Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 46


__ADS_3

Happy reading my support system 😉


🍃🍃🍃


Meninggalkan kamar Celia si gadis cantik jelita yang masih galau-galau merana.


Di sebuah kamar bernuansa Jawa klasik, amben kantil berwarna coklat tua berdiri dengan gagahnya di tengah-tengah kamar tersebut, lengkap dengan ukiran yang dipahat langsung oleh seniman asli Bumi Kartini, daerah penghasil kerajinan ukiran kayu yang didatangkan langsung oleh si empunya rumah. Tidak ketinggalan sebuah meja rias cukup terlihat antik dengan kaca berbentuk oval besar menempel sempurna di dinding kamar, masih dengan ukiran-ukiran indah nan eloknya. Jika memasuki kamar pasutri ini mata akan dimanjakan dan dibawa bernostalgia kembali ke masa kerajaan. Jiwa seni pak Sujadi memang tak diragukan lagi, darah seni memang mengalir kental dalam jiwa dan sanubarinya, semua saudara pak Sujadi juga merupakan pecinta kesenian tradisional tanah Jawa. Pak Sujadi sendiri selain pekerja keras ia juga adalah seorang abdi dalem Keraton Kasunanan, nguri-uri budaya Jawi adalah semboyan pria paruh baya itu. Semua unggah-ungguh dalam kejawen sudah hapal diluar kepala, bahasanya halus sehalus sutra dari negri tembok raksasa, sampai-sampai anak-anaknya tak mengerti jika bahasa krama inggil itu sudah keluar dari mulut sang ayah, perlu di translate dahulu ke bahasa ngoko alus atau bahasa Indonesia baru mereka akan paham.


Duduk berteman secangkir teh tubruk di atas nakas, teh istimewa buatan istri tercinta, masih panas mengepulkan asap harum beraroma khas yang mampu membuat badan dan pikiran sedikit rileks. Pak Sujadi memandangi sang istri yang tengah menyisir rambutmya yang panjang terurai, meski sudah dihiasi oleh banyak rambut putih alias you_ban namun bagi pria yang kerap di sapa dengan panggilan pak'e oleh rekan-rekan dan anak buahnya itu, kecantikan sang istri tak pernah berkurang, pun dengan cintanya yang tak pernah padam, apalagi istrinya ini sudah bertaruh nyawa melahirkan dua buah hati mereka. Netranya masih terpaku pada belahan jiwa yang paras cantiknya terpantul dari cermin di depannya, membuat objek yang ditatapnya tersenyum malu dan bersemu.


"Bapak, kenapa to lihatin ibu kaya gitu? Ibu kan jadi malu to pak, apa ada yang aneh dengan wajah ibu?" tanya bu Sujadi dengan logat Jawanya.


"Ndak ada yang aneh bu, hanya saja bapak itu heran sama ibu."


"Heran? Lha heran kenapa to pak?" bu Sujadi meletakkan sisirnya, menyimpannya kembali disebuah wadah dari kayu berbentuk seperti gelas dengan ukiran bunga teratai, kemudian ia membalikkan badannya menghadap sang suami.


Pak Sujadi menatap mata istrinya, lalu ia berucap dengan nada dan mimik serius lebih serius dari wajah anak SD yang lagi ngerjain ujian nasional matematika, "dari pertama kita bertemu saat dijodohkan oleh orangtua kita dulu dan sampai detik ini, wajah cantik ibu ndak pernah luntur termakan usia, itu sebabnya bapak heran," pak Sujadi terkekeh pelan, lalu melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong oleh kekehannya sendiri, "terima kasih ya bu, sudah menemani bapak menua bersama," ucap pak Sujadi sungguh-sungguh.


Seperti di bawa terbang ke langit ke tujuh bersama para bidadara, pipi wanita paruh baya yang sudah mulai terlihat kerutan2 halusnya itu bersemu merona, "sami-sami pak, tapi pujian bapak itu berlebihan, cantik darimana to pak lha wong sudah tua begini, wajah ibu sudah mulai keriput."


"Dimata bapak, ibuk tetaplah cantik, mau ada sebanyak apapun keriput di wajah ibu, karena ibu adalah cinta pertama dan terakhir bapak," pak Sujadi diam sejenak meloloskan nafasnya, "bapak sangat berterima kasih pada orangtua kita bu, yang sudah menjodohkan bapak dengan ibu, melalui orangtua kita bapak dipertemukan dengan wanita sehebat ibu." Manik teduh pria paruh baya itu begitu tenang menatap istrinya.

__ADS_1


"Iya pak, ibu juga merasa sangat bersyukur, berterima kasih Yang Maha Kuasa sudah mempertemukan kita melalui orangtua kita," tutur bu Sujadi sembari tersenyum lembut pada suaminya.


"Tadinya bapak sangat berharap Celia bisa mengikuti jejak kita bu dia satu-satunya anak perempuan kita. Kita dulu juga ndak saling kenal to, kita bertemu satu kali lalu langsung dijodohkan oleh orangtua kita, tapi nyatanya meskipun kita adalah dua orang yang belum saling mengenal satu sama lain, tanpa embel-embel pacaran, kita pada akhirnya bisa saling mencintai juga saling melengkapi," mata teduh pak Sujadi berubah sendu, ada gurat kesedihan juga kekecewaan terpancar pada manik coklatnya. Pak Sujadj mengusap wajahnya, lalu sesekali ia menyeruput teh tubruk spesial tanpa telur buatan istri tercinta.


Bu Sujadi berjalan mendekat, wanita itu duduk di samping sang suami lalu dengan lembut mengusap punggung suaminya, "Pak, ndak semua yang kita inginkan akan berjalan sesuai dengan rencana kita, percaya pada Gusti Allah, sebaik-baiknya rencana yang kita buat yang menentukan tetap Gusti Allah, pun dengan apa yang menurut kita baik, belum tentu baik dimata Gusti Allah pak."


Hening ... dua insan yang sudah banyak makan asam garam kehidupan itu sama-sama terdiam untuk beberapa saat.


Pak Sujadi meresapi setiap kata yang telah diucapkan oleh istrinya.


Usapan juga perkataan sang istri sedikitnya bisa mengobati rasa kecewa dan sedihnya pak Sujadi.


"Suami dan istri memang haruslah saling mengingatkan pak, saling melengkapi kekurangan satu sama lain, menjadi suami, atau menjadi istri, juga menjadi orangtua, belajarnya seumur hidup pak tak terbatas usia."


Pak Sujadi duduk menghadap istrinya, satu kakinya ia naikkan keatas kasur dengan posisi setengah bersila, sedang kaki satunya ia biarkan menggantung, "Bapak tadi sudah bicara dengan Celia bu, bapak sudah mengatakan akan membatalkan perjodohannya dengan nak Rama, tapi untuk menerima siapa itu bapak lupa namanya bu yang katanya pacar anak kita, bapak ndak bisa. Bapak ndak mungkin membiarkan anak perempuan bapak nantinya menikah dengan seorang satpam bu. Bagaimana nasib masadepan anak kita nanti, belum lagi apa kata kerabat dan tetangga kita. Bapak memberikan Celia kesempatan untuk memilih sendiri pasangan hidupnya bu, asal jangan dengan satpam itu, Celia harus memilih yang sepadan dengannya."


"Ibu paham pak, ibu mengerti apa yang bapak rasakan ibu juga merasakannya, ibu juga ingin yang terbaik untuk Celia. Lalu bagaimana dengan mas Rudi? Apa bapak sudah memberitahunya kalau perjodohan antara Celia dan Rama dibatalkan? Ibu takut kalau nanti malah jadi runyam pak, kemarin ibu lihat mas Rudi sangat berharap pada kita, juga pada Celia." Ada gurat kecemasan di mata bu Sujadi, ia takut jika hubungan pertemanan suaminya akan jadi renggang karena masalah perjodohan anak-anak mereka.


"Kalau untuk itu, ibu ndak usah kuatir, bapak akan bicara baik-baik dengan Rudi, toh sebelumnya kami juga sebenarnya sudah sepakat jika memang salah satu pihak ndak mau ya ndak jadi dijodohkan, kemarin bapak lupa belum menyampaikan perihal ini sama ibu."


"Alhamdulillah, ibu lega pak, untuk selanjutnya kita serahkan, kita pasrahkan pada Gusti Allah pak, Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia, kita sebagai orangtua hanya bisa menasehati, mengarahka anak-anak, juga yang paling penting mendoakan mereka memohon pada Gusti Allah agar anak-anak kita selalu diberikan jalan yang terbaik."

__ADS_1


"Iya bu, semoga saja Celia bisa mendapatkan jodoh yang baik, yang jelas bibit bebet bobotnya, yang bisa menjamin masadepan putri kita, juga bisa membawanya hingga ke JannahNya kelak," ucap pak Sujadi penuh harap.


"Aamiin, hayuk ah tidur pak, sudah malam, apa bapak mau malam mingguan dulu sama ibu?" tutur bu Sujadi dengan kerlingan mata menggoda suaminya.


"Wo lha siapa takut bune, bapak jabanin," jawab pak Sujadi berapi-api, semangatnya kembali menggelora bak jiwa muda, dengan sekali hentakan ia menaikkan istrinya ke atas ranjang. Fisik boleh menua, tapi tenaga jangan ditanya.


Bu Sujadi sedikit kaget dengan aksi suaminya, ia menjerit pelan, "aduh pak, ati-ati encok kumat!"


...****************...


🍃 Noted:


- Amben kantil: tempat tidur dengan atap dan tiang penyangga dikeempat sudutnya.


- Nguri-uri budaya Jawi: menjaga, melestarikan budaya Jawa.


- Unggah-ungguh: tata krama


- Krama inggil/krama alus: Bahasa jawa yang digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua, pangkat dan derajatnya lebih tinggi, serta ketika sedang berdoa atau berbicara kepada kekuatan yang lebih besar yakni Tuhan.


- Ngoko alus: Bahasa Jawa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah akrab, tetapi masih menjunjung tinggi kesopanan dan rasa saling menghormati, misalnya komunikasi antara sesama rekan kerja di kantor, kakak pada adiknya atau sebaliknya, atau juga pada teman sepermainan.

__ADS_1


__ADS_2