
Happy Reading 😉
🍃🍃🍃
Beberapa hari setelah kejadian memalukan dengan pak satpam ....
Kamis manis, Celia sangat bersemangat hari ini, setelah sekian bulan jadi toyibwati akhirnya kini tiba saatnya untuk Celia bisa pulang ke kampung halamannya, tempat kelahiran yang sangat ia dirindukan. Meskipun belum bisa membawa sebongkah berlian, tak mengapa, itu tak mengurangi euforia kegembiraannya.
Celia akan berangkat dari kantor, ia hanya masuk setengah hari, mau tidak mau karena pagi ini dikantor ada rapat dengan beberapa stakeholder, selain itu Celia juga harus menyelesaikan terlebih dahulu surat-surat pertanggungjawaban perjalanan dinas yang kemarin belum bisa ia selesaikan.
Untuk kepulangan perdananya Celia sudah memesan tiket kereta api jauh-jauh hari sebelumnya, dengan jam keberangkatan pukul 14.30 waktu setempat, dengan begitu Celia masih punya waktu setengah hari untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Sengaja Celia memilih naik kereta api karena jadwalnya lebih fleksibel, ada banyak pilihan jam nya daripada menggunakan bus, selain itu jarak dari kantor ke stasiun juga jauh lebih dekat bila dibandingkan ke terminal bus antar provinsi.
Selama Celia cuti, pekerjaannya akan di back up oleh Hari, Bayu juga kaka Nur. Celia tidak bisa mengambil cuti lama-lama, selasa ia sudah harus masuk kerja. Ia tak mau membebankan pekerjaannya pada teman-temannya yang lain terlalu lama, ia merasa tidak enak hati, karena Celia tau mereka juga memiliki segudang pekerjaan. Indah sekali bukan hubungan kerja mereka?! Bukan lo - lo, gue - gue, tetapi kita, selalu saling membantu dan saling mengingatkan, mematahkan stigma negatif betapa mengerikannya dunia kerja di pikiran Celia.
Jemari lentik Celia menari-nari indah di atas keyboard, tak ada waktu untuk sekedar bersantai barang sejenak, harus kerja cepat, kerja tepat. Meskipun ini baru pukul 07.00, tetapi semangat yang membara di hati Celia sudah menyala-nyala bak mentari di tengah hari bolong. Masih ada pakdhe Rano jadi aman lah jika ingin berangkat pagi masih bisa nebeng, meski hanya tinggal menghitung hari karena Surat Keputusan tentang purna tugas pakdhe Rano sudah keluar.
Kruuuuk ... krruuukkk...
Suara merdu dari perut Celia terdengar nyaring, memecah konsentrasinya.
"Buset! itu suara perut lo? hahaha nyaring banget kaya orkes keliling." Kelakar Hari yang kebetulan saat itu sedang berada diruangan Celia.
"Iya nih bang, laper Celia belom makan dari semalem, sibuk packing, sekarang pengen makan orang, apalagi yang pipinya tembem kaya lo bang." Jawab Celia asal tanpa menatap ke arah Hari, ia masih saja terus melanjutkan pekerjaannya.
"Lo kira gue roti maen makan aja, minta tolong sama mbak Titi sono, beliin sarapan di kantin, ntar pingsan gue nggak kuat bopong lo, berattt!!! Kebanyakan dosa."
"Si kamvreett, kalo Celia kebanyakan dosa lo yang salah bang, karena lo suhunya." tukas Celia, ia melirik Hari yang sedang melihatnya sambil menjulurkan lidahnya.
"Dih amit-amit, kaya kadal lo bang melet-melet, kadalsaurus! Mending babang bantuin Celia sini ngerjain deadline bang, lebih berfaedah dan penuh berkah, duh baeknya calon penghuni surga." Celia mengedip-ngedipkan matanya, berbicara dengan intonasi selembut mungkin penuh bujuk rayu.
__ADS_1
"Gue nggak mempan sama rayuan pulau kelapa lo bocil, rayuan lo menyengsarakan, pusing gue liat angka-angka begitu, mending gue ke pojokan nabung mumpung belum ada yang dateng rapat," Hari berbalik hendak keluar dari ruang kerja Celia, dia berjalan sambil mengelus-elus perutnya yang sedikit sombong alias maju.
"Eh ... bau apaan nih?" Celia mengendus bau-bau yang tidak asing di indra penciumannya.
"Woi bang, lo kentut ya, dih bau banget, abis makan apaan lo, ga kuat gue!"
"Sorry Cel, mules perut gue, nggak sengaja bunganya keluar duluan, hahaha."
Celia beranjak dari kursinya dan bergegas keluar ruang kerjanya ke ruang kerja belakang, sedangkan Hari sudah ngacir ke toilet, ada panggilan yang tak bisa ditunda-tunda lagi yang harus segera dituntaskan.
Karena ketidaksengajaan Hari buang gas penyiksa hidung di ruangannya, Celia harus mengungsi untuk beberapa saat di ruangan belakang.
Celia melihat ponselnya, wajahnya seketika berubah sumringah.
# Sayang, sibuk nggak? ke lobby ya sebentar, aku beliin sarapan. (Khai)
# OK! Celia turun sekarang Khai, makasi ya. (Celia)
Khai tau Celia pasti belum sempat makan, untuk itu dia membelikan sarapan untuk Celia.
Celia segera meluncur turun menemui Khai di lobby, inginnya Khai yang mengantarkan makanan itu ke ruang kerja Celia, akan tetapi itu belum mungkin terjadi, mengingat permintaan backstreet dari Celia.
"Khai," Celia menghampiri Khai. "Dimakan ya, biar semangat kerja nya," Khai menyerahkan bungkusan berisi makanan untuk Celia.
"Iya, pasti dimakan, kebetulan banget lagi laper." No jaim-jaim.
"Nanti jadi berangkat jam satu?"
"Heem, jadi Khai, kalau jam setengah dua nanti terlalu mepet, takut nanti malah ketinggalan kereta."
__ADS_1
"Boleh nggak kalau aku berharap kamu ketinggalan kereta?".
"Ya nggak boleh lah Khai, ngawur kamu, Celia pergi cuma beberapa hari Khai, bukan bertahun-tahun." Celia melirik Khai yang menatapnya lekat seakan tak rela ditinggal pergi.
"Aku antar ke stasiun ya?" pinta Khai sungguh-sungguh.
"Khai, hari ini di kantor banyak rapat, keberadaan kamu juga sangat dibutuhkan, Celia bisa naik taksi sendiri."
"Baiklah, tapi harus selalu hati-hati, kamu sendirian, jaga diri baik-baik, titip salam buat bapak sama ibu dirumah."
"Siap sayang." Celia tersenyum riang, ia tak mau membuat Khai cemas.
Maaf Khai, sepertinya salam kamu buat bapak sama ibu belum bisa Celia sampaikan.
Celia kembali ke ruanga kerjanya, ia akan memakan sarapannya diruangannya saja sambil menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, harus multitasking, biar perut kenyang dan kerjaan kelar.
🍃🍃🍃
Sudah pukul 13.00 waktu setempat, Celia harus cepat-cepat berangkat ke stasiun jika tak ingin tertinggal kereta. Celia sudah pamit pada teman-temannya, ia juga sudah memanggil taksi online untuk mengantarkannya.
Ketika melewati lobby kantor, netranya bersitatap dengan Khai yang selalu menatapnya, Celia tersenyum pada Khai, menyiratkan makna agar Khai tak perlu khawatir, ia akan baik-baik saja. Selanjutnya mereka hanya berkirim pesan.
Beruntung jalanan siang itu tak terlalu macet, Celia tiba di stasiun pukul 13.45 waktu setempat, masih ada waktu untuknya membeli minum dan perbekalan pengganjal perut.
Setelah selesai membeli apa yang ia butuhkan, Celia bergegas untuk melakukan boarding, lebih baik menunggu di dalam agar nanti tak buru-buru.
** Selamat datang di kereta Argo Utama yang akan mengantar kita ke tujuan akhir Stasiun PS. Perjalanan kali ini menempuh waktu sekitar 3 jam 4 menit. Jika anda memerlukan bantuan atau informasi lainnya, Anda dapat menghubungi awak kru kami yang bertugas pada perjalanan kali ini. Demi kenyamanan dan keamanan kami himbau untuk tetap waspada menjaga barang bawaan Anda, tidak merokok baik di dalam kereta, di toilet, maupun di bordes. Selamat menikmati perjalanan anda. Terima kasih.
Ladies and Gentleman, welcome on Argo Utama train. That will take us to PS Station, for the last destination Station. This Train will travel for 3 hours and 4 minutes. For any service or information, you can contact all crew in our trip today. For your safety, we remind you to keep all your belongings and please do not smoke on the train, in the toilet, or in the bordes. Have nice trip.
__ADS_1
Kereta api berangkat tepat pada waktunya. Suara announcement menggema merdu di sepanjang gerbong kereta api.