Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 38 : Tamu Bapak 2


__ADS_3

Happy Reading 😉


Hati-hati typo bertebaran 😵


🍁🍁🍁


Adzan magrib sudah berkumandang, namun belum ada tanda-tanda tamu ayahnya datang, Celia memutuskan untuk sholat terlebih dabulu. Urusan makeup cincaylah bisa di touch up lagi jangan kaya orang susah ye khaannn.


OK! Bahkan hingga Celia dan keluarganya selesai sholat pun si tamu belum datang juga, entah nyangkut dimana mereka. Karena suntuk menunggu tamu yang tak kunjung datang, Celia memilih kembali masuk kedalam kamarnya. Menunggu itu menjenuhkan, lebih baik ia tiduran, berbalas pesan dengan Khai sambil main game online.


Hampir pukul 18.30 waktu setempat, Celia sayup-sayup mendengar ada mobil yang berhenti di depan rumahnya, tak lama kemudian terdengar suara orang mengucap salam disambut suara renyah ayahnya. Tidak salah lagi, itu pasti tamu yang dimaksud oleh ibunya. Celia menghembuskan nafasnya, ia kembali mengirim pesan pada Khai jika tamu ayahnya sudah datang, ia akan membantu ibunya dan juga ikut menemui mereka. Kalau sudah tiduran di kasur kok rasanya malas ya mau bangun lagi. Celia merapikan lagi bajunya agar tidak terlihat kusut, lalu menyisir rambutnya, tidak lupa ia juga memeriksa riasan wajahnya. Bukan karena ingin genit, centil atau apalah, Celia hanya menjalankan perintah orangtuanya untuk berdandan, selain itu Celia juga tidak ingin membuat malu kedua orangtuanya.


"Le, panggil mbak mu ya suruh keluar ada tamu bapak sudah datang," pinta bu Sujadi pada Wingit.


"Njih bu," jawab Wingut singkat, lalu ia ia segera pergi untuk memanggil Celia.


tok ... tok ... tok ...


Wingit mengetuk pintu kamar Celia, berharap kakaknya tidak membuat masalah dengan tertidur seperti tadi siang, kalau sampai itu terjadi ia sudah tak punya senjata lagi untuk membangunkan Celia, pasalnya gara-gara kejahilannya siang tadi kaus kakinya langsung diminta oleh ibunya untuk dicuci.


"Mbak, tamune bapak wis teko kae lho, jare ibu kon gek ndang metu (mbak, tamunya bapak sudah datang itu lho, kata ibu suruh cepet keluar)."


Celia tak menjawab, ia berdiri dari depan meja riasnya lalu berjalan mendekati pintu. Saat Celia membuka pintu kamarnya Wingit masih berada disana, ia juga terlihat gagah dengan setelan keneja warna biru Dongker dan celana jeans hitam model pensil. Celia akui adiknya ini memang tampan, dulu Celia sering kali menempel kemanapun adiknya pergi biar dikira pacarnya, jadi Wingit tak bisa macam-macam, bahkan ketika wingit akhirnya punya pacar Celia sering sekali mengganggu acara kencang mereka.


"Ndang cepeto to mbak, iku lho wis ditunggu ibu, ra kepenak karo tamune (buruan cepet to mbak, itu lho sudah ditunggu ibu, nggak enak sama tamunya)," ujar Wingit.


"Kok aku males ya, terlanjur pewe," ucap Celia.

__ADS_1


"Halah rasah males-malesan, ngko nek metu yo seger, enek sing ganteng kae lho, ngko nak mripatmu ijo reti wong ganteng, ati2 nggowo tissue (halah gausah males-males, nanti kalau sudah keluar ya seger, ada yang ganteng itu lho, nanti matamu ijo liat orang ganteng, hati-hati bawa tissue takut ngiler)." Wingit berucap sambil ngacir kembali ke ruang depan.


Ganteng apaan, tamunya bapak ya jelas udah tua, lha wong kata ibu tamunya temene bapak, ya kali temen bapak anak muda, ganteng lagi, impossible.


Celia menyusul adiknya ke ruang tamu yang letaknya di rumah bagian depan.


Bu Sujadi berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Celia, lalu memperkenalkannya.


"Nah, ini anak saya yang namamya Celia," ucap sang ibu.


"Kene nduk, salim dulu sama semuanya," timpal sang ayah.


Sekarang baru Celia sadari jika tamu ayahnya itu membawa serta seorang wanita yang menurut Celia pasti adalah istrinya, satu orang anak perempuan seusia adiknya, dan satu orang laki-laki muda yang terlihat sedikit diatas Celia. Pantas saja adiknya tadi bilang ada laki-laki tampan, mungkin ini yang Wingit maksud.


Celia berjalan mendekat lalu menyalami satu-persatu tamu ayahnya.


"Celia om," Celia tersenyum manis.


"Wah wah, anakmu ayu tenan (wah wah anak kamu benar-benar cantik)," ucap om Rudi.


"Lha yo nonton bibite to Rud," jawab pak Sujadi berkelakar, lalu melanjutkan memperkenalkan tamunya yang lain.


"Ini istrinya om Rudi, namanya bulik Murni, yang cantik ini anak bungsunya om Rudi namanya Mita, kalau si ganteng itu namanya Rama anak sulung om Rudi."


Celia selesai menyalami mereka satu persatu lalu duduk disamping ibunya.


"Cocok iki Jad," ucap om Rudi tiba-tiba.

__ADS_1


"Cocok apane Rud?" tanya pak Sujadi.


"Cocok nek awake dewe besanan, ini Rama, lha ini shintanya," tunjuk om Rudi pada Rama anaknya lalu pada Celia.


Si om ngelawak nih, kan tadi udah kenalan nama Celia, bukan shinta. Lagi Sbinta anak mana sih?


"Lha nek aku no yo cocok-cocok wae to Rud, yo gari anak-anak kui ngko pie, gelem opo ora, rak yo ngono to Rud? (Lha kalau aku ya cocok-cocok saja Rud, tinggal gimana anak-anak nanti, mau apa tidak, bukan begitu Rud)?"


"Yo ben kenal disek Jad, mugo-mugo wae cocok (ya biar kenal dulu kalau begitu Jad, semoga saja cocok) ," tambah om Rudi, "Nduk Celia mau to sama anaknya om?"


Pertanyaan macam apa ini pikir Celia, ya kali tanya mau apa enggak sama anaknha udah kaya nawarin permen, gampang banget. Celia tak bisa menjawab saking shocknya, ia sampai tak bisa membedakan mana yang serius mana yang bercanda.Celia hanya mamou memggaruk kelalanya yang mendadak gatal. Celia melirik kearah Rama yang terkadang juga curi-curi pandang pada Celia.


"Nduk, nak Rama ini TNI Angkatan Darat, sudah Letda," terang ayah Celia.


Celia hanya memperhatikan saja, apakah ini ajang perjodohan yang dibuat oleh orangtuanya?!


"Lha Celia ini katanya kerja di kota J ya? tanya bulik Murni penasaran dengan Celia. Sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu ia akui jika Celia memang gadis yang cantik jelita, ia dapat melihat jika Celia adalah gadis yang baik.


"Iya bulik, sekarang sedang ambil cuti," jawab Celia ramah.


"Ooo, kapan balik ke Kota J nya, dengar-dengar nak Celia ini sekretaris ya?" bukan bulik Murni, tapi justru om Rudi yang lebih ingin tahu.


"Alhamdulillah bulik. Nanti hari selasa Celia berangkat lagi ke kota J)" Jawab Celia.


Perasaan Celia kok jadi nggak enak ya, perasaan dari tadi bapak sama om Rudi getol banget ngenalin Celia sama Rama.


"Wes ayo podo maem disik, ayo Rud, mengko disambung meneh (sudah ayo pada makan dulu, ayo Rud, nanti disambung lagi)." Pungkas ayah Celia.

__ADS_1


__ADS_2