
Happy Reading 😉
🍁🍁🍁
Puter otak ... puter otak ... puter otak!!!
Ditemani semangkuk mie rebus yang masih mengepulkan uap-uap panasnya, Celia mengetuk-ngetuk pelan kepalanya dengan menggunakan ujung sendok, kalo kekencengan takut otaknya ikut geser. Berharap dengan begitu akan muncul sebuah ide cemerlang yang tidak merugikan pihak manapun terkait kelangsungan per_weekend_an dua sejoli yang sedang bahagia-bahagianya merajut dawai-dawai asmara.
Celia terus berpikir bagaimana caranya agar besok ia bisa keluar menemui Khai tanpa ketahuan pakdhe dan budhenya. Entah sampai kapan harus main kucing-kucingan begini dengan keluarganya soal hubungannya dengan Khai. Macam kisah cinta anak ABG yang musti backstreet takut ketahuan pacaran sama orangtuanya, takut di hukum nggak dibolehin keluar rumah plus uang jajan di pangkas sampe cepak, lebih cepak dari rambut abang-abang taruna. Seriusly ini bukan hal yang membanggakan atau sesuatu yang patut untuk di jadikan teladan.
"Belum ada ide buat besok, gimana ini?!! Makan dulu aja lah, siapa tau otak Celia laper jadi nggak bisa dipakai buat mikir, minta diisi amunisi dulu." gumam Celia.
Mie rebus dengan sentuhan pedas bumbu seblak ala chef Celia diharapkan mampu menjadi pembangkit daya pikirnya. Celia makan dengan gelisah, ia selalu was-was dengan kelanjutan hubungannya yang baru saja ia mulai. Di balik rasa bahagia dan hati yang berbunga-bunga tersembunyi sebuah ketakutan dan kekhawatiran yang besar. Seperti bom waktu yang bisa kapan saja meledak, dan jika saat itu tiba, ia takut banyak yang akan terluka karenanya. Celia menyadari ia telah jatuh dalam cinta seorang Khai Harun, bukan rasa semu sebatas untuk pelarian dari rasa bosan, Celia ingin serius dengan Khai, ia tak akan siap jika nanti orangtuanya menolak Khai.
Celia hanya memakan setengah dari mienya sisanya ia aduk-aduk saja dalam mangkuk, mungkin kalau bisa bicara mie dalam mangkuknya itu akan berteriak minta untuk segera dibuang saja.
Aku lupa, dalam diamku ada Allah Yang Maha Mengetahui apa isi hatiku. Aku lupa, dalam gelisahku ada Allah yang akan selalu menentramkan hatiku. Aku lupa, dalam setiap ketakutanku ada Allah Yang selalu melindungiku. Aku lupa, dalam setiap tangis dan kesedihankuku ada Allah yang selalu memberikan penghiburan untukku. Aku lupa, dalam setiap kebingunganku ada Allah Yang Maha pemberi petunjuk. Aku lupa, dalam setiap sakitku ada Allah Yang Maha menyembuhkan segala luka.
Senyum Celia terkembang, ia kembali bersemangat, segera ia habiskan mie nya yang sudah dingin dan megar, nggak jadi dibuang tsay, mubadzir belinya pakai duit bukan pakai daun.
Setelah semua tandas, bersih tak bersisa, Celia mencuci bekas alat makannya lalu segera masuk kedalam kamar. Tubuhnya yang remuk redam karena penyiksaan a.k.a olahraga tadi pagi ia rebahkan diatas kasur, matanya memandang lurus ke atas, menyapu langit-langit kamar. Dilihatnya ada dua ekor cicak sedang main kejar-kejaran disana. Celia bergidik ngeri, ia paling benci dan geli dengan yang namanya cicak, juga kecoa.
Puk ... !!!
"Apaan nih?!!" Ada sesuatu yang mendarat bebas tepat di dahi Celia.
"iiiih bau, huaaaa ... an_J1rrr t4i cicak!!" Celia mengambil selembar tissue untuk mengelap t4i cicak di dahinya.
__ADS_1
"Woi!! dasar cicak kurang ajar!! ini mukanya Celia bukan jamb4n, jangan seenaknya main buang t4i dong." Sungut Celia, ia begitu kesal sekaligus j1j1k. Celia keluar dari kamarnya, ia mencuci mukanya dengan sabun berkali-kali, seakan kotoran cicak adalah noda membandel yang sulit dihilangkan. Setelah mencuci muka Celia mengambil karet gelang bekas tali bungkus cabe di meja dapur, akan ia gunakan untuk menjepret cicak kurang aj4r yang sudah dengan beraninya menjatuhkan ranjaunya tepat didahi Celia. Diarahkannya bidikan pertama, begitu tembakan karet gelang dilesatkan, wuuusshh ...!! prettt ...!! Tembakan karet gelang mengenai ruang kosong disebelah si cicak, yang membuat mereka kaget dan kabur secepat kilat dari jepretan karet Celia.
"Awas aja kalian kalo berani masuk lagi ke kamar Celia." Ketus Celia pada hewan reptil berkaki empat yang biasa merayap di dinding itu.
Tidak cukup hanya dengan mencuci mukanya berkali-kali dengan sabun, Celia mengoprek isi kotak make upnya mencari-cari dimana keberadaan si masker wajah, sej1j1k itu Celia pada kotoran cicak.
"Yaaah, masker abis lagi, Celia mah mending kena e_e ayam daripada e_e cicak." Dumelnya.
"Ehhh ... tunggu-tunggu, masker abis, bararti besok musti pergi keluar buat beli masker dong, kayaknya bedak Celia juga tinggal dikit deh, bisa sekalian ini. Aaaah ...Yes! Yes! Yes! Ini sih namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui." Celia senang sekali mendapat ide agar besok ia bisa pergi keluar tanpa harus berbohong pada budhe dan pakdhenya. Ia sudah memutuskan untuk pergi ngedate di mall terdekat saja sekalian membeli kebutuhan pribadinya.
E_e cicak membawa berkah, coba kalau tadi si cicak nggak buang hajat di mukanya Celia, belum tentu sampai detik ini Celia akan mendapat ide bagus seperti ini.
Celia mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Khai, memberitahunya agar besok bisa di jemput pukul 10 waktu setempat. Ia meminta Khai untuk menunggunya di minimarket depan komplek saja, meski awalnya Khai menolak, dia ingin menjemput Celia dirumah tetapi Celia kembali mengingatkan Khai akan kesepakatan yang sudah dibuat untuk sementara waktu menyembunyikan hubungan mereka.
Bersabarlah Khai, Celia juga sedang mencari cara bagaimana agar bisa show up hubungan kita pada keluarga.
🍁🍁🍁
Khai juga memikirkan bagaimana caranya nanti akan meminta Celia pada kedua orangtuanya, ia sedikit tak percaya diri dengan keadaannya saat ini, baik dari pendidikan juga dari pekerjaannya yang hanya seorang satpam.
Aku tak punya harta berlimpah, yang ku punya hanya cinta yang besar buat kamu Celia, semoga orangtuamu bisa menerima aku yang bukan siapa-siapa ini.
"Khaiiii ... air galon abis, beli sono di bang ujang!!" Teriakan ibunya membuyarkan lamunan Khai.
"Iya buu." Khai segera bangkit, diambilnya galon diatas dispenser yang telah kosong isinya, lalu keluar ke warung bang ujang.
"Bu, kok mamang yang disuruh, biasanya juga ibu nyuruhnya Angga bukan mamang Khai." Wita bertanya heran pada ibunya, tumben-tumbenan urusan air jadi abangnya yang kena.
__ADS_1
"Biarin, daripada bengong aja noh abang lo di kamar." Tukas ibunya.
Tak berapa lama Khai sudah kembali dari membeli air, dengan cekatan ia memasang kembali galon pada dispenser.
"Nggak keluar mang?" Wita bertanya pada Khai.
"Nggak, nggak tau kalau nanti. Lo tumbenan dirumah Wit malem minggu gini?"
"O ... O ... O ... tentu tidak, ini bentar lagi mau keluar." Wita menunjukkan tiket nonton bioskop yang ada di ponselnya pada Khai.
"Nonton mulu lo Wit." Adik perempuan Khai satu-satunya ini hobby sekali nonton jika ada film yang baru rilis.
"Lah biarin, sirik aja mang, daripada lo mang, malem minggu bukannya pacaran malah bengong di kamar." Tukas Wita.
Angga hanya diam menyimak perdebatan kedua kakaknya, ia tak berminat untuk ikut nimbrung.
"Pacaran? Nikahlaah boneng..!" Jawab Khai tak mau kalah.
"Apaan lo nikah - nikah Khai?!! Kerja aja belom bener main nikah, kerja dulu yang bener, mau dikasih makan apa anak orang! Mau dikasih makan cinta? Apa pentungan satpam?!!" Ibunya yang sedari tadi menyimak sembari masak menyahut dengan nada 5 oktafnya dari dapur.
"Iya bu." Pungkasnya agar ibunya tak semakin mengomel kemana-mana.
"Weeeeek ... sukurin di omelin ibu." Wita menjulurkan lidahnya pada Khai, sengaja ia mengejek abangnya.
Sungguh persaudaraan itu indah sekali, apalagi kalau tau salah satunya sedang kena omel, rasanya itu seperti dapat hiburan gratis.
Khai melempar bantal kearah Wita lalu ia melenggang pergi keluar.
__ADS_1
Sepertinya menghirup udara malam di pengkolan bersama teman-temannya akan lebih baik daripada menjadi bulan-bulanan ibu dan adiknya dirumah.