
Happy Reading 🤗
🎵🎵🎵
Senada cinta bersemi di antara kita
Menyandang anggunnya peranan jiwa asmara Terlanjur untuk terhenti
Di jalan yang telah tertempuh semenjak dini
Sehidup semati
Kian lama kian pasrah kurasakan jua
Janji yang terucap tak mungkin terhapus saja
Walau rintangan berjuta, walau cobaan memaksa
Diriku terjerat di peluk asmara
Bersama dirimu terbebas dari nestapa
Dalam wangi bunga cita cinta dan bahagia
Walau rintangan berjuta, walau cobaan memaksa Diriku terbuai di batas asrama
Kian lama kian pasrah kurasakan jua
Janji yang terucap tak mungkin terhapus saja
Walau rintangan berjuta, walau cobaan memaksa
Diriku terjerat di peluk asmara
Terlambat untuk berdusta, terlambatlah sudah Menyentuh sanubari tak semudah kusangka
Yakin akan cintamu, yakin 'kan segalanya
__ADS_1
Perlahan dan pasti daku
'Kan melangkah menuju damai jiwa
(Sakura by Rossa)
🎵🎵🎵
Celia bersenandung ria sambil bersolek, ia ingin selalu terlihat cantik dimata Khai. Biar nggak malu-maluin kalau di ajak jalan. Celia menaikkan volume musik di ponselnya, cocok sekali lagu ini dengan kisah cinta mereka, Celia semakin bersemangat mengikuti setiap liriknya.
"A min berisik, suara kamu bikin saya nggak bisa tidur." Mas fajar berkata dari kamarnya yang hanya berbatas tembok dengan kamar Celia.
"Lagi siapa suruh uda semalem nonton bola sampai subuh, sekarang baru mau tidur. Nih ya uda, jam segini tu waktunya happy-happy, nyanyi-nyanyi, main keluar jalan-jalan, ini kan hari minggu." Jawab Celia selalu tak mau kalah jika sedang debat kusir dengan mas Fajar, seringkali mbak Roro hanya bisa geleng-geleng kepala melihat suami dan adik sepupunya seperti anak kecil.
"Jangan nyanyi lagi pokoknya, suara nyanyian kamu terlalu merdu ...." Mas Fajar menjeda ucapannya.
"MERusak DUnia." Lanjutnya sambil tertawa jahat, lebih jahat dari ibu tirinya bawang putih.
Celia mendelik sengit menatap tembok di depannya seakan tembok itu transparan dan ia bisa menguliti mas Fajar dengan jelas, "yeeee ... kayanya uda perlu periksa ke THT deh, suara bagus gini dikata merusak dunia."
Suara nyanyian tengah malam uda sama mbak Roro lebih merusak dunia Celia yang masih suci, bersih dan polos tak bernoda, tapi Celia nggak pernah protes tuh. Batin Celia kesal, pasalnya ia sering kali harus dibuat merinding disco dengan suara-suara 21+ dari kamar sebelah, yang mengharuskan Celia tidur dengan menggunakan headphone jika tidak ingin pikirannya ikut tercemar dengan hal yang iya-iya, sebelum waktunya.
Celana jeans model pensil warna biru Dongker ia padu padankan dengan atasan rajut berwarna ungu, sedang rambutnya ia cepol ala-ala korean style.
Sudah pukul 9.30 dan Celia sudah sangat siap untuk berangkat.
"Budhe, Celia minta ijin mau pergi keluar dulu, ada beberapa keperluan Celia yang sudah habis, jadi Celia mau membelinya." Ijin Celia pada sang budhe, harap-harap cemas, semoga budhenya mengijinkan tanpa memberikan banyak pertanyaan.
"Di jemput Alim apa sendiri?" tanya budhe Rani yang tadinya sedang sibuk dengan ponselnya beralih menatap Celia.
Terlontar juga pertanyaan yang dikhawatirkan Celia, "ini pergi sendiri aja budhe," tapi nanti dari minimarket depan di jemput sama Khai budhe, Celia sama mas Alim udah end, sambung Celia dalam hatinya.
"Oh, ya sudah hati-hati Cel."
"Iya budhe, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Budhe Rani kembali fokus memainkan ponselnya.
__ADS_1
Celia cepat-cepat keluar dari rumah, ia memilih jalan memutar lewat gang sebelah, jika Celia memilih lewat jalan biasanya, maka ia harus melewati rumah mbak Devi terlebih dahulu, Celia tak mau ambil resiko, mbak Devi adalah orang yang sangat kritis, tak mau Celia jika nanti ia malah mendapat pertanyaan yang menjebak dari mbak Devi. Mendingan jalan sedikit jauh tapi aman pikirnya.
"Huuffttt ... Akhirnya sampai juga disini, aman .. aman ..., tinggal nunggu Khai dateng."
Sembari menunggu Khai menjemputnya, Celia masuk ke dalam minimarket untuk membeli minuman dingin. Baru ingin beranjak ke kasir, ada hal tak terduga terjadi, mbak Devi dan kedua anaknya baru saja masuk ke minimarket yang sama.
"Mampooosss," desahnya frustasi. Celia segera bersembunyi, ketika mba Devi dan dua krucilsnya sedang sibuk memilih belanjaan, Celia segera meluncur ke kasir tanpa menoleh lagi ke arah mereka, berharap agar mereka tak menyadari keberadaannya. Keluar dari minimarket Celia ambil langkah seribu, ngacir masuk gang yang berada pas disamping minimarket dan sembunyi di balik gapuranya.
"Kok Celia berasa kaya abis maling jemuran ya, pake ngumpet-ngumpet kaya gini," Celia malah terkikik geli, lumayan juga adrenalinnya sedikit terpacu.
"Ma, kok tadi kakak kaya lihat tante Celia ya." Celetuk Anin anak pertama mbak Devi.
"Mungkin kakak salah lihat, kalo tante Celia masak nggak nyamperin kita disini." Jawab mbak Devi pada anaknya. Anin melirik ke arah luar, "iya juga ya ma, yaudah yuk pulang ma, kakak udah dapet jajannya."
Celia mengintip dari celah gapura, terlihat olehnya mbak Devi serta anak-anaknya sudah keluar dan meninggalkan minimarket. Kali ini baru Celia bisa benar-benar bernafas lega.
"Mbak ngapain sembunyi disini?" Seorang satpam komplek menghampiri Celia," mbak bukan warga blok ini kan?!" sambungnya lagi.
Celia tersentak kaget, ia lantas menggaruk kepalanya yang tak gatal, "hehe, bukan pak, saya warga blok sebrang situ, saya lagi main petak umpet pak sama ... ponakan, iya sama ponakan, hehe." jawab celia sambil cengar-cengir, jari telunjuknya menunjuk blok sebrang jembatan.
"Yakin warga blok sebrang?! bukan habis maling hp atau nyopet dompet?" Selidik pak satpam tak percaya begitu saja pada Celia, pikirnya jaman sekarang penjahat malah cantik-cantik, ganteng-ganteng, rapi, berpenampilan menarik, lhah ini mau maling apa mau ngelamar kerja pak?!!
"Astaghfirullah, sekata-kata si bapak, masak cantik begini dikira kang copet, sok atuh bapak silahkan diperiksa ini isi tas saya," tukas Celia tak terima, ia lalu membuka tas selempangnya yang mungil dan mengeluarkan semua isinya, yang hanya ada ponsel, dompet dan lipstick.
"Nah itu dompet siapa? Dompet mbaknya bukan itu?"
"Allahuakbar si bapak mah kebangetan ya, ini dompet saya pak," pungkasnya jengkel, kenapa juga pak satpam yang satu ini sulit sekali percaya padanya, berbeda sekali dengan satpam ganteng kekasih hatinya. Celia membuka dompetnya di depan satpam itu, ia perlihatkan isi dompetnya, ada pas foto dirinya ukuran 4x6, juga tanda pengenal, barulah satpam itu percaya pada Celia, ia meminta maaf dan baru Celia diperbolehkan untuk pergi.
Celia berjalan keluar dengan bibir manyun dan muka masam, bebarengan dengan itu Khai datang menjemputnya. Khai mengernyit heran, mengapa kekasihnya itu keluar dari gang blok sebrang dengan wajah ditekuk mirip anak TK nggak dapet jatah uang jajan.
"Kok keluar dari sana?" tanya Khai.
Yang ditanya tiba-tiba malah nyengir kuda, "hehe, tadi ada mbak Devi sama anak-anak, jadi Celia ngumpet dulu," terang Celia, sedetik kemudian wajah Celia kembali ditekuk masam.
Khai menaikkan alisnya, "kenapa hemmm, kok ditekuk gitu mukanya?"
"Ya gimana nggak ditekuk, masak tadi pas Celia ngumpet Celia dikira abis nyopet sama pak satpam blok ini, pakai acara diintrogasi dulu baru boleh pergi, emang muka Celia keliatan kaya muka-muka maling gitu?!" Ungkap Celia kesal.
__ADS_1
Khai ingin sekali menyemburkan tawanya, tapi sebisa mungkin ia tahan agar Celia tak bertambah murka, "yaudah ayo naik jangan lupa ini dipake helmnya." Khai memakaikan helm di kepala Celia seperti biasanya.