Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 39 : Perjodohan


__ADS_3

Happy Reading 😉


Hati-hati banyak typo bertebaran 😵


🍁🍁🍁


Obrolan santai berlanjut di meja makan. Celia tak banyak bicara, ia hanya bicara jika di tanya oleh orangtuanya atau juga orangtua Rama, selebihnya ia hanya diam.


"Nduk Celia, jadi mantunya om ya?" pinta om Rudi entah untuk yang keberapa. Celia sampai tersedak saking ia kaget, ditanya hal yang sama lagi.


Bukan kenapa-kenapa, om Rudi sudah terlanjur suka pada Celia, suka jika Celia menjadi menantu di rumahnya, ketimbang perempuan yang Rama kenalkan sebagai pacarnya, mengapa om Rudi sampai tak suka dengan kekasih dari putranya sendiri?


"Ehm, om Sujadi maaf," Rama menginterupsi, "boleh Rama menumpang ke kamar mandi?" Rama meminta ijin pada ayah Celia.


"Boleh nak Rama, silahkan, biar di antar Celia." Pungkas pak Sujadi, "Nduk, antar nak Rama ke kamar mandi ya." pinta sang ayah.


"Iya bapak," jawab Celia.


Huft ... kenapa harus Celia sih pak yang nganterin, kan ada Wingit.


"Ayo mas Rama, Celia antar." Ucap Celia pada Rama.


"Iya, makasi Cel, maaf merepotkan."


sesampainya di kamar mandi Celia hendak pergi meninggalkan Rama, ya kan nggak mungkin Celia nungguin di depan pintu kamar mandinya, bisa dikira ngintip nanti, ya kali udah dandan cantik-cantik begini dibilang tukang ngintip. Lagi pula Celia juga tidak ingin jika gara-gara ngintip matanya jadi bintitan.


Saat Celia berbalik tiba-tiba Rama memanggil namanya.

__ADS_1


"Celia ...," panggil Rama.


"Ya mas Rama, ada yang diperlukan lagi?" jawab polos Celia.


"Enggak, cuma mau minta maaf atas nama ayah, tolong dimaafin ya kalau ayah terkesan memaksa Celia untuk dijodohkan dengan saya." ungkap Rama.


"Ooh, iya mas Rama nggak apa-apa, Celia mengerti kok," Celia sedikit tersenyum.


"Celia udah punya pacar? maaf kalau tidak sopan." sambung Rama.


Celia mengangguk, meng_iyakan. Celia tidak mau berbohong. Celia akui Rama memang tampan, gagah juga mapan, namun hatinya masih utuh milik Khai seorang.


"Sama, saya juga sudah, tapi ayah tidak menyukai wanita pilihan saya, entah apa alasannya."


"Haaa," Celia membeo, hampir mirip dengan kisah cintanya, hanya bedanya Celia belum berani mengungkapkan pada ayahnya tentang Khai.


"Celia nggak usah khawatir, nanti saya yang akan menjelaskan pada ayah saya," jelas Rama. Sebenarnya Rama pun merasa tertarik pada Celia, dia adalah lelaki normal, melihat wanita secantik dan seanggun Celia, mana ada yang akan menolaknya. Sayangnya tadi saat ditanya apakah sudah punya pacar, Celia menjawab iya, Rama bukan tipe laki-laki perebut pacar orang. Seandainya Celia menjawab belum punya pacar mungkin ia akan mempertimbangkannya.


Sudah pukul 21.00 waktu setempat, cukup malam untuk bertamu, keluarga Rama memutuskan untuk segera pulang. Mereka menginap di rumah orangtua om Rudi yang terletak tak begitu jauh dari rumah Celia, masih satu kecamatan hanya beda kelurahan saja.


"Jad, aku pulang dulu ya, ojo lali sing mau lho ya," ucap om Rudi.


"Sip Rud, mbok kiro koe thok sing pengen, aku rak yo pengen (sip Rud, kamu kira cuma kamu yang ingin, aku juga)." Jawab ayah Celia.


"Yowes, nanti berkabar lagi ya jad?!"


Pak Sujadi membalas dengan mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


Akhirnya keluarga Rama pulang juga, setelah membantu sang ibu bersih-bersih Celia pamit untuk masuk ke kamarnya, ia berkata jika sudah sangat mengantuk, padahal yang sebenarnya Celia hanya enggan jika sang ayah akan membahas perihal perjodohan dengan Rama. Celia belum siap membahas itu.


Ya Allah, belum juga Celia mengatakan yang sesungguhnya tentang hubungan Celia dengan Khai, kini malah datang masalah baru.


Celia mendesah, ia bertekad akan mulai membuka hubungannya dengan Khai jika ayahnya memaksa untuk menjodohkan dirinya dengan Rama.


Celia terlebih dahulu membersihkan wajahnya sebelum ia beranjak tidur, lalu ia berbalas pesan dengan Khai yang sudah menunggunya.


Mereka berbalas pesan hingga Celia ketiduran.


🍁🍁🍁


Keesokan paginya seperti biasa keluarga Celia sarapan bersama, menikmati momen kebersamaan sebelum Celia kembali ke kota J. Celia menepati janjinya pada sang ibu, dia yang memasak semua hidangan untuk sarapan. Pak Sujadi sangat senang, putrinya sekarang sudah pandai memasak, ia melihat ada banyak perubahan pada diri Celia, sejauh ini yang pak Sujadi lihat perubahan Celia adalah perubahan yang baik.


Namun tidak dengan sang istri, lain dari biasanya, pagi itu bu Sujadi tampak lebih pendiam. Celia bisa merasakan itu, namun ia tak berani bertanya pada ibunya.


Selesai sarapan Celia hendak membereskan meja makan, tetapi sang sayah melarangnya.


"Sik nduk, diresiki mengko wae, bapak tak arep ngomong penting (sebentar nduk, dibersihkan nanti dulu, bapak mau bicara penting)."


Celia kembali duduk, ia sudah tau kemana arah pembicraan ayahnya.


"Nduk, opo sing diaturne om Rudi mau bengi ki ora guyonan, bapak karo om Rudi sepakat arep njodokne koe karo Rama (nduk, apa yang disampaikan om Rudi tadi malam itu tidak bercanda, baoak dan om Rudi sepakat akan menjodohkan kamu dengan Rama)." Pak Sujadi bicara dengan sungguh-sungguh.


"Tapi pak, Celia tidak mengenal mas Rama, lagi pula mas Rama itu sudah punya pacar pak," jelas Celia.


"Pacaran kui nak lagi penjajakan to nduk, nek keluargane ora setuju yo isih iso dibubarne, opo kurange Rama nduk? bocahe ganteng, gagah, tur yo mapan (pacaran itu kan baru penjajakan nduk, kalau keluarganya nggak setuju ya masih bisa diputuskan, apa kurangnya Rama nduk? orangnya tampan, gagah, juga mapan)."

__ADS_1


"Kurangnya ada pada Celia pak, tolong bapak jangan menjodohkan Celia dengan mas Rama. Bapak minta Celia merantau, tinggal dengan budhe Rani, Celia menurut, dari dulu pun Celia selalu menurut, tapi Celia minta untuk kali ini jangan paksa Celia ya pak," mohon Celia pada ayahnya.


"Opo alesanmu nduk? nek mung amargo urung kenal, kan iso pendekatan, nek amargo ora cinta kan urung dijalani, witing tresno iku jalaran seko kulino (Apa alasan kamu nduk? kalao hanya karena belum kenal kan bisa pendekatan, kalau hanya karena tidak cinta kan belum dijalani, cinta itu datang karena terbiasa)," balas sang ayah tak mau kalah. Kali ini Wingit tak teg untuk menggoda kakaknya, ia hanya diam menjadi penonton, oun juga sang ibu, semalam ia sudah berdebat dengan suaminya perihal ini. Bu Sujadi pun merasa jengkel dengan sang suami karena dengan tiba-tiba memutuskan perjodohan putri mereka tanpa memberitahunya terlebih dahulu, sebagai seorang istri dan seorang ibu, bu Sujadi merasa ia tak dihargai oleh suaminya.


__ADS_2