
Siang berganti malam, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, jika semua berganti mengapa tidak dengan hubungan Celia dan Alim? Hambar, itulah yang Celia rasakan saat ini. Pernah suatu ketika Celia bertanya pada Alim tentang masa depan, tentang sebuah pernikahan, namun Alim tidak memberi jawaban meskipun hanya sebuah bayangan semu. Masa depan hubungan yang tidak jelas, hubungan yang kian terasa hambar, rasa di hati yang semakin terkikis, membuka celah bagi siapa saja untuk masuk kedalamnya, dan Celia membiarkan Khai masuk dan mengisi celah itu, meski ia tahu yang ia lakukan bukan hal yang benar, Celia hanya mengikuti kemana hati akan membawanya berlabuh.
Suatu sore, di hari sabtu yang konon katanya harinya para muda-mudi mencari tambatan hati, Khai mengajak Celia pergi jalan-jalan. Celia teramat ingin, tetapi ia bingung bagaimana cara meminta ijin pada pakdhe dan budhenya. Celia takut mereka tidak akan mengijinkan, karena mereka tahu Celia adalah pacar Alim, bagaimana mungkin ia keluar dengan pria lain, dimana harga diri Celia sebagai seorang wanita, dengan si A mau dengan si B mau. Karena teramat ingin pergi, Celia terpaksa berbohong pada budhe dan pakdhenya, ia terpaksa mengatakan akan pergi dengan Alim.
"Budhe, pakdhe, Celia minta ijin untuk keluar, mau jalan-jalan sebentar, malem mingguan." Celia sudah harap-harap cemas, ia tak pernah keluar malam sebelumnya.
"Sama Alim Cel?"
"Mmm, iya pakdhe." Celia menggigit bibirny.
"Tapi nanti pulangnya jangan malam-malam Cel, pamali, ora ilok perempuan main sampai malam, nggak enak dilihat tetangga."
"Nggih budhe, Celia akan pulang sebelum jam sembilan."
__ADS_1
Tangannya dingin, sungguh demi apapun Celia merasa sangat menyesal, merasa tidak enak, juga merasa bersalah. Keluarga Celia sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai, aturan dan norma-norma, juga sangat menjunjung tinggi etika. Tak pernah ia diajarkan untuk berbohong pada siapapun. Celia berharap semoga malaikat yang mencatat segala perbuatannya didunia sedang sibuk jadi kebohongannya kali ini kelewat tak tercatat, takut sekali rasanya terancam dicoret dari KK ahli syurga.
Celia meminta Khai untuk dijemput di jalan depan komplek saja, meski Khai bersikeras ingin menjemput Celia dirumah sekaligus meminta ijin pada pakdhe budhenya, Khai bukan tipe laki-laki pengecut, akan tetapi Celia juga bersikeras beralasan ia sekalian ingin ke Indodesember depan komplek untuk membeli sesuatu. Malah mirip-mirip ABG yang lagi backstreet kan mereka?! Janjian ketemuan di jalan, pulang juga turunnya di jalan.
Semilir angin sore sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, menerbangkan surai rambut bergelombang milik Celia yang dibiarkan tergerai bebas. Celia dan Khai berjalan beriringan disebuah jalan setapak ditengah taman kota. Lelah berjalan mereka mencari tempat duduk di dekat kolam air mancur, tempat yang paling strategis menurut mereka. Kursi panjang yang terbuat dari kayu dengan ukiran-ukiran klasik berwarba coklat tua menjadi pilihan mereka. Dari tempat mereka duduk, Celia bisa melihat anak-anak remaja yang sedang bermain gitar sambil bernyanyi, menghibur dan memeriahkan suasa taman kota sore itu.
Tak sengaja netranya melihat satu keluarga kecil yang juga sedang menikmati kebersamaan mereka ditaman, seorang ayah, ibu dan satu anak mereka yang kelihatannya baru berumur sekitar satu tahunan, mereka tampak sangat harmonis dan bahagia, Celia fokus melihat mereka. Hatinya menghangat menyaksikan pemandangan itu, ingin juga ia rasanya diposisi itu, secara umur Celia sudah dirasa cukup untuk berumah tangga, tapi sepertinya impiannya belum bisa terealisasi dalam waktu dekat mengingat hubungannya dengan Alim yang entahlah, ditambah lagi dengan hadirnya Khai yang perlahan mengisi celah-celah dihatinya.
Khai memperhatikan kemana arah pandangan Celia.
"Ehm, tentu saja, wanita mana yang tidak menginginkan nya."
Khai tersenyum, ingin rasanya ia menyetakan perasaanya, bahkan teramat ingin ia melamar Celia dan mewujudkan impian gadis itu, namun ia tak bisa melakukannya, Khai tahu dan sadar betul akan posisinya, Khai tidak mungkin menyatakan perasaannya pada Celia pada saat Celia masih terikat hubungan dengan pria lain. Dalam diam Khai menahan beban di hatinya, tidak pernah terfikir olehnya terjebak dalam cinta segitiga seperti ini, berada diantara Celia dan Alim, ingin maju tak mungkin, apakah ia akan jadi pebinor? Ingin mundur pun tak bisa, hatinya sudah mentok pada Celia, tak ingin rasanya ia berpaling pada wanita lain. Posisi yang serba salah. Biarlah nanti waktu yang akan membawa mereka sampai di akhir cerita, jika esok hari ada kesempatan, Khai tak akan menyia-nyiakannya.
__ADS_1
Diam, termenung dengan pikirannya masing-masing. Berusaha menyelami kedalaman hati masing-masing.
🎵 Ewer ewer ewer ewer ... eerrrrrr ...
wer ewer ewer wer wer ...
wik wik wik wik wik wik wik ...
wer ewer ewer ewer ... ambyaaarrrr ...
....
(Source: Viral Video) 🎵
__ADS_1
Sesosok pria gemulai tiba-tiba saja muncul tanpa mereka berdua sadari, dengan dandanan serba nyentriknya. Sepatu hak tinggi warna merah menyala, kaki jenjang berbulu dengan stocking jaring-jaring, entah jaring mana yang dipakai, jaring net voli atau jaring ikan lele. Dress ketat warna hitam dengan aksen bunga-bunga putih teramat mini diatas lutut. Rambut palsu pendek sebahu dihiasi jepit pita warna orange, jangan tinggalkan alis bak bulan sabit serta make up-nya yang serba tebal. Tangannya yang gemulai lincah memainkan bas betot yang ia kalungkan di pundaknya, mengiringi lagu yang ia nyanyikan. Tak kuat dengan shock teraphy yang ia terima, Celia menyemburkan tawanya, lamunannya tentang masa depan seketika ambyaarrr di ewer-ewer entah kemana.