
Tidak ada pejabat, bukan berarti mereka para staf Sub Bagian Tata Usaha Pimpinan bisa berleha-leha tanpa kerjaan, hanya saja memang terkadang jika pejabat sedang tidak dikantor atau Dinas Luar pekerjaan jadi berkurang, karena banyak surat-surat yang belum bisa di proses. Semua berkas menumpuk di meja Celia, mulai dari Surat Keputusan, Surat Dinas Permohonan, Nota Dinas Undangan, Ijin Tugas Belajar, takah-takah, juga Surat Tugas Perjalanan Dinas, menggunung tak beraturan. Celia sibuk memilah surat-surat yang sifatnya segera untuk kemudian ia sampaikan kepada Pimpinan melalui pesan we_A, jika Pejabatnya sudah memberikan arahan Celia baru mendistribusikan dan mengkoordinasikan dengan pihak terkait baik dari dalam maupun dari luar instansi. Memilah urgensi berkas-berkas ternyata lebih mudah daripada memilah pada siapa hati berlabuh, raga bersandar. Mejanya yang penuh dengan banyaknya berkas masih lebih baik dari semrawutnya otak Celia. Sejak pagi dia terus diam tak bersemangat, pikirannya bercabang antara pekerjaan dan urusan pribadi. Hari dan Bayu yang sudah hafal betul karakter Celia hanya bisa diam, tak ingin kena semprot yang lagi mode senggol geplak.
"Deek...!!! Celia...!" Tiba-tiba saja Kak Nur Kasubbag TU Pimpinan masuk ke ruangan gadis itu. Celia tergelonjak kaget kak Nur datang saat ia tengah berusaha fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan dan tak memperhatikan sekitarnya. Kalau saja ada maling masuk pelan-pelan terus ambil barang-barang diruangan itu mungkin Celia juga tak akan menyadarinya. Matanya ia pakai hanya untuk fokus membaca berkas, otak kirinya ia fokuskan untuk merevisi kata demi kata, sedang otak kanan traveling mikirin masalah cinta segitiganya.
"Astaghfirullah, kaget Celia kak, kenapa ka? Kok nggak panggil Celia buat ke ruangan kakak aja." Celia dapat mencium bau-bau yang tidak beres dengan kedatangan Kasubbagnya itu, karena jarang-jarang kak Nur masuk ke ruangan Celia kecuali untuk menemui Sekretaris Utama, pejabat eselon I yang Celia layani. Kak Nur duduk di sofa depan Celia, menarik nafas dalam dan menghembuskannya, ia terlihat lelah oleh karena banyaknya pekerjaan yang harus ia handle.
"Dek, kamu tadi terima berkas dari bagian SDM?" Kak Nur bertanya dengan nada serius pada Celia, raut wajahnya juga tak tampak cerah seperti biasanya.
Wah... wah... ada yang nggak beres ini pasti. Masalah apa lagi yang akan menimpanya pikir Celia.
"Iya kak, tadi di anter kesini sama mas Ipul, katanya minta segera di proses kalau Bapak udah ada." Celia sudah harap-harap cemas memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kenapa diterima itu suratnya, itu bukan kerjaan lo, harusnya lo tolak, jangan asal terima surat Celia. Kita nggak ngurusin yang kaya begituan, sekarang lo balikin suratnya ke mereka. Mereka sendiri yang musti koordinasi dengan pihak terkait. Lo mau dikacungin sama mereka? Lain kali di cek dulu, di telaah dulu." Bagaikan petir yang menggelegar di siang bolong, kak Nur bicara dengan nada tinggi membuat Celia tremor ditempatnya, untung lah tak sampai mengompol, baru pertama ini kak Nur berbicara dengan nada setinggi itu pada Celia lebih seperti bentakan.
"Iya kak, maaf, akan segera Celia kembalikan suratnya ke mereka." Celia mengambil kunci brangkas, lalu membuka brangkas tempat ia menyimpan surat yang dimaksud, sengaja Celia simpan di brangkas karena itu surat penting yang sifatnya rahasia. Satu lembar surat dalam amplop warna coklat ia keluarkan dari dalam brangkas.
"Lo tahu ini surat penting dek, bukan ranah kita, keenakan mereka kalau lo yang ngerjain, kalau ada apa-apa semisal suratnya hilang, lo yang kena, otomatis kita semua juga kena. Mereka bisa lepas tangan, karena merasa suratnya udah dikasih ke lo dan lo meng_iya_kan. Lo pelajari lagi apa jobdes kita, apa tupoksi kita. Minta pak nafi buat balikin suratnya, ogut koordinasi langsung sama Kasubbagnya biar nggak sembarangan main nglimpahin kerjaan ke orang." Kak Nur segera pergi ke ruang kerjanya sendiri. Suaranya yang menggelegar bahkan dapat terdengar hingga ke ruangan belakang tempat Hari juga Bayu, meraka pun dibuat kaget, belum tengah hari Kasubbagnya sudah naikin nada setinggi itu terlebih pada Celia. Hari dan Bayu hanya bisa menelan ludah kasar, ngeri-ngeri sedep.
Diruangannya, Celia mati-matian menahan airmatanya agar tak keluar, dengan tangan masih gemetar ia menekan tombol interkom, untuk menghubungi pak Nafi, meminta tolong agar segera datang keruang kerjanya, Celia tak mampu berjalan kesana, kakinya lunglai seperti jelly.
"Ehm... Pak Nafi, Celia minta tolong surat ini dikembalikan ke bagian SDM ya pak, tolong langsung berikan ke mas Ipul." Sebisa mungkin Celia mengatur suaranya agar tak terdengar parau, bergetar menahan gejolak yang ingin segera ditumpahkan.
__ADS_1
Pak Nafi tak banyak bertanya, sebagai seorang yang sudah cukup banyak makan asam garam kehidupan perkantoran, bergonta ganti atasan juga menghadapi berbagai macam karakter ia sudah sangat paham dengan situasi saat ini, ia langsung mencatat di buku ekspedisinya lalu segera keluar dari ruang kerja Celia menuju lantai tiga tempat dimana ruang kerja Bagian SDM berada.
Selepas kepergian pak Nafi dari ruangannya, Celia segera berlari ke ruang tunggu VIP tempat biasa para tamu penting atau tamu dari luar negeri transit dulu sebelum masuk ruang rapat. Saat itu lantai empat sedang sepi pun juga sedang tidak ada rapat, ruang tunggu tamu VIP akan menjadi tempat persembunyian paling aman untuk sejenak melepas sesak di dada. Tanpa menyalakan lampu, Celia duduk di kursi paling ujung. Celia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia menangis menumpahkan semua yang ia rasakan disana, biarlah miniatur replika pesawat dan roket sonda yang terpajang indah menjadi saksi tumpahan airmatanya.
Ya Allah, masalah Celia dengan mas Alim dan Khai belum nemu titik terang, sekarang ada masalah lagi dengan kerjaan, mana pakai acara di bentak-bentak kakak Nur. Pasti tadi di denger yang lain waktu Celia dimarahi, Celia malu. Seandainya tadi Celia teliti dulu nggak main terima, pasti kejadiannya nggak akan seperti ini, duh otakku gara-gara kamu terus mikirin masalahnya hati, kita jadi berakhir ngenes begini. Ya Allah tolong lapangkan hati Celia, luaskan sabar Celia, berikan Celia jalan terbaik untuk menyelesaikan setiap persoalan yang Celia hadapi. Semoga masalah ini tidak berbuntut panjang. Semoga urusan hati juga cepat selesai, Celia mau hidup dan bekerja dengan tenang.
Hati Celia sakit karena baru pertama kalinya ia di bentak oleh seseorang, siapapun yang di bentak-bentak dengan nada setinggi itu selain kaget, shock, sedih pasti juga ia akan malu. Ingin Celia tutup wajahnya dengan karung goni saja rasanya.
Cetek ... Ruangan yang semula gelap seketika terang, mata Celia menyipit, pupilnya mengecil untuk menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk. Pak Yadi muncul dari balik pintu, karena tadi sempat melihat Celia saat berlari masuk ke ruangan itu ia juga tahu saat Celia dimarahi oleh kak Nur, pak Yadi menghampiri Celia, dia mencoba untuk menghibur gadis itu.
"Hai, cantik ... janganlah kamu bersedih, kalau kamu sedih aku jadi ikut sedih, aku kan juga kaget ih si mpok teriak-teriak begitu kaya mau makan orang, tuh liet masih merinding." Pak yadi bicara dengan gaya gemulainya.
Celia mengusap airmatanya dengan selembar tissue yang diberikan oleh pak Yadi.
"Makasi ya pak Yadi, Celia kaget aja tadi tu." Celia mengulas senyumnya, hatinya sudah kembali menghangat.
"Ya sudah, eike balik ya, mau ke klinik ngapel bu dokter." Haiisss... baru juga di puji mirip Rhoma Irama udah balik lagi ke setelan awal, macho-macho melambai.
"Iya, titip pesen buat bu dokter ya pak, kuat-kuat tahan iman liat orang ganteng."
"Hahaiii...bisa aja ponakan pak Rano."
__ADS_1
"Matiin lagi nggak ni lampunya, jangan lama-lama main gelap-gelapan sendirian."
"matiin aja pak, enak gelap-gelapan nggak ada yang liat, hehe. Celia masih pengen disini sebentar lagi."
Celia kembali merenung, ia meraup udara rakus lalu ia loloskan dengan kasar. Benar memang kata pak Yadi, kak Nur adalah orang baik, Celia yang salah, karena pikirannya bercabang terbagi dua antara masalah pribadi dan pekerjaan membuat tidak fokus, asal terima perintah yang bukan ranahnya. Wajar jika kakak Nur memarahinya, tapi tetap saja semarah-marahnya kak Nur, tak seharusnya ia mengeluarkannya dengan nada teramat tingguq, itu melukai hati lembut Celia.
Dirasa sudah cukup lama bersembunyi, Celia membersihkan wajahnya dari sisa-sisa airmata lalu keluar dari ruang tunggu VIP, takut ada yang mencarinya untuk urusan pekerjaan.
"Haus banget, nangis bikin tenggorokan Celia kering, airmata menguras tenaga." Celia pergi ke pantry untuk mengambil minum.
"Dek, sini bentar". Jalan arah ke pantry memang harus melewati ruang kerja Kasubbag.
"Iya ka." Semoga Celia nggak kena semprot lagi ya Allah. Celia masuk ke ruangan kak Nur dengan memasang wajah setenang dan seceria mungkin.
"Dek, tolong bikinin Rencana Anggaran Belanja ya buat rapat Pimpinan besok pagi, undangan udah kamu bikin kan?" "Udah kak, undangan udah beres, udah Celia kerim ke semuanya via email juga chat we_A, abis ini Celia bikin RABnya."
"Kamu, kok matanya merah sembab? Kamu abis nangis dek? Kenapa, apa gara-gara tadi ya? Gara-gara ogut tadi ya?" Mata kak Nur mulai berkaca-kaca melihat mata sembab Celia, hatinya terenyuh tak disangka suaranya yang merdu menggelegar bisa melukai hati orang lain. "Ya Allah dek, maafin ogut ya dek, sumpah demi apapun ogut gak maksud buat bentak-bentak kamu dek, ogut tu kesel kenapa mereka suka nyuruh-nyuruh orang seenaknya, lo nya juga dek kelewat baik, iya iya aja." Melihat kak Nur menangis Celia juga jadi ikutan nangis lagi, dan terjadilah drama sinetron ikan terbang, drama yang selalu diwarnai airmata.
"Huaaa...kakak jangan nangis dong, Celia jadi nangis lagi kan, kakak nggak salah, Celia cuma kaget aja tadi kak lagi Celia kan emang cengeng kak orangnya, maafin Celia juga ya kak, Celia yang salah, lain kali Celia bakalan lebih hati-hati."
Kak Nur memeluk Celia, baginya Celia sudah ia anggap seperti adik sendiri, yang terkadang juga gemesin lebih ke ngeselin bikin pengen nabok pake pan_tat panci.
__ADS_1
Dalam hati Celia, ia berjanji akan menjadi lebih baik lagi dalam hal pekerjaan, ia akan belajar memilah tak mencampur adukkan urusan perasaan dan pekerjaan.