Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 35 : Di Gosok Makin Sip


__ADS_3

Happy Reading 😉


🍃🍃🍃


Masih membeo ditempatnya, Celia bingung harus menjawab apa, dari mana bu Luri mendapat gosip seperti itu pikir Celia. Mau di jawab iya kenyataannya dia kan sudah bukan pacar ASN, mau di jawab tidak pasti akan semakin ada banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu satu ini bak lemparan bom mosam Namanya juga gosip ye kaaan ... makin di gosok makin siiip!!!


"Lho, lha kok malah ngalamun to mbak Celia, kapan iki pak Sujadi arep mantu anak prawane, kembang desa oleh wong kota ya mbak Celia pegawe sisan, walah podo patah hati iki mengko bocah-bocah kene (lho, lha kok malah ngelamun aja mbak Celia, kapan ini pak Sujadi mau menikahkan anak gadisnya, kembang desa dapat orang kota ya mbak Celia, pegawai lagi, walah pada patah hati ini nanti anak-anak sini)," cerocos bu Luri tanpa titik koma. Tetangga yang lain hanya mesam-mesem, ada juga yang meng_iyakan perkataan bu Luri, sebagian menanyakan kebenaran perkataan dari bu Luri.


"Hehe ... ngapunten ibu-ibu, sebenarnya dari tadi Celia nahan mules, sampun mboten tahan, Celia nyuwun donga saene mawon kajenge sinten mawon ingkang dados jodhone Celia saged lancar sak dantenipun (maaf ibu-ibu, sebenarnya dari tadi Celia nahan mules, sudah tidak tahan, Celia minta doa baiknya saja, semoga siapapun yang akan menjadi jodohnya Celia dapat dilancarkan semua-muanya)," ucap Celia berkilah untuk mengalihkan topik pembicaraan bu Luri dan ibu-ibu lainnya.


"Nggih pun ibu-ibu, Celia pamit ngrumiyini, mangke selak ambyar ten ndalan (ya sudah ibu-ibu, Celia pamit duluan, nanti keburu berserakan di jalan)." Celia bergegas pergi meninggalkan bu Luri yang dan lainnya, bisa panjang urusannya jika ia tetap disana.


Celia segera ambil langkah seribu meninggalkan gerombolan ibu-ibu yang kini di komandoi oleh bu Luri yang sayup-sayup Celia dengar masih membicarakannya. Sudah tak heran bagi Celia melihat kehebohan bu Luri, dari jaman Celia masih orok sampai dewasa, tak ada yang berubah dari bu Luri selain bertambah kepo bin julid, pantas sajalah kalau beliaunya dijuluki akun lambe_Jurah nya desa setempat. Mau berita si A suka sama si B, atau si C selingkuh sama si Z bu Luri tau semuanya.


Pikiran Celia masih terngiang akan perkataan bu Luri tadi, dari siapakah bu Luri tau, apakah ibunya yang memberitahu bu Luri? Ah tapi rasa-rasanya Celia belum pernah mengatakan soal Alim pada ibu, ayah maupun adiknya, lantas darimana dia tahu? Apakah bu Luri itu semacam cenayang yang bisa baca pikiran orang, atau mungkin peramal yang diam-diam baca masalalu dan masa depan orang dengan kartu tarot nya.


Berfikir sambil berjalan, tau-tau Celia sudah sampai di teras rumahnya, dengan gontai celia melangkah masuk kedalam rumah, pas sekali semua anggota keluarganya sudah duduk rapi di meja makan.


Rupanya dari tadi Wingit berusaha menghubungi kakanya itu untuk diajak sarapan bersama tapi panggilannya sama sekali tak diangkat Celia. Jelas saja, ponsel Celia tertinggal di kamarnya.


"Lha iki bocahe, gek gelis to mbak, aku selak luwe, selak kawanen barang ki arep ngampus! (lha ini anaknya, ayo cepet to mbak, aku keburu lapar, keburu kesiangan juga ini mau ngampus)!" belum apa-apa Wingit sudah ngegas saking kesal dari tadi Celia tak pulang-pulang.


"Sabar coy, wong sabar luhur wekasane (sabar coy orang sabar akan mendapat yang sempurna kelak)," nasehat Celia pada adiknya. Adiknya justru ternganga heran, tumben-tumbenan kakaknya bemar dalam berbicara, biasanya jawaban dari Celia selalu sukses semakin memancing amarah Wingit.

__ADS_1


"Ayo nduk sarapan bareng kene, saiki wes jarang iso sarapan bareng to, urung karuan iso setaun pindo (Ayo nduk sarapan bersama, sekarang sudah jarang bisa sarapan bersama kan, belum tentu bisa setahun dua kali)," timpal pak Sujadi menengahi agar tak terjadi perang dunia keempat di meja makan.


"Njih bapak (iya bapak)," sahut Celia hormat pada sang ayah, tapi sedetik kemudian ia malah menjulurkan lidahnya pada sang adik yang sukses membuat Celia mendapat hadiah lemparan paha ayam dari adiknya.


Hap ... reflek, Celia menangkapnya dengan jitu lemparan dari adiknya lalu memasukkan paha ayam goreng yang bohay itu kedalam mulutnya, membuat gerakan makan slow motion. Wingit mendelik, menatap kakaknya tajam, setajam jilet.


"sudah-sudah, tidak boleh bertengkar didepan makanan," bu Sujadi mengeluarkan ultimatum nya, barulah kedua anaknya bisa diam.


Acara sarapan pagi berlangsung dengan tenang, tak ada lagi perdebatan antara kakak beradik itu. Celia sangat bahagia bisa makan bersama orang-orang yang ia sayangi. Selesai sarapan Celia melarang ibunya membersihkan meja makan, selama Celia dirumah, ia yang akan ambil alih tugas bersih-bersih.


"Sippp ... beres semua, tinggal mandi biar cantik terus mejeng deh dibawah pohon asem, siapa tau dapet wangsit," ujar Celia.


Saat membuka lemari untuk mengambil handuk Celia melirik ponselnya yang bergetar dan menyala, tertera jelas nama Bayu disana sedang melakukan panggilan.


"Wa'alaikumussalam bocil."


"Apaan pagi-pagi udah telpon Celia? belom ditinggal sehari aja udah nyariin."


"Si Pede, eh bocil kunci brangkas dikemanain? Gue mau nyimpen duit buat bayar tiket pesawat kemarin," jelas Bayu.


"Laaaah uceett, pagi-pagi mainannya udah duit aja a', ada noh Celia titipin babang kemarin kuncinya."


"Yoyoooiii ... masih anget nih baru cair, ntar lo yang bayarin ke travelnya ya?" pinta Bayu pada Celia.

__ADS_1


"Iya gampang ntar Celia telponin orangnya biar dateng, Celia juga sekalian mau bayar yang punya si Bapak, udah kaan? Celia mau mandi nih, nitip-nitip kalo ada yang urgent tolong di handle dulu ya," pungkas Celia.


"Ok Sip, makasi bocil." Bayu mengakhiri panggilan teleponnya.


Sambil mengalungkan handuk di lehernya, Celia berjalan menuju ke kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumah. Ia tampak memikirkan sesuatu, masih ada yang mengganjal dalam hatinya, Celia harus menanyakan pada ibunya perihal perkataan bu Luri pagi tadi, agar lebih jelas dan Celia bisa tau bagaimana ia nanti harus mengambil sikap dan menyusun rencana untuk kedepannya.


Kebetulan sekali ibu Celia juga sedang duduk-duduk santai di belakang rumah sambil memisahkan kacang dari kulitnya.


Celia mendekati ibunya, duduk bersila beralaskan rumput Jepang, tak peduli pada aroma ketiak yang sudah mulai tercium tak sedap bercampur keringat, handuknya saja masih anteng mendekap leher.


Celia mengambil satu buah kacang tanah lalu membuka kulitnya, "Buk, tadi kan Celia jalan-jalan keliling kampung to buk, terus ketemu bu Luri, masak bu Luri bilang Celia pacaran sama pegawai," Celia mulai membuka obrolan dengan sang ibu.


"Iyo to, ketemu ningendi karo bu Luri (iya to, ketemu dimana sama bu Luri)?" tanya ibunya.


"ketemu ten prapatan mriko buk (ketemu di perempatan sana buk)," jelas Celia, "tapi saking pundi bu Luri angsal berita niku buk (tapi darimana bu Luri dapat berita itu buk)?" lanjutnya bertanya pada sang Ibu.


"Iku ndek mben budhemu Rani tau crito karo bapak, jare koe ning kono wis oleh pacar, pegawe negeri nduk, bapakmu yo wis ayem atine, nek iso lanjut masadepanmu aman, lha kok ndelalah pas bapakmu ngobrol karo ning telpon karo budhemu kui di loud speaker, ono bu Luri lagi dolan mrene, yowis krungu karo bu Luri, nyebar seantero desa (itu dulu budhemu Rani pernah cerita sama bapak, katanya kamu disana sudah dapat pacar, pegawai negeri nduk, bapakmu ya sudah senang hatinya, kalau bisa lanjut masadepanmu aman, lha kok kebetulan bapakmu ngobrol sama budhe Rani di telepon itu di loud speaker, ada bu Luri yang kebetulan sedang main kesini, yasudah kedengaran sama bu Luri jadi menyebar seantero desa)," papar ibu Celia.


Celia meraup udara disekitarnya, akhirnya Celia tau darimana akarnya, ia tak menyangka jika budhe Rani akan menceritakan pada sang ayah kalau ia berpacaran denga Alim, dulu! Iya dulu!


Lha kok jadi rumit,


Bu sujadi melirik Celia, ia dapat melihat perubahan raut wajah putrinya.

__ADS_1


__ADS_2