Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 21 : Terbongkar 1


__ADS_3

Khai terdiam, matanya terpaku pada layar ponsel.


Seharian ini pikirannya kacau, ia tak tenang, dadanya bergemuruh. Rasanya sesak, rasanya ambyar, tapi sebisa mungkin ia tekan semua itu agar akal sehatnya tetap jalan. Salahnya yang datang disaat yang tidak tepat. Salahnya yang hadir diantara Celia dan Alim. Salahnya yang tidak bisa mengendalikan perasaannya. Salahnya yang bahkan hingga detik ini tetap bertahan untuk terus berjuang. Salahnya yang hingga detik ini ia tetap berharap, semua akan indah pada waktunya. Tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan suasana hati Khai saat ini selain cemburu. Terlalu lama menjomblo, sekalinya menjatuhkan hati kok ya sama pacar orang.


"Keruh amat muka lo mang kaya air kobokan, mikirin utang ya?" Angga, adik bungsu Khai meledek abangnya. Emang ya kalau adik itu kadang suka cari gara-gara.


Khai tak membalas candaan adiknya, lebih baik ia fokus pada *game online yang sedang ia mainkan untuk mengalihkan pikiran agar tak terus memikirkan Celia, lebih berfaedah bukan?!. Lebih baik menyalurkan semua energi negatif yang ada dalam hati dan pikirannya untuk membasmi semua musuh-musuh dalam area permainan, biar lebih greget war* nya.


Baru ketika ada notifikasi pesan masuk dari Celia, Khai berhenti bermain game.


Khai tersenyum membaca pesan dari Celia yang mengatakan bahwa ia sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Perubahan sikap Khai tak lepas dari penglihatan adiknya, heran dia melihat abangnya secepat itu tiba-tiba bisa berubah suasana hatinya, sebentar senewen sebentar cengar-cengir sendiri, sudah gilakah abangnya, Angga bergidik ngeri. "Dasar aneh! Buu ... ibu ... mamang udah gila buu, tadi ngelamun mukanya ditekuk, jelek deh, sekarang senyum-senyum sendiri." Angga mengadu pada ibunya, cuek saja, Khai tetap tak menggubris adiknya.


"Abang lo bukan gila, tapi lagi kegilaan sama perempuan." Tembak ibunya tepat pada sasaran.


"Kemarin aku liat mamang boncengin cewek bu." Wita, adik kedua Khai ikut menambah daftar aduan tentang Khai pada ibu mereka.


"Cewek mana Khai? Terus kuliah gimana, nggak diterusin?" Nada suara ibu sudah naik 1 oktaf.


"Khai usahain tetep lanjut bu kuliahnya, tapi Khai mau ambil cuti dulu bu, dananya belum ada yang buat bayar semesteran, maafin Khai ya bu." Ada kegetiran yang tersirat di wajah Khai, akankah impiannya untuk mengenyam pendidikan tinggi harus kembali pupus.


"Ibu sih nggak ngelarang kalau Khai mau deket sama perempuan, asal nggak ganggu kerjaan, jaman sekarang cari kerja susah Khai, lo udah ngalamin sendiri kan."


"Iya bu, Khai ngerti." Ibu adalah segalanya bagi Khai, wanita yang sudah melahirkannya ke dunia, yang merawat dan membesarkannya. Jika Ibunya mengatakan tidak, maka Khai tidak akan melakukannya. Cukup satu kali ia membuat ibunya menangis karena ulah nakal masa remajanya yang cukup membuat sang ibu kecewa, tak ingin lagi Khai mengulanginya.

__ADS_1


"Aku anter sampe rumah ya?"


"Nggak usah mas, nanti Celia sendiri aja, dari stasiun Celia naik angkot, mas anter sampe stasiun aja, Celia berani kok sendiri." Celia meyakinkan Alim agar tak usah di antar. Celia pikir akan lebih baik jika ia pulang sendiri, ia kasihan jika Alim harus mengantarnya pulang, bolak-balik naik angkot, bisa-bisa Alim sampai rumah sudah malam.


Kereta yang Celia tumpangi akhirnya sampai di Stasiun akhir tujuan mereka. Setelah berpamitan dengan Alim, Celia segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam stasiun, sedangkan Alim, Celia memintanya untuk langsung pulang, karena kereta tujuan stasiun P akan segera diberangkatkan, akan memakan waktu lama jika harus menunggu kereta selanjutnya.


# Udah sampai mana?


# Stasiun B, baru aja keluar, mau cari angkot.


# Aku udah di depan stasiun B, di dekat tukang cilok.


Demi apa ... Khai sudah menunggu Celia di depan stasiun. Celia berjalan cepat, sedikit berlari, benar saja, begitu keluar dari area stasiun ia dapat melihat Khai sedang menunggunya.


Wah, untung mas Alim langsung pulang, coba kalau tadi Celia di anter sampe depan sini, bisa gawat lah.


"Jemput peri kecil, bahaya naik angkot sendirian, takut kamu kenapa-kenapa." Khai memakaikan helm dikepala Celia. "Biar safety." Khai tersenyum, lalu mengancingkan tali helm dan menurunkan kacanya. "Biar cantiknya nggak dilihat orang."


"hahahaha ... ada-ada aja kamu." Celia menyemburkan tawanya lalu ia naik dan berpegangan di pundak Khai.


Bray si kuda besi segera melesat pergi meninggalkan stasiun.


Kedua tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih, niat hati hendak menyusul Celia, namun kenyataan pahit yang ia dapat. Dengan mata kepalanya sendiri Alim menyaksikan kekasihnya dibonceng oleh laki-laki lain, dan ia tahu betul siapa laki-laki itu. Apakah ini alasan Celia tak mau ia antar sampai rumah?! Alim masih diam terpaku ditempatnya, tak peduli hilir mudik orang-orang yang melewatinya. Matanya jauh menerawang, memandang sesuatu yang telah jauh menghilang. Bayangan senyum hangat Celia, tawa cerianya ketika si pria memakaikan helm dan mengancingkannya. Seseorang tak sengaja menyenggol bahunya, menyadarkan Alim, menariknya keluar dari situasi chaos di hati juga pikirannya. Ia berbalik, masuk lagi ke dalam stasiun. Kali ini logikanya tak dapat bekerja, meski dengan keras Alim berusaha melogikakan peristiwa yang baru saja disaksikannya. Kali pertama rasa mengalahkan logikanya, dan sayangnya bukan rasa bahagia, bukan rasa cinta, melainkan rasa sakit, rasa curiga, rasa cemburu. Pantaslah orang bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati.

__ADS_1


Tangannya bergetar mengetik sebuah pesan untuk Celia, berisikan pertanyaan tentang apa yang ia lihat. Alim kembali memasukkan ponselnya kedalam tas selempang kecilnya. Ia pulang dengan hati yang luka dan penuh tanya.


"Khai, kita langsung pulang ya, Celia capek, pengen rebahan, udah kangen sama kasur." Celia bicara sedikit memajukan wajahnya melawan angin agar Khai bisa mendengar suaranya.


"Kamu udah makan, kalau belum mampir makan dulu." Khai khawatir, takut jika Celia tak diberi makan oleh Alim.


"Celia udah makan kok tadi waktu mau pulang."


Ehm ... Khai berdeham mengusir rasa tak nyaman dihatinya. Celia paham akan hal itu, tapi ia memilih untuk pura-pura tak mendengar.


"Khai, berhenti disini." Celia meminta Khai berhenti di depan komplek.


"Khai, Celia turun disini aja ya, maaf Khai, tapi kan tadi pagi Celia pamitnya pergi sama mas Alim, kalau pulangnya Celia diantar sama kamu, apa kata budhe dan pakdhe nanti."


"Iya, aku ngerti kok, jangan cemas." Khai memberhentikan sepeda motornya tepat di depan gerbang komplek.


Celia bisa melihat kekecewaan dimata laki-laki itu, tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa, karena Celia sendiri juga masih dilanda bimbang dalam hatinya.


......................


Apa salahnya hingga ia harus ada diposisi ini? Khai terus berpikir. Segelas kopi hitam dan sebatang rokok mengepul, menemani hati yang galau. Terkadang diri ingin menyerah, tapi hati berkeras menolak, karena ia merasa Celia tak bahagia bersama Alim, jika Celia bahagia mengapa Celia mau jalan dengannya. Khai percaya Celia bukan perempuan gampangan, selama dia dekat dengan Celia, Khai dapat merasakan kelembutan hatinya. Celia juga perempuan yang tidak neko-neko, dia tidak pernah meminta yang macam-macam padanya, dia perempuan yang baik, juga berasal dari keluarga baik-baik. Celia tidak pernah mengambil kesempatan untuk mendapat keuntungan karena merasa dicintai 2 pria. Sejauh yang Khai lihat Celia bukan perempuan materialistis. Itulah alasan mengapa Khai tetap ingin bertahan dan memperjuangkan Cintanya pada Celia.


Sementara itu yang jadi biang huru-hara hati dua orang pria masih santuy nyemil remahan rengginang. Celia belum memeriksa ponselnya sejak pulang tadi. Sudah lelah, sampai rumah ia langsung mandi kilat terus lanjut leha-leha depan tv. Celia belum sadar, ada badai di depan mata.

__ADS_1


"Hahaha ... kotjack nggak pake baju dia ahahahah." Celia tertawa lepas, ia tengah asik nobar film Bollywood favoritnya bareng mas Fajar. Celia dan kakak sepupunya yang satu ini memang selalu kompak untuk urusan perbollywood_an. Aksi konyol Amir Khan membuat Celia tak kuat menahan sakit diperutnya, saking terlalu banyak ia tertawa.


Menurut buku besar "kata orang" terlalu banyak tertawa akan berujung air mata. Benarkah?


__ADS_2