Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 27 : Benda Kenyal Beraroma Mint


__ADS_3

Khai menggeber motornya dengan kecepatan tinggi, salip kanan salip kiri, nyelip-nyelip bak pembalap profesional demi bisa mengejar taksi yang di naiki Celia, atau setidaknya agar ia bisa sampai lebih dulu di depan komplek tempat tinggal Celia. Lalu bagaimana Khai bisa tahu mana taksi yang Celia naiki? Jangan salah, tadi Khai sempat melihat plat nomornya, hanya 7 digit bukan hal sulit untuk Khai bisa menghafalnya. Khai memilih rute tercepat, ia yakin bisa sampai lebih dulu, si bray selalu bisa ia andalkan.


"Kamu ingat ini Khai, kalau sampai kamu buat Celia terluka, aku nggak akan segan-segan untuk kembali merebutnya." Kata-kata Alim terus terngiang, berputar-putar dalam benak Khai. Khai bukanlah lelaki bodoh yang tak bisa mencerna perkataan Alim tersebut, namun masih ada ragu dihatinya, apakah benar Celia telah memutuskan hubungannya dengan Alim. Khai tak ingin terlebih dahulu bersenang hati sebelum ia mendengarnya langsung dari Celia, toh belum tentu juga Celia akan menerima cintanya, tapi bagaimana jika Celia marah dengannya gara-gara Nita dan tak mau bertemu dengannya?!


Khai menarik gas semakin kencang, tak peduli ada beberapa pengendara lain yang mengum pat padanya saking kesal pada Khai yang melajukan motornya layaknya raja jalanan. Khai tak ambil pusing dengan itu semua, kesempatan ini tak boleh disia-siakan, ia harus bertemu dan bicara dengan Celia.


X 1234 XY, akhirnya Khai menemukan taksi yang ditumpangi Celia, ia melajukan motornya mendahului taksi itu, Celia yang asik memainkan ponselnya tak sadar Khai telah mendahuluinya, kini tujuan Khai langsung ke jalan depan komplek perumahan pak Rano, Khai memutuskan untuk menunggu disana saja. Awalnya Khai berpikir akan langsung mencegat Celia ditengah jalan bak aksi-aksi heroik seorang pria yang menghentikan bus yang ditumpangi wanita yang dicintainya untuk menyatakan perasaan, dan endingnya si wanita akan menerima cinta si pria seperti sinetron yang sering dilihat ibu nya di televisi. Akan tetapi ia urungkan niat itu, Khai tak mau membuat Celia malu karena ulahnya, dan lagi Khai takut jika malah di sangka b3gal mau ngerampok, bisa runyam malahan urusannya.


Khai memarkirkan sepeda motornya di pinggir pintu masuk komplek, disamping pos jaga. Langkah pertama untuk memuluskan usahanya mengejar cinta Celia adalah melobi security yang jaga disitu agar mereka mau bekerja sama. Lima belas menit berlalu, akhirnya datang juga yang ditunggu-tunggu, taksi yang membawa Celia berhenti di depan portal menunggu dibukakan oleh security, Khai dengan gagahnya menghampiri mobil taksi tersebut. Ia mengetuk kaca bagian penumpang tepat di samping Celia. Tentu saja aksi Khai itu membuat Celia kage karena melihat Khai sudah ada disana, bukannya beberapa waktu tadi dia masih di kantor digelendotin sama si ulat bulu, cepat sekali sudah ada disini.


Celia menurunkan kaca mobil. "Kenapa kamu disini Khai, kamu nggak bawa si ulat bulu yang tadi kan? Awas minggir Celia mau lewat." Ujar Celia sedikit sewot. Mendengar nada sewot Celia, Khai bukannya sakit hati ataupun marah, ia justru tersenyum, menurut Khai itu menandakan Celia sedang pada mode cemburunya.


"Namanya Nita Cel, bukan ulat bulu." Khai sengaja memancing kecemburuan Celia, ia tertawa, bisa-bisanya Celia menyebut Nita sebagai ulat bulu, ternyata Celia yang sedang cemburu sangat menggemaskan. Ingin sekali Khai mencubit pipi cubby Celia.


"Ya siapapun itu lah namanya, terserah Celia lah mau panggil apa, kan Celia belum tau kalau si ulat bulu namanya Nita, lagi nggak ikhlas banget ceweknya dipanggil ulat bulu, kalo nggak ikhlas jangan di bolehin gelendotan di depan kantor, nggak malu apa diliat orang." Bibir Celia bahkan sudah manyun lima centi kaya minta di kuncir, bibir louhan mah lewat bestie, bagaimana Khai tak gemas coba?!


Sopir taksi cuma bisa garuk-garuk kepalanya yang minim rambut meski tak gatal sambil senyam-senyum, menyaksikan perdebatan mereka berdua, teringat masa mudanya dulu ketika masih berpacaran dengan sang istri, suka berantem-berantem manja.


"Neng, diselesein dulu masalahnya kalau menurut bapak biar nggak berlarut-larut, kasian adennya nanti malem nggak bisa tidur mikirin eneng, atau eneng mau terus jalan aja neng? Maaf kalau bapak teh lancang, nggak maksud buat ikut campur." Pak sopir sedikit memberi nasehat sebagai seorang yang sudah banyak makan manis pahitnya lika-liku percintaan.

__ADS_1


"Iya pak, saya turun disini aja pak." Dalam keadaan seperti ini Celia masih bisa menggunakan akal sehatnya, ia takut jika Khai malah akan nekat mengikutinya sampai di rumah budhenya. Tidak!! Celia belum siap, ia butuh waktu untuk mempersiapkan mentalnya, dan lagi benar juga kata pak sopir taksi, tak baik membiarkan masalah menjadi berlarut-larut.


Diambilnya dompet dari dalam tas, ia mengeluarkan selembar uang kertas 100 ribuan berwarna merah.


"Makasi ya pak, kembalian nya buat bapak aja." Celia memberikan uang itu pada pak sopir sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, rejeki istri dirumah, terima kasih banyak neng, semoga dilancarkan rejeki si eneng." Doa tulus terucap dari pak sopir untuk Celia, ia terlihat sangat senang mendapat rejeki lebih, lumayan lah bikin istri tambah sumringah liat yang merah-merah.


"Sami-sami pak." Celia turun dari taksi disambut senyum manis Khai.


Aduh Gusti, kalau disenyumin manis begini bisa cepet runtuh pertahanan Celia, mana bisa marah lama-lama.


"Makasih bang." Tak lupa Khai berterimakasih pada security komplek yang telah ikut berjasa memuluskan aksinya sebelum ia dan Celia meninggalkan tempat itu.


Celia tak tahu Khai akan mengajaknya kemana, ia masih malas untuk sekedar bertanya. Sedari tadi Celia hanya diam, duduk anteng di belakang mirip patung hiasan kolam ikan.


Khai menghentikan motornya disebuah taman yang tak terlalu jauh dari komplek tempat tinggal Celia, ia paham ini sudah malam, tentu ia tak bisa mengajak Celia pergi jauh, takut pulangnya kemalaman.


Celia turun dan berjalan duluan, meninggalkan Khai yang berjalan santai dibelakangnya.

__ADS_1


Grep ...! Khai tiba-tiba sudah berada disamping Celia dan menggandeng tangan gadis itu. Kaget sudah tentu, pikirnya tadi Khai masih dibelakang. Celia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Khai tapi sia-sia, tangan Khai yang jauh lebih besar darinya tak terpengaruh sedikitpun. Celia menyerah, ia biarkan Khai terus menggandengnya meski hatinya masih dongkol mengingat tangan Khai tadi habis digelendoti si ulat bulu.


Khai mengajak Celia untuk duduk disebuah bangku taman yang sedikit jauh jaraknya dari pengunjung taman yang lain agar lebih nyaman berbicara dari hati ke hati, tak terganggu dengan yang lain. Tidak seperti taman M yang pernah mereka datangi, taman yang ini sedikit sepi.


Tak sedetikpun Khai melepaskan genggaman tangannya, jari-jari mereka masih bertaut mesra, truk gandeng mah lewattt.


"Khai, kita nggak lagi mau nyebrang jalan, bisa kali dilepasin tangannya." Perempuan, bilangnya minta dilepasin padahal aslinya bilang jangan, itulah Celia saat ini.


"Enggak, ijinkan aku terus menggenggam tangan kamu sampai kita tua nanti." Khai memberi tatapan hangat pada Celia.


"Jangan gila Khai, terus gimana kalau nanti Celia mau makan, mau kerja, atau mau ce bok kalau tangan Celia kamu gandeng terus?" Dasar Celia, ia justru merusak momen romantis yang sedang berusaha dibangun oleh Khai, pakai segala ce bok dibawa-bawa. Khai tersenyum dan mengacak rambut Celia gemas, ia tau gadis pujaannya masih kesal, baginya itu adalah bahasa cinta yang tersirat dari Celia.


"Iih Khai, kan jadi berantakan rambut Celia, tuh acak-acak aja rambutnya si ulat bulu, pasti dia seneng dipegang-pegang." Celia ingin terlihat baik-baik saja, ia ingin terlihat tidak cemburu tapi yang tunjukkan justru sebaliknya.


Celia masih terus mengoceh seperti beo, membuat Khai teramat gemas, entah darimana ia mendapat keberanian, mungkin dari jin penunggu taman, Khai sedikit menarik tengkuk Celia, dan ... cup ... sebuah kecupan hangat mendarat dibibir Celia, begitu tiba-tiba, membuat si empunya membeku seketika, matanya terbelalak lalu perlahan terpejam, jantungnya bahkan sudah ingin melompat dari tempatnya.


Kenyal, tapi sekaligus lembut dan hangat. Astaga apa ini?!


Celia ingin melepaskan benda kenyal beraroma mint yang menempel dibibirnya, tapi tak bisa, tubuhnya justru merespon lain.

__ADS_1


Dasar tubuh penghianat!!


__ADS_2