Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 48


__ADS_3

Happy Reading 😉


🍃🍃🍃


"Hallo, assalamualaikum Rud," salam pak Sujadi ketika sambungan telepon sudah diangkat oleh seseorang diseberang sana.


'Wa'alaikumussalam, bala kenthel (wa'alaikumussalam, teman dekat),' balas pak Rudi sambil menghisap rokok.


"Lagi sibuk ora Rud? Aku arep ngobrol sedelo iki (lagi sibuk nggak Rud? Aku mau ngobrol sebentar ini)."


'Halah koyo karo sopo wae, ora Jad, lagi nganggur iki, sih nyantai, pie ono perkembangan opo Jad (Halah kaya sama siapa aja, enggak Jad, lagi nganggur ini, masih nyantai, gimana ada perkembangan apa Jad)?'


"Langsung wae ya Rud, sepurane tenan, mugo-mugo ora dadi penggalihmu, tur yo ojo marai renggang hubungan tali silaturahmi awake dewe ya Rud. Celia ora setuju dijodohne karo nak Rama, uwis tak pekso meso ora gelem malah wingi nganggo acara semaput ra gelem metu seko kamar, padahal aku dewe yo wis ngarep-arep tenan bebesanan karo awakmu (langsung saja ya Rud, maaf banget, semoga ini tidak jadi bebanmu, dan juga jangan membuat renggang hubungan tali silaturahmi kita ya Rud. Begini lho, Celia tidak setuju dijodohkan dengan nak Rama, sudah aku paksa tetap tidak mau, malah kemarin pakai acara pingsan nggak mau keluar kamar, padahal aku sendiri ya sudah berharap sekali bisa besanan sama kamu Rud)," pak Sujadi menghela nafasnya berat yang terdengar jelas ditelinga sahabat kecilnya itu.


Pak Rudi paham dan mengerti betul perasaan sahabatnya, karena ia juga tengah merasakan hal yang sama, Rama, anak sulungnya yang ia bangga-banggakan sebagai abdi negara, kini tengah berkudeta melawan ayahnya sendiri menolak dijodohkan dengan Celia karena ia telah memiliki kekasih pilihan hatinya. Rupanya pertemua dua keluarga tempo hari tak membuahkan hasil yang baik bagi kedua belah pihak.


Pak Rudi menggaruk keningnya meski tak gatal, 'Iyo Jad, ora opo-opo pancen udu jodhone Jad, aku iki mau yo sak sere arep telpon awakmu, Rama anakku yo ora setuju Jad, deweke teteg karo pacare arepo wongtuone ngelarang. Karepku, lha yen karo Celia rak wis jelas asal usul, bibit bebet lan bobote, lha nanging bocah saiki kui nduwe panemu dewe kok Jad (Iya Jad, ndak apa-apa mungkin memang bukan jodohnya Jad, aku juga sebenarnya tadi mau telpon kamu, Rama anakku juga tidak setuju Jad, dia tetap pilih pacarnya itu meskipun orangtuanya melarang. Maunya aku, kalau dengan Celia kan sudah jelas asal-usul, bibit, bebet dan juga bobotnya, lha tapi anak jaman sekarang itu punya pemikiran sendiri kok Jad).'


Dua pria paruh baya itu terdiam sesaat dengan ponsel yang masih menempel ditelinga masing-masing. Bu Sujadi menggenggam erat tangan suaminya, menyalurkan rasa hangat agar suaminya itu tetap tenang.

__ADS_1


Obrolan serius pak Sujadi dengan pak Rudi baru selesai ketika daya ponsel pak Sujadi sudah tinggal sisa-sisa perjuangan, berteriak minta diisi. Masalah perjodohan sudah selesai dalam artian benar-benar selesai tak ada kelanjutan, namun meski begitu pak Sujadi tetap merasa lega karena masalah tersebut tidak mempengaruhi hubungan kedua keluarga. Hubungan tali silaturahmi tetap terjaga, meski harapan mereka berdua untuk mempererat nya dengan besanan harus kandas oleh putra-putri mereka sendiri.


...----------------...


Tidak terasa liburan Celia di kampung halamannya sudah sampai di penghujung waktu, liburan yang harusnya penuh suka cita justru menjadi duka di hatinya. Celia sepenuhnya menyesal, ia juga senang bisa bertemu dengan kedua orangtuanya juga dengan adiknya. Sore nanti si kembang desa sudah harus kembali ke rantau, melanjutkan perjuangan mengais rezeki, memupuk karir, demi sesuap nasi dan sebongkah berlian, dan tak lupa demi citra keluarga dimata masyarakat sekitar yang selalu mengelu-elukan anakku kerja disini, anakku kerja disana, anakku jadi ini, anakku jadi itu, hmmmm ... jadi kebanggaan sekaligus bahan pamer orangtuanya, bangga dan pamer ternyata bedanya tipis ya bestie.


Celia duduk di pinggir tempat tidurnya, manik coklatnya menyapu seisi kamar hingga ke setiap sudutnya. Sejujurnya ia masih teramat rindu, masih enggan kembali ke rantau, tapi disini pun ia rasa percuma, hubungan dengan kedua orangtuanya belum sepenuhnya kembali harmonis seperti sedia kala, bukan Celia masih marah atau kesal dengan ayah juga ibunya, hanya masih ada kecanggungan diantara mereka, lebih tepatnya dalam diri Celia sendiri. Mata bulat si kembang desa itu nampak menyipit, terpusat pada dua ekor kupu-kupu yang terbang beriringan, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang menari, terbang bebas tanpa ada yang melarang, sungguh bahagia.


Huuffttt ... benar-benar tragis nasib cinta kita Khai, Celia mengusap wajahnya frustasi. Merasa iri pada sepasang kupu-kupu yang kini sudah terbang hilang entah kemana, meninggalkan Celia dengan wajah asamnya. Masa sama kupu-kupu aja kita kalah Khai.


Bukan memggerutu, Celia justru tersenyum, pandangannya ia alihkan ke layar ponselnya yang menampilkan potret wajah Khai lengkap dengan senyum manisnya. Kita akan berjuang bersama hingga akhir Khai.


...----------------...


"Celia pamit pak, bapak sehat-sehat disini," Celia mencium tangan ayahnya takzim.


"Iyo nduk, ngati-ati, ojo lali pesene bapak ya? Harapane bapak karo ibu mu (iya nduk, hati-hati, jangan lupa pesannya bapak ya? Harapannya bapak sama ibumu)," pak Sujadi mengusap pelan rambut putrinya. Berat kembali melepas sang putri, apalgi kini bebannya malah bertambah, memikirkan dan terus mengkhawatirkan putrinya yang menjalin hubungan dengan satpam, apalagi mereka satu kantor.


"Njih pak, Celia mboten kesupen (iya pak, Celia nggak lupa)," seulas senyum ia sematkan di wajah cantiknya, meski hatinya getir, sang ayah masih saja mengingatkan untuk mengakhiri hubungannya dengan Khai.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada ayah dan adiknya, Celia segera naik ke dalam bus. Dikawal lembayung senja, bus eksekutif antar provinsi itu melaju dengan gagah.


Bukan weekend jadi bus yang ditumpangi oleh Celia terasa longgar, hanya ada beberapa penumpang saja, bahkan kursi disebelah Celia kosong tak berpenghuni, lumayan lah bisa untuk naro cemilan, bisa buat selonjoran menyamping, anggaplah bus milik sendiri.


Celia merogoh ponselnya didalam tas, ia akan mengirimkan update lokasinya agar Khai bisa selalu memantaunya.


"Khai, update lokasi Celia, ini bus nya udah jalan."


'iya sayang, hati-hati ya, jaga barang bawaan terutama dompet, HP.'


"Iya, ini nggak penuh kok busnya, malah Celia duduk sendiri, kata pak kondektur samping celia kosong."


'Baguslah kalo gitu, aku nggak perlu was-was takut kamu sebelahan sama cowok 😁.'


"Senengnya ... "


'Seneng kenapa?'


"Seneng bentar lagi bisa ketemu kamu lagi Khai.'

__ADS_1


'Aku juga sayang.'


Celia kembali menyimpan ponselnya kedalam tas, baru keluar dari kota kelahirannya, mata Celia sudah tidak bisa diajak kompromi, bagaikan diolesi lem, maunya rapet nutup. Sudah berkali-kali Celia menguap, memang semenjak peristiwa menggegerkan seisi rumah perkara perjodohan, tidur Celia menjadi tidak teratur, ia sering kali tak bisa tidur karena memikirkan dan mengkhawatirkan banyak hal.


__ADS_2