Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 47


__ADS_3

Happy Reading my support system 😊


🍃🍃🍃


OK! Setelah menghabiskan waktu hingga berlama-lama untuk merenung, akhirnya Celia memutuskan untuk tetap bertahan dengan Khai. Entah bagaimana caranya nanti mereka bisa bersatu, gadis cantik itu percaya jika cinta tulus dan kesabaran mereka juga perjuangan yang tak pantang menyerah pasti akan berbuah manis semanis mangga golek, sedang untuk saat ini Celia akan mengiyakan perintah ayahnya. Celia khawatir jika terus membangkang bisa-bisa ia disuruh pindah kerja di kampung saja, meninggalkan kota metropolitan, meninggalkan cintanya disana, atau lebih parahnya bisa-bisa ia akan di kutuk jadi batu buat nemenin malin kundang. Ibarat sebatang kayu yang bengkok jika dipaksa lurus pasti akan patah, tapi kayu bengkok itu masih bisa menjadi sebuah karya seni yang indah dan bernilai mahal jika dibentuk dan di ukir dengan penuh kesabaran, juga keuletan, begitu pula dengan hubungan Celia dan Khai Harun, si pemuda tampan berdarah Minang.


Celia mengambil ponselnya, membuka pesan menumpuk dari Khai yang isinya menanyakan apakah Celia baik-baik saja, apa ada sesuatu yang terjadi, apa dia ada salah sampai-sampai Celia mendiamkannya. Gadis cantik bermata bulat dengan manik coklat itu mengurut keningnya, pasti Khai kebingungan disana, maafin Celia ya Khai.


Celia mengetik sebuah pesan untuk kekasihnya, ia mengatakan jika semua baik-baik saja, dan ia berjanji akan menceritakan semuanya jika sudah kembali ke kota J nanti.


Duh Gusti, mugi keparengo paring sih pitulungan (Ya Allah, berikanlah belas kasih dan pertolongan).


Celia melenguh, meloloskan nafasnya berat, menghabiskan stock diparu-parunya untuk diganti dengan yang baru. Sambil menunggu balasan pesan dari Khai yang rasanya seperti nungguin emak-emak ngelurusin rambut a.k.a. lama pake banget, gadis bermata bulat indah itu berselancar di dunia maya, iseng membuka akun sosial media milik artis-artis ibu kota, siapa tau besok-besok ia bisa gantiin jobnya si lambe_jur4h. Artis berinisial A mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama diduga karena adanya orang ketiga dalam rumah tangga mereka bla bla bla ...., "Kawin cerai, kawin cerai, heran Celia mah, artis sukanya kawin cerai udah kaya main rumah-rumahan ala anak TK, udah nggak suka bisa ganti seenaknya, rumout tetangga lebih hijau, nggak tau aja punya tetangga itu rumput plastik, alias boongan," Celia bergumam, berdecak kesal kenapa yang begini juga suka trending, padahalkan ini harusnya jadi privasi, jejak digital akan selalu ada, kasihan lah dengan anak-anaknya. Sungguh unfaedah sekali gadis ini repot-repot ngurusin rumahtangga orang lain yang bahkan ia tak kenal.


Satu notifikasi pesan dari Khai masuk, membuat Celia mengembangkan senyum indahnya yang sempat redup, cepat-cepat membuka dan membaca isinya,

__ADS_1


'Iya, aku tunggu disini, kamu baik-baik disana.'


"He'em ..., kamu juga, baik-baik, jaga kesehatan, kalo lagi nongkrong di pengkolan jangan sampe larut malem."


'iya, insyaallah, paling sampe jam 1, bete dirumah nungguin kabar orang yang disayang nggak dateng-dateng.'


Celia mengerucutkan bibirnya membaca pesan dari Khai, ini adalah salah satu kebiasaan buruk Khai yang sering membuat mereka berdebat, lebih tepatnya membuat Celia jengkel, Khai adalah seorang yang terlampau ramah, ia tidak bisa berkata tidak, untuk menolak ajakan temannya untuk sekedar nongkrong-nongkrong di pengkolan pos ronda yang juga sekaligus pangkalan ojek, dengan alasan sebagai bentuk sosialisasi, banyak teman banyak bergaul, hidup nggak akan bisa kalo cuma sendiri. Padahal bukan poin itu yang bikin Celia uring-uringan tapi waktunya itu lho, kan bisa kalau nggak usah sampe menjelang subuh, ia kadang heran apakah pria yang dicintainya itu adalah sejenis makhluk nocturnal, sodaraan sama kalong alias kelelawar.


"Peace ✌ udah malem Khai, waktunya tidur, Celia ngantuk, janji bakal dijelasin kalau kita ketemu 3 hari lagi insyaallah," balas Celia tak mau memperpanjang masalah, masalah disini sudah cukup ruwet, ia tahu disana Khai pasti sedang tak baik-baik saja berkat aksi menghilangnya kemarin hingga malam hari ini.


......................


Fajar menyingsing dipagi hari yang sepertinya akan cerah sepanjang hari, terlihat dari bersihnya langit, tak ada gerombolan awan yang menghiasinya, bahkan warna gelapnya yang sudah mulai memudar masih menyisakan kerlip-kerlip bintang yang masih terlihat jelas.


Celia bangun ketika mendengar adzan subuh tadi, kini ia tengah bermalas-malasan ditempat tidur, mau membantu ibu memasak di dapur tapi Celia rasa ia masih cukup canggung dengan ibu pun juga dengan ayahnya.

__ADS_1


Matahari mulai merangkak naik, menampilkan warna jingga menyala, seperti kuning telur, bulat mulus dan menggiurkan. Celia menjejakkan kakinya di rerumputan samping rumahnya, tanpa alas kaki yang melindungi telapak kaki halusnya. Gadis bermata bulat itu merasa tubuhnya sudah jauh merasa lebih baik, lantas daripada bercanggung-canggung ria bersama sang ibu di dapur, lebih baik ia menghirup segarnya udara pagi di sawah, tinggal nyebrang pekarang, lompatin parit kecil, sampai deh.


Disinilah Celia sekarang, duduk bersantai disebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu, tempat ngaso yang punya sawah kala letih melanda, biarpun tak ada atap yang menaunginya disaat siang hari tempat itu akan selalu teduh karena pepohonan dari pekarangan milik keluarga Celia selalu melindunginya dari terik sang mentari.


Celia menengadah, memejamkan kedua matanya, menarik nafas dalam, meresapi, merasakan damainya alam, sejuknya menenangkan hati. Ia biarkan angin menerpa wajah ayu nya, menerbangkan sebagian anak rambutnya yang tergerai indah. Ia biarkan embun pagi menyentuh kulit wajahnya yang lembut, suara kicaian burung di pagi hari, membuat vibes semakin menyatu dengan alam, aroma tanaman padi yang sudah mulai menua daoat Celia cium dan merasakan tenangnya dunia ini, lebih tepatnya dunia bayi. Alam memang selalu bisa menggetarkan jiwa. Celia akan menikmati momen ini dengan baik, momen yang tidak bisa jumpai di kota metropolitan selain dari asap dan polusi bahkan di pagi hari.


Sudah cukup lama Celia duduk di sana, mengabaikan rasa panas di pant4tnya. Sejurus kemudian setelah sang mentari terlihat sudah full keselurannya juga sinarnya sudah mulai memancarkan rasa panas meski tak sepanas gosip tetangga, Celia kembali melangkahkan kaki teL4njangnya, masuk ke pekarangan rumah terdengar sayup-sayup suara ayahnya yang sedang mengobrol melalui ponsel. Semakin dekat semakin Celia mendengar apa yang tengah dibicaran oleh ayahanda terlopenya itu, namun Celia tidak tertarik untuk mendengarkan obrolan ayahnya dengan seseorang yang berada dikejeauhan sana, meski ia ia tahu seseorang itu pastilah om Rudi, Celia sempat mendengar nama Rama disebut-sebut. Sebelum Celia masuk dan menutup rapat pintu kamarnya, telinganya mendengar sang ayah yang sedang meminta maaf pada teman masa kecilnya itu.


Kamu Rama tapi sayangnya aku bukan dewi shinta, aku hanya seorang Celia, gadis desa yang jatuh cinta pada lelaki biasa.


Maafin Celia ya om Rudi.


noted:


- ngaso: istirahat

__ADS_1


__ADS_2