
Rintik hujan menemani malam syahdunya Khai, berteman secangkir kopi dan sebatang rok*k, petikan senar gitar yang ia mainkan mengalun indah mengiringi lagu-lagu cinta menghangatkan hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
Entah kenapa semenjak melihat Celia pagi tadi hati dan pikirannya terus dipenuhi oleh si gadis ayu itu, wajahnya, mata coklatnya, bibirnya, sungguh baru pertama kalinya Khai merasakan hal aneh seperti ini. Apakah ini yang disebut dengan jatuh cinta pada pandangan pertama? Kenapa sampai sepenasaran ini Khai dibuatnya.
Khai meminta pada ibunya agar esok ia dibangunkan pagi-pagi, takut suara alarm tak mampu membangunkannya. Pak Rano kan selalu dateng ke kantor pagi-pagi sekitaran jam enam, berarti aku harus sampai di kantor lebih pagi dari pak Rano. "Bu, besok bangunin Khai ya, Khai mau berangkat jam setengah enam".
"Mau kemana Khai?" Bukan ibunya tapi justru sang ayah yang menjawab, ibunya hanya diam memperhatikan Khai yang sepertinya sedang tidak beres, lantaran ia sempat melihat Khai melamun tapi sambil senyum-senyum sendiri.
"Kerja yah, kan besok Khai masuk pagi". Khai menyeruput kopi hitamnya, lalu tak lupa menghis*p sebatang rok*k yang nyempil di sela telunjuk dan jari tengahnya.
"Lah bukannya kalau habis jaga malem besoknya libur ya Khai? Ayah ngopi nggak yah? Ibu bikinin ya?" Ibunya menimpali lalu berdiri, berjalan ke arah meja. "Boleh deh kalo di paksa ayah nggak nolak". Si ayah menjawab pertanyaan istrinya dengan candaan.
Khai seketika sadar kalau memang benar ia besok libur, dan baru akan masuk lusa. Itu artinya semangat membara dalam dadanya untuk jadi stalker harus ia tahan dulu, ternyata sang waktu belum mendukungnya, sabar bro.
"Iya ya, Khai lupa kalau besok libur bu", nyengirnya menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Kamu kenapa Khai? Ibu lihat td siang kamu bengong aja sambil senyum-senyum sendiri, lagi sawan apa gimana? Masih waras kan Khai?". Dirumah itu memang sang ibu yang paling dominan, mungkin jika orang baru pertama bertemu dengannya akan sedikit takut, karena beliau terkesan galak dan ceplas-ceplos, bahkan terkadang menggunakan sapaan lo - gue pada anak-anaknya juga pada teman-teman satu genknya, mungkin terbiasa dari lingkungan tempat tinggal dan pergaulan kaum emak-emak berdaster jadi hilang jawanese nya, tapi pada dasarnya beliau adalah orang yang baik dan sangat menyayangi anak-anaknya.
"Khai abis ketemu peri cantik bu". Khai memang lebih sering jujur kalau sama ibunya, bagi Khai ibunya adalah segalanya.
"Peri cantik apaan? Cewek cantik maksud lo?" Ekspresi wajah ibu mulai berubah sedikit keruh.
__ADS_1
"hi ... hi ... iya bu". Khai bisa melihat perubahan raut wajah ibunya, bahasanya juga sudah berubah jadi lo gue. Yah salah deh ini Khai jujur sama ibu, bisa-bisa ibu ceramah ampe besok pagi.
"nggak usah macem-macem dulu Khai, urusin tu kuliah lo yang baru semester dua, adek lo aja nyambi kerja udah mau lulus kuliahnya". Ibu Khai tak mau jika nantinya karena urusan asmara membuat kuliah anaknya terganggu.
"Iya bu". Khai mencoba tersenyum semanis mungkin pada ibunya, agar tidak jadi marah.
"Iya iya aja lo kalo di kasih tau", mode sewot ibunya sudah on.
"Iya ibuku yang cantik, Khai nggak macem-macem bu, cuma satu macem aja kok bu, he..he..", emang sesantuy itu Khai saat menghadapi ibunya, meskipun beliau sedang marah, dasar anak durj*ana kau Khai.
Khai kembali memetik senar gitarnya agar suasana kembali hangat. Ia tahu maksud ibunya baik, bukan ia tak boleh menjalin hubungan dengan perempuan, hanya saja ibunya takut jika ia jadi tidak fokus pada pekerjaan juga study nya. Bukan perkara mudah bagi Khai untuk bisa kuliah, ia sempat menunda kuliahnya karena ketiadaan biaya, begitupun dengan adiknya yang nomor dua, bedanya, jika sang adik menggunakan uang dari hasil kerjanya untuk langsung kuliah, sedang Khai menggunakan uang dari hasil kerjanya untuk terlebih dahulu membeli Bray si kuda besi idamannya, dua tahun kemudian ia baru mendaftar untuk kuliah.
Tanpa Khai sadari, Nita saat ini sedang dalam suasana hati yang tidak baik-baik saja. Sejak tadi ia terus bolak-balik melihat layar handphone miliknya, berharap ada pesan dari Khai, namun nihil, tak satu kali pun Khai mencoba menghubunginya. Nita merasa semakin kesal. Jika bagi Khai waktu yang ia habiskan dengan Nita hanyalah sebatas untuk proses pendekatan, belum ada ikatan, berbeda dengan Nita yang menganggap hubungan mereka sudah lebih jauh dari sekedar kata pendekatan, Nita berharap lebih pada hubungan mereka. Khai Khai ... anak orang digantungin kan jadinya.
"Pakdhe, apa setiap hari pakdhe pulangnya jam lima?" Celia heran kenapa pakdhenya tidak pulang jam empat, bukankah jam kerjanya dari pukul 08.00 - 16.00? Mereka saat ini sedang bersantai di depan TV sambil mengobrol.
"Iya Cel, pakdhe harus menunggu sampai pak Kepala pulang dulu. setelah beliau pulang, baru pakdhe juga bisa pulang". Pakdhe Rano menarik kaleng kacang, mengambil sejumput lalu memakannya.
Jadi sekarang tiap hari Celia harus berteman dengan macet dan pulusi? Ya Rabbi Gusti, berika hambamu ini kekuatan dan kesabaran serta tambahan ekstra kewarasan, biar hamba tetep strong berangkat petang pulang petang. Wellcome to the Jungle Celia Novalia Sujadi. Celia tersenyum miris.
"Kenapa Cel? kaget ya pertama kali macet-macetan?" budhe seakan tau apa yang Celia pikirkan.
__ADS_1
"hehe...iya budhe, Celia pikir tidak separah itu macetnya". Celia kembali terbayang bagaimana macetnya tadi saat perjalanan pulang, motor yang mereka kendarai hanya bisa merangkak pelan sepanjang jalan kenangan, bahkan terkadang stuck ditempat.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa Cel, makanya pakdhe selalu berangkat jam lima biar nggak telat, kalau kita berangkat agak siangan dikit aja, dijamin pasti telat Cel sampai kantor".
"Terus gimana tadi pengalaman pertama kerja di kantor Cel?" tanya budhe penasaran.
"Sedikit mengalami kesulitan budhe, mungkin karena baru pertama kali, belum terbiasa, jadi kerjaan masih terlihat asing, Celia harus banyak belajar". Celia menggeser duduknya agar budhe bisa duduk di kursi sofa disebelahnya.
"nggak apa-apa nduk, semua butuh proses, yang penting kamu kerja yang sungguh-sungguh, teliti juga hati-hati". Budhe memberikan nasehat pada Celia.
" Kalau ada yang kamu belum pahami, kamu langsung tanya aja sama Hari atau sama yang lainnya Cel". Pakdhe menambahi sambil tangannya terus asik menjumput kacang dari toplesnya.
"Siap pakdhe, budhe, Celia akan bekerja dengan sungguh-sungguh". Celia menjawab sambil tersenyum hangat kearah budhe dan pakdhenya.
Obrolan mereka terhenti ketika mbak Roro (istri dari mas Fajar, bungsunya budhe Rani) pulang kerja.
Pukul 21.00 WIB, semua penghuni rumah budhe Rani sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing, pakdhe dan budhe terbiasa tidur lebih awal agar bisa bangun juga lebih awal, selain itu juga agar stamina mereka tetap terjaga setelah lelah seharian bekerja.
Sebelum beranjak tidur, Celia menyempatkan diri menghubungi ayahnya yang saat ini masih dalam perjalanan pulang ke kampungnya di kota S, setelah berkabar dengan sang ayah, tak lupa Celia juga menghubungi ibunya, beliau pasti juga merasa khawatir pada anak gadisnya yang pertama kali bekerja jauh dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Puas berkabar dengan orangtuanya, celia bersiap untuk tidur. Dinyalakannya kipas angin dinding agar tidurnya nanti semakin lelap.
__ADS_1
Selamat istirahat diriku, terima kasih untuk semua yang telah kita lakukan hari ini, mari lupakan sejenak urusan dunia dan seisinya yang fana. Semoga hari esok akan menjadi lebih baik.
Celia terlelap dengan senyuman diwajahnya.