
Celia merasa hatinya jauh lebih ringan, bebannya sudah berkurang. Masalah dengan Alim sudah beres, tinggal bagaimana ia menghadapi keluarganya nanti.
Celia si gadis dari desa, mau dari mana pun asalnya, jiwa mudanya tetaplah menggelora, masih berapi-api, yang maunya masih menang sendiri. Pemikirannya adalah benar menurutnya, pun dengan keputusan yang diambilnya juga adalah benar menurutnya.
Selepas menemui Alim, Celia kembali ke ruang kerjanya. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 18.30 waktu setempat, Celia memutuskan untuk segera pulang. Ia merapikan berkas-berkas yang masih belum di proses, lalu mematikan komputernya. Tas kulit warna hitam ia jinjing anggunly, langkahnya mantab menuju mesin handkey melakuka untuk absen pulang. Tak ... tok ... tak ... tok ...!!! Suara hak sepatu hills yang beradu dengan lantai keramik terdengar nyaring, menggema di sepanjang koridor yang telah sepi.
Dilain tempat, Khai sudah menunggu Celia sejak sore tadi. Si bray sudah terpakir dengan gagahnya di dekat pos barat. Bolak-balik Khai melihat ponselnya, tetapi nihil, belum ada balasan dari Celia. Berulang kali pula ia melihat jam ditangannya tapi tak kunjung pula gadis yang ditunggu menampakkan batang hidungnya. Khai tahu Celia belumlah pulang, ingin ia menghampiri Celia di ruang kerjanya, tapi tak ada alasan bagi Khai untuk kesana, jam kerjanya telah usai sedari pukul lima sore tadi. Siang tadi Khai juga tidak punya kesempatan untuk menemui Celia, ia cukup sibuk dengan tugas barunya di bagian lobby. Ya! Sudah satu bulan ini Khai dipindah tugaskan dari regu jaga menjadi security di bagian lobby yang jam kerjanya mengikuti jam kerja staff kantor. Sebenarnya Khai tak berharap banyak, ia hanya ingin melihat Celia, sukur-sukur bisa pulang bareng, kalau lagi apes ya paling yang dilihat Celia pulang di antar Alim, dan Khai cuman kebagian nontonin adegan uwuw itu sambil nyemilin handy talky. Si bujang yang lagi terjebak cinta segi tiga ini belum tahu saja jika Celia sudah memutuskan hubungannya dengan Alim. Dalam pikirnya, mau sampai kapan dia begini, menanti Celia bisa menjadi miliknya seutuhnya. Apakah itu semua akan bisa terjadi? Apakah keluarga Celia akan bisa menerimanya? Kadang Khai berpikir dia hanyalah bagai pungguk merindukan bulan, baru sebatas dekat saja dirasanya sikap pak Rano terhadapnya sudah berubah, tak seramah dan sehangat dulu saat sebelum Khai dekat dengan keponakannya, apalagi nanti jika memang ia dan Celia ditakdirkan bersama.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, setelah ribuan menit menunggu, akhirnya sang gadis pujaan hati keluar juga. Khai sudah mesam-mesem melihat Celia keluar dari dalam kantor, ia sendirian, itu artinya Celia tidak pulang bersama Alim. Apakah Celia dan Alim masih bertengkar gara-gara masalah kemarin pikir Khai, jika memang iya, tentu saja ini akan menguntungkannya. Hmmm ... seandainya Khai sudah tau Alim dan Celia sudah tak ada hubungan lagi sejak kurang dari dua jam yang lalu, dia pasti sudah melompat-lompat kegirangan, kalau perlu koprol dari pos barat sampai pos timur saking senangnya.
Langkah kaki Celia semakin dekat dengan Khai, hanya tinggal beberapa meter saja, bahkan Celia sudah dapat melihat senyum di wajah Khai yang ditujukan untuknya.
"Khai ...!" Seorang perempuan seusia Celia tiba-tiba muncul entah dari mana, menghampiri Khai dengan senyum terkembang yang dibuat semanis mungkin lalu bergelayut manja di lengan Khai. Celia memperlambat langkah kakinya, sengaja ia lakukan karena cukup penasaran, siapa perempuan yang dengan beraninya gelendotan dilengan sandarable milik Khai.
"Nita, kamu kok ada disini?" Khai bingung kenapa Nita bisa dengan tiba-tiba muncul disana, dan lagi ia muncul disaat yang sangat tidak tepat. Khai melepaskan rangkulan tangan Nita dilengannya, ia merasa risih, selain itu Khai tak mau jika Celia sampai salah paham melihat Nita.
__ADS_1
"Aku abis jalan sama temen-temen di mall sebelah kantor kamu Khai, aku tanya temen kamu yang jaga disana katanya kamu ada disini. Anterin aku pulang ya Khai, aku nggak bawa motor, udah lama juga kita nggak jalan berdua, lagi pula aku berani-beraniin dateng nyamperin kamu kesini, aku kangen sama kamu Khai." Pinta Nita merajuk manja pada Khai membuat Celia menatap horor mereka berdua, tak malukah Nita, pada teman Khai yang berjaga di dalam pos. Khai masih berusaha menyingkirkan tangan Nita yang terus menempel seperti tentakel gurita.
"Sorry Nit, aku nggak bisa, aku udah ada janji sama seseorang." Khai melihat Celia yang kini sudah berjalan berada tepat didepan mereka.
"Celia, ayo kita pulang." Khai akhirnya bisa melepaskan diri dari Nita, ia menghampiri Celia yang sudah hampir sampai di pintu keluar.
"Apa Khai, kamu selesein dulu urusan kamu sama mbaknya itu, dia minta di antar pulang kan? Aku bisa kok pulang sendiri." Celia berusaha tersenyum, memperlihatkan dia baik-baik saja.
"Nggak bisa, aku antar kamu pulang, Nita bukan siapa-siapa aku, aku udah nunggu kamu dari tadi, juga nunggu balasan pesan dari kamu."
"Tapi ...."
"Selesaikan urusan kalian." Celia berjalan pergi, Khai tak bisa mengejar Celia karena tangannya di tarik oleh Nita, ingin sekali rasanya Khai memghempaskan Nita agar ia bisa lepas, tapi itu tak mungkin dia lakukan, walau bagaimanapun Nita adalah seorang wanita, tak mungkin Khai berbuat kasar pada wanita apalagi di tempat umum. Kebetulan sekali ada taksi yang sedang mangkal di depan kantor, Celia segera masuk kedalam taksi itu dan meminta pada drivernya agar cepat pergi dari sana. Jengah sekali Celia melihat adegan Khai yang ditemplokin ulat bulu, seperti dunia milik berdua, yang lainnya cuma ngontrak.
Sepertinya karma dibayar kontan, tadi Celia mutusin mas Alim, sekarang Celia harus liat Khai sama perempuan lain.
__ADS_1
Tidak munafik, Celia pun merasa cemburu melihat Khai dekat dengan perempuan lain, terlebih perempuan itu sampai berani gelendotan, timbul pertanyaan-pertanyaan di otak Celia tentang siapakah perempuan itu? Ada hubungan apa dengannya? Tak mungkin dia bisa seberani itu jika tak punya hubungan apa-apa dengan Khai. Celia menyandarkan kepalanya, lalu ia memijit pangkal hidungnya.
"Nit, cukup." Khai melepas tangan Nita sedikit kasar, yang ia pikirkan saat ini hanya Celia yang pergi dengan kesalahpahaman.
Khai bergegas menuju sepeda motornya, langkahnya terhenti ketika tiba-tiba ada seseorang yang menarik kerah bajunya, lalu ... "bugh ...!!" Alim melayangkan sebuah bogem mentah di perut Khai.
"Awh, sssshhitt." Khai memegangi perutnya.
"bugh!!!" Khai melayangkan serangan balasan, yang juga ia sarangkan di perut Alim, mungkin agar mereka impas pikirnya.
Khai dan Alim sudah bersiap diposisi masing-masing dalam sikap siap untuk kembali saling serang, hingga dua orang security yang adalah teman-teman Khai datang melerai perkelahian mereka, satu orang menahan Khai sedang satunya menahan Alim. Beruntung saat itu sudah malam, jadi tidak ada yang melihat dua orang pria dewasa itu main perang-perangan.
"Kamu ingat ini Khai, kalau sampai kamu buat Celia terluka, aku nggak akan segan-segan untuk kembali merebutnya." Ancam Alim pada Khai. Belum sempat Khai membalas perkataan Alim, Alim sudah berbalik pergi dari sana. Khai hanya bisa diam mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Alim, mengapa Alim berkata demikian.
Diujung pintu keluar, Nita yang menyaksikan perkelahian Khai dan Alim, ia tersenyum smirk, lalu segera pergi dari sana.
__ADS_1
Nikmati itu Khai, ini belum seberapa.
Nita tersenyum puas karena telah berhasil membuat kesalahpahaman antara Khai dan Celia.