Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 57


__ADS_3

Happy Reading 😉


🍃🍃🍃


Satu bulan telah berlalu setelah acara wisata atau family gathering yang merangkup perpisahan purna bakti karyawan/karyawati Bagian Tata Usaha Persuratan di Pulau Pramuka. Semua berjalan seperti biasanya. Begitu pula dengan Celia, kegiatannya hanya seputar kerja, pulang, dan sesekali mencuri waktu untuk pergi kelur dengan Khai.


Suatu hari, Celia mendengar budhe dan pakdhenya sedang bercakap, mereka berencana membuat kamar baru untuk calon baby sitter anak mbak Roro.


Jujur saja, Celia menjadi tidak enak hati, karena keberadaannya sehingga membuat budhenya harus membuat kamar baru, oleh karena itu Celia berpikir untuk segera pindah dari rumah budhe Rani, gadis cantik itu ingin indekost saja atau mengontrak rumah di daerah sekitar kantor agar lebih memudahkannya ketika berangkat dan pulang kerja. Sebenarnya Celia sudah lama ingin pergi dari rumah budhenya itu, hanya saja ia takut mengutarakan niatnya. Suasana rumah budhe Rani sudah tak senyaman dulu saat semua belum mengetahui hubungan Celia dengan Khai, kini Celia merasa seperti orang asing di rumah budhenya.


Tanpa pikir panjang lagi Celia segera menghubungi ibunya, ia terlebih dahulu meminta izin pada sang ibu, baru setelah itu ia akan mencari kost-kostan atau kontrakan dan pindah dari rumah budhenya. Celia berharap ibunya akan menyetujui permintaannya itu.


tut ... tut ... tut


panggilan pertama belum mendapat jawaban dari lawan bicaranya di seberang sana, barulah ketika Celia mencoba untuk yang kedua kalinya, panggilan teleponnya diangkat oleh ibunya.


"Hallo, Assalamualaikum ibu," Celia mengucapkan salam pada sang ibu.


"Wa'alaikumussalam nduk, maaf ya ibu tadi sedang di dapur."

__ADS_1


"Ndak apa bu," Celia tidak infin berbasa-basi, ia segera menyampaikan keinginannya pada sang ibu, "bu, Celia mau minta ijin," ucap Celua pelan.


"Ijin untuk apa nduk?" tanya bu Sujadi.


"Celia mau pindah dari rumah budhe Rani bu, rencananya Celia mau tinggal saja di kostan atau kontrakan yang dekat dengan kantor, kan sekarang pakdhe Rano sudah pensiun bu, Celia kejauhan kalau harus pulang pergi kantor sendiri, dan Lagi Celia dengar mbak Roro akan menyewa baby sitter untuk anaknya, budhe Rani jadi harus membuat kamar, Celia merasa tidak enak bu, lebih baik Celia ngekost saja ya bu?" Jelas Celia panjang lebar.


"Sudah kamu pikirkan masak-masak nduk?"


"Insyaallah sudah bu, Celia merasa hanya menjadi beban disini, Celia ingin mandiri, lagi pula teman-teman Celia banyak yang ngekost di sekitar kantor bu." Celia masih terus mencari alasan, merayu ibunya agar diperbolehkan tinggal di rumah kost.


"Baiklah nduk, ibu mengijinkan kamu, Ibu juga akan bilang sama bapakmu, tapi kamu harus hati-hati ya, bilang dengan baik-baik pada budhe sama pakdhemu. Nanti kalau ada waktu luang ibu sama bapak akan kesana untuk berkunjung."


"Iya nduk, wa'alaikumussalam."


Celia mengakhiri panggilan teleponnya, lalu ia ganti menghubungi Khai, mengatakan kepada pria bermanik tajam itu akan rencananya.


......................


Sepulang dari bekerja keesokan harinya, Celia minta pada Khai untuk diantar mencari kostan di sekitar kantor.

__ADS_1


"Sayang, kamu yakin mau ngekost?" tanya Khai pada Celia


"Insyaallah aku yakin, sekarang kan pakdhe Rano udah pensiun, dan lagi aku gak enak kalau terus menumpang dirumah budhe." Celia memeluk erat pinggang lelaki tampan didepannya yang tengah fokus mengendarai kuda besinya.


"Baiklah, tapi cari kostnya yang khusus perwmpuan aja ya," pinta Khai tak ingin di bantah. Tentu Khai tidak akan ikhlas jika Celia tinggal di kost-kostan yang bebas, campur antara pria dan wanita, Khai pasti tidak akan bisa tidur dengan tenang karena terus memikirkan kekasihnya cantiknya itu.


Celia tersenyum menanggapi ucapan Khai, "iya sayang, aku sendiri juga gak mau kok kalau kost di tempat yang bebas begitu, bisa digantung sama orangtuaku kalau mereka tahu, kalau aku ngekost nanti cepat atau lambat pasti mereka akan berkunjung, mereka pasti ingin tahu bagaimana keadaan trmpat tinggal anaknya."


"Sayang, sebenernya aku lebih tenang kalau kamu tinggal di rumah pak Rano, disana ada budhe dan pakdhe kamu yang akan selalu jagain kamu, kamu pasti akan lebih aman kalau tinggal disana bukan?"


"Khai, sudah pernah membahas ini bukan? Aku gak mungkin terus tinggal dirumah mereka, selain karena jauh sekali dari kantor, aku pun mulai tidak nyaman tinggal disana, aku meresa tidak enak terus mefepotkan mereka, dan lagi aku mana mungkin membiarkan mereka membuat sebuah kamar baru untuk calon baby sitter anaknya mbak Roro, mereka pasti akan keluar uang dan tenaga lagi kan, kalau aku ngekost, kamarnya bisa dipakai sama baby sitternya anaknya mbak Roro, budhe dan pakdhe tetntu tidak perlu keluar uang dan tenaga lagi hanya untuk membuat kamar baru. Jujur saja aku juga ingin sedikit merasa bebas, bebas untuk bertemu kamu tanpa takut apapun, tolong mengerti aku." Celia menjelaskan panjang lebar kepada Khai, ia semakin erat memeluk pinggang lelaki berkulit eksotis itu. Celia hanya ingin Khai mengerti akan keadaan yang memaksanya untuk lebih memilih tinggal di kost-kostan daripada dirumah budhe Rani, batinnya merintih selama ini, Celia selalu merasa takut melanggar peraturan fi rumah budhe Rani, ia selalu merasa segan pada budhe dan pakdhenya, ia juga tidak nyaman jika mereka sudah mulai menyinggung soal masa depan, soal Khai yang hanya seorang satpam, Celia tahu hingga saat ini budhe dan pakdhenya masih tetap tidak menyukai Khai.


Khai menghembuskan nafasnya, "OK, aku mengerti sayang, yaudah ayo kita cari kost yang baik buat kamu." Khai mengalah, pada akhirnya ia tetap menuruti permintaan Celia. Khai tahu budhe dan pakdhe gadis yang ia cintai tidak menyukainya karena dia hanya seorang satpam, akan tetapi hanya mereka lah yang paling Khai percaya untuk menjaga kekasihnya kala Khai sedang tidak bersama Celia. Khai tidak pernah marah pada mereka yang tidak menyukainya, ia cukup sadar diri, memang ia belum layak untuk Celia, namun cintanya kepada gadis itu layak untuk tetap diperjuangkan, dan Khai akan tetap menghormati budhe Rani dan pakdhe Rano.


Khai dan Celia sudah cukup lama berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya yang menyediakan rumah kost, dan dari sekian banyak tempat yang sudah mereka datangi, akhirnya ada satu rumah kost yang masuk dengan kriteria mereka, selain rumah kost itu khusus untuk perempuan, dekat dengan kantor, harganya pun sedikit miring, dan yang penting rumah kost itu juga jadi satu dengan rumah pemiliknya, jadi Khai bisa sedikit bernafas lega, ada induk semangnya yang selalu mengawasi kegiatan anak kost disana.


Setelah deal dengan harga dan waktu pindah, Celia dan Khai permisi untuk pulang. Celia merasa senang, tinggal satu lagi yang harus lakukan yaitu bicara pada budhe dan pakdhenya, dan meminta ijin pada mereka jika ia akan pindah ke rumah kost. Celia sengaja belum memberitahukan kepada budhenya karena ia ingin keputusannya tidak bisa diganggu gugat, jadi setelah memberitahu budhenya, Celia bisa langsung pindah, lebih cepat akan lebih baik.


Malam itu Celia pulang dengan hati yang riang, sebentar lagi ia akan bebas jika ingin bertemu dengan Khai, tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi.

__ADS_1


"Besok pagi aku harus mengatakan soal rencana kepindahanku pada budhe, lalu mulai berkemas," gumam Celia, lengkungan sebuah senyuman tergambar diwajah cantiknya.


__ADS_2