
Bagi sebagian orang baik pria maupun wanita kepastian dalam sebuah hubungan adalah hal yang penting, begitu pula dengan Celia. Ingin sekali ia memberanikan diri bertanya pada Alim tentang status hubungan mereka, akan tetapi selalu ia urungkan karena malu. Celia tidak ingin di anggap agresif, ia juga tidak ingin di anggap terlalu percaya diri menganggap Alim memiliki perasaan terhadapnya. Tetapi jika tidak ditanyakan, mengapa sikap Alim begitu berbeda jika berdua dengannya, perlakuan hangatnya, juga perhatiannya. Ya kali anak orang di gantungin kaya jemuran belum kering Diajak kesana kesini, berangkat di jemput, pulang di anter, kalau hanya sekedar untuk seneng-seneng tanpa kepastian ya ogah lah Celia, emangnya dia cewek apapun. Kalah dong sama anak SD yang udah mamah papah-an.
"Waah beneran nggak bisa dibiarin ini, nanti Celia harus bicara sama mas Alim." Gumamnya komat-kamit macam mbah dukun lagi baca mantra, dan si-al nya aksi komat-kamitnya itu dilihat oleh Hari dan Bayu, "Wah udah parah tu anak Bay, liat noh ngomong sendirian, kaya orang bener."
Bayu menengokkan kepalanya ke arah Celia, lalu ia tertawa, "Biarin bang, lagi senewen dia, mode senggol bac*k nya lagi kumat."
Celia menatap horor pada mereka berdua, bagaimana tidak, mereka membicarakan orang tepat di dekatnya dengan suara delapan oktaf, jangankan Celia, orang sekampung juga bisa denger suara ghibah duo makhluk bertong-kat itu. Sayang sekali Celia sedang tidak mood untuk meladeni dua temannya itu, meski sebenarnya pengin Celia kunyah mereka berdua macam permen karet.
Celia beranjak dari pantry tempat ia nongky saat ini, lebih baik ia kembali ke ruang kerjanya, lama-lama disana hanya akan membuat moodnya semakin jelek.
"Dah ah adik ketiga mau balik ke ruangan aja, lagi nggak mood deket-deket Sun Go K*ng sama Cu Pat K*i." Celia melenggang pergi.
"hahahahaha .... Lo Cu P*t Kai Bay, kan Lo lebih muda dari gue tapi lebih tua dari Celia, kocak tu anak." Hari terbahak memegang perutnya.
"Lah kok gue bang, lo aja." Protesnya Bayu goser-goser meja nggak terima disamain dengan si kakak kedua.
................
Matahari sudah pergi ke belahan bumi bagian lain, gantian shift sama bulan, tapi Celia masih anteng ngangkrem di ruangannya. Kerjaan kantor sudah selesai, tinggal kerjaan nungguin Alim yang belum. Sudah puluhan lagu tembang kenangan bergantian menemani celia, dua box snack sisaan rapat juga udah ludes di gares. Menunggu memang pekerjaan paling membosankan dan bikin laper.
"Maaass ... mas Aliiim ... ngerjain apaan sih mas nggak kelar-kelar, keburu lumutan ini Celia." Celia bicara sambil kakinya menghentak-hentak lantai. Padahal ya percuma saja, yang dipanggil juga nggak akan dengar, satu di lantai empat satunya di lantai dua, mending diirit-irit tenaganya, siapa tahu nunggunya masih lama.
Akhirnya, setelah bosan menunggu, Alim datang dan mengajak Celia pulang. Sepeda motor matic keluaran terbaru melaju santai membelah ramainya kota metropolitan.
"Mas, bisa kita nggak langsung pulang? Celia mau bicara dulu sama mas Alim."
Alim melirik Celia dari pantulan kaca spion yang sengaja ia arahkan, terlihat oleh Alim wajah serius Celia.
Alim membelokkan sepeda motornya ke sebuah mall, disana mereka bisa mencari tempat untuk bicara.
"Ayo cari tempat yang enak, sekalian makan, kamu pasti laper." Alim menggandeng tangan Celia untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Iya mas, Celia ngikut aja."
"Silakan mbak dan mas mau pesan apa?" Waiters dari Suka-Suka Bento menanyakan pesanan mereka, mencatatnya, lalu pergi. Tinggal lah Celia yang diam merangkai kata dan Alim dengan mode coolnya.
"Kamu mau bicara apa Cel?" Pria yang terpaut empat tahun di atas Celia ini membuka obrolan. Matanya intens melihat Celia.
"Mmm ... mas, maafin Celia kalau kesannya Celia kepedean, Celia cuma mau tanya, yang Celia rasakan kita sudah lama cukup dekat, tapi Celia nggak pernah tau mas anggap Celia ini apanya mas, hanya teman kah, TTM kah, atau kakak adik - kakak adik'an kah?" Celia bicara sambil menunduk, ia tak berani menatap mata Alim.
"Kamu mau kita pacaran Cel?" Tembak Alim, benar-benar pria kaku, ia memandang segala sesuatu dengan logikanya.
Celia mendongak menatap Alim, baru akan menjawab, tiba-tiba ...
"Permisi mbak, mas, ini pesanannya." Datanglah waiters tadi dengan membawakan pesanan mereka, merusak momen serius Celia dan Alim.
"Mas, bukan itu juga yang sebenarnya Celia mau, Celia hanya ingin kepastian."
Alim meraih tangan Celia, menggenggam jemarinya.
"Lalu bagaimana? Apa kita akan terus seperti ini, dekat, jalan bareng, tapi bukan siapa-siapa." Mata Celia mulai berkaca-kaca, ia merasa ini tidak adil, apalagi ia perempuan.
"Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya mas, bagi mas Alim mungkin status bukan hal yang penting, tapi ini penting buat Celia, Celia bukan baju, jadi jangan digantung-gantungin."
"Kamu mau kita jadian?" Alim kembali bertanya hal yang sama. Celia diam, tak meng - iya kan tapi pun tak menolak.
"Ok kalau diam berarti jawabannya iya, tapi pemikiranku tetep kaya di awal tadi Cel, aku sayang kamu, aku nggak mau kamu kecewa, bersedih atau terluka".
"Mas dari tadi bicara soal terluka, dijalani aja belum mas."
"Iya ... iya ... mari kita jalani dulu." Alam tersenyum pada Celia.
Dan dua piring nasi goreng seafood serta dua gelas lemon tea menjadi saksi naik level status hubungan Celia dan Alim dari single menjadi double, eh! menjadi berpacaran.
__ADS_1
................
Tengah malam di pos jaga pintu barat, berteman suara radio butut warisan turun temurun, Khai tampak diam memandang sang bulan, ia menghela nafas dalam lalu beralih memandangi layar ponsel miliknya, menampilkan foto Celia yang sedang tersenyum manis, foto yang dulu ia ambil secara diam-diam.
Kamu lebih indah dari bulan yang bersinar di langit malam.
Oh ayolah Khai, Alim sudah satu langkah lebih maju dari kamu meski harus di getok dulu. Belum bisa dibayangkan bagaimana reaksi Khai jika mengetahui Celia dan Alim saat ini sudah resmi berpacaran. Mungkin ini adalah jalan ninjamu Khai, harus bersakit-sakit dahulu. Jika Nita tahu, mungkin dia akan menertawakan Khai saat ini.
//Yo yo ... selamat malam sobat Minus FM 1007.7, bersama saya Fandi yang dua jam kedepan akan menemani malam syahdu sobat-sobat semua. OK deh untuk mengawali malam syahdu kita, Fandi bakal puterin satu tembang dari Anie Carera - Cinta Tak Berubah, So, let's cekidot.//
🎵 ...
*Hanyalah dirimu *
yang bermain di dalam hayalku
*tak sanggup aku melupakan *
*aku tak sanggup *
*Mungkin sampai nanti *
*rambutkupun kusam dan memutih *
*namun cintaku padamu *
*tak kan berubah *
... 🎵
(reff - Anie Carera "Cinta Tak Berubah")
__ADS_1