Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 15 : Ingin di Hargai


__ADS_3

Ketiduran di dalam bus dan hampir kebablasan andai saja tidak dibangunkan oleh keneknya, saking capeknya dan badan nggak karuan, bisa-bisanya Celia tidur pules di bus. Akhirnya Celia bisa sampai dirumah dengan selamat, sentosa, bahagia, sejahtera. Untung saja nggak ada orang jahat, kan bahaya kalau tiba-tiba dia dihipnotis buat di rampok atau parahnya lagi diculik, dibawa kabur ke antah berantah. Jaman now gitu loh, kejahatan ada dimana-mana apalagi jika dikasih kesempatan emas kaya gini. Bisa berasa menang jackpot si penjahatnya, dapet barang berharga plus dapet orangnya juga, mana cantik, putih, mulus, siapa coba yang bakal nolak. Sekali di tepok udah deh ngintil kemana aja mau di bawa.


Untuk itulah dimanapun berada kita harus senantiasa berhati-hati, ingat kejahatan ada karena adanya kesempatan saudara-saudara.


Sesampainya dirumah, ternyata budhe Rani juga sudah di pulang, beliau sedang asik memasak di dapur, mas Fajar dan mbak Roro mereka tentu belum pulang, karena biasanya mereka baru akan pulang diatas pukul 8 malam.


Masih dengan pakaian kerjanya, Celia merebahkan tubuhnya diatas kasur, tangannya terampil mengorek isi tas untuk mengambil gawainya, yang begitu dibuka, nampaklah puluhan panggilan tak terjawab dari Alim. Celia terlupa, sejak tadi siang dia belum memberikan kabar pada Alim, terakhir komunikasi mereka Celia bilang sedang tak enak badan. "Astaghfirullah, Celia lupa nggak ngabarin mas Alim." Celia lantas segera mengetik sebuah pesan untuk Alim, mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan sudah sampai dirumah, jadi Alim tak perlu khawatir.


Dipandanginya langit-langit kamar, meski tak ada bintang disana, adanya dua ekorr cicak yang lagi berburu nyamuk. Pikiran Celia mengembara, kenangan masa lalu berputar-putar dalam ingatannya, saat ia dengan berat hati harus menerima kenyataan di kirim ke kota ini oleh orangtuanya, kota yang sekarang justru menggoreskan tinta warna-warni dalam kanvas kehidupan Celia, tempat yang mengajarkan Celia banyak hal, tempat yang mengajarkan Celia menjadi wanita yang lebih kuat, memberikan kesempatan pada Celia untuk bertemu orang-orang hebat, memberika Celia begitu banyak pengalaman berharga, juga memberika ia sahabat-sahabat yang senantiasa menghibur dan menolong dalam kesulitannya. Celia tertawa sendiri mengingat dua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Hari dan Bayu. "Nggak akan ada partner kerja se somplak kalian bang ... a' ... Celia beruntung punya kalian."


......................


Hari baru semangat baru, Celia yang cantik dan ceria kembali bersemangat. Yah gimana nggak semangat, pasalnya hari ini Alim sudah masuk kantor lagi, setelah tiga hari dinas luar nggak pulang-pulang.


Memasuki area kantor suasana hati Celia semakin cerah, ia menyapa beberapa orang security yang tengah berjaga di pos timur dengan senyum indahnya, termasuk ada Khai disana. Gimana nggak terlope-lope Khai di kasih senyuman semanis madu. Kenyang sudah ia pagi ini sarapan pake vitamin C, Celia.


Celia bersenandung merdu memasuki ruang kerjanya, menyalakan komputer dan langsung memeriksa beberapa berkas yang belum sempat ia periksa karena baru di antar kemarin sore. Selesai dengan berkas-berkas yang diperiksanya, Celia mengambil ponselnya dari dalam tas, ia lihat belum ada balasan pesan masuk dari Alim, mungkin Alim datang siang, karena masih lelah setelah melakukan perjalanan dinas, pikir Celia, ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain, ada Surat Dinas Permohonan yang harus di buatkan surat balasan, serta Surat Pertanggungjawaban perjalanan dinas pejabat Eselon I nya yang harus ia selesaikan untuk nanti segera diserahkan kepada bagian verifikasi. Pekerjaan ini cukup menguras konsentrasi, jangan sampai ada angka nol yang kelebihan atau ketinggalan, jumlahnya harus pas, sesuai dengan riil pengeluaran, disertai lampiran semua tanda bukti yang ada, seperti struk BBM, tiket pesawat, tiket hotel, serta yang lainnya.


"Cel ... " Tiba-tiba Hari masuk ke ruangan Celia dan langsung mendudukan dirinya di kursi sofa tempat biasanya tamu yang ingin bertemu Pimpinan sejenak menunggu.


"Apa bang, mau bantuin gue lagi?" Celia bicara pada Hari namun mata dan fokusnya tetap setia pada pekerjaannya.


"Kagak, enak di elo pedih di gue kalo gue bantuin mulu, kerjaan gue aja numpuk belom kelar." Hari mengipas-ngipas wajahnya, sepertinya dia kelelahan dan kegerahan, padahal AC diruangan Celia cukup dingin, membuat kulit mengkerut.


"Terus mau ngapain dong? Lo abis lari maraton bang?"


"Abis jalan lewat tangga gue, liftnya rame, lagi ada acara sosialisasi di lantai tiga. Eh, kok lu disini sih, parah banget lo jadi pacar, cowoknya abis jatoh kagak diurusin lo Cel."


"Siapa maksud lo bang, nggak ngerti gue?" Celia belum ngeh apa maksud Hari.

__ADS_1


"Lah, lo gimana, lo beneran nggak tau Alim abis jatoh dari motor." Hari merasa heran.


Deg ... deg ... deg ... Jeggeerrr (dikasi efek biar dramatis). "Celia pergi dulu bang." Tanpa babibu Celia segera berlari ke lantai dua, dimana ruangan Alim berada, meninggalkan Hari yang masih dengan keheranannya.


Dengan jantung berdebar dan perasaan cemas Celia membuka pintu ruang kerja Bagian TU, langkahnya cepat menuju meja Alim. Alim menyadari kedatangan Celia, namun ia hanya diam seolah tidak terjadi apa-apa.


"Mas ..."


"Aku nggak apa-apa, cuman jatuh kepleset, bukan luka serius." Alim bicara dengan suara pelan agar percakapan mereka tidak terdengar yang lainnya. Celia melihat ada beberapa luka lecet di tangan serta siku Alim, juga celananya yang sobek dibagian lutut hingga menampilkan lukanya yang masih basah.


"Ayo kita ke klinik, biar mas diobati." Mata Celia sudah berkaca-kaca sejak tadi. Melihat hal itu Alim justru merasa tidak nyaman, ia merasa Celia berlebihan, ia tidak mau jika nantinya malah menjadi pusat perhatian.


"Kamu duduk sini dulu." Alim meminta Celia untuk duduk di kursinya, sementara ia beranjak pergi, masuk keruang penyimpanan arsip. Celia duduk terdiam, ia masih berusaha mencerna keadaan, juga berusaha agar airmatanya tak sampai keluar.


Tak berapa lama, Alim kembali dari ruang arsip, ia mengajak Celia untuk pergi dari sana.


"Kita mau kemana mas? Mas abis jatoh kan, ayo Celia anter ke klinik." Sudah tak tahan lagi dengan suasana canggung dan tak nyaman mereka, Celia mencoba kembali mengajak Alim untuk bicara, sudah gatal rasa bibirnya diem-dieman.


"Kamu nangis, aku nggak mau kita jadi pusat perhatian, kalau kamu masih mau nangis, mending kita keluar dari area kantor." Alim menjawab dengan datar, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Celia, bagaimana khawatirnya gadis itu melihat laki-laki yang ia sayang terluka, pada akhirnya logika Alim yang kembali bicara.


"Mas, udah, kita nggak perlu keluar kantor, kalau memang menurut mas seperti itu, mas nggak mau jadi pusat perhatian, mas bisa balik ke ruang kerja mas, Celia juga balik ke ruangan Celia, tapi jangan lupa lukanya diobati." Celia berkata pelan.


Saat pintu lift terbuka, Celia segera masuk, sebelum pintu lift benar-benar tertutup Celia masih sempat melihat Alim yang berbalik, berjalan kembali menuju ke ruangannya. Celia tidak langsung kembali ke ruang kerjanya, ia memilih untuk duduk di kubikel Bayu, ruang kerja TU Pimpinan sedang sepi saat itu, Bayu dan Pakdhe Rano melakukan protokoler Kepala Lembaga, sedang pak Darsi dan pak Nafi tengah mengikuti acara sosialisasi.


Air mata Celia sudah menganak sungai, tak mengerti dia dengan cara berpikir Alim. Ada sesak di hati Celia, ada rasa kecewa di hatinya dengan sikap yang ditunjukkan oleh Alim. Mbak Titi tak sengaja melihat Celia menangis namun ia tak berani bertanya, ia mencari Hari dan memberitahukannya, agar Hari bisa menghibur Celia.


Hari segera datang menghampiri Celia, takut Celia keburu gegerotan nangisnya, bisa-bisa nanti saat Bayu ke kantor dia akan kaget menjumpai mejanya banjir air mata, atau lebih parahnya lagi takut Celia ngamuk ngacak-ngacak dan nyemilin mejanya Bayu, kan nggak mungkin nanti Hari bilang sama Bayu kalo mejanya dimakan rayap.


"Cel, lo kenapa nangis?" Hari duduk di samping Celia, bertanya to the point. Hari sudah bisa menebak apa penyebab Celia menangis. Meskipun terkadang slengean dan jahil, tapi Hari dan Bayu adalah dua orang yang peka terhadap masalah disekitarnya.

__ADS_1


"Bang, apa Celia salah kalau Celia khawatir, apa keputusan Celia untuk nyamperin dia tadi salah bang? Apa Celia salah kalau Celia hanya ingin perhatian bang? Kenapa mas Alim nggak ngehargain sedikit aja perasaan Celia, kenapa dia justru bersikap dingin bang." Celia bicara sambil tersedu. Srruuuutttt ... sruuuttt ...! Celia membuang ingusnya tanpa sungkan, dan dengan tanpa dosa membuangnya sembarangan di pojok meja kerja Bayu.


"Hadeeeh Bay ... Bay ... lo pake acara pergi dinas lagi, gue jadinya sendirian ni nenangin putri dugong yang lagi galau." Hari ngelus dada.


"Ok! gue paham sekarang dimana permasalahannya, lo yang sabar, kan lo tau sendiri gimana si Alim orangnya. Gue nggak bisa 100% nyalahin Alim, gue juga nggak bisa nyalahin elo, karena gue tau maksud lo gimana, ntar deh kalo ketemu Alim gue ngomong ama dia sesama lelaki, tenang gue nggak akan bawa-bawa lo, udahan ah nangisnya, udah jelek makin jelek lo kalo nangis."


"Baaaaaang, bisa nggak sih ngehiburnya yg 100% ikhlas." Berkat Hari Celia sedikit terhibur.


Seandainya lo tau bang, ini bukan yang pertama kalinya dia kecewain Celia. Ya, ini memang bukan yang pertama kalinya. Beberapa waktu sebelumnya, pernah Alim mengajak semua rekan satu ruangannya untuk pergi makan siang bersama dalam rangka syukuran kecil-kecilan, tapi ia sama sekali tidak mengajak ataupun memberitahu Celia, Celia justru tahu pertama kali dari status salah satu temannya di media sosial miliknya, bukan Celia ingin diajak makan gratis, ia hanya berharap setidaknya diberitahu, itu saja sudah cukup untuk Celia merasa dihargai. Mereka ada dalam satu gedung yang sama, tetapi mengapa rasanya begitu jauh. Dan beberapa waktu yang lain, pernah Celia dan Alim berada dalam satu acara Sosialisasi yang diadakan di luar kota, tepatnya di kota B, saat itu Celia terpisah dengan genk trio kwek-kwek nya, Hari dan Bayu mendapat jadwal hari pertama, sedang Celia di hari yang kedua, ketika tiba waktunya pulang, Celia tak tahu harus pulang dengan siapa, ada Alim disana tapi ia tak memperhatikan Celia, dia sibuk dengan pekerjaannya, bahkan tak bertanya dengan siapa Celia akan pulang, Alim pulang lebih dulu dengan mbak Dian dan mas Beno, membawa mobil yang berisi perintilan Sosialisasi. Celia harus bertanya dari satu teman ke teman yang lain, siapa yang tujuan pulangnya ke arah kantor, hingga akhirnya Celia bisa mendapat tumpangan.


Celia masih termenung di meja Bayu, pant*tnya masih betah duduk berlama-lama disana, belum mau diajak pergi, bahkan sekarang meja kerja Bayu lebih mirip tempat sampah, penuh tisu berserakan, ini kalau yang punya meja tau pasti mencak-mencak, secara meja kerja Bayu adalah yang paling rapi diantara mereka bertiga, semua terorganisir dengan baik.


Lagi anteng semedi di lapak orang, Celia di kagetkan dengan suara seseorang yang dia kenal.


"Selamat siang bu, ijin patroli."


"Hah, mas Khai, kirain siapa, iya silahkan mas, etdaahh, sampe kaget Celia, nggak lihat mas Khai dateng tadi."


Selesai melakukan kegiatan patroli di ruangan tersebut Khai mengerahkan segenap keberanian nya untuk meminta nomor handphone Celia.


"Maaf mbak Celia, boleh saya minta nomor handphone milik mbak Celia?"


Celia mendongak menatap Khai.


"Maksud saya kalau nanti sewaktu-waktu mbak Celia butuh bantuan saya, mungkin akan lebih mudah untuk berkomunikasi." Khai mencoba mejelaskan.


"Iya, boleh mas Khai, santai aja mas, tegang gitu kaya lagi di ospek." Celia menuliskan nomor handphone miliknya disebuah stickynote kecil berwarna kuning boleh nyopet punya Bayu. Khai menerimanya dengan senang, saking senangnya dia bahkan sampai melompat girang di dalam lift. Untung nggak ada yang lihat, mungkin kalo ada yang melihat tingkah Khai saat itu, mereka akan berpikir Khai sedang kesurupan. Sesampainya di pos jaga, dengan hati berbunga-bunga, hidung sampai kembang kempis saking nahan gejolak bahagia di dada, Khai segera menyimpan nomor Celia di handphone miliknya. Tinggal bagaimana kini langkah Khai selanjutnya untuk menaklukkan hati Celia, sementara tanpa Khai tahu Celia masih terikat hubungan dengan Alim.


Dari sinilah kisah Khai dan Celia akan dimulai ❤

__ADS_1


__ADS_2