Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 9 : Ku Pilih Jalan yang Salah


__ADS_3

Pukul 05.00 WIB, Celia sudah rapi, sudah siap ia untuk berangkat ke kantor dengan motor bebek berplat merah milik pakdhenya. Celia sedikit merasa deg-degan karena untuk pertama kalinya ia akan berangkat ke kantor dengan mengendarai sepeda motor sendirian, tanpa pakdhenya seperti biasa.


Celia memutar kunci dan menyalakan sepeda motornya.


Ncet ... cet ... cet ...! Ncet ... cet ... cet!! "Lho kok nggak mau nyala to?" Celia kesulitan untuk menyalakan sepeda motornya dengan tombol starter meski sudah berulang kali ia mencoba.


"Yaaah, harus ngengkol ini." Definisi cantik-cantik gahar. Sekali, dua kali, dan baru pada usahanya yang ketiga kali sepeda motornya mau menyala. Tiga kali ngengkol belum bikin betis segedhe kentongan pos ronda lah ya, masih aman.


OK! Hanya perlu dipanasi sebentar, biar si motor nggak kaget kalau di bawa kebut-kebutan.


The adventure's begin. Let's go!!


Celia melajukan motornya keluar komplek perumahan menuju jalan raya. Bak seorang pembalap, ia sedikit demi sedikit mempercepat laju motornya. Mbeerr ... mberrr ... mberrrr ... tiiin!! Selip kanan, selip kiri, tambah persneling, dengan lincah Celia mendahului kendaraan di depannya. Boleh lah besok-besok ikutan daftar lomba balap MotoGP kelas amatir. Hingga sampailah Celia di persimpangan pertama, Celia mendadak bingung, otaknya mulai bercabang antara lurus atau ambil kiri, ia mendadak lupa di persimpangan mana harus mengambil jalan belok kiri. Nalurinya mengatakan untuk terus lurus dan ambil kiri di persimpangan kedua, tapi entah setan dari mana yang tiba-tiba datang menghasutnya, Celia membelokkan sepeda motornya di persimpangan pertama. Belum jauh ia melaju, kebingungan kembali melanda Celia.


Loh kok ini yang belok kiri mobil semua, nggak ada motornya pisan. Apakah...??? Jangan-jangan...???


Ya ampuun, OMG, Celia salah belok, ini persimpangan jalan masuk ke tol, harusnya Celia ambil yang di depannya. Pakdheeeee .... Ku pilih jalan yang slah. Gimana ini, nggak mungkin kan Celia puter balik disini.


Ditengah kebingungannya, Celia memutuskan untuk menepi dan berhenti sejenak. Di depannya, tak begitu jauh dari tempat Celia berhenti ada seorang petugas Polisi tengah sibuk mengatur arus lalulintas agar kendaraan roda empat atau lebih yang masuk tol lebih tertib, supaya nantinya tidak terjadi kemacetan parah jika sudah memasuki jam sibuk.


"Aduh, gimana ini ya, maju atau mundur, kalau maju ada pak polisi ntar kalau di tilang gimana, tapi kalo mundur puter balik disini juga nggak mungkin, ini kendaraan udah mulai rame, bisa kena ujaran kebencian kalo Celia nekat puter balik disini." Ini adalah pemandangan yang cukup aneh bagi para pengendara mobil yang melintas disana, ada seorang wanita dengan motor bebeknya nyasar masuk tol, berhenti dipinggir jalan sambil komat-kamit sendirian.


Apes banget sih, apa tadi pas berangkat Celia lupa nggak baca doa ya?!.


"Yaudahlah ya, jalan satu-satunya Celia harus tanya sama pak Polisi di depan, kan kata bu guru malu bertanya sesat dijalan." Bismillah aja semoga pak Polisinya baik hati, ramah, tidak sombong, rajin dan suka menabung.

__ADS_1


Celia kembali menyalakan sepeda motornya, ia jalankan hingga sampai beberapa langkah di belakang pak polisi. Celia mematikan mesin motornya lalu turun dan berjalan menghampiri pak Polisi dengan sedikit rasa takut bercampur malu yang nggak ketulungan, ingin rasanya Celia menutup wajahnya tudung saji. Celia memberanikan diri bertanya pada Polisi itu.


"Permisi pak Polisi." Namun karena posisinya membelakangi Celia, serta bisingnya suara kendaraan, pak Polisi tak dapat mendengar panggilan Celia.


Yah, pake acara nggak kedengeran lagi.


"Ehm! Permisi pak Polisi, maaf pak." Celia dengan beraninya mencolek lengan baju pak polisi untuk mendaptkan perhatiannya.


Merasa ada yang mencolek lengan dan mengajaknya bicara, pak polisi akhirnya menoleh ke belakang.


"Yaaa ...?" pak polisi memandang Celia dengan keheranan dari atas sampai bawah, lalu matanya melihat kearah belakang Celia dimana disana terparkir motor bebek berplat merah miliknya. Hmmm ... bau-bau orang yang minta di tilang ya kaya gini.


"Maaf pak, jadi begini pak, saya mau kearah jalan K, tapi saya salah jalan, harusnya kan saya masih lurus tapi malah nyasar masuk tol. Apa ada jalan keluar dari sini pak? Tapi saya jangan ditilang ya pak, saya baru pindah pak di kota ini jadi belum hafal jalan, untuk surat-suratnya semua lengkap kok pak?" Celia menjelaskan panjang kali lebar.


"Baik, mbak bisa bawa sepeda motornya, di depan sana ada pembatas jalan yang longkap satu, mbak bisa putar balik disana, itu muat untuk satu motor,, tapi lain kali tolong untuk lebih berhati-hati, jangan sampai masuk tol lagi, apalagi sepeda motornya plat merah." Pak polisi menunjukkan jalan dan sedikit memberikan peringatan.


"Ya, silakan." Pak polisi kembali pada aktifitas nya mengatur arus lalulintas.


Celia segera menyalakan kembali motornya dengan engkolan super biar cepet nyala, kemudian melajukannya kearah pembatas jalan seperti yang diberitahukan oleh pak polisi tadi.


Celia bisa bernafas lega karena akhirnya ia bisa keluar dari tol tanpa kena tilang, hanya saja rasa malunya mungkin tidak akan luntur hingga tiga kali puasa tiga kali lebaran.


Sepanjang jalan menuju kantor Celia berusaha untuk tetap fokus agar ia tidak salah jalan lagi. Celia ini memang tipe-tipe orang yang sulit menghafal jalan, harus kan bawa GPS atau bawa petanya si Dora.


Akibat peristiwa memalukan tadi, jalanan yang Celia lewati sudah mulai macet. Jika biasanya pukul enam, atau paling lambat setengah tujuh Celia sudah sampai kantor, ini pukul setengah delapan ia baru absen finger print.

__ADS_1


Sampai di ruangan ternyata sudah ada Hari disana, Celia menceritakan kejadian memalukan yang barusan dialami olehnya pada Hari.


"Hahahha ... kocak lo Cel, kalo gue jadi polisinya udah pasti lo gue tilang." Sebulan jadi rekan kerja sudah membuat Hari dan Celia akrab, kini Celia memanggil Hari dengan sebutan babang.


"Yeee... itu mah lu jahara bang namanya, dia tadi mah baik polisinya, sayang aja udah berumur, kalo masih muda udah Celia ajak kenalan."


"Ngarep lo." Hari menggeplak pelan bahu Celia lalu berlari ke mejanya.


"Ahahaha, ngarep dikit boleh lah, namanya juga usaha bang." Celia berteriak dari kubikelnya, hanya jika tidak ada pak Kepala dan pejabat Eselon I lainnya mereka bisa bertingkah se bar-bar ini, jika ada para pimpinan mereka tentu tidak akan berani, bisa auto pecat nanti.


"Eh ni gue kasi t*i ya Cel."


"Kasih tau wooii bang, bukan kasih t*i, jorok lo bang."


"haha, ni gue kasih tau, wejangan orang ganteng, malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya malu-maluin, kaya elo Cel, hahahahaha...!! Hari tertawa lepas di mejanya.


"Terserah lo deh bang, asal lo bahagia, kata bapak bikin orang kurang ganteng bahagia itu pahala."


"Eh njiirr gue dibilang kurang ganteng, Siwon idola lo aja kalah ganteng ama gue." Jika ada orang ter PD di kantor itu, mungkin Hari lah orangnya.


"Ngarep lo." Balas Celia tak mau kalah.


"Udah ah, Celia mau kerja, capek ngeladenin babang kurang tamvan."


Hari masih asik tertawa di mejanya, hiburan bagi mereka itu ya gitu, kalau bisa saling menjahili satu sama lain. Celia dan Hari adalah staf termuda diruangan bahkan di lantai empat, sedang yang lainnya sudah usia matang, juga paruh baya mendekati masa purna. Ini adalah suasana kerja impian Celia, nyaman, dan hangat, naif sekali dulu ia sempat mau menolaknya.

__ADS_1


Saat Hari dan Celia asik bekerja sambil melempar candaan, ada sepasang mata yang diam-diam mengawasi mereka.


__ADS_2