Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 34 : Bersama Ibu


__ADS_3

kukuruyuuukkk ... kukuruyuuukkk ...!!!


Lengkingan paduan suara dari ayam-ayam jago milik ayahnya adalah pengganti alarm pagi bagi Celia sekeluarga. Jika mereka berkokok riuh, itu artinya waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 waktu setempat. Celia terbangun dengan badan ngilu, ternyata meski empuk tetapi jika duduk terlalu lama tetap saja ****4* rasanya panas, pinggang pegal, dan kini sendi-sendinya terasa ngilu. Harusnya Celia senam peregangan dulu di kereta tiap 2 jam sekali, sekalian ajak penumpang yang lain, siapa tau besok-besok bisa di endorese buat jadi pemandu senam on the train, kan enak bisa jalan-jalan terus setiap hari.


Meski sudah bangun Celia masih enggan beranjak dari tempat tidurnya, ia masih terbuai dengan rasa nyaman yang diberikan olelh kamarnya, kamar sudah ia tempati sejak ia masih menginjak kelas dua Sekolah Dasar, kamar yang rasa nyamannya sudah mendarah daging dan melekat dalam batin.


Lima menit ... sepuluh menit ... lima belas menit ... setengah jam ... hingga akhirnya adzan Subuh berkumandang Celia baru mau beranjak dari kasur untuk menunaikan kewajibannya. Lama Celia bermunajat pada Sang Pencipta, mengucap rasa syukur atas setiap helaan nafasnya, hingga detik ini jantungnya masih dapat berdetak, juga untuk semua nikmat yang sudah Tuhan berikan untuk Celia dan keluarganya. Setelahnya Ia adukan semua rasa takut juga khawatirnya akan hubungannya dengan Khai, memohon agar diberikan jalan yang terbaik. Setetes airmata mengalir tanpa diminta, begitulah Celia, ia tak bisa tidak menangis saat menghadap Sang Penciptanya, ia keluarkan semua rasa yang ada di hatinya, karena Celia sadar hanya Tuhannya lah satu-satunya sandaran sejatinya, yang tak akan pernah meninggalkannya.


Celia selalu merasa lega, hatinya terasa lebih tentram setelah melaksanakan sholat, seakan semua beban dihatinya terangkat.


Mukena dan sajadah sudah kembali terlipat rapi, Celia keluar dari mushola kecil di dalam rumahnya, ia mencari keberadaan ibunya, biasanya ibunya itu akan mulai sibuk di dapur selepas subuh. Benar saja, Celia melihat wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu sudah berjibaku dengan kompor, penggorengan juga bumbu-bumbu. Celia tersenyum ditempatnya, Celia teringat dulu saat masih sekolah ia paling malas jika diminta ibunya untuk membantu memasak di dapur. Celia lebih suka membantu ayahnya di kebun atau di sawah, ia lebih senang mengerjakan pekerjaan laki-laki seperti mencangkul, mencari kayu bakar, menyiangi rumput di sawah, baginya yang penting jauh dari urusan dapur. Menurut Celia, memasak itu membosankan, rumit harus tau banyak bumbu-bumbu masakan, harus pas takarannya agar makanan yang disajikan layak dikonsumsi manusia, sedang Celia bedanya merica dan ketumbar saja ia tak tahu, yang ia tahu hanya cabe, bawang baik dan bawang jahat. Baru semenjak tinggal bersama budhe Rani, Celia mulai belajar memasak, awalnya karena terpaksa, Celia merasa tak enak hati jika disana hanya ongkang-ongkang kaki di hari libur, selain itu Celia juga malu pada budhenya, jadilah Celia mulai belajar memasak sedikit demi sedikit, dari yang mudah dan simple hingga yang lumayan rumit, hingga lama-kelamaan Celia pandai memasak, dan kini memasak justru menjadi salah satu hobbynya.


Perlahan Celia berjalan mendekati ibunya, "fffiiiuuuuhh ... fffiiuuhhh ...," Celia meniup belakang kepala Ibunya, hingga ibunya refleks menoleh kebelakang.


"Astaghfirullah hal'adzim, Celiaaaa...!!" Bu Sujadi berteriak kaget, ia mengelus dadanya, ngidam apa batinnya, hingga putrinya begitu jahil.


"Celia, nanti kalau ibuk jantungan gimana to nduk." imbuh ibunya gemas pada putri satu-satunya itu.

__ADS_1


"Lha jangan to buk, kan Celia sayang ibuk," Celia menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk simbol hati.


"Ya sudah, kalau bilangnya sayang sama ibuk sekarang kamu bantuin ibuk masak, tapi kalau masih capek istirahat di kamar saja nduk." ucap bu Sujadi lembut.


"Lapor, Celia Novalia Sujadi siap melaksakan tugas memasak dari ibunda tercinta, laporan selesai." Celia menghormat pada ibunya lalu mengambil alih menggoreng ikan, sedang ibunya hanya bisa tertawa dengan aksi konyol putrinya.


"Buk ..."


"Hemmm ... apa nduk."


"Sekarang Celia pinter masak lho buk." Ujar Celia jumawa, "Celia sering masak di rumah budhe Rani kalau pas libur," lanjutnya.


"Masakan Celia eco (enak) lho buk, besok pagi urusan masak memasak biar Celia yang ambil alih, ibuk tenang saja lho tak masakne yang uenak-uenak," Celia menaik turunkan alisnya meminta persetujuan dari kanjeng ibu.


"Iya boleh, kapan maneh ibuk ono sing ganteni masak (iya boleh, kapan lagi ibuk ada yang menggantikan masak)," yes yes yes ... asik libur masak, bisa santai-santai, batin bu Sujadi senang.


Suasana dapur keluarga Sujadi pagi itu ramai oleh celotehan ibu dan anaknya, dua wanita beda generasi yang sedang menikmati momen kebersamaan. Celia menceritakan kehidupannya di kota besar, juga tentang seluk beluk pekerjaannya. Ada binar bangga dimata sang ibu akan kebersihan putrinya melawan rasa takut dan kesedihannya harus jauh dari orangtua.

__ADS_1


Bu Sujadi sangat menikmati kebersamaan nya memasak dengan sang putri, ini adalah momen langka baginya, pasalnya dulu Celia selalu saja kabur dengan menggunakan seribu alasan agar tidak diminta untuk belajar memasak. Meski begitu Celia termasuk anak yang rajin, sejak masih duduk disekolah dasar Celia sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci piring juga mencuci pakaian. Celia adalah putri kebanggaan keluarga Sujadi.


Sarapan sudah siap terhidang, nasi dan lauk pauk nya sudah berbaris rapi di atas meja makan. Celia melihat jam baru menunjukkan pukul 06.00 waktu setempat.


"Jalan-jalan enak nih mumpung matahari baru nongol, ibuk ... Celia keluar sebentar ya buk." Pamit Celia pada ibunya.


"Ya nduk, tapi ojo suwe-suwe, mengko sarapan bareng (ya nduk, tapi jangan lama-lama, nanti sarapan bareng)." jawab ibunya mengingatkan.


"siap kanjeng ibu."


Langkah kaki membawa Celia berjalan mengelilingi desanya. Udara sejuk serta pemandangan yang masih asri memanjakan mata Celia. Sepanjang jalan yang ia lalui Celia bertemu beberapa tetangga yang menyapa nya. Celia berhenti sebentar sekedar untuk bertukar kabar. Namanya tetangga, pasti ada yang baik tidak suka ikut campur, ada yang keponya maksimal, ada juga yang julid, dalam hidup bermasyarakat memang sudah pasti sepaket dengan semua itu. Saat Celia hendak pergi tiba-tiba ada satu tetangga nya yang baru datang, ia berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Celia.


"Iki tenan mbak Celia to? Wealah, tambah ayu saiki, kaet ning pengkolan kono mau tak gatek-gatekne opo bener mbak Celia opo dudu, lha jebulane tenan mbak Celia, (ini betul mbak Celia to? Wealah, sekarang tambah cantik, dari di tikungan tadi saya perhatikan apa benar mbak Celia atau bukan, lha ternyata benar mbak Celia), ucap bu Luri tanpa jeda seakan pasokan udara di dalam paru-paru nya tak terbatas hingga tak perlu lagi ia berhenti sejenak untuk bernafas.


"O njih, pangapunten bu Luri, wau kulo mboten semerep panjenengan (O iya, maaf bu Luri, tadi saya tidak melihat bu Luri)," Celia tersenyum garing yang di paksa seramah mungkin, Celia masih ingat betul bu Luri adalah salah satu tetangganya yang kepo bin julid, alam bawah sadar Celia bahkan sudah memasang mode siaga menanti pertanyaan apakah yang akn meluncur dari bibir tipis bu Luri.


"Ora opo-opo mbak Celia (nggak apa-apa mbak Celia)," tukasnya, "Lha ngomong-ngomong ini calone mana mbak? dengar-dengar mba Celia pacare pegawai negri di sana lho," sambung bu Luri.

__ADS_1


"Ha ... eh ...," Celia membeo, lehernya mendadak gatal.


__ADS_2