di pagi hari yang tidak baik, karena dapat menyebabkan susah move on, hilang konsentrasi, dan tekanan batin, apalagi jika di tambah dengan kantong yang sedang kering, maka akan terjadi komplikasi suasana hati seharian. Untuk itulah terbitkan senyuman indahmu ketika bangun tidur dan jangan lupa selalu bersyukur.


Meskipun bantal, guling, dan kasur masih melambai-lambai minta ditiduri, tapi Celia tetap harus beranjak untuk segera pergi mandi, namun ternyata sudah ada orang di dalam kamar mandi, mungkin pakdhe atau budhenya. Ada juga mbak Roro yang sedang antre, menunggu sambil duduk di depan kamarnya.


"Gimana ... gimana ... pengalaman pertama kerja seru gak?" Mbak Roro memulai percakapan mereka.


"Yah, lumayan seru sih mbak, Celia musti banyak belajar, orang-orang disana pada baik-baik, nggak semenakutkan seperti yang Celia pikir sebelumnya."


"Huuuft...! Tapi Celia nggak tahan sama macet pas pulangnya, apa semua orang turun ke jalanan kali ya mbak, macet nggak kira-kira." Celia bercerita sambil memilin-milin handuk yang tersampir di bahunya.


Mbak Roro tertawa menanggapi cerita berujung keluhan dari Celia.


"Sabar ya Cel, ini ujian, hahaha, ntar lama-lama kamu juga terbiasa kok."


"Hayo, siapa mau duluan mandinya, nanti pada kesiangan." Budhe yang keluar dari kamar mandi menghentikan percakapan mereka berdua. Celia mempersilakan mbak Roro untuk mandi terlebih dahulu.


Perjalanan berangkat ke kantor hari kedua, lancar tanpa hambatan yang berarti, kegiatan di kantor juga masih sama saja, training dengan mas Hari, seharian ngubek-ngubek persuratan, entry data, pertakahan, juga disposisi. Lumayan bikin kepala ngebul karena takah-takah yang datang silih berganti minta untuk segera di proses. Ternyata bekerja di instansi pemerintah apalagi dilingkup para Pimpinan Eselon I tidaklah mudah, harus teliti, harus bisa memilah mana yang sifatnya biasa, mana yang sifatnya segera, salah sedikit akibatnya bisa fatal.


Hari harus bolak balik dari mejanya ke meja Celia, ia dibuat sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai sekretaris Deputi, yang juga harus memantau dan mengajari Celia. Untunglah Celia termasuk orang yang mudah menangkap informasi yang ia terima, jadi Hari tidak mengalami kesulitan saat mengajarinya. Hari yakin dalam waktu cepat Celia akan bisa dilepas, dengan cepat Celia akan benar-benar bisa memahami jobdes nya, nggak sia-sia lah otak Celia ngebul sampe nggak sempet isi amunisi saat istirahat tadi.


"Mas Hari, makasi ya udah ajarin Celia, maaf lho kalau Celia kadang lemot nangkepnya."Celia mendatangi Hari di kubikelnya yang berjarak kurang dari sepuluh meter dari kubikelnya, karena meja kubikel Hari sudah berpindah ke depan dekat dengan ruangan Kasubbag dan ruangan Kepala.


"Iya sama-sama Cel, santai aja, lagian kamu termasuk cepet kok diajarinnya." Hari memasukkan barang-barangnya kedalam tas, ia bersiap pulang.


"Celia, saya pulang duluan ya, kamu bareng pak Rano kan?"


"Iya mas Hari, nanti Celia bareng pakdhe pulangnya, hati-hati mas"


"Siippp!"


Tik...tok...tik...tok... waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, pakdhe menghubungi security di bawah juga driver untuk bersiap pak Kepala akan segera turun, lalu pakdhe standby untuk mengawal beliau turun sampai ke lobby. Semua pekerjaan Celia sudah selesai, tinggal menunggu pak Kepala pulang dan ia juga bisa segera pulang.


Seperti hari sebelumnya, hari ini Celia tiba dirumah juga hampir di jam yang sama. Setelah mandi, dan makan malam, ia memutuskan untuk langsung pergi ke kamarnya dan beristirahat.


Keesokan paginya, Khai tengah bersiap untuk segera berangkat ke tempat kerjanya. Khai benar-benar berangkat lebih awal dari pakdhe Rano, bahkan ia sengaja menolak dengan halus permintaan Nita untuk menjemputnya.


Sampai di kantor, khai segera memarkirkan Bray si kuda besinya lalu bersiap memasang semua atributnya di ruang ganti.


"Lho Khai, ngapain lo jam segini udah dateng?! Pagi amat, kesambet lo? Temannya dari regu lain yang masuk malam terheran-heran, pasalnya baru pertama itu Khai datang sepagi ini.


"Kagak bang, emang lagi pengen berangkat pagi aja, lagi ogah macet-macetan saya bang." The best lah alibimu Khai, tinggal bilang aja mau stalkerin anak gadis orang susah amat. Belum pukul enam, Khai sudah duduk ganteng sambil ngopi-ngopi mase di pos timur dimana disana adalah pintu masuk area kantor, masih bersantuy-santuy ria wong jam kerjanya belum mulai. Sengaja Khai memilih duduk di luar pos jaga, agar nantinya ia bisa lebih jelas mengintai targetnya.


Tak berapa lama kemudian pucuk dicinta ulam pun tiba, pakdhe Rano dengan kuda besi berplat merahnya perlahan memasuki pintu masuk, dan benar saja dibelakangnya duduk manis gadis cantik yang hampir tiga hari membuat Khai penasaran. Khai terus memandangi wajah ayu Celia meski hanya sekejap saja, lumayan vitamin kan.


"Hey ... bengong aja lo, liatin apaan Khai?" tepukan dipundak oleh temannya mengagetkan Khai.


"Bengong apaan bang, enggak bang, ini nunggu kopi biar dingin." Ngeles lagi kan anak orang.

__ADS_1


"Halah, alibi lo basi Khai, gini-gini pengalaman ane udah lebih banyak daripada ente Khai, ente liatin tadi cewek yang dibonceng pak Rano kan?"


"Enggaaak...nggak salah lagi bang." Jujur aja lah udah kepalang tanggung pikir Khai.


"Lagu lo Khai, jadi ini alesan lo berangkat pagi, yaelah Khai."


"Emangnya dia siapa bang?" Khai semakin penasaran.


"Namanya Celia, anak baru di lantai empat, ponakannya pak Rano, lo naksir doi Khai?"


"Nanya doang bang, biar nggak penasaran, hahaha ... lagian bang mana mau dia sama satpam."


Khai merasa sedikit tidak percaya diri mengetahui siapa Celia.


"Belum juga usaha udah pesimis aja, saya dukung 1000% deh, ntar nih ya, kalau waktunya patroli, lo minta aja patroli di latai empat biar bisa ketemu doi, bisa lah di atur ama Danru lo." Rekannya memberi semangat dan sedikit jalan terang seterang lampu petromak.


"Iya bang, makasi bang dukungannya, lumayan lah ada yang ngasi semangat sama ide cemerlang." Khai kembali menyeruput kopi hitamnya. Selanjutnya, Khai benar-benar melakukan seperti yang disarankan oleh temannya itu, setiap mendapat tugas patroli maka ia akan meminta ditugaskan di lantai empat, bahkan saat jaga malam pun ia akan tetap memilih patroli di lantai empat, memandangi meja kosong Celia sudah membuat Khai senang.


Lalu bagaimana dengan Nita? Khai sudah lama tidak berhubungan dengan Nita, terakhir saat Khai datang dan menjelaskan bahwa pendekatan mereka sepertinya tidak bisa diteruskan, hati tidak bisa dipaksa bukan?! Nita merasa marah dan tidak terima, tapi ia pun tidak bisa berbuat apa-apa, namun ia berjanji pada dirinya sendiri, suatu saat nanti ia akan kembali berusaha untuk mendapatkan hati Khai.


Sudah satu bulan lamanya Celia bekerja di kantor itu, berstatus sebagai pegawai kontrak tenaga teknis strategis yang bertugas di bawah divisi Tata Usaha Persuratan, Sub Bagian Tata Usaha Pimpinan dan Protokol. Waktu satu bulan ini benar-benar dimanfaatkan oleh Celia untuk belajar memahami pekerjaannya, hingga kini ia sudah benar-benar sudah bisa menguasainya.


Instansi pemerintahan tempat Celia bekerja akan mengadakan event penting dengan salah satu BUMN yang mana Bapak Presiden digadang-gadang akan turut hadir memberikan sambutan serta arahan pada acara tersebut, acara akan diadakan di Kota Kembang. So, hari ini penghuni lantai empat benar-benar disibukkan dengan surat-surat undangan yang harus dikirimkan kepada para pimpinan instansi pemerintahan yang lain baik Kementerian maupun non Kementerian, juga beberapa BUMN yang bersangkutan, jumlahnya ada ratusan, jika hanya sekedar mengirim mungkin mudah saja tinggal kirim via email, ataupun faximile, tetapi selain mengirimkan surat undangan, mereka juga harus mengkonfirmasi kehadiran tiap-tiap tamu undangan tersebut. Mereka tidak punya banyak waktu karena esok hari adalah tanggal merah, jadi semua instansi pemerintahan pasti libur, tentu ini akan semakin menyulitkan mereka untuk melakukan konfirmasi kehadiran, sementara event acaranya adalah lusa, fix! sudah sangat mepet. Mereka harus bekerja keras bagai kuda.


Hingga pukul delapan malam mereka belum selesai juga, akhirnya diputuskan Celia dan satu temannya dari Sub Bagian lain akan lembur esok hari, mereka akan tetap masuk kantor dan melanjutkan mengirimkan sisa undangan yang belum terkirim.


Esoknya, pakdhe Rano tidak bisa mengantar Celia ke kantor karena siangnya beliau harus berangkat ke Kota Kembang bersama beberapa pegawai dari Sub Bagian Tata Usaha Pimpinan. Celia pada akhirnya memilih untuk naik bus, sebelum berangkat pakdhenya sudah memberitahu bus mana yang harus ia naiki.


"Pagi pak, maaf hari ini saya harus lembur, bisa minta tolong untuk dibukakan pintu ruangan lantai empat?" Celia bicara pada security itu.


Si security melihat Celia sekejap lalu ia berteriak pada rekannya yang berjaga di dalam pos, "Khai, coba kesini sebentar! Tunggu sebentar ya mbak."


"Iya pak, nggak apa-apa, maaf ini saya ngerepotin." Celia merasa sedikit sungkan.


"Ini sudah tugas kami mbak."


"Siap ndan." Tiba-tiba Khai datang.


"Mas Khai, tolong antar mbak ini ke lantai empat ya, anak buah bu Fina, mau lembur."


"Siap ndan, laksanakan, mari saya antar." Khai berjalan di depan Celia, lalu dia berbelok dulu kearah meja resepsionis untuk mengambil kunci.


"Silakan ibu masuk lebih dulu." Khai mempersilakan Celia untuk masuk ke dalam lift.


What??!? Apaan tadi, aku dipanggil ibu? ini kuping aku nggak lagi c*ngean kan..? Apa emang muka Celia udah kaya ibu-ibu? Celia bermonolog dalam hatinya.


"Iya, mas makasi." Celia menjawab dengan senyum dipaksa.


"Ehmm, lembur sendirian bu?" Khai mencoba bertanya untuk mencairkan suasana canggung di dalam lift.


Eh ... eh ... ini Celia dipanggil ibu lagi, wah ... wah ... kebangetan ini si mas nya, tidak bisa dibiarkan, harus segera diluruskan, Celia nggak mau ah dipanggil ibu, Celia kan masih gadis.

__ADS_1


"ibu ... ibu ... emangnya muka saya udah kaya ibu-ibu ya mas?" Bukannya menjawab Celia malah protes, wanita itu makhluk sensitif dude.


Khai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "tidak sih bu, saya takut tidak sopan jika memanggil mbak."


"Yaelah mas, santai aja lagi, panggil nama aja, Celia!."


Hufttt...kirain muka Celia udah beneran keliatan kaya ibu-ibu.


"Iya bu, maaf."


"Laaah, ibu lagi, Celia mas, cukup panggil Celia aja, saya belum punya anak, belum nikah, belum jadi ibu-ibu."


"Baik mbak Celia." Khai tersenyum kikuk.


"Ok, itu lebih baik." Celia tersenyum manis, membuat jantung Khai berdebar-debar seperti genderang mau perang.


Pintu lift terbuka, Celia keluar lebih dulu disusul Khai, lalu Khai membukakan pintu ruangan untuk Celia.


"Makasi ya mas udah anterin saya."


"Siap, sama-sama mbak Celia, apakah mbak Celia hanya sendirian saja."


"oh, enggak kok mas, nanti ada satu teman saya yang lembur juga."


"Baiklah kalau begitu bisa saya tinggal mbak?" Khai berharap Celia akan berkata ia takut disana sendirian, dan meminta Khai untuk menemaninya. Ngarep dot com.


"Iya, silakan mas, sekali lagi terima kasih."


Meski tak seperti harapannya, namun Khai turun dengan wajah sumringah karena ia akhirnya bisa bicara dengan Celia.


Begitu Khai turun, Celia langsung mulai bekerja mengirim kembali undangan-undangan yang belum terkirim, sembari menunggu temannya datang.


Pulangnya Celia diantar oleh temannya sampai di tempat pemberhentian bus, jadi Celia lebih mudah untuk mndapatkan busnya daripada harus menunggu di depan kantor.


Acara yang dihadiri oleh presiden esok harinya berjalan dengan lancar tanpa hambatan, Celia bersyukur untuk itu, meski perannya hanya di balik layar, setidaknya lelahnya terbayarkan dengan suksesnya acara tersebut.


Rutinitas dikantor khususnya di ruangan Celia kembali normal, pekerjaan juga hanya seputaran surat dan takah. Pakdhe Rano keluar dari ruangan bu Fina, lalu menghampiri Celia.


"Cel, pakdhe besok ada tugas mengawal pak Kepala ke luar kota, jadi jam empat sudah harus berangkat ke bandara, kamu bisa kan berangkat sendiri? Nanti pakai motor pakdhe aja kan kamu punya surat ijin, atau mau naik bus?"


"Ah, iya pakdhe, sepertinya lebih baik Celia naik motor pakdhe saja."


"Udah hafal jalannya kan?" pakdhe mencoba memastikan, takut Keponakannya nyasar, bisa ribet nanti urusannya.


"Sudah pakdhe, Celia sudah mencoba untuk menghafal jalan ke arah kantor setiap hari." Celia terlihat percaya diri sekali.


Apakah Celia bisa sampai di kantor tanpa nyasar naik sepeda motor pakdhenya guys?


Mari kita lihat besok 😊😋


- Takah: sistem kearsipan tata naskah dinas

__ADS_1


__ADS_2