
Happy Reading 😉
🍃🍃🍃
Kereta dengan rangkaian panjang mengular, meluncur cepat di atas rel nya membawa serta Celia dengan segudang rasa rindu untuk kampung halaman dan orang-orang terkasihnya disana.
......................
Hampir pukul dua belas tengah malam, Kereta yang membawa Celia akhirnya tiba di stasiun kota S. Begitu keluar dari stasiun hal pertama yang Celia lakukan adalan sejenak memejamkan matanya, lalu menarik nafas dalam dan meloloskannya perlahan, merasai setiap partikel oksigen yang masuk kedalam paru-paru dan menyebar keseluruh tubuhnya. Aroma dan udara segar kota kecilku, batinnya.
Celia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru stasiun mencari-cari keberadaan ayah dan adiknya yang datang menjemput.
"Dimana bapak sama si cupid nunggunya?, apa di parkiran ya?" Ujar Celia pelan, dengan menenteng sekantong besar oleh-oleh Celia berjalan cepat menuju parkiran yang terletak di samping stasiun. Benar saja, ayah dan adiknya ada disana sedang menunggu Celia.
Bukan stasiun besar, hanya stasiun kecil di kota kecil, jadi tak sulit bagi Celia untuk menemukan ayah dan adiknya disana. Celia segera menghampiri mereka, melepas rindu pada dua laki-laki beda usia di hadapannya itu.
Pulang kerumahnya, Celia dibonceng oleh Wingit, adiknya, sedang sang ayah mengawal mereka dari belakang, mereka bercengkrama sepanjang jalan, tak hentinya Celia mengutarakan rasa rindunya pada tanah kelahirannya, sampai bosan sang adik mendengar celotehan Celia.
__ADS_1
"Wwoooaahh ... semua masih sama ya pid, nggak ada yang berubah," ujar Celia riang, dari tadi ia selalu tersenyum sampai ia rasakan kalau giginya terkadang kering. Dinginnya angin malam tak Celia hiraukan, kegembiraan yang memenuhi hatinya sudah cukup untuk menghangatkan seluruh tubuhnya.
"Eee mbak koe ki sih mabuk perjalanan to, koe ki lungo lagi pirang sasi? Lha nek koe lungo wis taunan yo mengko lagi ono perubahan, mbok kiro gawe perubahan iku segampang malik bakwan ning wajan?! Sing berubah malah koe ki lho mbak, bahasamu kui bahasa metropolitan, ati-ati kesleo ilatmu! (Eee mbak kamu masih mabuk perjalanan ya, kamu ini pergi baru berapa bulan? Lha kalau kamu pergi sudah tahunan ya nanti baru ada perubahan, emangnya melakulan perubahan itu semudah membalik bakwan di penggorengan?! yang berubah malah kamu mbak, bahasamu itu bahasa metropolitan, hati-hati kesleo lidahmu!)" timpal adiknya panjang lebar.
" ... gue gua gue gua gue gua gueeee ...puaasss cooiii!!" Celia berteriak kencang di telinga adiknya.
"Wooo lha wong gendheng! (Wooo lha orang giL4!)," sengit adiknya.
"huahahahahahahahahaha ...!!!" Celia tergelak melihat ekspresi kesal adiknya dari kaca spion. Puas sekali rasanya bisa menjahili adiknya, satu hal ini juga termasuk ke dalam list salah satu hal yang Celia rindukan. Menjahili, menggoda, membuat adiknya marah dan kesal baginya sangat menyenangkan.
Beberapa pengendara lain yang melintas dan berpapasan dengan mereka, meski sekilas mereka tampak menatap heran pada kedua kakak beradik itu, membuat Wingit merasa malu. Salah apa dia di masa lalu sampai dilahirkan menjadi adik seorang Celia, meski cantik tapi sering membuatnya malu dan terjebak disituasi tak menguntungkan. Di belakang mereka, ayahnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya, Celianya yang selalu ceria telah kembali. Pak Sujadi teringat betapa sedihnya Celia saat ia kirim ke kota J, semenjak saat itu selalu terbersit rasa khawatir di hati pak Sujadi, khawatir jika Celia putrinya yang ceria tak akan pernah kembali, khawatir putrinya berubah menjadi pribadi yang lain. Kini pak Sujadi bisa bernafas lega, karena tak ada yang berubah dari Celia selain wajahnya yang semakin cantik juga penampilannya yang semakin modis, namun di dalamnya tetaplah Celia putrinya yang hangat dan ceria.
"Assalamualaikum, ibuuuk," teriaknya senang memanggil ibunya. "Wa'alaikumsalam," Ibu yang baru saja keluar dari dalam rumah menghambur memeluk putrinya, kedatangan Celia disambut haru juga bahagia oleh sang ibu. Bu Sujadi juga sangat rindu pada putrinya, dipeluknya dengan erat dan diciumnya sang putri yang sudah lama tak bertemu. Anak yang selama sembilan bulan dia kandung, dia lahirkan dengan bertaruh nyawa, anak yang dia rawat dan dia besarkan dari masih bayi hingga dewasa, dari masih oek-oek hingga menjelma menjadi kembang desa, yang bertahun-tahun tinggal bersama, melewati suka dan duka bersama kini telah kembali. Meskipun Celia sudah menjadi wanita dewasa, tetapi dimata sang ibu, ia tetaplah menjadi putri kecilnya.
Celia melepas pelukan sang ibu, ia mengusap airmata yang mengalir dipipi ibunya.
"Ibuk, Celia pulang kok malah nangis, ini Celia bawain oleh-oleh banyak buat ibu dan bapak, juga si cupid," bu Sujadi tersenyum, "kamu ini nduk, sampai kapan mau manggil adikmu itu si cupid," geli rasanya bu Sujadi mendengar julukan untuk si bungsu dari kakaknya.
__ADS_1
"hehe, sampai tua buk, lebih enak dipanggil cupid daripada Wingit." Celia tertawa geli melirik adiknya yang sudah mendelik tajam kearahnya.
Kepulangan Celia membuat suasana rumah menjadi hangat, kembali ada canda dan tawa yang menghiasi rumah mereka. Tak dipungkiri, sejak kepergian Celia ke tanah rantau, rumah jadi tak sehangat dulu, sepertibada yang hilang karena sosok periang yang selalu dapat menghangatkan tak ada bersama mereka. Semua sibuk dengan aktifitas nya sendiri.
Bu Sujadi mengajakputrinya untuk segera masuk, dari sore tadi ia sudah menyiapkan berbagai masakan kesukaan Celia.
"Nduk, ibuk sudah masakin makanan kesukaanmu, ayo bersih-bersih dulu, terus makan." Ucap bu Sujadi pada putrinya. Celia meletakkan tas ranselnya di atas kursi lalu melihat ada makanan apa saja yang sudah dimasak sang ibu untuknya. Mata Celia berbinar senang ketika melihat makanan favorit nya terhidang di atas meja, tanpa dikomando lagi Celia segera bergegas membersihkan diri. Selesai membersihkan diri Celia segera mengambil piring, tak peduli ia pada jam malam, yang penting rasa rindu akan masakan ibunya bisa cepat-cepat ia obati, lidahnya sudah tak sabar untuk kembali merasai lezatnya masakan sang ibu yang tiada duanya.
"Mbak, koe ki luwe opo kesurupan? Mbok alon-alon to, aku ora njaluk, koyo kuda lumping (Mbak, kamu ini lapar apa kesurupan? Pelan-pelan to, aku nggak minta, kaya kuda lumping)." Ujar Wingit yang heran melihat aksi makan kakaknya, seperti aksi mukbang yang sering dia lihat di youJub, sampai melongo Wingit melihat kakak perempuannya yang sedang makan seperti orang kesetanan, apakah disana kakaknya ini tidak pernah makan batinnya, ia ikut menelan salivanya, kakaknya yang makan tapi dia yang merasa kenyang.
Uhuk ... uhuk ... Celia tersedak dikatai kuda lumping oleh adiknya, "asem tenan koe ki, ganggu wae, po ra reti wong ayu lagi maem, mengko nek koe wis kerjo tur adoh koe bakal ngrasakne opo sing tak rasakne, ketemu masakane ibuk e ki rasane luwih seneng timbang oleh berlian sak tembor (asem kamu itu, ganggu aja, apa nggak tau orang cantik lagi makan, nanti kalau kamu sudah kerja dan jauh kamu akan merasakan apa yang aku rasakan, ketemu makannya ibuk itu rasanya lebih senang daripada mendapatkan berlian satu panci)," Celia sudah melotot menatap tajam adiknya.
"Opo ono wong ayu mangane bar-bar, buk ... ibuk ... mbak Celia kesurupan kuda lumping, paringi beling mawon buk! (mana ada orang cantik makannya bar-bar, buk ... ibuk, mbak Celia kesurupan kuda lumping, kasih beling aja buk)," timpal Wingit semakin membuat Celia melotot dan bersiap melemparnya dengan sendok, mengetahui ia yang terancam bakal dicium sendok, Wingit secepat kilat kabur masuk kedalam kamarnya sambil tertawa terbahak bisa membalas kejahilan kakaknya dengan membuatnya kesal.
"Husssh, ora oleh tukaran di meja makan (Hussh, tidak boleh berantem di meja makan)," pak Sujadi melerai perdebatan kedua anaknya, sedang istrinya hanya bisa ikut tertawa, ini adalah momen yang ia rindukan. Melihat interaksi kedua buah hatinya yang kadang akur seperti kerbau dan burung jalak, tapi kadang juga seperti kucing dan tikus. Tetapi bu Sujadi tau, kedua anaknya tetaplah saling menyayangi, itu hanyalah bentuk bahasa cinta mereka.
Celia kembali asik menikmati acara makan tengah malamnya, lidahnya seakan terus meminta lebih, sedang lambungnya seakan tak penuh-penuh. Setelah dirasa perutnya tak mampu lagi menampung makanan, baru Celia berhenti makan. Selesai membereskan alat makannya seperti biasa, Celia pamit kepada ibu dan ayahnya untuk ke kamar, sejak baru datang tadi Celia malah belum masuk ke kamarnya. Tak ada perubahan disana, selain sprei yang sudah diganti oleh ibunya. Celia mendudukkan dirinya di kasur, menyapukan pandangan keseluruh penjuru kamar, rasanya nyaman kembali asal.
__ADS_1
Celia menyandarkan tubuhnya yang lelah dan kekenyangan, matanya terpejam, menikmati suara binatang malam yang mengalun indah ditelinganya seperti suara simfoni dari alam.