Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 40 : Bapak Sudah Tahu


__ADS_3

Happy Reading 😉


Hati - hati banyak typo bertebaran 😵


🍁🍁🍁


Bu sujadi tidak sepenuhnya tak setuju dengan perjodohan putrinya dengan Rama, ia hanya tidak suka dengan cara suaminya yang tidak mau membicarakannya terlebih dahulu dengan dirinya, terlebih itu adalah hal yang menyangkut masa depan putri mereka.


"Pak, " ucap Celia lirih, "sebenarnya Celia sudah punya pacar pak, hanya saja memang Celia belum menceritakan pada bapak juga ibu, kalau Celia dijodohkan dengan mas Rama lalu bagai mana dengan pacar Celia juga dengan pacar mas Rama pak? Bapak, Celia mencintai lelaki pilihan Celia pak," ungkap Celia pada akhirnya, ia pasrahkan segalanya pada Sang Pencipta.


Pak sujadi terdiam sejenak, "Sopo nduk pacarmu kui? wong ngendi? (siapa pacarmu itu nduk? Orang mana)?" tanya pak Sujadi.


"Tiyang kota J pak (orang Kota J pak)," jawab Celia.


"Opo penggaweane? (apa pekerjaannya?)," tanya pak Sujadi lagi.


"mmm... kerjane niku sareng Celia pak, setunggal kantor (mmm... kerjanya itu bareng Celia pak, satu kantor)," jawab Celia lirih.


"Satpam???" saut sang ayah tegas.

__ADS_1


Deg ... deg ... deg ...


Celia terpaku ditempatnya, ia seakan tak bisa bergerak, lidahnya pun kelu sulit untuk ia bicara, pasokan udara mendadak menipis membuat nafasnya berat. Bagaimana ayahnya bisa tau tentang Khai dan pekerjaanya, sedang ia dan khai belum lama berpacaran, mereka pun merahasiakan hubungannya. Apakah budhe Rani lagi yang memberitahu ayahnya, pikir Celia. Tapi tidak mungkin budhe Rani, dari mana beliau tau, sedang mereka menganggap Celia masih pacaran dengan Alim, mereka belum tau jika ia sudah putus dengan Alim.


Sungguh Celia dilanda kebingungan yang sangat besar, otaknya terus berpikir dari mana semua bisa terungkap dengan tiba-tiba.


"Pie nduk? (Gimana nduk?)," tanya pak Sujadi lagi.


Celia masih terdiam, ia masih berusaha mencerna keadaan.


"Nduk, opo bener sing diomongne karo bapakmu kui nduk? opo bener nek pacarmu kui satpam? (Nduk, apa benar yang dikatakan oleh bapakmu itu nduk? Apa benar kalau pacar kamu seorang satpam?)," bu Sujadi bertanya pada Celia, ia kaget dengan pernyataan suaminya barusan, dan sekarang ia ingin mendengarnya langsung dari mulut Celia.


Celia menganghuk pelan, "njih bu, pak, pacar Celia seorang satpam, lantas nopo salahe satpam bu ... pak? (iua bu, pak, pacar Celua seorang satpam, lantas apa salahnya satpam bu ... pak?) jawab Celia sendu.


"Satpam kui ora salah nduk, kui yo pekerjaan halal, tapi bapak karo ibuk kepengen anake bahagia, pengen masadepan anak e cerah. Urip kui butuh materi nduk, ora mung cinta, wetengmu karo wetenge anak-anakmu ora bakal wareg mergi cinta, opo koe ora nonton kae akeh wong sing cerai mergo faktor ekonomi? (Satpam itu nggak salah nduk, itu juga pekerjaan halal, tapi bapak sama ibu mau anaknya bahagia, mau masa depan anaknya cerah. Hidup itu perlu materi nduk, tidak hanya cinta, perutmu dan perut anak-anakmu kelak tak akan kenyang hanya dengan cinta, apa kamu nggak melihat, banyak orang bercerai karena faktor ekonomi?)." Jelas sang ayah panjang lebar.


"Tapi pak, bapak sama ibu belum ketemu orangnya to, bapak jangan menilai sepihak, dia orangnya baik pak ... buk." Celia melipat bibirnya menahan agar airmatanya tidak tumpah.


"Nduk, bapak harus bicara bagaimana biar kamu paham? Sebaik-baiknya orang akan kalah dengan keadaan. Sekarang kamu bisa cinta, kamu bilang dia baik, tapi coba jika nanti kalian menikah, dengan penghasilan pas-pasan, anak butuh A sampai Z lalu kalian belum mampu memenuhi, apa yang terjadi? Rumah tangga tidak harmonis nduk." tutur sang ayah.

__ADS_1


Celia menangis, ia tak mengerti kenapa ayahnya selalu membicarakan masalah materi, padahal yang Celia tahu materi bisa dicari. Mereka bisa berjuang bersama. Lantas jika banyak materi tapi tanpa cinta apakah rumah tangga juga bisa bahagia?! Bukankah diluar sana banyak juga rumah tangga yang gagal meski memiliki harta berlimpah?! Kenapa ayahnya tak mau mengerti?! Kenapa ayahnya hanya menilai dari satu sisi saja?!


"Bapak ... Ibu ... tapi Celia cinta Khai, Celia ndak cinta mas Rama, mas Rama juga ndak cinta Celia," ucap Celia sesenggukan.


"Cinta ... cinta ... cinta terus nduk yang kamu pikirkan. Pikirkan tentang masa depan nduk, masa depanmu, masa depan anak-anakmu nanti, putuskan hubunganmu dengan pacarmu itu nduk, bapak ndak setuju. Kamu anak perempuan bapak satu-satunya, kamu cantik, kamu kebanggaan bapak dan ibu, kamu kami sekolahkan tinggi-tinggi, apakah kamu hanya akan berakhir menjadi istri seorang satpam? Apa kamu ndak kasihan sama bapak sama ibu nduk? Apa kata orang-orang nanti??!!! Pikirkan itu baik-baik nduk." Pak Sujadi beranjak dari kursinya meninggalkan Celia dengan yang masih terduduk sesenggukan disana.


Bu Sujadi sendiri masih shock dengan apa yang terjadi. Setelah semalam ia bertengkar dengan suaminya karena perjodohan sang putri, kini ia harus kembali menerima kenyataan jika ternyata sang putri menjalin hubungan dengan seorang satpam, bukan dengan ASN seperti yang pernah ia dengar.


Bu Sujadi kemudia juga beranjak pergi meninggalkan Celia, ia mengejar pak Sujadi masuk kedalam kamar, hendak menanyakan darimana suaminya itu tau kebenaran yang disembunyikan oleh putri mereka.


Tinggalah kini Celia hanya berdua dengan Wingit yang tak tahu bagaimana cara menghibur kakaknya.


"Mbak, sudah, dipikir masak-masak dulu mbak, jangan terbawa emosi, cintamu ndak salah, cinta datangnya dari hati, tapi omongan bapak juga ndak sepenuhnya salah, karena sebagai orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya," wingit mencoba menengahi.


Celia tak menjawab, ia justru semakin tersedu. Salahkah ia yang pulang kampung saat ini pikirnya, kenapa semua menjadi runyam hanya dalam waktu satu malam.


Yang membuat Celia tidak terima, dari kecil Celia merasa tidak pernah menuntut apapun dari orangtuanya, Celia selalu menurut apapun yang orangtuanya katakan, bahkan meski itu bukan sesuatu hal yang disukai ataupun diinginkan oleh Celia. Celia akan selalu mengutamakan keinginan dan kemauan orangtuanya daripada keinginannya. Lalu apakah salah jika saat ini untuk pertama kalinya meminta sesuatu yang bertentangan demgan kemauan orangtuanya tidak bisa dikabulkan?


Celia merasa ini sua tak adil untuknya, dadanya terasa sakit dan berdenyut.

__ADS_1


Celia beranjak dari meja makan, ia masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya. Ini baru hari kedua dia di desa, tapi sudah terjadi huru-hara, siapakah gerangan yang sudah tega membocorkan rahasia besarnya ini batinnya sakit. Meski Celia tau cepat atau lambat ia harus jujur kepada orangtuanya, tapi tidak dengan cara seperti ini, tidak dengan orangtuanya harus mendengar dari orang lain yang belum tentu yang diceritakan sesuai dengan apa yang sesungguhnya Celia alami dan Celia rasakan.


__ADS_2