Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 41 : Awal Mula Perjodohan


__ADS_3

Happy Reading 😉


Hati-hati typo bertebaran dimana-mana 😵


🍃🍃🍃


Flashback On:


"Hallo, assalamualaikum budhe," baru sampai ditempat kerjanya, pak Sujadi mendapat telepon dari budhe Rani.


"Wa'alaikumussalam lik, pie Celia wis tekan mau bengi lek? (Wa'alaikumussalam lik, gimana Celia sudah sampai tadi malam lik)?" tanya budhe Rani dari balik sambungan telepon.


"Alhamdulillah sampun budhe (Alhamdulillah, sudah budhe)," jawab pak Sujadi.


"Piye ya lik, aku iki arep ngomong yo maju mundur jane, tapi nek tak pikir-pikir yo awakmu kudu ngerti ben iso njupuk keputusan (gimana ya lik, aku ini mau ngomong ya maju mundur sebenernya, tapi kalau tak pikir-pikir kamu harus tahu biar bisa ambil keputusan)," tutur budhe Rani, membuat pak Sujadi bingung tak mengerti apa yang sebenarnya akan kakaknya itu bicarakan, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Mboten nopo-nopo budhe, panjenengan sanjang mawon, kok ketingale radi serius niki (Tidak apa-apa budhe, bilang saja, kok sepertinya sedikit serius ini)."

__ADS_1


"Iyo lik, pancen iki serius, dadi ngene lho lik, ndek mben kae aku kan tau crito awakmu yen Celia kui wis ndue pacar kanca kantor jenenge Alim, lha kok jebulane saiki wis pedhot hubungane karo bocah lanang kui mau lik (iya lik, ini memang serius, jadi gini lho lik, dulu kan aku pernah bilang sama kamu kalau Celia itu sudah punya pacar teman kantornya, namanya Alim, lha kok ternyata sekarang sudah putus hubungannya dengan laki-laki itu lik)," tutur budhe Rani mulai bercerita pasal hubungan Celia kepada adiknya itu.


Pak Sujadi masih diam menunggu kelanjutan cerita budhe Rani.


"Wingi Devi ono rapat ning kantor pusat nggone Celia kerjo, dee ketemu karo Alim, Alim diguyoni Devi kok ora ngeterne Celia ning kampung sisan kenalan mbi wongtuone, Alim terus cerito ning Devi nek wis putus, malah dee ngomong njaluk ngapuro wis ora iso njogo Celia, wis ono gantine sing iso njogo Celia luwih apik timbang deweke, Devi yo kaget kok cepet men, ditakoni Devi sopo gantine, jarene jenenge Khai, yo podo sih sak kantor, munge deweke kui dudu pegawe lik (kemarin Devi ada rapat di kantor pusat tempat Celia kerja, dia ketemu sama Alim, Alim dibercandain sama Devi kok nggak nganterin Celia ke kampung sekalian kenalan sama orangtuanya, Alim terus cerita sama Devi kalau dia sudah putus dengan Celia, malah dia bilang minta maaf karena sudah tidak bisa menjaga Celia, ada laki-laki lain yang bisa menjaga Celia lebih baik daripada dirinya, Devi ya kaget, terus ditanyain siapa gantinya itu, katanya namanya Khai, ya sama masih satu kantor, hanya saja dia bukan pegawai lik)," jelas budhe Rani panjang lebar.


"Lajeng nopo budhe mawi mboten pegawe (Lalu apa budhe kalau bukan pegawai)?" tanya pak Sujadi cepat.


"Deweke kui satpam lik, yo sepurane ya lik, aku sebagai budhene ora iso njogo Celia kanti apik, leno dadi kecolongan, wingi wis rodo ayem najano ndue pacar nanging kan pegawe wis mapan uripe, yo ngko sak sere kon ojo suwe-suwe olehe pacaran, ndang kon di halalne, lha kok jebulane Celia wis ganti pasangan malah karo satpam, ora ono sing ngerti nek Devi ora takon karo Alim, mas mu Rano wae sing ibarate sak ruangan karo Celia yo ora ngerti lho (Dia itu satpam lik, maaf ya lik, aku sebagai budhenya tidak bisa menjaga Celia dengan baik, sampai kecolongan, lengah jadi kecolongan, kemarin sudah sedikit tenang medkipun pacaran tapi kan pacarnya pegawai sudah mapan hidupnya, ya pengennya nggak usah lama-lama pacarannya lekas dihalalkan, lha kok malah ternyata Celia sudah ganti pasangan malah sama satpam, tidak ada yang tahu kalau Devi tidak bertanya pada Alim, bahkan mas mu Rano yang ibaratnya satu ruangan dengan Celia ya tidak tahu lho)."


Pak Sujadi terdiam, berita tentang putrinya yang barusan ia dengar dari sang kakak bak sebuah batu yang yang menghantam dadanya. Bagaimana mungkin putrinya menjalin hubungan dengan seorang satpam, pikirnya. Dadanya terasa nyeri, aliran darahnya seakan terhenti.


"Nggih, pangapunten budhe (ya, maaf budhe)," pak Sujadi tercekat tak dapat berkata-kata.


"Yowis lik, saiki dipikirne disik apike kepie, mumpung durung kebacut (Ya sudah lik, sekarang dipikirin dulu baiknya gimana, mumoung belum terlambat)."


"Nggih budhe, matur suwun sanget sampun dipun paringi pirso (Iya budhe, terima kasih banyak sudah diberitahu)," ucap pak Sujadi dengan suara berat dan mengakhiri penggilan telepon dengan kakak perempuan yang sudah ia amanahi untuk putri tercintanya tinggal bersama keluarganya.

__ADS_1


Pria paruh baya itu terduduk lemas di meja kerjanya, otak, tangan dan kakinya seakan tak bisa diajak kompromi untuk bekerja. Semua tentang putrinya yang ternyata berhubungan dengan seorang satpam terus berputar di kepalanya. Kerutan-kerutan yang mulai tercetak diwajahnya tak mampu menutupi kegundahan jiwanya, ada rasa marah, ada rasa kecewa juga ada rasa sedih yang kini menggelayutinya.


Ditengah kerumitannya, ponselnya kembali berdering, ada nama teman lamanya, teman masa kecilnya dulu yang melakukan panggilan telepon. Tak seperti biasanya, sudah lama mereka tak berkabar karena sama-sama sibuk. Pak Sujadi mengangkat telepon tersebut, setelah sejenak bertanya kabar, temannya mengatakan jika saat ini sedang berada di kampung untuk menjenguk orangtuanya yang sudah sangat sepuh, bersama dengan anak dan juga istrinya. Dari obrolan itulah, pak Sujadi dan temannya memiliki rencana untuk menjodohkan putra-putri mereka. Pak Sujadi merasa jika keputusannya itu adalah tepat, daripada Celia terus menjalin hubungan dengan satpam akan lebih baik jika Celia dengan anak dari temannya itu yang notabene adalah seorang tentara Letnan Dua.


Pak Sujadi merasa sedikit lega, ada secercah harapan untuk masa depan putrinya, ia segera menelepon istrinya untuk bersiap sekaligus meminta agar Celia juga ikut menyambut tamunya yang adalah teman masa kecilnya itu.


......................


Sepoi angin terasa menerpa wajah sayu Celia, namun hembusannya tak mampu menerbangkan segala kepiluan di hatinya. Ia biarkan jendela kamarnya terbuka lebar, netranya menyapu gelapnya malam, menampilkan hiasan langit yang tak padam meski dibalut kelam. Suara binatang malam menjadi musik pengiring hati nan sendu, mengusik jika.


Tak terlihat Celia si gadis desa yang ayu, kecantikannya yang terpancar redup karena kesedihan. Mata nya sembab, merah dan perih, tak terhitung berapa banyak air mata yang sudah terbuang, tak terhitung sudah berapa lembar tissue yang berserakan dilantai. Pikiran Celia jauh mengelana, menembus pedihnya luka, terngiang wajah tampan Khai yang sedang tersenyum bahagia.


Apakah kisah cinta Celia harus berakhir dengan perjodohan? Celia tak mau jika hal itu sampai terjadi. Ia sudah terlanjur jatuh di hati Khai, bagaimana ia bisa bersanding dengan pria lain saat seluruh hatinya sudah ia serahkan pada satu laki-laki?!


Celia rasa ini terlalu cepat, hati dan jiwanya belum siap, jika memilih Khai, itu artinya Celia menyakiti kedua orangtuanya, namun jika menyetujui perjodohan dengan Rama, itu berarti dia menyakiti Khai juga dirinya sendiri. Dilanda kegamangan bukan sesuatu yang menyenangkan ternyata, tapi menyesakkan.


Ya Allah, dosa apa Celia, hingga Celia sampai mengalami hal semenyakitkan ini? Apa ini karma karena sudah menyakiti mas Alim?!! Tapi bukankah kami berakhir dengan baik-baik ?!

__ADS_1


Celia merasakan kepalanya juga ikut berdenyut nyeri. Bagaimana tidak, bunga-bunga cinta yang baru saja ia tanam dengan Khai, harus diterpa badai yang begitu besar. Hanya ada dua pilihan, menyerah atau bertahan, dengan segala resikonya.


__ADS_2