
Bak bola liar, berita tentang Celia yang diantar pulang oleh Alim menjadi gosip panas di kantor.
Mereka menjadi bahan ceng-cengan oleh teman-temannya, terutama dari kubu teman-teman satu angkatan Alim. Pasalnya sudah lama mereka mengenal Alim si cuek nan dingin, bekerja dibawah satu atap yang sama, bahkan sering melakukan kegiatan bersama, tapi baru kali ini Alim terlihat dekat dengan perempuan, ditambah lagi dia masih tergolong anak baru.
Berita yang tengah hangat digoreng oleh netijen itu akhirnya sampai juga ke telinga Khai. Ada hati yang tercubit, ada yang sakit tapi tak terlihat. Apakah ini jawaban bahwa ia harus mundur? Belum, selama Khai belum melihatnya langsung dan belum mendengar bahwa mereka sudah memiliki ikatan, maka Khai belum akan berhenti, ia belum akan mundur. Dia tidak akan diam lagi, Khai akan mencari cara agar ia bisa setidaknya lebih dekat dengan Celia.
Celia, aku akan mundur dan berhenti berharap jika memang kamu dan dia sudah memiliki ikatan, tetapi jika kamu dan dia baru sebatas dekat, akupun akan berusaha.
Celia dan Alim, dua anak manusia yang tengah menjadi trending topik masih anteng-anteng saja menanggapi gosip itu. Justru mereka diam-diam semakin intens berkomunikasi melalui pesan. Alim tak sedingin yang Celia kira. Es kutub perlahan mencair terkena hangatnya sinar mentari. Mereka bisa bercanda saat hanya berdua, mereka bisa mengobrol panjang lebar saling bertukar pikiran, tetapi memang jika ada orang lain, Alim kembali ke setelan awalnnya, mode coolkas.
Tibalah disuatu hari yang cerah, saat itu adalah hari ulang tahun Dian, Celia memberikan sebuket bunga sebagai hadiah untuk teman baiknya itu. Ia antarkan buket bunga ke ruangan Dian, lalu setelah mengucapkan selamat, Celia segera kembali keruangannya.
Tak berapa lama, ada pesan gambar masuk melalui group chat, Celia segera melihat isi pesan itu, disana dilihatnya beberapa gambar, Alim sedang berfoto bersama Dian, memegang buket bunga dari Celia, seolah Alim yang memberikan bunga itu.
Foto itu di teruskan lagi oleh Celia ke nomor Alim, tanpa kata pengantar apalagi pembukaan, hanya satu foto yang menurutnya paling membuatnya merasa sedikit tidak nyaman, lalu membubuhkan emoticon senyum. Bukan tanpa alasan Celia melakukan itu, hanya saja ia merasa kalau akhir-akhir ini ia sedang dekat dengan Alim. Setelah pesan itu terkirim Celia justru merasa menyesal kenapa ia berlebihan menanggapi kedekatan mereka, ia bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Alim, ia bukan siapa-siapanya Alim, dan saat ingin menghapus pesan yang ia kirim untuk si penerima, sudah terlambat karena Alim sudah melihat pesan dari Celia. Mau di hapus juga udah nggak bisa babe.
Ini kenapa Celia jadi sensitif begini sih, apa karena Celia lagi dapet ya?! Celia harap ini bukan rasa cemburu, masa iya Celia cemburuin mas coolkas, tidak ... tidak ... Mending sekarang Celia fokus kerja aja deh, bisa dijadiin dendeng sama kaka Nur ntar kalo Celia kerjanya nggak bener.
Celia mencoba untuk kembali fokus pada layar komputer, melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya ia kerjakan.
Tiing ... Tiing ... layar hp menyala, ada subah pesan masuk dari Alim.
"Kamu kenapa?" Singkat dan padat.
"nggak apa-apa mas." Balas Celia, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya bukan?! Gengsi dong.
__ADS_1
"Beneran?"Alim kembali bertanya, namun Celia tidak membalas pesan dari Alim.
Nanti ajalah balesnya, bisa beneran dijadiin dendeng kalo kerjaan Celia nggak kelar-kelar.
Bekerja di Subbagian Tata Usaha Pimpinan, tentulah mereka harus mengurusi segala macam perintilan serta *****-bengek urusan Pejabat Eselon I, dan sebagai seorang sekretaris, Celia tentu memiliki beban pekerjaan yang semakin berat, mulai dari membuat agenda bulanan, mengawal, surat menyurat, koordinasi, rapat, perjalanan dinas, dan masih banyak lainnya harus ia kerjakan. Harus multi tasking, jadi Celia tak mau jika urusan hati mengganggu pekerjaannya.
Lagi fokus-fokusnya kerja, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kaca ruangan Celia.
Alim datang dengan sebuah takah ditangannya.
"Ini ada takah segera buat Bapak." Alim menyerahkan takah yang dibawanya pada Celia.
"Kok mas yang anter? Biasanya kan pak Setiya yang anter takah." Tangan Celia terulur menerima takah dari Alim, ia masih tetap duduk anteng di kursinya, hendak membuka takah itu untuk memeriksanya terlebih dahulu sebelum diserahkan pada Pimpinan, begitulah SOP yang harus Celia laksanakan.
"Pak Setiya lagi nganter takah yang lain, itu segera jadi buru-buru dinaikin takahnya, kamu kenapa tadi ngirim begituan?"
"Foto tadi, kamu cemburu sama Dian?" Wow, to the point sekali si Alim ini.
"Enggak ya, enak aja bilang Celia Cemburu, tadi tu fotonya bagus jadi Celia kirim." Sambil memeriksa takah Celia menjawab pertanyaan Alim, lalu ia berdiri hendak menyerahkan takah tersebut keruangan Eselon I nya.
"Celia mau masukin takah dulu ke ruangan Bapak, mau ditunggu? kalo iya, nanti Celia bilang ke Bapak."
"Enggak, ini mau turun. Sabtu besok mau main nggak?" Jangan heran, mereka memang hanya lima hari kerja ya, jadi sabtu dan minggu mereka libur.
Sedikit awan mendung yang tadinya menaungi moodnya Celia berganti menjadi cerahnya mentari.
__ADS_1
"Mmm...nanti aja di bahas lagi mas, chat aja, Celia mau masuk dulu ke ruangan Bapak."
"Iya, aku turun dulu, nanti kamu kabarin."
......................
Sabtu Pagi Celia sudah rapi, celana jeans ia padu padankan dengan kaos lengan panjang boleh minjem dari mba Roro tampak serasi ia kenakan. Celia memang tidak punya kaos lengan panjang untuk acara-acara non formal, ada juga baju-baju lengan pendek, kemeja, dan baju-baju lainnya untuk kerja. Ada yang panjang tapi batik bukan kaos, masak iya mau main pakai batik, ntar dikira mau kondangan, mau beli dulu juga udah nggak sempet. Seribet itu perempuan, padahal tinggal pake kaos pendek ditutup jaket bisa loh. Untunglah ditengah kegalauan Celia tadi ada mba Roro yang datang menyelamatkan.
Alim datang menjemput Celia, sekaligus meminta ijin pada budhe dan pakdhenya.
Setelah mendapat ijin, mereka langsung berangkat. Pakdhe Rano mau memberikan ijin pada Alim untuk mengajak Celia keluar karena beliau sudah cukup mengenal sosok Alim di lingkungan kantor, jadi beliau merasa tenang mempercayakan Celia pada Alim.
Celia ingin sekali pergi ke curug, tempat yang menurutnya masih asri, juga pasti sejuk, banyak pemandangan indah dan hijau, maka jadilah mereka pergi ke puncak di kota B. Berboncengan motor berdua, mereka tampak seperti sepasang kekasih.
"Apa ini namanya kencan mas? ngedate gitu." Celia mencoba bertanya, memancing reaksi serta penasaran dengan jawaban Alim, pemuda yang selama ini sering ia sebut coolkas, yang kini justru dekat dengannya.
Alim tak menjawabnya dengan kata-kata, ia justru menggenggam tangan Celia yang dimasukkan kedalam saku jaketnya. Dipikir Celia cenayang kali ya, bisa ngerti suara hati. Celia pun akhirnya ikut diam, mencoba meresapi apa yang sebenarnya ia rasakan dihatinya. Sudah adakah nama Alim disana.
Perjalan yang ditempuh cukup jauh, lumayan bikin ****** panas, meleber dan memuai.Lewat jam makan siang mereka berdua baru sampai ditempat tujuan. Mungkin kalau bisa bicara ****** Celia akan meraung meminta tolong disiram pakai air es.
Sesampainya disana mereka mengisi perut sejenak, sekaligus beristirahat, baru setelahnya Alim menemani Celia yang ingin merasakan sejuknya air curug. Setelah Celia puas bermain air, mereka memutuskan untuk segera pulang, karena bisa dipastikan perjalanan pulang memakan waktu lebih lama, akan sangat macet di hari libur seperti ini. Sempat mereka berhenti sejenak di sebuah masjid untuk menunaikan kewajiban yang tak boleh mereka tinggalkan.
Celia melingkarkan tangannya di pinggang Alim, ia mengantuk rupanya. Macet, lelah, membuat Celia ingin memejamkan mata barang sejenak. Enaknya di bonceng ya begitu, di saat yang didepan harus tetap fokus dan tetap waras ditengah kemacetan, yang duduk dibelakang bisa merem-merem asoy tanpa beban. Sesekali Alim memegang tangan Celia, mengusapnya perlahan lalu mengajaknya bicara untuk memastikan bahwa Celia tidak benar-benar tertidur. Bisa gelinding kalau beneran tidur, Alim belum mau masuk berita viral, *ada seorang wanita dibonceng oleh teman prianya jatuh menggelinding karena ketiduran diatas motor.*
Sesampainya di rumah, budhe dan pakdhe sudah menunggu kedatangan mereka. Untung saja saat masih dijalan tadi Celia sempat memberi kabar pada budhe Rani kalau ia terjebak macet, sehingga tidak membuat pakdhe dan budhenya itu khawatir.
__ADS_1
Sesampainya di rumah budhe Rani, Alim berpamitan pulang pada pakdhe dan budhe Celia, tak lupa ia berterima kasih kepada mereka karena sudah diberikan ijin mengajak Celia keluar.
Alim dengan pikirannya, masih merasa bingung dengan apa yang dirasakan nya terhadap Celia, yang Alim tahu, ia merasa nyaman, ia bisa melepas sisi cuek serta dinginnya hanya dengan Celia, seorang gadis yang terhitung belum lama ia kenal.