Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 54


__ADS_3

Happy Reading 😉


🍃🍃🍃


Seminggu sudah sejak Celia mengatakan semua pada Khai, hubungan mereka masih baik-baik saja meskipun dengan terpaksa harus disembunyikan.


Mereka tetap bahagia meski hati sama-sama menahan luka. Bersabar, mencoba berdamai dengan keadaan, setidaknya itu yang bisa mereka lakukan untuk saat ini, melawan pun tak akan ada gunanya, biarlah waktu yang akan menjawab semua.


Hari ini Celia ada rapat dadakan dikantor dengan Bagian Tata Usaha Persuratan, rapat diadakan setelah jam pulang kerja agar tidak mengganggu pekerjaan masing-masing. Rapat pembahasan terkait dengan acara pelepasan atau perpisahan bapak ibu dari Bagian TU Persuratan yang sudah dan memasuki masa purna bakti, termasuk pakdhe Rano. Rencananya mereka akan mengadakan acara tersebut di Pulau Pramuka kepulauan Seribu, sekaligus refreshing. Acara akan diadakan selama dua hari, yakni hari sabtu dan minggu. Sebenarnya Celia tak ingin ikut, tapi ia tak punya alasan untuk menolak. Gadis bermanik coklat itu tak ingin Khai cemburu atau berpikir yang aneh-aneh yang bisa menyebabkan retaknya hubungan mereka berdua, pasalnya ada Alim yang pastinya juga akan ikut serta dalam acara tersebut. Celia akan segera membaritahu pada Khai saat pulang nanti, semoga Khai bisa mengerti.


Benar saja, begitu mereka pulang Celia mengatakan semuanya pada Khai, ia tak ingin mengulang kesalahan nya dengan memendam semuanya sendirian, agar nantinya tak malah menjadi bom waktu yang justru bisa menghancurkannya.


Well, tidak seperti yang dicemaskan oleh gadis cantik ini, nyatanya Khai bisa mengerti, ia mengijinkan Celia untuk ikut acara tersebut, dengan catatan Celia bisa menjaga dirinya dengan baik, juga menjaga hatinya. Tentu saja hal ini membuat Celia sangat senang, alasan nya tak ingin ikut adalah takut Khai marah.


Meskipun sebenarnya dalam hati Khai merutuki kebodohannya dengan mengijinkan Celia ikut acara itu, jika saja ia tega tentu ia akan melarang Celia untuk pergi, namun akal sehatnya masih berfungsi dengan baik, Khai tak mau egois, rasa cemburunya ia kesampingkan, ia percaya Celia mampu menjaga dirinya dari sang mantan.


......................


Tidak terasa, waktu piknik pun tiba. Celia berangkat dari rumah dengan pakdhe Rano. Mereka berangkat pukul 8 pagi. Sebelum berangkat Celia berpamitan pada Khai dengan mengirimkan sebuah pesan.


Begitu tiba di kantor, ternyata sudah banyak juga yang datang, semua terlihat sangat antusias, beda halnya dengan Celia yang terpaksa selalu memasang senyum palsunya karena teringat dengan Khai.


Pukul 10 waktu setempat rombongan berangkat menuju Pulau Pramuka, perjalanan darat menggunakan armada bus yang akan mengantarkan mereka sampai ke pelabuhan, selanjutnya perjalanan akan dilanjutkan dengan menaiki kapal ferry. Perjalanan yang semula dikira akan membosankan ternyata cukup mengasyikkan bagi Celia, teman-temannya selalu saja membuat gurauan yang dapat mengocok perut mereka. Satu jam perjalanan menuju pelabuhan tak terasa, kini bisa Celia lihat hamparan lautan yang luas tak bertepi. Sebelum naik kapal Celia dan rekan-rekannya terlebih dahulu harus mengantre tiket, setelah mendapat tiket untuk masing-masing, mereka segera naik kedalam kapal. Tak menunggu lama, kapal yang Celia dan rombongan naiki pun mulai bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan dengan segala hiruk pikuknya, semakin lama kapal semakin kencang membelah lautan lepas. Awalnya Celia duduk didalam kapal, tak banyak yang bisa ia lihat disana, hingga mbak Dian mengajak Celia untuk naik ke atas, dan ternyata teman-temannya yang muda-muda ada disana. Mereka duduk berjejer di bagian dek, memandang lurus kedepan, dimana lautan terlihat tak bertepi. Celia mengambil tempat duduk yang kosong, tak apa meski sedikit berdesakan dengan temannya yang lain, pemandangan menakjubkan ini tak setiap hari bisa ia lihat, mata Celia begitu dimanjakan dengan keagungan sang pencipta, birunya lautan menyejukkan mata. Meskipun terik matahari terasa menyengat kulit, namun tak satupun dari mereka, Celia juga teman-temannya yang mau meninggalkan tempat duduknya. Kaca mata hitam bertengger indah mempercantik tampilan Celia, jika sudah berdandan tak ada yang tahu jika Celia adalah gadis desa.


Celia seakan terhipnotis oleh indahnya lautan dan cakrawala, hingga bahkan tanpa ia sadari Alim yang duduk di delakangnya selalu menatap Celia dengan pandangan yang tak dapat diartikan, ada rindu, sayang dan harapan tersirat dimata pemuda pendiam itu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama dua jam, akhirnya kapal yang mereka tumpangi sampai juga di Pulau Pramuka. Gadis cantik itu melihat kegembiraan disetiap wajah teman-teman nya. Turun dari kapal mereka sudah disambut oleh tour guide setempat yang sudah di sewa oleh panitia, Celia dan rombongan dibawa ke salah satu homestay disana, mereka berjalan melewati rumah-rumah penduduk melalui gang-gang kecil.


Setelah sampai di homestay, tour guide mempersilakan Celia dan rombongan untuk ishoma, acara baru akan dimulai setelah ishoma.


"Bapak Ibu sudah siap untuk snorkeling?" Suara mas-mas tour guide kembali memantik semangat rombongan wisata. Maklum banyak dari rombongan sudah berumur, jadi begitu ketemu kasur bawaannya pingin tidur, nglempengin punggung.


"siaaaap ..." Jawab mereka kompak.


"OK! Kalau begitu agenda pertama kita di Pulau Pramuka ini adalah snorkeling, pastikan bapak ibu semua menggunakan pakaian renang atau pakaian yang nyaman untuk berenang." Ucap mas tour guide memberikan arahan.

__ADS_1


"Jika semua sudah siap mari ikuti saya, kita langsung ke perahu."


Semua mengikuti tour guide, berjalan menuju perahu yang akan mengangkut mereka menuju salah satu spot untuk snorkeling yang cukup indah di Pulau itu.


Sebelum perahu yang mereka tumpangi berangkat, terlebih dahulu tour guide memberikan pelampung satu-persatu untuk mereka pakai, safety first.


Perjalanan menuju spot snorkeling tak begitu jauh, hanya dalam 10 menit mereka sudah sampai.


"Ini bener Celia misti nyemplung ditengah laut begini? Celia kan gak bisa renang, paling banter juga gaya batu," Celia bergumam pelan sambil menggaruk keningnya yang tak gatal. "Waaah ... daebak ... kalah ini mah sama aki-aki nini-nini pada jago berenang." Makin minder dan ciut saja nyali gadis cantik ini.


Pemandangannya memang indah, lautan biru yang tak bertepi, airnya yang terlihat sejuk seakan melambai-lambai mengajak Celia untuk masuk merakan kesejukannya ditengah teriknya sang mentari.


Dipandu oleh tour guide yang berjumlah dua orang, rekan-rekan Celia mulai menceburkan diri ke laut, mereka mulai berenang kesana kemari menikmati indahnya alam bawah laut. Celia menelan salivanya, ia juga teramat ingin melakukan snorkeling seperti teman-temannya yang lain, tapi apa daya, Celia tak mau mati muda, meskipun memakai pelampung namun rasa takut tetaplah masih mendominasi, hati, pikiran, bahkan jiwa dan raganya.


"Woi bocil, sini lo nyemplung, ngapain bengong disitu?" Hari berteriak memanggil Celia, tidak perlu lagi memakai toa, suara cempreng Hari sudah cukup nyaring ditelinga Celia.


"Dih, lo kan tau gue gak bisa renang bang, pake nanya lagi, timpuk juga nih pake roti."


"Mau dong ditimpuk pake roti ... Ahahaha, iya gue lupa, lo kan bisanya gaya batu. Udah gakpapa turun aja, noh pake tangga tali, kaya cabin gue, cabin gue juga gak bisa renang sama kaya lo." Ulfi, gadis manis berhijab calon istri Hari melambai sambil tersenyum pada Celia.


"Perasaan lo sendiri juga gak bisa berenang deh bang, dari tadi lo disitu mulu gak pindah-pindah."


"Yaelah, sesama orang yang gak bisa berenang dilarang saling meledek."


"Hahaha, udah ah buruan turun sini temenin cabin gue, gue mau snorkeling."


"Halah, gak bisa berenang aja gaya lo bang." Ingin sekali Celia mengikat Hari, lalu menariknya dengan perahu ketengah laut biar jadi makanan hiu, tapi jika itu Celia lakukan maka stock manusia langka akan berkurang.


"Woooii apaan sih kalian berdua berisik amat," Bayu yang sedang asik snorkeling menghentikan kegiatannya, dia berenang menghampiri Hari.


"Noh si bocil kaga mau turun, takut dia."


"Turun cil, lewat tangga noh, anak mpo Nur aja berani masa lo kaga berani, malu sama kutil." Bayu ikut menimpali, sementara tangannya sibuk menyipratkan air ke atas perahu agar mengenai Celia.


"Siaul si aa, lo pikir gue kutilan, babang noh kutilan," Celia berjanji dalam hatinya akan menjitak kepala dua temannya ini nanti.

__ADS_1


"Weeiittss ... Gue emang punya kutil, tapi ini kutil bukan sembarang kutil, kutil gue sakti, kutil perkasa, bisa bikin anak soalnya, hahahaha," Hari tertawa dengan bangganya, sedang cabin alias calon bininya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan calon suaminya yang ajaib itu, untung sayang.


"Udah, lo tarik aja dia Bay, atau mau ditarik turun sama ...," Hari menaik turunkan alisnya, Celia mengikuti kemana arah mata babang Hari, dan pandangannya jatuh pada Alim.


Bayu sudah tak kuasa menahan sakit diperutnya, ia lelah terus tertawa.


"Gue nyerah ... Mendingan gue lanjut snorkeling, kram perut gue lama-lama disini." Bayu berenang menjauhi Hari.


"Lo belum pernah ngerasain bogeman gue bang ... ," ancam Celia.


Belum selesai ia bicara, sang guide menginterupsinya, "mbak kok gak turun?"


"Hehe, saya takut mas, gak bisa berenang." Jawab Celia jujur.


"Jangan takut mbak, insyaallah aman, mbak kan pakai pelampung, spot snorkeling disini tidak terlalu dalam, mari saya bantu, nanti mbak bisa pegangan tali yang terikat di perahu, biar mbak bisa merasakan sejuknya air laut kaya teman-teman mbak yang lain, gimana, mbak mau turun?"


"Ah elah dia modus tu mas, sengaja pengen dipegangin sama mas guide, ceilleee Celia, pakai malu-malu koceng," Hari tertawa terbahak ditempatnya, puas sekali bisa menggoda Celia. Tawanya semakin kencang kala mendapat pelototan dari Celia.


Celia berpikir sejenak, "Mmm ... boleh deh mas," meski masih sedikit takut tapi Celia mencoba untuk berani. Kapan lagi ia bisa merasakan euforia berenang di lautan lepas. Lupakan soal Hari yang masih terus menggodanya, anggap saja dugong yang sedang bernyanyi.


Pelan-pelan Celia menuruni tangga tali, lalu sang guide mengulurkan tangannya untuk Celia pegang, dan Celia pun menceburkan dirinya ke laut. Seketika dapat Celia rasakan betapa sejuknya air laut, seandainya ia bisa berenang ia pasti akan sangat senang, tak akan ia sia-siakan kesempatan ini untuk mengeksplore keindahan alam bawah laut.


Dengan sabar sang tour guide membimbing Celia, membantu Celia berenang beberapa putaran agar Celia juga dapat merasakan bagaimana rasanya berenang dilaut.


Celia melihat calon istri Hari ada disamping perahu, berenang sambil berpegangan pada tali agar bisa seimbang, Celia menghampirinya, "mas, maaf, bisa minta tolong antarkan saya kesana aja mas?"


"Siap mbak."


Sampai di dekat Ulfi Celia memilih untuk berenang sendiri, ia memegang tali yang diberikan oleh calon istrinya Hari tersebut.


"Makasih banyak ya mas sudah bantu saya, saya disini saja ada temennya."


"Sama-sama mbak," tour guide itu pun berenang menjauh, mencari siapa-siapa lagi yang membutuhkan pertolongannya.


Well, dua gadis cantik yang tak bisa berenang saling menghibur satu sama lain. Rupanya meskipun sudah menggunakan pelampung Celia dan Ulfi tetap tidak bisa menjaga keseimbangan mereka, ketakutan akan tenggelam tetap mendominasi, hingga mereka berdua harus tetap berpegangan pada tali atau benda lainnya, baru mereka berdua bisa merasa aman.

__ADS_1


Ketika Celia sedang asik mengobrol dengan Ulfi, tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dari belakang, membuat Celia sedikit tersentak karena kaget, untung saja Celia masih memegang tangga tali yang sama dengan Ulfi


Siapakah yang sudah menarik Celia hingga membuat gadis itu kaget?


__ADS_2