Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 56


__ADS_3

Happy Reading 😉


🍃🍃🍃


PLAK!!!


Celia memukul pundak tegap milik Bayu, bisa-bisanya pria konyol sahabatnya itu berkata demikian.


"Auh...iisshh...sakit tau, lo tu cewek apa jelmaan hulk sih," Bayu meringis sambil mengusap pundaknya yang terasa ngilu akibat pukulan Celia.


"Salah aa' sendiri bikin gara-gara, segala ngibul ini dari mas Alim," jawab Celia sewot, gadis cantik itu memanyunkan bibirnya, pertanda ia masih kesal.


"Dih dia ga percaya, lo kesana deh tanya langsung sama orangnya. Lagian tadi juga ada si babang, belom aja si babang kesini, abis lo diledekin sama dia."


"Bodo amat lah, anggap aja rejeki anak sholeha," dengan masih sedikit kesal, Celia kembali memakan ikan bakar yang terlihat menggoda.


Bayu geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan Celia, baru saja pundaknya kena pukul, kini dia justru terlihat sangat menikmatinya, "Yeee ... Gitu juga dimakan, enak ya, sensasinya mah beda kalo yang bakarin mantan."


"Yoi ... kaya ada angus-angusnya gitu," Hari yang baru saja bergabung dengan mereka menimpali ucapan Bayu.


Celia tak memeperdulikan kedua sahabat kocaknya itu, ia lebih memilih asik menghabiskan ikan bakar dipiringnya. Rejeki tidak boleh di tolak. Bodo amat dengan Hari dan Bayu yang bisik-bisik tetangga, ghibah pasal Alim yang selalu memberikan perhatian pada Celia. Bukan tak mendengar apa yang kedua sahabatnya bicarakan, menurut Celia, lebih baik dia pura-pura acuh, itu akan menyelamatkannya dari aksi bullying kedua sahabat konyolnya yang super duper nyebelin.


Pukul 22.30 waktu setempat, acara selesai. Mereka bahu membahu membersihkan sampah juga bekas bakaran agar aula yang mereka sewa kembali bersih. Menyewa bukan berarti terus lepas tanggung jawab.


Selesai membersihkan aula, Celia dan teman-temannya segera kembali ke homestay untuk istirahat karena besok pagi mereka masih punya agenda wisata keliling sekitar Pulau Pramuka.

__ADS_1


"Bang, lo liat gak si Alim dari berangkat kemarin deketin si bocil mulu," ucap Bayu pada Hari.


"Iye, gue juga liat sendiri kok, si bocilnya aja yang pura-pura bege."


"Sangar juga ya bang bocil kita."


"Yoyooii Bay, keliatannya aja cupu, aslinya mah ..."


"SUHU," ucap Hari dan Bayu kompak, lalu mereka tertawa terbahak-bahak.


PLAK!!!


PLAK!!!


Celia menggeplak pundak Hari dan Bayu dari belakang, membuat mereka berdua kaget dan langsung menoleh ke belakang. Celia sudah berkacak pinggang dengan mata melotot tajam, seakan mampu menguliti mereka berdua hidup-hidup.


"Duh, Bay, ini kok hawa-hawanya kaya malem jum'at kliwon gini ya, auranya mencekam," ucap Hari. Hari dan Bayu saling pandang, lalu... "KABOOOORRR." Mereka kompak berlari menjauh dari Celia, takut gadis itu mengamuk terus makan beling mirip kuda lumping.


"Babaaaaang ... aa' ... awas aja ya kalian berdua, Celia botakin baru tahu rasa." Celia mengusap wajahnya kasar, sedangkan Ulfi hanya bisa kembali geleng-geleng kepala melihat kelakuan calon suaminya dan juga Celia serta Bayu, pikir Ulfi mereka adalah tiga serangkai yang somplak, langka dan patut untuk dilestarikan.


"Eeh ... maaf ya Ulfi, Celia gak keterlaluan kan sama babang, kamu gak marah kan? Celia ga beneran mau botakin calon suami kamu yang ngeselin itu kok."


"Haha ... ya enggak lah, ngapain marah, malah lucu kalian tuh," Celia melihat kejujuran di mata Ulfi.


"Yaudah, makasi ya Ulfi, yuk cepet kita pulang yang lain udah pada didepan, capek banget nih. Huh dasar babang, masak cabinnya malah ditinggal kabur." Celia menggandeng tangan Ulfi.

__ADS_1


"Hayuk ah, biarin aja, ntar aku pura-pura ngambek." jawab Ulfi sambil cekikikan.


"Ide bagus itu, tos dulu lah," mereka berdua ber_tos ria.


Sesampainya di homestay Celia dan Ulfi langsung masuk kedalam kamar, badan rasanya remuk, pegal-pegal disekujur tubuh. Celia merebahkan badannya di kasur busa, disampingnya ada mbak Dian dan Ulfi yang langsung tertidur nyenyak begitu kepalanya mendarat di atas bantal.


Tidak butuh waktu lama bagi Celia untuk menyusul teman-temannya yg lain masuk ke alam mimpi. Semua tidur dengan lelap karena letih.


Keesokan paginya selesai menunaikan sholat subuh, Celia kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur, ia menolak ajakan beberapa temannya untuk jalan-jalan pagi menikmati udara Pulau Pramuka. Pukul 7 waktu setempat, tiur guide mengajak Celua dan rombongan berkeliling disekitar Pulau Pramuka Pramuka.


Ombak lautan di pagi hari begitu mengerikan menurut Celia. Sepanjang perjalanan ia terus berdoa dan beristighfar dalam hati. Celia mencengkeram erat tangannya pada perahu hingga buku-buku jarinya memutih. Perahu yang Celia naiki bergoyang, bergerak naik turun karena hempasan ombak, bahkan ketinggian ombak hampir menyamai tingginya perahu mereka.


Puas berkeliling sekaligus memacu adrenalin, Celia dan rombongan kembali ke homestay. Mereka istirahat sebentar, makan siang kemudian bersiap kembali ke kota J.


Sesuai dengan agenda kegiatan, selepas makan siang Celia dan rombongan diantar oleh tour guide menuju kapal yang akan membawa mereka pulang.


Sepanjang perjalanan Celia dan teman-temannya kembali memilih duduk di bagian dek, seakan mnantang angin yang menerpa, bahkan sengatan sang mentari pun tak mereka hiraukan. Kacamata hitam kembali bertengger di hidur bangir Celia. Gadia cantik itu kembali menatap lautan lepas. Esok hari ia akan segera bertemu lagi dengan Khai, pujaan hatinya yang sudah 2 hari tak ia temui. Celia memejamkan mata indahnya, merasai terpaan angin yang membelai wajahnya. Liburan singkat telah usai, selamat datang kembali di kehidupan nyata, batin celia.


Pukul 5 sore Celia baru sampai di kantor. Pakdhe Rano bergegas mengambil sepeda motornya di parkiran. Sebenarnya Khai ingin menjemput Celia, bahkan ia selalu standby jika sewaktu-waktu Celia berubah pikiran dan minta untuk di jemput. Seandainya tak ada masalah dengan hubungan mereka sudah tentu Celia akan meminta pada Khai untuk menjemputnya. Tampaknya dua sejoli yang masih dimabuk cinta itu harus bersabar lebih lama lagi untuk mereguk manisnya kebersamaan.


Celia takut dan segan pada pakdhe Rano dan juga budhe Rani. Tidak mengapa sedikit menahan rasa rindu, asal semua baik-baik saja.


Celia menghempaskan tubuhnya diatas kasur begitu ia sampai dirumah. Badannya terasa sangat letih. Ia ingin cepat-cepat mandi dan beristirahat karena besok pagi sudah harus kembali bergelut dengan padatnya pekerjaan.


Sebelum beranjak untuk mandi, Celia terlebih dahulu menghubungi Khai, memberitahukan pada prianya itu jika ia sudah sampai dirumah dengan sehat, selamat, tanpa kurang satu apapun termasuk hatinya yang masih utuh untuk Khai seorang, ya meskipun ada sedikit drama berenang bareng dengan sang mantan, namun itu tidak membuat hati Celia lantas terenyuh dan terbawa perasaan.

__ADS_1


Jika sebelumnya mungkin budhe Rani beranggapan Celia adalah gadis lenjeh, maka kini akan Celia buktikan jika ia tidak seperti itu.


__ADS_2