
Happy Reading 😉
🍁🍁🍁
Ibu adalah orang yang paling mengenal sifat juga karakter anaknya, juga memiliki ikatan batin paling kuat dengan anak-anaknya.
Celia merilik sang ibu, ia menyadari perubahan ekspresi nya pasti terlihat mencurigakan, Celia tak ingin membuat ibunya curiga.
"Bu, apa laki-laki yang akan bapak dan ibu terima menjadi menantu harus pegawai? Apakah harus bertitle juga? " tanya lirih Celia pada ibunya.
Bu Sujadi mengangkat kepalanya menatap sang putri, sedang Celia memilih sibuk mengupas kulit kacang demi tak bersitatap dengan ibunya.
"Nduk, bener yang dibilang budhemu?" tanya bu Sujadi lembut pada putrinya. Jika memang yang dikatan oleh kakak iparnya itu benar tentu bu Sujadi akan sangat senang. Seperti halnya sang suami, ia pun akan merasa lega, putrinya mendapat pasangan hidup yang mapan, ia tak akan mengkhawatirkan lagi akan masa depan putrinya. Dalam setiap sujudnya, bu Sujadi selalu memohon pada Yang Maha Kuasa agar kelak putrinya mendapat jodoh yang baik, yang bertanggung jawab, juga mapan, yang bisa membahagiakan putrinya lahir dan batin. Bu Sujadi dan suaminya tak pernah menanyakan terkait hal ini pada Celia, mereka menunggu Celia yang akan menceritakan pada mereka.
Celia tersenyum pada ibunya, "kami hanya berteman bu," jawab Celia, "apa ibu senang jika jodoh Celia seorang pegawai?" lanjut Celia bertanya pada ibunya untuk kedua kalinya. Celia berharap ibunya akan memberikan jawaban seperti yang Celia inginkan, yang terpenting Celia bahagia.
"Ya tentu seneng to nduk, orangtua mana yang ndak senang kalau putrinya dapat jodoh pegawai, mapan, gaji besar, hidup putrinya pasti akan terjamin." Jawab sang ibu logis.
"Lalu, jika nanti jodoh Celia bukan pegawai, juga bukan orang yang pendidikannya tinggi bagaimana bu?"
"Hidup, mati, jodoh, rezeki, semua sudah ada yang mengaturnya nduk, tapi sebisa mungkin berusaha mendapat yang terbaik."
Celia tersenyum getir, ini baru jawaban ibunya, belum sang ayah yang lebih tegas, yang lebih sulit tentunya untuk bisa di nego.
"Ya sudah, Celia mandi dulu ya bu, bau asem." Celia belum ingin membahas perihal ini lebih jauh.
Ibunya mengangguk, kembali sibuk mengupas kacang.
__ADS_1
Guyuran air dingin yang dipompa langsung dari sumur diharapkan akan mampu menyegarkan badan juga isi kepala Celia. Air di desa memang paling segar selain dari gunung tentunya. Airnya bersih, tak berasa dan tak beraroma karena belum tercemar limbah rumah tangga, inilah mengapa kepadatan penduduk juga mempengaruhi kualitas air tanah.
Celia menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi, telapak tangannya sampai mengkerut saking lamanya, keluar-keluar mungkin sudah tumbuh ekor dan sirip sakin lamanya kena air.
"Nduk, kamu ini mandi opo nguras bak kok nggak selesai-selesai?" teriak bu Sujadi dari tempatnya. Dia perhatikan dari tadi Celia tak kunjung keluar dari kamar mandi, masih terdengar jebar ... jebur ... jebar ... jebur mengguyurkan air dari gayung. Apakah putrinya itu di sana jarang bertemu air pikirnya.
"Iya bu, ini Celia mau selesai."
Sayang sekali aktifitas menyenangkan dan menyegarkan itu harus Celia akhiri, jika dirumah budhe Rani tak mungkin Celia berani mandi seenak udelnya, disana mereka menggunakan air Pam, setiap bulannya selain membayar tagihan listrik juga harus membayar tagihan air, kalau Celia mandi terlalu lama ia tak enak, takut tagihan air akan membengkak. Hanya sadar diri, disana Celia menumpang, jadi ia tak bisa berbuat sesuka hatinya. Beda cerita kan kalau sedang dirumah orangtua sendiri mau berbuat seenak jidat juga tak masalah, paling-paling kena omel ayah atau ibunya, itu sudah hal biasa. Ibarat kata mau mandi berlama-lama, mau sejam, dua jam, atau bahkan seharian juga no worry be happy.
Celia keluar dari kamar mandi berbalut handuk selutut, dengan sisa-sisa air yang masih menetes di wajah dan badannya membuat Celia terlihat semakin seksi dan cantik, untung saja letak kamar mandinya di belakang rumah, jadi tak ada mata-mata lapar yang bisa melihat lekuk indah tubuh si gadis desa. Celia bergegas masuk kedalam rumah, mengganti handuk dengan baju rumahan, dress pendek selutut bernuansa biru langit berhiaskan motif bunga-bunga kecil berwarna kuning, sangat cocok melekat dikulit putih mulus Celia. Untuk kulit wajahnya Celia hanya menggunakan pelembab dan memoleskan lipstick berwarna peach. Rambutnya yang sudah kering ia kepang model sunda dengan sedikit poni menutup dahinya, sangat cantik dan juga manis, pantaslah Celia dijuluki si kembang desa.
Selesai berdandan Celia mengambil ponselnya, rindu pada Khai yang berada jauh darinya, Celia berniat ingin melakukan panggilan video, kebetulan sekali Khai memberitahunya jika dia sedang dapat giliran istirahat.
tut ... tut ... tut ...
tut ... tut ... tut ...
"Katanya istirahat, kok nggak di angkat, yaudah mungkin lagi sibuk," dumel Celia.
Belum Celia meletakkan kembali ponselnya di atas meja, ponsel Celia bergetar menyala yang ternyata menampilkan panggilan video dari Khai.
Celia menggeser gambar telepon warna hijau ke atas, seketika tampilan layar berubah menjadi wajah Khai, kekasih hatinya, yang sedang tersenyum lembut menatap Celia.
Untuk sesaat mereka hanya saling diam, saling menatap meski hanya melalui layar ponsel, terpisah jarak yang membentang ratusan kilo meter. Khai terpesona dengan kecantikan Celia, wanita pujaannya itu justru semakin bertambah cantik dengan riasan natural dan rambut kepangnya, Khai merasa sangat beruntung bisa memenangkan hati Celia, ia tak hentinya mengukir senyuman. Wajah cantik Celia mampu memberikan amunisi ditengah lelahnya bekerja, bak oase di padang gurun.
"Sayang ...," satu kata terlontar dari bibir pemuda berparas ambon manise padahal berdarah Jawa - Minang itu.
__ADS_1
"Yaaa ...," jawab Celia singkat sambil tersenyum malu-malu meong.
"Kangen," Khai menjeda ucapannya, "kamu masih lama balik kesininya," lanjut Khai.
Celia tertawa, "lama gimana Khai, Celia kan disini cuma lima hari, selasa Celia udah balik kesana lagi."
Celia tersenyum geli melihat raut wajah Khai yang dibuat sedih, seperti anak kecil yang mau nangis gara-gara tak diajak ibunya pergi belanja.
"Udah, nggak usah manyun gitu, jelek," ujar Celia.
"Nanti kalau kamu udah disini lagi juga akan tersenyum, senyum terus malah."
"Senyum-senyum terus dikira gila, hahahah," Celia kembali tertawa.
"Biar dikira gila, kan gila karena Celia," jawab Khai santai, bapak sama ibu sehat?"
"Alhamdulillah semua sehat Khai." Celia terdiam, dia teringat obrolannya dengan sang ibu tadi. Celia menelan salivanya, ia belum menyampaikan salam yang Khai titipkan untuk ayah dan ibunya, semoga saja Khai tidak menanyakannya. Celia terpikirkan akan ekspektasi kedua orangtuanya yang terlalu tinggi untuk Celia gapai bersama Khai.
"Sayang ...," Khai memanggil Celia.
"Sayang ... Celia ... kamu kenapa kok bengong malahan," ujar Khai.
"Eh, iya Khai, aku nggak apa-apa kok."
"Sungguh?" Khai mencoba memastikan.
"Sure, everything is ok!" jawab Celia meyakinkan Khai.
__ADS_1
Hubungan kita yang nampaknya akan jadi nggak OK Khai, bisakah nanti kita bertahan Khai?