
Thank you so much for always being there 😘 please ... don't forget to like, coment and give your vote, the last but not least ... stay healthy guys 🤗
Happy Reading 😉
🍃🍃🍃
Kemilau senja terlukis dengan megahnya di ufuk barat, semburat jingga memukau setiap netra yang melihatnya. Sungguh cantik, menakjubkan, menunjukkan betapa agungnya kuasa sang pencipta. Dalam balutan senja yang masih sedikit menyisakan hangatnya pelukan sang mentari, Celia si kembang desa, gadis ayu bermata coklat itu masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Celia memandangi ponselnya yang baru saja ia nyalakan, ada banyak pesan dari Khai untuknya, namun Celia enggan untuk melihat isinya, saat ini atau setidaknya malam ini Celia masih ingin sendiri, ia tak mau membalas pesan Khai bukan karena ia telah pasrah, ataupun menyerah dengan keadaan, Celia hanya ingin mendinginkan hati dan isi kepalanya, tak ingin jika emosinya yang sedang labil justru membuat semua semakin rumit. Lebih baik diam sesaat untuk menghindari terjerumus di jalan sesat.
Celia kembali menyimpan ponselnya diatas meja, bersebelahan dengan bubur ayam buatan sang ibu yang masih menyisakan separuhnya. Efek galau rupanya mempengaruhi indra perasa gadis cantik ini, jika biasanya apapun makanan yang dibuat dengan tangan ibunya akan ia makan hingga tandas tak bersisa, lain halnya dengan saat ini.
Lagi-lagi Celia terdiam, menikmati perihnya luka yang terukir dalam oleh laki-laki yang paling ia cintai didunia ini, ayahnya sendiri, laki-laki pertama yang dicintai anak perempuannya, yang merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya, namun ternyata juga sekaligus yang mematahkan hatinya.
Setelah pergulatan batin antara mandi dan tidak, akhirnya Celia memutuskan untuk mandi saja, terhitung sejak kemarin sore tubuhnya belum kena siram air, andai saja tak tercium aroma terapi dari ketiaknya yang aduhai, sudah tentu Celia masih enggan untuk pergi mandi.
Celia melangkah pelan, mengambil handuk yang tergantung di balik pintu kamarnya.
Baru Celia hendak meraih handle pintu, ibunya sudah terlebih dahulu membukanya dari luar.
"Lho nduk, koe arep adus (Lho nduk, kamu mau mandi)?" bu Sujadi terlihat khawatir pada Celia, mengingat putrinya itu habis semaput alias pingsan.
"Iya bu, celia mau mandi, dari kemarin Celia belum mandi."
"Ora sibin wae to nduk, awakmu opo uwis kepenak (Nggak di lap saja to nduk, badanmu apa sudah enakan)?"
"Sampun bu (sudah bu)."
"di godhogne banyu ya nduk, adus nganggo banyu anget (direbusin air ya nduj, mandi pakai air hangat)?" tawar bu Sujadi pada putrinya.
"Mbotensah bu, ngangge toya biasa mawon (nggak usah bu, pakai air biasa saja)," Celia tak ingin berlama-lama mandi, jika dia mandi dengan air hangat bisa satu jam dia baru akan keluar dari kamar mandi, dan lagi Celia tidak mau merepotkan ibunya.
__ADS_1
"Yowis nek ngono nduk, gage selak wengi, soyo adem hawane ( Ya sudah kalau begitu, buruan keburu malam, semakin dingin udaranya)."
"Njih bu (iya bu)."
Celia berjalan perlahan ke arah kamar mandi, manik indahnya tak menampilkan gairah, hanya ada sendu yang terpancar disana.
Guyuran air dingin yang dialirkan langsung dari sumur membuat Celia merasa segar, tak perlu waktu lama karena memang sedang tak ingin berlama-lama, Celia mengakhiri aktifitas mandinya.
Selepas mandi Celia hanya berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos oblong, tanpa riasan, tanpa polesan. Ketika memasuki kamarnya, Celia mendapati bubur diatas mejanya sudah berganti dengan nasi beserta lauknya.
Bu Sujadi tahu putrinya belum pulih betul, dan dia juga tak mau membuat Celia tidak makan seperti sebelumnya karena enggan keluar kamar.
Nasi putih dengan lauk opor ayam, salah satu menu kesukaan Celia, belum tersentuh, masih utuh diatas meja.
Celia justru kembali termenuh diatas tempat tidurnya. Senja yang tadi begitu indah sudah berganti menjadi petang, memyambut sang malam dengan kegelapannya.
Baru Celia ingin memejamkan mata, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya, ketika pintu terbuka, Celia dapat melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya, itu membuat Celia menundukkan pandangan dan menggigit bibir bawahnya.
Celia tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan, badanyya masih bersandar di kepala ranjang.
"Di dunia ini tidak ada yang luput dari kesalahan nduk, termasuk juga orangtua. Setiap orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, namun terkadang niat dan keinginan itu justru menyakiti anaknya. Bapak minta maaf nduk, jika keputusan bapak menjodohkan kamu dengan nak Rama membuat kamu tidak bahagia, dan justru malah tertekan," pak Sujadi menjeda ucapannya, manik tuanya menerawang lurus kedepan, kemudia kembali menatap putrinya yang masih betah berlama-lama menunduk, dengan tangan putihnya yang memainkan sprei, membuat ukiran-ukiran abstrak tak terlihat diatasnya.
Pak Sujadi melanjutkan perkataannya, "bapak akan membatalkan perjodohanmu dengan nak Rama nduk, nanti bapak yang akan bicara dengan om Rudi."
Celia seketika mengangkat kepalanya, "tapi meskipun begitu, kamu tetap tidak bapak ijinkan berhubungan lagi dengan pacarmu itu nduk. Bapak menyetujui untuk membatalkan perjodohanmu, bapak kembali memberikan kamu kebebasan untuk memilih sendiri calon pasanganmu, tapi tidak dengan seorang satpam ya nduk, carilah yang sepadan denganmu, setidaknya carilah berpendidikan tinggi, untuk masadepan kalian nanti."
Mata Celia kembali mengembun, untuk sesaat bebannya diangkat tapi sepersekian detik kemudian kembali ditindihkan. Celia senang perjodohan dengan Rama akan dibatalkan tapi ia sedih karena ayahnya masih belum bisa menerima Khai.
"Pie nduk (gimana nduk)?" tanya pak Sujadi pada putrinya.
__ADS_1
Celia menelan salivanya kasar, setetes air mata kembali menetes dipipi chubbynya. Celia mengangguk pelan pada ayahnya.
Pak Sujadi merasa lega, putrinya tak melawan lagi.
"Kamu tau ini yang terbaik buat kamu to nduk?"
Tak ada jawaban, lagi-lagi Celia hanya mengangguk pelan.
"Ya sudah nduk, sekarang kamu makan, makan yang banyak nduk biar badannya sehat lagi, bapak selalu bangga sama kamu nduk, jangan kecewakan bapak sama ibumu." Pak Sujadi mengelus rambut Celia, lalu beranjak pergi meninggalkan Celia yang kembali menangis dalam diamnya.
Maaf Khai ...
Mari kita mengalah sejenak untuk menang.
Hai diriku yang bodoh,
Jalan kau ambil ini terlalu terjal,
Medannya terlalu rumit,
Akan ada banyak pengorbanan yang akan membuat kita berdarah,
Tapi kita akan saling menyembuhkan,
Hingga pada akhirnya nanti kita yang akan jadi pemenangnya,
Membuktikan pada dunia jika kita mampu bertahan, meski badai yang kita hadapi begitu kuat,
Mari bangun lagi, meski berkali-kali kita akan tumbang,
__ADS_1
Mari tetap bersama meski dalam diam.