
1 like dari kamu sama dengan sejuta semangat buat author lho manteman 😊 So, don't forget to like, comment and subscribe ya 😉 Big hug and thanks for your appreciation 🤗 Happy reading 🤗
☘☘☘
"Heboh banget, ada apaan sih bang?" Celia yang baru datang belum tahu tentang gosip terbaru dan terhangat seantero kantor.
"Apaan ... apaan ... emangnya lo belum tau berita terupdate pagi ini?"
"Ya belum lah bang, Celia aja baru dateng, makanya Celia nanya, lagi pada ngomongin apaan sih asik bener romannya, lagi ngomongin nomor toge_L ya?" Celia menaik turunkan alisnya.
"Sembarangan!! Toge_L ... toge_L, toge noh adanya di mangkok sotonya Bayu."
"Iiiih buru ada gosip apaan?" Celia semakin dibuat penasaran.
"Nih gue ceritain, dengerin yang bener, nggak ada siaran ulang. Security yang jaga semalem diliatin kuntilanak di roof top tepatnya sih katanya di pinggir sebelah barat."
"Ah, mana ada bang, halu kali." Celia tak begitu saja percaya, bisa sajakan security nya ngantuk terus halusinasi liat mbak kunti, buktinya semalam dia disana baik-baik saja, tak ada penampakan apapun.
"Mana ada halu ampe dua orang!"
"Eh, seriusan bang? Emang jam berapa mereka liatnya?"
"Ya sekitar jam setangah 8 sih katanya, mereka liat kain putih gobat-gobet disana, nah giliran tadi pagi di cek kesana nggak ada kain putihnya, berarti kan ya kain putih apaan kalau bukan kain putih gaunnya mbak kun." Hari bercerita dengan menggebu-gebu.
"eeemmm ... setengah 8 ya ....mana ada kuntilanak jam setengah 8 udah keluar, nongky nya di roof top lagi." Celia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sambil berpikir, seperti ada yang aneh menurutnya, sampai tiba-tiba ia ingat akan sesuatu.
"Ahahahaha ... Ahahahha ...." Celia tertawa terbahak-bahak, sambil memegangi perutnya menahan sakit.
Celia kan semalem disana sampai jam setengah 8 baru turun, lagi kemarin Celia pakai rok putih panjang terus joget-joget ala mbak Merilyn Monroe. Pasti roknya Celia yang dipikir gaun malamnya mbak kunti. Parah sih Celia cantik begini dikira kuntilanak apa udah rabun mereka matanya. Tapi masih mending lah dari pada mereka sadar itu Celia, bisa malu tujuh turunan ketahuan joget-joget.
Celia masih cekikikan memikirkan kebenaran yang sesungguhnya, namun ia tak mungkin menceritakan semua itu pada Hari dan yang lainnya buat jaga image.
"Dih mulai nggak beres ni anak." Hari bergidik menatap Celia, lalu mengarahkan punggung tangannya dan menempelkannya di dahi Celia.
"Nggak panas, tapi kok korslet ya?!"
__ADS_1
"Sembarangan!! Lucu tau bang, masa satpam takut sama kunti, harusnya sekalian ikut nongky sambil ngupi-ngupi bareng orang kuntinya cantik kok. cantik banget malah."
"Lu saraV, masih mending nggak ngompol padaan."
"Haha ... udah ah, sakit perut Celia, mending balik ke ruangan aja lah, bye!!"
"Sono gih .. hushh ... husshh!!" Hari mengusir Celia layaknya anak ayam.
Sampai diruang kerjanya Celia masih saja cekikikan sendiri, geli rasanya membayangkan bagaimana kagetnya dua security itu.
"Astaga naga bergola, pantesan aja semalem mereka ampe nyetel ayat kursi begitu, lagi ya kali nggak bisa bedain mana gaun kunti mana rok cewek syantik." Celia geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Hadeeeeh ... lumayan lah hiburan." Tak berapa lama nampak bayangan seseorang di depan pintu kaca ruang kerja Celia.
tok tok ... "Mba Celia, ada titipan dari mas Alim." Mbak Titi masuk membawa bungkusan yang entah apa isinya.
Mas Alim udah pulang ya, nggak di kasih langsung ke Celia pasti dia masih marah banget, mas Alim juga nggak ada ngasih kabar kalau udah ngantor.
"Iya mbak Titi, taro sini aja, makasi ya mbak."
"Iya mbak Titi." Celia tersenyum mempersilakan.
"Mas Alim nitipin apaan?" Celia membuka bungkusan dari Alim, tangannya terampil mengambil isi dari dalamnya satu persatu. Ternyata Alim membawakan oleh-oleh untuk Celia, penganan khas kota kembang. Ada wajit cililin, peuyeum, juga brownies dan bolen yang terkenal khas dari kota itu.
Celia memasukkan kembali oleh-oleh dari Alim, lalu beranjak dari kursinya. Celia meletakkan oleh-oleh dari Alim di meja ruangan belakang agar bisa dimakan oleh teman-temannya yang lain, toh tak akan habis jika ia memakannya sendiri, mau dibawa pulang berat rasanya. Jelas sampai di belakang semua makanan itu langsung di serbu teman-temannya. Bukan tak menghargai pemberian dari Alim, tapi sudah jadi kebiasaan jika ada yang Dinas Luar dan pulangnya bawa oleh-oleh, biasanya akan dibagi-bagikan pada yang lain di kantor.
#Makasi ya mas oleh-olehnya. Celia bagi juga sama temen-temen disini, biar pada ikut nyicipin, kata mereka makasi.
(pesan terkirim)
tiiing ....(satu pesan diterima)
#Iya, sama-sama, Alhamdulillah kalo pada suka.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Sepulang kerja, Celia mampir dulu ke ruangan Alim, ia harus menyelesaikan semuanya agar tak terlalu lama berlarut-larut, harus segera dituntaskan, semakin lama atau semakin ditunda, pasti akan semakin terluka. Celia sudah memikirkannya masak-masak, ia sudah menetapkan pilihan.
Beruntung, ruangan Alim pada saat itu sedang sepi, mungkin teman-temannya yang lain sudah pulang, sedangkan Alim sendiri terbiasa pulang selepas magrib. Disana hanya tinggal ruangan Kepala Bagian yang lampunya masih menyala, menandakan masih ada orang di dalamnya.
Dilihatnya Alim tengah sibuk dengan komputer dan beberapa berkas didepannya. Celia menarik nafas dalam sebelum ia melangkah semakin dekat. Ia menarik kursi agar bisa duduk di samping Alim.
Kedatangan Celia yang tiba-tiba membuat Alim sedikit kaget, namun ia tak begitu memperlihatkannya, hanya wajah datar Alim yang dapat Celia lihat.
"Mas, lagi sibuk ya? Bisa Celia bicara sebentar?" Pintanya pada Alim.
"Iya, ngomong aja Cel." Alim menghentikan pekerjaannya lalu menghadap Celia.
"Celia kesini karena mau minta maaf secara langsung sama mas, Celia sangat mengerti pasti mas Alim merasa kecewa. Mas bener, akan ada yang terluka di antara kita, Celia minta maaf untuk itu semua. Mengenai kedekatan Celia dengan Khai, itu semua juga benar, Celia nggak mau bohong lagi, maafin Celia karena Celia mencari rasa nyaman pada yang lain, Celia nggak bisa mengimbangi mas Alim. Mas Laki-laki yang baik, pantas mendapatkan wanita yang lebih baik." Celia bicara sambil menunduk, ia tak berani menatap mata Alim, airmatanya sudah mengalir sedari tadi.
Alim mengusap wajahnya kasar.
"Mau bagaimana lagi, aku juga nggak mungkin bisa maksain hati kamu." Alim bicara sambil tetap menatap Celia. Tak bisa dipungkiri hatinya pun terasa sakit, tapi jika memang Celia tak bisa bersamanya apa mau di kata, di paksa pun tak akan bahagia.
"Ini yang aku khawatirkan, kamu menangis juga terluka Cel." Alim menggenggam tangan Celia, dan tersenyum tipis agar ia terlihat baik-baik saja, pikirnya dia adalah seorang laki-laki, dalam kondisi dan situasi apapun ia harus terlihat kuat dan tegar.
"Mas yang lebih terluka karena pada kenyataannya Celia nggak bisa jaga hati, meski Celia dan Khai tidak berpacaran tapi kedekatan kami dan rasa nyaman Celia sudah merupakan penghianatan bukan?" Celia semakin tersedu.
"Tetap saja, pada akhirnya kamu menangis kan? Ini yang aku nggak mau." Ucap Alim.
"Bisakah kita tetap berteman mas? Apakah setelah ini mas akan membenci Celia?"
"Aku nggak bisa benci sama kamu Cel, seandainya bisa, pasti udah aku lakukan dari kemarin-kemarin saat aku melihat kamu bersamanya."
"Maaf mas, dan terima kasih untuk semuanya. Celia berdoa semoga mas mendapatkan yang lebih baik yang bisa lebih ngertiin mas." Ucap Celia tulus.
"Iya, makasi juga udah nemenin aku beberapa waktu ini."
Aku masih sayang baget sama kamu Cel, seandainya aku bisa memaksa kamu untuk tetap disampingku, seandainya aku bisa menggenggam erat kamu agar tak lepas dariku. Celia, aku akan tetap menyayangi kamu meski entah sebagai apapun itu.
Kesedihan Alim tak dapat terbaca oleh Celia, dia mampu menutupinya dengan wajah datarnya seperti biasa, siapa sangka di balik itu tersimpan luka oleh si gadis desa yang sudah bertahta di hatinya.
__ADS_1