
"Angkat ... enggak ... angkat ... enggak, duuuh angkat nggak ya ...?" Mendadak panik menerima panggilan dari Alim, saking paniknya Celia sampai goser-goser dipintu sambil gigitin kuku. Mantul lah, baru pulang senang-senang udah kena panic attack. Sejak sore tadi Celia belum membalas pesan dari Alim, Celia harap semoga saja Alim tak menghubungi mbak Devi untuk menanyakan tentang dirinya, jika hal itu sampai terjadi, maka terbongkarlah kebohongan Celia, bukan pasal Alim, tapi Celia lebih takut pada budhe dan pakdhenya, mereka pasti akan kecewa. Ooh No! Celia tak ingin hal itu terjadi.
"Aduh, jadi takut lah mau angkat telepon mas Alim, kalau di angkat Celia harus bohong lagi dong, pasti nanti mas Alim bakalan tanya kenapa Celia nggak bales pesannya tadi sore, kok Celia jadi merasa bersalah ya, berasa selingkuh gitu." Whaattt??? Berasa selingkuh? Ampun Celia, lalu apa yang kamu lakukan dengan Khai kalau bukan selingkuh? Oh ya mungkin karena belum ada kata jadian diam-diam jadi namanya bukan selingkuh, mungkin bisa disebut dengan selingan teman tapi mesra, atau backstreet. Mulutnya komat-kamit macam ikan kurang air, bingung merangkai kata. Alim sudah melakukan dua kali panggilan tak terjawab, mendadak semua kosa kata dalam otak Celia kosong seperti isi dompet akhir bulan. Irama jantungnya jedag-jedug, tak disangka efek bohong sekamvret ini, ternyata merasa falling in love sama merasa bersalah itu rasanya beda-beda tipis, malah sama-sama bikin berdesir, dan tidak tenang. Bawaannya takut ketahuan.
Celia menarik nafas panjang, lalu membuangnya perlahan agar pasokan oksigen yang di antar ke otaknya full, dengan begitu dia akan bisa menghadapi pertanyaan-pertanyaan Alim dengan baik dan cerdas. Setelah memantapkan hatinya, Celia pada akhirnya mengangkat panggilan ke tiga dari Alim, telunjuk lentiknya menggeser gambar telepon berwarna hijau, agar panggilan terhubung.
"Hallo, Assalamualaikum mas." Celia membuat suara dan ekspresi wajahnya setenang mungkin, padahal kan ya Alim tak bisa melihatnya, mau Celia angkat telepon sambil bikin ekspresi nahan bok_3r juga Alim nggak akan tahu.
"Wa'alaikumussalam, lagi ngapain kok lama banget baru di angkat?"
"Anu, tadi lagi ke kamar mandi mas, hehe, maaf." Celia garuk-garuk kepalanya yang bahkan tak terasa gatal sama sekali saking rajinnya ia keramas.
"Oooh, terus pesan ku dari tadi sore kenapa belum di bales, lagi sibuk?" Alim kembali bertanya.
"Itu tadi Celia lupa mas, tadi sore abis mandi Celia terus pergi ke taman, cari angin, lagi pengen liat yang seger-seger, liat yang ijo-ijo, lupa hp nggak kebawa, sampe rumah lupa bales, hehe, maaf lagi mas." Tuh kan bener jadi bohong lagi kan ujung-ujung nya. Kebohongan hanya akan menciptakan satu kebohongan lainnya jika kita tidak berani ambil resiko untuk jujur mengakuinya.
"Taman mana?" Kembali Alim melemparkan pertanyaan yang akan memperpanjang list kebohongan celia.
"Taman komplek mas." Plis udahan dong mas nanya nya, Celia nggak mau makin banyak bohongnya, ratapan hati Celia.
"Ooh, yaudah. Besok mau ngajak kamu main ke **old town**, tapi naik KRL aja ya, aku tunggu nanti di stasiun B."
"Iya mas."
"Yaudah, kamu tidur gih udah malem, aku matiin ya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam mas."
__ADS_1
Alim mengakhiri panggilannya. Celia bimbang, sebenarnya ia tak ingin pergi, tak ada gai rah untuk mengunjungi old town, tapi mau bagaimana, demi menebus rasa bersalahnya, ia memilih meng-iyakan.
Banyak juga penumpang KRL di hari libur seperti ini. Dipikir akan dapat tempat duduk, nyatanya Celia dan Alim malah berdiri, tangannya kuat berpegangan pada hand strap agar tak terjatuh, atau lebih parahnya biar nggak nubruk penumpang lain pas kereta mulai melaju.
Pegal dan berhimpitan, itu yang dirasakan Celia, ia berharap segera tiba di stasiun M agar bisa segera turun dan berganti dengan kereta tujuan old town, jika beruntung ia bisa dapat tempat duduk.
Tiba di stasiun M, Celia dan Alim segera turun untuk beganti kereta. Beruntung, KRL tujuan akhir stasiun old town tak begitu ramai, masih tersedia banyak kursi yang kosong. Celia langsung mendudukan bok*ngnya dikursi kereta yang empuk, rasa pegal hilang seketika.
Pukul 11 waktu setempat. Panas, itu yang Celia rasakan ketika pertama kali kakinya melangkah keluar dari dalam stasiun. Sudah mau tengah hari, tak ada sebutir pun awan di langit, cuaca sangat cerah, sang surya bersinar terang, cetar membahana.
Aiisshhh... tau panasnya cetar begini tadi pake sunscreen kalo perlu sekalian bawa payung, ini sih namanya luluran setahun dihapus panas sehari. Kicau Celia dalam hatinya.
Alim tengah antre membeli tiket masuk salah satu museum di old town, sedangkan Celia memilih menunggunya sambil sandaran di salah satu pilar depan museum.
Celia mengipasi wajahnya dengan tangan, seolah jari-jemarinya memiliki kekuatan ajaib si putri kipas, biar ademan dikit gitu. Baru juga hampir tengah hari, tapi muka sudah kusam dan lepek, jangan tanya soal keringat, dari tadi sudah banjir, bikin ketek basah, untung Celia pakai deodorant, jadi nggak burket-burket amat. Niatnya belajar sejarah dapetnya malah keringat parah.
"Kuy lah mas." Semangat 45 Celia berjalan memasuki gedung museum, mayan kan di dalam ada AC nya, jadi bisa numpang ngadem, pikir gadis itu.
Satu jam mereka pakai untuk menjelajahi setiap sudut museum yang menyajikan sejarah perjalanan kota J, replika peninggalan jaman kerajaan, juga hasil penggalian arkeologi yang ditemukan di kota J.
Sudah lewat jam makan siang, Alim mengajak Celia ke salah satu gerai makanan siap saji tak jauh dari stasiun agar memudahkan mereka, tak perlu berjalan jauh jika ingin pulang nanti.
"Kamu mau pesen minum apa? Es lemon tea apa cola?"
"Celia mau cola aja mas."
"Lemon tea aja ya, cola kan banyak gula nya, nanti kamu gendut."
__ADS_1
"Terserah mas aja deh, mas yang order." Celia sedikit merasa jengah, kenapa juga musti bertanya jika ujungnya dia yang menentukan.
Ngapain nanya bambang, harusnya mah tadi gausah nanya langsung aja order, hadeeehh.
Celia tak begitu bernafsu untuk makan, mood dan rasa laparnya terbang melayang, ia tak menghabiskan makanannya.
"Kok nggak diabisin?" Alim melihat Celia sudah mengakhiri kegiatan makannya.
"Iya mas, Celia udah kenyang, kebanyakan minum."
"Yaudah, nggak papa, kalo kebanyakan makan nanti gembul kamu, tapi lucu kali ya kalau kamu jadi gembul, pipi kamu nanti kaya bapau, hahaha." Alim menjawab dengan santai sambil tertawa.
Celia hanya tertawa sumbang, otaknya justru traveling ke masa semalam saat ia disuapi oleh Khai, so sweet.
"Mas, abis ini langsung pulang ya, besok kan senin, jangan terlalu capek."
"Nggak mau muter lagi?"
"Enggak mas, lain waktu aja, nggak apa-apa kan?"
"Ya nggak apa-apa, yaudah yuk pulang."
Celia tak ingin kesorean sampai dirumah, ia ingin istirahat, mengingat esok adalah hari senin, biasanya kan kalau hari senin bikin mata lengket nggak mau bangun, apalagi kalau kondisi badan sedang lelah ditambah bujukan nikmat dari syaitonirojim, alamat males berangkat ngantor.
Alim tertidur di kereta, kesempatan emas bagi Celia untuk melihat pesan-pesan yang masuk di handphone nya, dari tadi sudah gatal tangannya ingin buka hp tapi selalu ia tahan takut Alim meminjamnya dan melihat isi pesan dari Khai, meski tak ada yang aneh-aneh seperti ayank-ayank_an, atau love-love_an, tetap saja bikin takut, takut ketahuan kemarin habis jalan bareng.
Benar saja ada beberapa pesan masuk dari Khai, yang mengingatkan Celia untuk jangan telat makan, jaga diri, hati-hati dan jaga kesehatan, udah mirip pesan emak ke anak gadisnya. Pagi tadi sebelum berangkat, Celia memang sengaja memberitahu Khai jika ia diajak Alim ke old town, kali ini Celia tak ingin berbohong, ia harus jujur pada Khai, tak ingin menutupi satu kebohongan dengan kebohongan yang lainnya, cukup sekali saja, terlepas dari sebagai Celia bagi seorang Khai. Agar Khai juga bisa memilih, mau bertahan dan berjuang atau mundur teratur. Celia memasukkan kembali handphone nya kedalam tas, ia ikut memejamkan mata. Ada Alim duduk disampingnya, tapi justru Khai yang kini menari-nari dibenaknya.
__ADS_1