Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 42 : Lara Hati


__ADS_3

Happy Reading 😉


🍃🍃🍃


Gelapnya malam tak mampu menandingi gelapnya hati Celia saat ini, gadis bermanik coklat dengan mata sembabnya. Tenaganya telah habis terkuras untuk menangis hampir semalaman, ditambah dari semenjak kejadian pasca sarapan hingga sudah hampir pukul 03.00 pagi perutnya belum terisi lagi. Celia hanya keluar dua kali untuk ke kamar mandi, itupun ia dengan diam-diam agar tak ada yang melihatnya. Celia tak ingin bertemu dengan siapapun, ia tak ingin bicara dengan siapapun, yang dia butuh saat ini hanya ingin menyendiri.


Rambutnya yang biasa terurai indah atau terkuncir rapi kini tampak kusut, awut-awutan, menggambarkan perasaannya saat ini.


Wingit yang khawatir dengan sang kakak terjaga dari tidurnya, ia mencoba mengetuk pintu kamar yang senantiasa terkunci itu, namun nihil, tak ada jawaban dari dalam. Apakah kakaknya sedang tidur karena lelah menangis pikirnya. Sesaat yang lalu ia masih bisa mendengar isakan Celia, itu cukup membuatnya lega, setidaknya ia masih bisa mendengar suara kakaknya. Justru jika diam akan lebih membuat Wingit khawatir, ia takut jika kakaknya akan melakukan hal yang tidak-tidak.


"Lee, sudah jam 3 pagi, mbakmu kok belum keluar kamar, apa dia masih menangis lee?" dengan logat jawanya bu Sujadi bertanya pada anak bungsunya itu.


Wingit hanya bisa menghela nafas, "Masih bu, mbak Celia belum mau membuka pintu kamarnya." Wingit tahu ibunya pasti akan sedih, tapi untuk saat ini dia juga tidak bisa berbuat lebih, ia tak mau memaksa kakaknya untuk keluar atau meneriakinya seperti biasa, ia tahu ini hal sulit untuk kakaknya, ia paham setidaknya kakaknya butuh waktu untuk sendiri.

__ADS_1


Meski dengan rasa khawatir akan kakaknya yang terus mengurung diri di kamar, wingit tetap berusaha memberi pengertian pada sang ibu, "Ibu, istirahat saja di kamar, sekarang masih terlalu pagi untuk bangun, sejak kemarin ibu juga kurang istirahat to bu," wingit menggamit tangan ibunya, menuntun wanita paruh baya yang masih terlihat segar itu kembali ke kamarnya. Ketika sang ibu membuka pintu kamarnya, dengan jelas Wingit dapat melihat ayahnya sedang tidur menghadap ke arah tembok. Wingit mengangguk meminta sang ibu untuk masuk dan kembali beristirahat sembari menunggu adzan subuh, terlalu lelah dan banyak pikiran tak akan baik untuk kesehatan ibunya.


Celia pada akhirnya tertidur karena kelelahan menangis, mata indahnya sudah terlalu banyak mengeluarkan bulir-bulir kesedihan. Wanita berparas ayu itu tidur dengan tangan tertelungkup di meja di samping jendela, sesekali tubuhnya sedikit berguncang terisak dalam tidurnya.


......................


Pagi telah menyapa, cahaya mentari mulai merangkak naik, menelusup masuk ke dalam kamar Celia melalui jendela yang ia biarkan terbuka semalaman, sinar hangatnya menyentuh kulit lembut Celia, membuat si pemilik manik coklat dengan pipi chubby itu mulai terusik dalam tidurnya. Perlahan kelopak matanya terbuka, sedikit demi sedikit menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retinanya. Celia mencoba menggerakkan tubuhnya yang kaku, pegal dan juga linu, ia pun merasakan bengkak dimatanya, tenggorokannya terasa kering meronta-ronta minta segera dialiri air, apalagi air dari kulkas dengan segala kesegarannya.


Saat hendak berdiri Celia merasakan kepalanya berdenyut, tadinya ia kira hanya pusing karena silau, tapi sepertinya tidak, ia semalaman terjaga, dengan kondisi perut kosong dan jendela yang terbuka lebar, membiarkan udara malam masuk dengan leluasa. Celia merasa semakin yakin tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, ia perlahan berjalan ke tempat tidurnya, tapi sayang sebelum Celia bisa menggapai kasur tubuhnya lebih dulu limbung, tak mampu menahan beban tubuhnya, terjatuh tepat disebelah tempat tidurnya, kepalanya semakin berdenyut, pandangannya semakin kabur, hingga beberapa detik kemudian semua berubah menjadi gelap.


Pak Sujadi, lelaki yang sudah 25 tahun ini menjadi suaminya, mengisi setiap tarikan nafasnya, dari sejak kemarin terlihat begitu angkuh dengan pendiriannya, tangisan dari istri maupun putrinya tak mampu menghancurkan kokohnya tembok pendiriannya.


"Biarkan saja bu, dia yang memilih untuk mengurung diri di kamar, biar dia sekalian berpikir dengan baik, apa yang bapak lakukan adalah untuk kebahagiaan juga masa depannya, bapak berangkat kerja duluk bu, assalamualaikum," pak Sujadi pergi meninggalkan rumah menuju tempat kerjanya, tak ada yang tahu apa yang ada di dalam pria paruh baya itu.

__ADS_1


Bu Sujadi menjawab dengan berat berharap suaminya mau sedikit melunak, "wa'alaikumussalam," ia terduduk di meja tamu, memandang sedih punggung suaminya yang berjalan membelakanginya.


Wingit, yang melihat ibunya menangis kembali mencoba mengetuk pintu kamar kakanya, karena tak kunjung ada jawaban ia berniat mendobraknya, ia tak mau kakaknya terus mengurung diri di kamar, tapi sebelum niat itu ia lakukan, Wingit teringat akan sesuatu, ia segera berlari kebelakang rumah, berharap agar sang kakak membuka jendela kamarnya agar dia bisa bicara, juga bisa melihat kondisinya.


Harapan Wingit terkabul, ia melihat jendela kamar yang terbuka, Wingit melongok kedalam kamar Celia, tak ada kakanya disana, ia terus mengedarkan pandangannya, matanya menyapu dari sudut ke sudut hingga manik coklatnya membelalak mendapati sang kakak tergeletak diatas lantai. Tanpa pikir panjang Wingit segera memanjat naik, masuk melalui jendela kamar Celia, Wingit merasa panik, seumur hidup berdampingan dengan makhluk berjuluk kakak ini tak pernah sekalipun ia melihatnya pingsan. Wingit mengguncang pelan tubuh sang kakak, tak ada respon. Inginnya wingit berteriak kencang tapi ia tak mau membuat heboh satu RT, menarik perhatian tetangga-tetangganya, menjadi trending topik akibat masalah kakaknya bukanlah hal yang patut dibanggakan, sebisa mungkin ia dan keluarganya harus memendam masalah ini agar tak menjadi konsumsi akun gosip lambe_Jur4h.


Wingit beranjak membuka pintu kamar Celia yang terkunci dari dalam lalu bergegas memanggil sang ibu, " bu, ibu ... mbak celia semaput (bu, ibu ... mbak Celia pingsan)," berteriak kencang di ambang pintu kamar sang kakak agar sang ibu segera datang.


Bu Sujadi yang mendengar penuturan anak bungsunya segera berlari menuju kamar Celia dengan masih membawa piring yang tadinya sedang ia cuci, seketika mata bu Sujadi membulat, piring yang dibawanya ia lempar kesembarang arah saking paniknya melihat putri yang ia sayangi tergolek lemah tak berdaya.


"Praangg ...." Suara pecahan piring menggema berahutan dengan pecahnya suara tangis bu Sujadi, yang segera menghambur, ia memangku kepala putrinya, mengusap rambut hitamnya, bu Sujadi menepuk-nepuk pelan pipi Celia sambil terisak, putri cantiknya tidak pernah selemah ini.


"Nduk, ayo bangun, jangan bikin ibu khawatir to nduk."

__ADS_1


"Bu, kajenge mbak Celia kulo angkat riyen ten kasur (Bu, biar mbak Celia saya angkat dulu ke kasur)," Wingit segera mengambil alih kakaknya, ia mengangkat tubuh sang kakak ke atas kasur lalu menutup selimut hingga sebatas pinggang.


Bu Sujadi tak tinggal diam, dia segera bangkit mengambil minyak kayu putih dari dalam kotak obat di kamar Celia, lalu dengan telaten mengoleskannya di pelipis sang putri, juga mengoleskannya di depan hidung, berharap dengan begitu putri kesayangannya itu akan segera siuman.


__ADS_2