Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 14 : Tumbang


__ADS_3

...Maafkan segala bentuk kekurangan,...


...HAPPY READING Guys♥...


...****************...


Celia merebahkan kepalanya di atas meja, si cantik ceria sedang melehoy hari ini, kaya kerupuk kena air. Layar komputer yang dibiarkan menyala menampilkan draft laporan bulanan yang belum selesai ia kerjakan. Sejak semalam ia merasa tidak enak badan, demam, tulang-tulang nya terasa linu, kepala pusing meski tidak tujuh keliling.


Resiko kerja di kota besar dengan tingkat kemacetan lumayan parah, yang mengharuskan berangkat petang pulang petang, ditambah deadline pekerjaan yang menguras tenaga serta pikiran, belum lagi pulang kerja kadang belok dulu. Kurangnya istirahat pada akhirnya membuat Celia tumbang, tubuhnya tak mampu mengimbangi aktifitas nya yang luar biasa, atau mungkin imun kalah war sama virus-virus jahara.


Dengan posisi kepala yang masih menempel pada permukaan meja, jika bisa bicara mungkin meja itu akan bilang sudah lelah menjadi sandaran Celia, tangan putihnya terulur meraih gagang telepon, sedetik kemudian jari-jari lentiknya dengan lincah menekan tiga digit angka untuk melakukan panggilan. Tut ... tut ... tut ... tiga kali berdering, seseorang diseberang sana akhirnya mengangkat panggilan Celia. "Hallo ..." Celia menelepon mba Titi, ia adalah pramu bakti khusus untuk lantai empat.


"Hallo ... mbak Titi, mbak bisa tolong temenin Celia ke klinik bawah? Mbak Titi lagi free kan?" Temenin Celia ya mbak, ntar kalo Celia pingsan di lift gimana, Celia lagi demam nih, pala puyeng kaya di tagih hu_tang." Lagi sakit aja masih bisa ngelawak apalagi kalau sehat, ngadi-adi.


"Mbak Celia sakit? Yaudah ayo mbak saya temenin, bentar saya keruangan mbak Celia."


Tak perlu berlama-lama, mbak Titi secepat kilat meluncur ke ruang kerja Celia.


Ditemani mbak Titi, Celia pergi ke klinik kantor yang letaknya di lantai satu, ada seorang dokter umum dan seorang bidan yang selalu siaga bergantian jaga disana.


Sesampainya di klinik, dokter langsung memeriksa Celia, mulai dari mengukur suhu tubuh, timbang berat badan, juga cek tekanan darah, setelah semua prosedur dilakukan, dokter meresepkan obat untuk Celia minum.


"Mba Titi, Celia mau pinjem awan kintonnya Son Goku ah." Celoteh Celia sambil menggandeng tangan mbak Titi, mirip-mirip anak TK yang lagi ngikut emaknya ke pasar, takut pisah.


"Lhah, buat apa mbak Cel pake pinjem awan kinton segala." Herannya mbak Titi ngapain juga ini cewek bawa-bawa awan kinton, di pikir mbak Titi mungkin harusnya Celia tadi bukan periksa demam, tapi periksa otak, siapa tau syarafnya ada yang keselip satu.


"Ya buat naik ke lantai empat mbak, tinggal wuusshh ... nyampe ke ruangan, terus juga tinggal wuusshhh ... Celia nyampe rumah." Oceh Celia dengan hayalan tingkat dewa nya.

__ADS_1


"Mbak ... mbak ... sampean itu aneh-aneh aja, kan udah ada lift mbak Cel."


"Ah, tapi kalau lagi sakit gini Celia mager mbak Ti, bawaannya pengin minta gendong kemana-mana, lagi jauh banget kan dari klinik ke lift depan, terus dari lift depan ke ruangan Celia." Mbak Titi hanya bisa geleng-geleng kepala, karena kenyataannya dari klinik ke lift depan jaraknya tak sampai 50 meter, dan dari keluar lift ke ruangan Celia hanya perlu gelinding 4 meter. Ini baru satu, Celia seorang, belum kalau Celia disatukan dengan duo keong ra_cun sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Hari dan Bayu, bisa ambyar dunia perkantoran. Tetapi bagi mbak Titi Celia adalah sosok yang baik, tidak neko-neko, selalu nerima apa adanya dan nggak mau ribut-ribut. Celia tidak pernah minta tolong sesuatu yang menyulitkan mbak Titi maupun teman pramu bakti lainnya untuk kepentingan pribadi, paling banter nitip beli makan siang itupun yang searah dengan tujuan mbak Titi beli makan siang untuk para Pimpinan barulah Celia nebeng sekalian biar searah jalannya, kalau harus membuat mbak Titi kerepotan itu hal yang pantang bagi Celia.


Sampai di lantai empat, Celia tidak langsung keruangannya, ia berbelok ke ruangan belakang (julukan untuk ruang kerja Celia yang lama), Celia mau makan dan minum obatnya, biar menang war lawan penyakit. Celia duduk di kubikel lamanya yang kini malah jadi bangku kosong, menanti mbak Titi yang sedang merebus mie untuk temannya minum obat, dan saat itulah dua teman lucknutnya datang.


"Eh Bang, bau-bau nya ada yang lagi atit bang." Bayu memulai aksinya mengganggu ketenangan Celia.


"Iya Bay, nggak liat lo tu di meja obatnya segepok, bisa sakit juga lo Cel?"


"Palingan kurang vitamin dari cowoknya dia bang."


Hari mengulurkan tangannya, lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Celia. "Wah, bener lagi sakit Bay, badannya panas, bener juga kata lo ini anak satit gara-gara kurang vitamin, vitamin civokisasi, mana si Alim telpon Bay, suruh sini suruh kasih vitamin dulu." Hari berkata tanpa di saring dengan suara nyaring.


"Mulut lo bang nggak di ayak dulu, minta di tabok pake duit milyaran, lagian lo panggil juga nggak akan dateng, orangnya lagi Dinas Luar ke kota B." Berapi-api Celia menatap kedua sahabat kepompongnya itu, bertanya-tanya kenapa mulut mereka bisa sefrontal itu. Pak Dharsi dan pak Nafi yang duduk di kubikel belakang Celia tertawa, sudah biasa mereka menjadi saksi tingkah nyeleneh trio kwek-kwek nya lantai empat ini, anggaplah mereka sebagai hiburan lawak gratis. Harusnya mereka bertiga masuk grup lawak sit up comedi.


Dibalik keisengannya, candaannya, mereka bertiga selalu saling support dan saling bantu satu sama lain.


Mbak Titi datang membawa semangkuk mie rebus lengkap dengan topping telur dan kornet. Celia menghabiskan makanannya lalu segera minum obat dari dokter, ia bertekad harus lekas sembuh, karena didepannya deadline akhir bulan sudah menanti, melambai-lambai minta segera diselesaikan. Hari dan Bayu menawarkan untuk membantu Celia, mereka sudah biasa saling back up, teman yang baik adalah salah satu rezeki yang diberikan oleh Tuhan bukan?! Celia selalu bersyukur akan hal itu.


Selepas minum obat dan istirahat sejenak, Celia dibantu duo abang2annya segera menyelesaikan deadline akhir bulan yang harus diserahkan kepada bagian P2K sore itu juga.


"Thank's ya bang, aa', kalo nggak dibantu sama kalian Celia nggak akan selesai tepat waktu ni kerjaan."


"Weittsss ... tunggu dulu wahai adik ketiga, ini semua nggak gratis." Hari sudah menaik turunkan alisnya.


"Kalian minta bayaran? Nih gue kasih masing-masing gopek, mayan dapet cilok sebiji." Celia mengeluarkan dua keping koin 500 Rupiah dari dalam laci mejanya.

__ADS_1


"Murah banget kita bang, dikasih gopean, oooo ... tentu tidak bisa nona, lo musti traktir, ya nggak bang?" Bayu sudah senyum-senyum devil.


"Betoolll, lo traktir kita berdua, terus sama bilang kalo gue ganteng." Dengan percaya diri Hari berkata seperti itu, Bayu mati-matian menahan tawa mendengar perkataan Hari.


"Haaiisss ... kalo buat traktir kalian berdua gampanglah, ntar Celia traktir cimol depan kantor sekalian abang-abang sama gerobaknya, tapi kalo suruh bilang lo ganteng bang, aduh mohon maaf, bohong itu dosa, Celia nggak mau nongky di neraka bareng ama lo, idiihh amit-amit."


"Su_e lo Cel, orang ganteng gini, ratu kecantikan aja klepek-klepek ama gue."


Bayu sudah tertawa terpingkal-pingkal menahan nyeri di perutnya, manusia memang boleh merasa percaya diri terkadang malah harus, tapi sebagai sesama laki-laki ia rasa ini percaya diri yang sudah sangat keterlaluan.


"Tenang-tenang, babang Hari dan aa' Bayu, berhubung kalian sudah berjasa sama Celia, besok bakal Celia sajenin, sekarang Celia mau pulang dulu, mumpung si Bapak lagi rapat diluar nggak balik kantor, udah sore." Celia sudah selesai beres-beres meja kerjanya.


"Asiik mau dapet sajen, yaudah gue juga mau pulang ah, lo pulang terakhir Bay, Pak Kepala masih anteng di ruangan." Hari keluar dari ruang kerja Celia sambil tertawa.


"An ziirrr ... gue ditinggal pulang." Bayu mengekor dibelakang hari.


......................


Definisi apes pake banget, udah badan lagi sakit, pulangnya harus nungguin bus ampe lumutan, mau bonceng pakdhenya, Pakdhe Rano sedang mengambil cuti ia tengah melaksanakan ibadah di tanah suci, sepeda motornya nginep di bengkel. Mau minta anter pacar, orangnya lagi perjalanan dinas ke luar kota. Sabar Cel ... sabar ... orang sabar dibenci settan.


Tepat saat Celia sedang bosan menunggu bus, Khai lewat di depannya ia pulang lebih cepat karena hendak ke kampus, Khai tersenyum dan menyapa Celia tanpa menghentikan sepeda motornya, setidaknya untuk basa-basi.


Khai tidak tahu kalau saat ini Celia sedang sakit, ketinggalan berita, hari ini dia tidak patroli di lantai empat.


"Aaahhh ... si_allll ... kenapa tadi nggak berhenti dulu, aarrgghhh!!!" Khai merutuki kebodohannya sendiri karena telah menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mendekati Celia. Sampai saat ini ia belum cukup percaya diri. Hingga tiba di kampus Khai masih terus memikirkan Celia.


"Seandainya aku punya sedikit keberanian." Gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2