
Happy Reading 😉
🍃🍃🍃
Adzan subuh berkumandang membangunkan Celia yang hanya tidur satu jam, tentunya setelah mendapat kabar dari Khai jika dia sudah sampai dirumah dengan selamat sentosa dan sejahtera tanpa kurang suatu apapun. Mata Celia kini terasa lengket, kelopak matanya bahkan terus memaksa turun meski dengan sekuat tenaga ia paksakan untuk tetap terjaga, rasanya seperti digelantungin tarzan, berat, maunya merem aja.
Celia enggan untuk bangun dan keluar dari dalam kamarnya, gadis cantik bermata bulat itu pasti akan merasa canggung bila bertemu budhe dan pakdhenya. Akan tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terbongkar, Celia harus berani menghadapi semua, tak mungkin bukan jika Celia terus bersembunyi didalam kamarnya, menghindari budhe dan pakdhenya, itu justru akan semakin menambah masalah.
Dengan semangat yang ia paksakan, Celia beranjak dari kamarnya, tujuannya tentulah kamar mandi, Celia ingin mandi serta mengambil wudhu agar bisa segera menunaikan sholat subuh. Selesai sholat Celia bersiap untuk berangkat ke kantor, tapi sebelum itu terlebih dahulu Celia menemui budhenya untuk memberikan oleh-oleh titipan dari ibunya, uli kesukaan sang budhe.
"Budhe, ini ada oleh-oleh uli dari ibu," ucap Celia yang memulai obrolan dengan budhenya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya nduk, taruh saja dulu di meja, kebetulan sekali nanti bisa budhe bawa untuk bekal, bilang sama ibumu terima kasih."
"Iya budhe, insyaallah akan Celia sampaikan."
"Tadi sampe jam berapa Cel? Naik taksi apa ojek?"
"Tadi Celia sampai sekitar jam setengah tiga budhe, naik taksi sampai depan sini, maaf Celia tidak membangunkan budhe, Celia tidak mau mengganggu istirahat budhe dan pakdhe," jawab Celia, ia menjawab dengan jujur toh meskipun diantar Khai tetap saja kenyataannya dia naik taksi, bukan berboncengan yang dunia serasa milik berdua.
"Jadi gimana nduk Celia, hubunganmu dengan satpam itu gimana? Budhe kaget waktu mbakmu cerita kalau kamu putus dengan Alim dan malah memilih si satpam itu, begitu budhe tau budhe langsung telepon bapakmu," tanya budhe Rani to the point, budhe Rani berkata jujur pada Celia jika dia yang telah memberitahukan perihal hubungan Celia dengan Khai kepada ayahnya tanpa ada yang ditutupi.
"Celia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan mas Alim budhe, kami sekarang sepakat untuk kembali menjadi teman saja."
Budhe Rani manggut-manggut menanggapi, "apa karena kamu lebih memilih satpam itu nduk?" Budhe Rani menatap Celia dengan intens, tangannya bersedekap sambil bersandar di mesin cuci. Netra wanita paruh baya iti menatap Celia penuh selidik, tersirat banyak pertanyaan yang terpancar di dalamnya.
__ADS_1
"Kami memang tidak ada kecocokan budhe," hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Celia, ia tak ingin menjelaskan lebih rinci apa penyebabnya, tak sepenuhnya alasannya karena Celia lebih memilih Khai, namun memang karena Celia merasa hambar dengan Alim, ia yang tak bisa mengimbangi sifat Alim yang saklek. Setiap orang pasti memiliki kekurangan juga kelebihannya masing-masing, Celia tidak ingin menggali keburukan orang lain, apalagi Alim sudah berbesar hati mau memaafkan kesalahannya juga mau menerimanya kembali menjadi teman, tak adil rasanya jika Celia mencari-cari kekurangan Alim untuk menyelamatkan dirinya dari pandangan negatif budhe juga keluarganya yang lain.
"Terus bapakmu bilang apa?"
"Bapak minta agar Celia memutuskan hubungan dengan Khai, jika tidak bapak akan mencarikan jodoh untuk Celia yang menurut bapak baik budhe," mata Celia kembali berkaca-kaca, ia berulang kali mengedipkan matanya agar airmatanya tidak keluar.
"Ya, benar apa yang bapakmu katakan nduk, bapakmu pasti menginginkan yang terbaik. Hidup itu berat nduk, tidak hanya butuh cinta tapi butuh materi, butuh uang, sekarang masih bisa bersenang-senang, tapi bagaimana dengan nanti kedepannya, jaman semakin sulit."
Celia hanya mampu menundukkan kepalanya, ketika ia merasakan semakin sesak di dada, nyata terbukti apa yang ia takutkan, tidak hanya bapaknya yang tak setuju, namun juga budhenya.
"Nduk, jadi perempuan itu jangan lenjeh, jangan dengan mudahnya sama si A mau, sama si B mau."
Deg ...
"Iya budhe."
Pakdhe Rano lewat di depan mereka, membuat budhe Rani yang hampir membuka kembali mulutnya tidak jadi untuk kembali mengajukan pertanyaan pada Celia.
"Wah, kapan sampai Cel? Kok pakdhe gak tau."
"Tadi setengah tiga pakdhe, Celia bawa kunci cadangan biar tidak perlu membangunkan pakdhe dan budhe."
"Keluarga di kampung sehat?"
"Alhamdulillah semua sehat pakdhe," kehadiran pakdhe Rano sedikitnya mencairkan suasana yang tadinya tegang menurut Celia sebagai pihak yang diintrogasi oleh budhenya.
__ADS_1
"Kamu nanti sudah mulai berangkat sendiri lho Cel, pakdhe sudah gak ke kantor per hari senin kemarin." Pakdhe Rano sama sekali tidak membahas mengenai Khai maupu Alim, itu membuat Celia lega.
"Iya pakdhe, nanti Celia berangkat sendiri naik ojol atau naik bis pakdhe," jawab Celia.
Pakdhe Rano yang sudah purna tugas tentunya sudah tak lagi pergi ke kantor. Harusnya ini menjadi kesempatan emas bagi Celia agar bisa selalu dekat dengan Khai, berangkat dan pulang kerja bareng.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu bersiap nduk."
"Iya budhe," Celia mengangguk, dengan wajah yang ditekuk lesu ia lalu kembali masuk kedalam kamarnya.
"Jangan terlalu keras sama Celia bu, nanti dia takut." Pakdhe Rano berkata pelan pada istrinya.
"Ibu gak mau Celia salah jalan pak, sudah baik kemarin dengan Alim yang mapan, kenapa sekarang malah dengan satpam, ibu kasihan dengan adik ibu pak, lik Sujadi pasti sangat sedih."
"Kan ibu yang kemarin memberitahu lik Sujadi."
"Iya betul pak, itu lebih baik daripada lik Sujadi terlambat mengetahuinya, setidaknya biar lik Sujadi bisa segera mengambil tindakan untuk putrinya, ibu merasa tidak enak, ibu merasa gagal menjaga Celia, kita sudah kecolongan pak." Budhe Rani terlihat sedih. Ada gurat kekecewaan juga rasa marah di wajahnya yang masih terlihat awet muda meski usianya diatas ayah Celia.
"Bapak yang notabene satu kantor, satu lantai, satu bagian dengan Celia saja kecolongan bu, tidak tahu kalau hubungan Celia dengan Khai sejauh itu, apalagi ibu yang tidak satu kantor. Setau bapak Khai termasuk anak yang baik, belum pernah dengar dia berbuat yang aneh-aneh selama bekerja menjadi satpam di kantor, dia juga termasuk pribadi yang ramah dan rajin, tapi terlepas dari itu semua bapak pun kurang setuju jika Celia berhubungan dengan Khai. Ya sudah bu, tapi ibu juga jangan terlalu keras dengan Celia, dia masih muda."
Budhe Rani tak menjawab suaminya, melainkan hanya diam seperti masih memikirkan sesuatu, sementara pakdhe Rano kembali ke kamarnya, ia mengambil jaket dan kunci sepeda motor, bersiap untuk mengantar sang istri ke jalan depan komplek menunggu bus jemputan.
Lain halnya dengan Celia yang kini tengah menghubungi Khai yang sedang bersiap untuk menjemputnya, Celia minta agar nanti di jemput di depan minimarket depan komplek, tempat biasa mereka janjian.
Hubungan yang tadinya backstreet jadi harus tambah backstreet lagi, nah gimana tuh jadinya?!
__ADS_1