Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 22 : Terbongkar 2


__ADS_3

"Huaaaammm... ngantuk uda, Celia mau tidur sekarang lah." Film Bollywood yang ia tonton sudah habis, mata sudah perih saking dipaksa tetap melek demi mantengin si ganteng idolanya. Celia beranjak dari sofa, melempar remotnya asal, hampir mengenai kakak sepupunya.


"Weiittsss, hampir aja, untung saya punya refleks bagus." Dengan gerakan kilat kakak sepupunya bisa menangkap remot yang di lempar Celia, kalau tidak, mungkin akan tumbuh bola pingpong di kepalanya alias benjol.


"Hahaha, sengajaaa, dada uda, besok bawa kaset lagi ya, yang bintangnya babang Syahrukhan." dengan gerakan cepat Celia kabur masuk ke kamar agar tak menerima serangan balasan dari kakak sepupunya.


"Huaa... kasur... Celia kangen, bobok yuuk." Celia tengkurap diatas kasur, menikmati setiap sensasi nyaman yang dirasakan tubuhnya. Baru mau merem, Celia ingat belum memeriksa ponselnya, alarm juga belum disetel. Dengan malas Celia merosot dari tempat tidurnya, tangannya merogoh kedalam tas mencari-cari benda pipih kesayangan sejuta umat itu, bagaimana tidak, mau tidur, bangun tidur, mau makan, mau mandi, mau apapun selalu dia dulu yang dicari. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Celia mengeluarkan tangannya dari dalam tas, lalu kembali naik ke tempat tidur. Matanya sudah sangat sayu, sudah berkali-kali Celia menguap, jangan nyamuk, cicak saja sampai takut melihatnya, takut ikut kesedot. Cantik-cantik tapi nguapnya bar-bar. Meski dengan mata yang sudah tinggal setengah watt, tangannya masih tetap lincah membuka kunci layar bahkan tanpa melihatnya, dirasa sudah terbuka, dengan mata yang setengah tertutup Celia memaksa untuk melihat ponselnya. Dilihatnya ada 1 pesan dari Alim, juga beberapa dari grup kantor.


Celia membuka pesan dari Alim terlebih dahulu, matanya yang semula sudah hampir terpejam mendadak terbuka lebar, selebar dunia. Celia mengucek matanya berkali-kali sampai berair, untuk memastikan matanya sudah jernih dan ia tak salah baca. Kembali berulang kali Celia membaca isi satu pesan dari Alim kata demi kata. Hanya satu pesan tapi sanggup membuat Celia terpaku. Jantungnya berdegup, dada naik turun dan hidung kembang kempis, seolah sebanyak apapun ia meraup udara, pasokan oksigen yang ia terima tak cukup mampu untuk memenuhi paru-parunya.


Mas Alim melihat semuanya tadi di stasiun.


Sepandai-pandainya tupai melompat ia pasti akan jatuh juga, sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga baunya. Begitu pula dengan Celia, sepandai-pandainya Celia mencoba untuk menyembunyikan kedekatannya dengan Khai, pasti akan ketahuan juga. Dan kini sudah tiba masanya semua terbongkar.


Ya Allah, dalam satu hari Celia membuat hati dua orang laki-laki terluka. Apa yang harus Celia lakukan sekarang?


Setetes air mata mengalir bebas dari pelupuk mata, semakin lama semakin menganak sungai membasahi pipi mulusnya. Celia masih termenung tak bergerak dari posisinya, pikirannya campur aduk semrawut. Haruskan ia jujur sekarang pada Alim kalau memang ia tengah dekat dengan Khai?!


Atau haruskah ia kembali berpura-pura tak sengaja bertemu Khai di stasiun lalu di antar pulang?

__ADS_1


Tidak ... tidak ... jika ia kembali berbohong, luka yang ditimbulkan akan semakin dalam jika suatu saat nanti ketahuan lagi. Mungkin ini sudah jalannya, sudah saatnya Celia memantapkan hatinya untuk memilih, Alim atau Khai. Sudah saatnya bagi Celia untuk mengakui kesalahannya telah singgah di dua hati. Apapun yang akan terjadi kedepannya Celia pasrahkan pada Yang Maha Kuasa, Dia Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia. Apapun konsekuensinya Celia akan menerimanya. Ada sebab pasti akan ada akibat.


Matanya mengedar ke sekeliling seolah di langit-langit dan tembok kamarnya tertulis sebuah jawaban.


Satu proses pendewasaan diri harus kembali Celia lalui. Mana pernah sebelumnya terbayang oleh Celia, ia akan ada di posisi seperti ini atau menghadapi permasalahan macam ini, terjebak diantara dua hati. Celia tak berbakat jadi play girl, mainnya kurang rapi.


Celia tak kunjung membalas pesan dari Alim, gini nih kalau ketahuan salah, mau balas pesan rasanya kaya mau dikirim perang ke hutan amazon buat lawan piranha. Ketik hapus, ketik hapus, ketik lagi lalu hapus lagi, berulang berusaha merangkai kata untuk membalas pesan dari Alim, tetap saja dirasa kurang pas kata-kata nya.


# Mas Alim, Celia minta maaf, meskipun telat Celia mau jelasin sesuatu tapi Celia rasa lebih baik hal ini kita bicarakan langsung aja mas, besok sepulang kerja.


(pesan terkirim)


Sejak dahulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir, masih ingatkan dengan nasehat kakak cu pat kai yang satu ini. Meski begitu tetap saja semua orang ingin merasakan cinta, tak peduli kalaupun endingnya malah jadi termehek-mehek dibuatnya.


Drrrttt ... drrrrrtt ... (satu pesan diterima)


#aku paham dan cukup mengerti. Besok aku dinas luar, biarkan aku menyendiri, bukankah dulu aku udah pernah bilang, aku takut akan ada hati yang terluka, entah itu aku atau kamu. Beberapa waktu ini bukan aku nggak denger desas desus tentang kamu dan Khai, tapi aku hanya diam.


#Maafin Celia mas, Celia yang salah, Celia nggak bisa jaga hati Celia. Apa yang mas lihat adalah benar, Celia memang dekat dengan Khai. Bukan Celia ingin selingkuh, semua terjadi mengalir begitu saja, bahkan Celia sendiri tidak bisa memahami situasi ini. Awalnya karena Celia merasa hubungan kita hambar, juga tak kunjung ada kepastian mau dibawa kemana. Harusnya Celia langsung bilang sama mas, tapi Celia takut mas kecewa, Celia takut mas terluka. Tapi lagi-lagi Celia salah, dengan diamnya Celia, Celia justru menyakiti dua hati, juga hati Celia sendiri.

__ADS_1


(pesan terkirim)


Celia tak menyalahkan Alim atas apa yang terjadi, meski semua memang berawal dari ketidakpastian darinya, juga karena sikap cuek dan sakleknya yang tak mampu Celia mengimbanginya. Celia tak menyalahkan Khai yang datang menawarkan kehangatan kala hatinya dingin dan hambar, memanfaatkan celah dan perlahan masuk kedalamny. Celia terus menyalahkan dirinya sendiri.


Terbayang olehnya, bagaimana jika teman-temannya tau, juga bagaimana jika pakdhe dan budhenya tau, apa kata mereka nanti. Bagaimana pandangan orang-orang terhadapnya, mungkinkah ia akan di cap sebagai play girl lalu mulai menggunjingnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Celia belum bisa memejamkan matanya. Celia berharap rasa kantuk segera datang, agar ia bisa sekejap melarikan diri dari masalah.


Baru pukul 02.30 pagi Celia bisa tidur meski tak senyenyak biasanya. Celia tidur dengan membawa beban dihatinya, hingga terbawa ke dalam mimpi.


Niat hati melarikan diri, malah diikutin sampai ke mimpi-mimpi.


Paginya Celia bangun dengan keadaan kacau, mata sembab, dan kantung mata menghiasi wajahnya.


Celia buru-buru mandi agar tak ada yang melihatnya, kalau pakdhe atau budhenya yang melihat pasti mereka akan bertanya sebabnya.


Kantung mata dan kelopak mata yang sembab ini harus ditutup make-up.


Jadilah pagi itu Celia berangkat ke kantor dengan make-up sedikit tebal, lain dari hari-hari biasanya. Untung saja make-up tebalnya tak sampai setebal biduan, jika tidak bisa-bisa ia dikira mau dangdutan.

__ADS_1


__ADS_2