
Happy Reading 😉
🍃🍃🍃
Celia terbangun dari tidur lelapnya ketika kondektur bus memberitahukan pada para penumpang jika bus telah sampai di rest area.
Wew, udah sampai sini aja, kok cepet? Apa aku yg terlalu nyenyak tidur? Celia mengucek matanya pelan, lalu merapikan kembali penampilannya yang acak-acakan mirip pelakor abis di amuk istri sah, masih untung bibir seksinya itu tidak dihiasi dengan iler tanda betapa nyenyak sang empunya tidur dibuai mimpi.
Sendirian Celia turun dari bus menuju toilet umum yang letaknya disamping restoran, sudah tak tahan rupanya si gadis bermata bulat itu ingin segera menuntaskan hasratnya, hasrat ingin vivis. Tidak ada rasa takut juga rasa canggung meski ia berjalan sendirian ditengah keramaian, Celia terus berjalan dengan percaya dirinya, kota metropolitan nampaknya berhadil menggembleng mental wanita ayu ini menjadi lebih berani, jika Celia yang dulu mungkin masih akan merasakan perasaan takut bepergian sendirian.
Ke toilet sudah, makan juga sudah, Celia memutuskan untuk naik lagi kedalam bus meski belum ada pemberitahuan bus akan diberangkatkan, toh diluar ia juga tak mengenal siapapun, lebih baik ia melanjutkan kembali tidur cantiknya, menyambung mimpi yang terputus tadi.
Celia sudah berada diambang kesadaran, sayup-sayup dapat ia dengar suara penumpang lain yang mulai menaiki bus, dan tak lama kemudian bus pun kembali melaju. Baru saja memasuki fase deep sleep, ibaratnya baru banet masuk, tiba-tiba Celia dikagetkan dengan suara tangisan anak kecil yg duduk dibangku belakangnya, jiwa yang sudah dibuai mimpi itu terpaksa harus digeret untuk kembali sadar. Bukannya berhenti, anak kecil itu justru semakin kencang menangis hingga tantrum, mau tak mau Celia penasaran, ia menengok kebangku belakang untuk melihat apa yang terjadi. Dapat ia lihat seorang bocah kecil perempuan berusia sekitar 3 tahun, terlihat menggemaskan sebenarnya dengan rambut kuncir dua dan pipi bapaunya, masih terus menangis dan meronta dipegangi oleh ayah dan ibunya yang jika dilihat mereka masih belia.
"Tuh kan lihat, Kia menangis bikin kakak yang di depan jadi terganggu," sang ibu menegus putrinya yang masih menangis. "Maaf ya mbak, atas ketidaknyamanannya," ucap si ibu muda itu lirih, mungkin ia sudah lelah setengah jengkel menenangkan putrinya.
__ADS_1
Ooo jadi bocah kecil ini namanya Kia, Celia tersenyum hangat pada Kia kecil yang menatapnya dengan mata sembab. "Adek Kia kenapa nangis?" tanya Celia ramah masih dengan senyumannya.
"Permen Kia ketinggalan tadi di restoran kak," ibunya yang menjawab pertanyaan Celia.
Celia mengambil tasnya, ia ingat sempat membeli beberapa permen lollipop sebelum berangkat ke terminal, "Cup cup anak cantik, udahan dong nangisnya, kakak punya sesuatu nih buat Kia," Celia mengeluarkan dua buah lollipop lalu memberikannya pada Kia, "yang ini rasa strawberry, yang satu lagi rasa anggur, Kia suka?" Celia menunjuk dua buah lollipop dalam genggaman tangannya, gadis cilik itu mengangguk penuh semangat, ia berhenti menangis dan mengambil dua lollipop yang Celia berikan.
"Bilang apa sama kakak?" Sang ayah mengingatkan pada anaknya.
"Matatih tatak," mata sembab Kia kembali berbinar hanya karena dua buah permen lollipop, senyumnya terkembang menampilkan gigi-gigi susu kecilnya yang berderet rapi. Hati Celia menghangat, sesimpel itu kebahagiaan seorang anak kecil, hanya dengan permen bisa mengubah tangisnya menjadi tawa bahagia. Sayang sekali hal itu tak berlaku untuknya.
"Makasi ya mbak, maaf ngerepotin, jadi mbaknya yang ngasih permen buat Kia, kalau tidak entah sampai kapan anak saya ini menangis, padahal saya sudah coba memberikan yang lain."
"Nggak apa-apa mbak, sama-sama, namanya juga anak kecil mbak, saya maklum, saya juga punya ponakan seumuran Kia yang terkadang juga tantrum kalau pengen sesuatu."
Celia kembali menikmati perjalanannya setelah beberapa saat tadi berbasa-basi dengan orangtua Kia. Dari sana ia tahu jika mereka memang menikah muda lalu merantau di Kota J. Celia jadi berhayal jika nanti suatu saat menikah dengan Khai lalu dikaruniai seorang anak yang lucu dan menggemaskan, ia pasti akan menjadi orang paling bahagia di dunia.
__ADS_1
Semoga yang kita semogakan bisa segera untuk disegerakan Khai.
Celia menyandarkan kepalanya, netranya menerawang kedepan, dengan sesekali menarik nafas dalam. Celia mencoba berfikir bagaima hubungannya, rencana kedepannya mengingat dengan Khai sudah terbongkar. Sebenarnya ada rasa tak nyaman ia kembali ke rumah budhe Rani, tapi mau tidak mau ia harus kembali kesana. Membayangkan bagaimana reaksi keluarga budhe Rani terhadap dirinya, apalagi juga harus menghadapi mbak Devi sepaket dengan sifat kerasnya. Belum sampai rumah budhe Rani saja rasanya sudah sedikit oleng, namun harus tetap berdiri tegak dipaksa oleh keadaan. Celia memijit epangkal hidungnya, mengurai pening di kepalanya.
Ini budhe Rani sekeluarga kalo di sogok permen Lollipop bakalan luluh nggak ya kaya Kia?! Y Allah Gusti mau balik rumah budhe kok rasanya kaya mau dikirim ke hutan amazon, ngeri-ngeri sedep. Pasti bakal lebih susah kalo mau ketemuan sama Khai ini, kecuali kalau bisa keluar dari rumah budhe dan tinggal di kontrakan atau ngekost disekitar kantor biar sekalian deket.
...----------------...
Perjalanan yang lumayan tidak melelahkan Celia akhirnya sampai ditempat tujuan, dibantu oleh pak kondektur gadis bermanik coklat itu menurunkan barang bawaannya, satu koper kecil dan 1 buah kardus berisi oleh-oleh untuk budhe Rani dan teman-temannya di kantor. Celia melirik arlojinya, dilihatnya sekarang baru pukul 2 dini hari, lumayan bikin ngeri sih sebenernya, tapi Celia berusaha cuek, tak ingin terlihat takut atauoun cemas. Tanpa Celia sadari ada sepasang mata yang sudah dari tadi terus mengawasinya, bahkan dari sejak si gadis bermata bulat itu baru turun dari bus yang ditumpanginya. Melihat Celia si pemilik sorot mata tajam itu langsung berjalan mendekat menghampiri si kembang desa. Celia tidak menyadari jika ada seseorang yang mendekatinya, ia tengah sibuk dengan barang-barang bawaannya, ia tak memperhatikan sekitarnya.
"Astaghfirullah," Celia terlonjak kaget, ada tangan kokoh yang menyentuh pundaknya, ia langsung menoleh kebelakang sambil komat-kamit baca doa, semoga bukan orang jahat yang ingin berbuat iya-iya padanya.
"Khai ...." tak terkira betapa lega dan juga sekaligus senangnya hati Celia melihat pria yang dicintainya kini berada tepat di hadapannya.
"Wellcome back sayang," ucap Khai dengan senyum hangat membawa Celia kedalam pelukannya. Khai mencium pucuk kepala Celia, menyalurkan rasa rindu yang sudah ia pendam beberapa hari ini, rasanya ia tak ingin melepaskan pelukannya pada gadis cantik bermata bulat itu jika tak ingat tempat dimana mereka berdiri saat ini.
__ADS_1