Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 52


__ADS_3

Happy Reading 😉


🍃🍃🍃


Selesai berpamitan pada pakdhenya, Celia lekas berangkat, ia berjalan kaki sampai di minimarket depan komplek perumahan, berharap tak perlu menunggu Khai terlalu lama, takut ketahuan pakdhe Rano. Setiap pagi setelah purna tugas kegiatan pakdhe Rano hanya mengantar cucunya ke sekolah, sudah pasti akan melewati minimarket tempat Celia menunggu Khai.


Celia merogoh ponsel dalam saku celana kain model slim fit yang ia kenakan. Gadis cantik itu tersenyum manakala melihat sudah ada pesan masuk dari Khai yang memberitahunya jika ia sudah dijalan menuju titik penjemputan, duileeehh berasa kaya ojol Khai. Tak apalah semua demi cinta, mau berangkat kerja saja harus putar arah dulu biar bisa jemput pujaan hati. Padahal sebenarnya jika ditarik garis lurus rumah Khai berada ditengah-tengah antara rumah pakdhe Rano dengan kantor tempat mereka bekerja, itu artinya Khai kurang kerjaan, buang-buang bensin. Tak mengapa, kembali lagi, semua demi cinta. Ibarat kata pujangga, gunung kan ku daki, lautan pun kan ku sebrangi, semua demi cintaku pada nyai.


Celia tiba lebih dulu, dia melihat jam yang melingkar indah dipergelangan tangannya yang putih bersih. Baru pukul 6 lebih 10 menit, dan menurut perhitungannya Khai akan sampai sekitar 10 sampai 15 menit lagi, tergantung tingkat kemacetan jalan raya.


Benar saja, 10 menit kemudian Khai datang, Celia bergegas naik ke motor Khai, tak lupa ia memakai helm, bisa berabe urusannya kalau sampai gak pakai helm, Khai yang susah nantinya.


"Langsung ke kantor apa mau sarapan dulu sayang?" Khai memulai obrolan, sembari tetap fokus mengendarai kuda besinya, jangan sampai bikin wanita cantik yang diboncengnya lecet atau tergores karena jatuh. Meski suara Khai kabur-kaburan karena terkena angin tapi itu tak lantas membuat Celia yang sedang asik dengan kegiatannya jadi tak mendengar pertanyaan Khai.


"Kita langsung ke kantor aja ya, Celia banyak kerjaan, kan kemarin habis cuti sayang," jawab Celia, dengan nyamannya ia menyandarkan kepalanya di pundak Khai, menikmati saat-saat kebersamaannya dengan lelaki kesayangannya, sambil merem-merem syahdu efek masih sedikit ngantuk, lelah sehabis perjalanan jauh. Ooo ... jadi ini kegiatan dimaksud yang sedang dilakukan si gadis dengan manik coklat ini, nemplok macam Onbu di serial Cartoon Naruto. Dalam hati Khai berkata lumayan berat, butuh konsentrasi ekstra, berkendara sembari digelendotin. Mungkin jika orang lain melihat mereka nampak seperti pasangan alay, pagi-pagi udah main gelendotan di motor kaya cicak nemplok di tembok, tak bercelah.


"Tapi kesehatan kamu juga penting sayang, kalau gak sarapan nanti kamu bisa sakit, kamu butuh asupan energi biar badan kamu selalu fit, habis perjalanan jauh pasti lelah. Sekarang aja kamu masih ngantuk gitu, gimana kamu bisa konsentrasi bekerja kalau perut kamu masih kosong, mata ngantuk, badan letih! Sarapan dulu ya, mau apa, nasi uduk, soto, lonsay, atau yang lainnya?" Nah kan kena omel sama babang pujaan hati.


Celia tersenyum dalam diamnya. Ini salah satu yang membuat Celia memilih Khai, perhatiannya selalu membuat Celia merasa istimewa dan berharga.


"Iya ... iya ... sayangku, bawel ih. Nanti Celia minta tolong sama mbak Titi aja, nitip beli sarapan, mbak Titi tiap pagi kan selalu beli sarapan, biar Celia makan di ruangan sambil lihat-lihat berkas, kemarin diinfoin sama babang Hari banyak berkas yang harus aku periksa dulu, datengnya udah sore jadi babang Hari sama a' Bayu juga gak sempet periksa."


"Yaudah sayang kalau itu mau kamu, yang penting harus tetep sarapan, makan tepat waktu, biar sehat terus."


"Iya sayang, kamu dibawain bekel ya sama ibu?"


"Iya dong, hari ini ibu masak kesukaan aku, kamu mau?"


"Pasti jengkol ya?"

__ADS_1


"Hahaha ... itu tau. Gimana, mau ga? Kalau kamu mau nanti bekelnya buat kamu aja, biar aku beli nasi uduk atau yang lainnya." Ibu Khai memang rajin membawakan bekal untuk anak-anaknya, mau yang masih sekolah mauoun yang sudah kerja, semua dibawakan bekal, selain biar hemat, masakan rumah lebih sehat.


"Lain kali aja ya sayang kalau ibu kamu bawain menu yang lainnya, hehe. Aku belum pernah makan jengkol Khai, di kampung ibu gak pernah masakin jengkol, sekarang di rumah budhe Rani apalagi, nanti kalau pipisnya bau gimana? Celia gak enak sama budhe, kalau kamu kan dirumah sendiri."


Sebenarnya Celia juga ingin sedikit mencicipi bagaimana rasanya jengkol itu, yang kata orang rasanya enak bikin nagih, gak peduli dengan aroma menyengatnya, buktinya justru banyak yang suka. Andai tidak memikirkan nasib kamar mandi budhe Rani pasti Celia sudah bilang iya pada Khai.


Khai justru tertawa mendengar penuturan Celia, "Ya udah, besok kalau ibu aku bawain bekalnya selain jengkol kamu cobain ya, biar kamu tau gimana rasanya masakan ibu, kan nanti kalau kita udah nikah kamu yang akan masakin buat aku setiap hari, aku sih gak muluk-muluk, dimasakin jengkol juga udah seneng."


Ucapan Khai membuat Celia tertegun, ada kebahagiaan dalam setiap kalimatnya. Senyum yang semula menghiasi wajah Celia perlahan memudar. Khai belum tau badai apa yang sedang dihadapi kekasih hatinya ini.


"Tentu, aku akan belajar memasak menu yang kamu sukai Khai."


Semoga Allah mendengar dan mengabulkan semua harapan kita Khai.


Khai dan Celia terus berbincang di sepanjang jalan menuju kantor, hingga tak terasa Khai sudah membelokkan sepeda motornya memasuki halaman kantor yang terlihat masih sepi, lalu masuk ke tempat parkir.


Hari ini Celia sangat sibuk dengan pekerjaannya, jadi begini rasanya kerja setelah cuti, seperti dikejar-kejar macan. Semua bilang deadline, semua minta disegerakan.


Huaaaaa ... tangan Celia cuma dua ya Allah, sabar-sabar ... pasti akan selesai kok.


Sehabis magrib Celia baru menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk, ia memutuskan untuk sholat magrib dulu sebelum pulang, biar gak kelewatan. Khai dengan setia masih menunggu Celia meski jam kerjanya sudah berakhir pukul 16.30 tadi.


Celia dan Khai, dua sejoli itu tidak langsung pulang kerumah, Celia mengajak Khai untuk mampir dulu ke taman, mumpung belum malam. Celia ingin mengatakan semua pada Khai, agar tak ada sesuatu yang disembunyikan atau ditutup-tutupi. Mengenai kedepannya bagaimana, ia akan rundingkan dengan Khai bagaimana baiknya.


"Sayang, itu di depan ada taman, mampir disitu aja, ada yang jualan juga, bisa sambil pesen minuman," usul Celia.


"OK! Boleh juga di sana sayang."


Khai menepikan kuda besinya, lalu masuk di arena parkir taman. Setelah bray si kuda besi terparkir aman, Khai menggandeng Celia mencari tempat yang nyaman untuk bicara.

__ADS_1


"Udah siap cerita?" tanya Khai.


"Ehem ... tapi kamu janji ya jangan marah, apapun yang aku sampaikan nanti jangan membuat kamu berkecil hati, kita hadapi semua sama-sama."


Sedikit banyaknya Khai sudah menduga-duga masalah apa yang akan kekasihnya itu sampaikan, apakah ini semua berkaitan dengan hubungan mereka? Apakah kedua orangtua Celia sudah tau dan mereka tidak merestui? Tak ingin pusing dengan praduganya sendiri, Khai memutuskan untuk mengiyakan permintaan Celia. Ya, apapun itu masalahnya, pasti bisa dibicarakan baik-baik dan dicari solusinya.


"Iya, insyaallah, aku gak akan marah," Khai menatap Celia dalam, dapat ia lihat mata indah Celia yang menampakkan kesedihan.


Celia meraih tangan Khai, menyatukan jemari mereka dalam genggaman. "Khai, orangtua ku udah tau tentang hubungan kita, dan ..." ucapan Celia masih menggantung, terjeda karena seperti ada duri di tenggorokannya, sulit untuk mengatakan hal pahit itu pada Khai, namun tetap harus ia katakan. Celia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya agar sedikit lebih tenang dan rileks baru ia melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong, " bapak gak setuju dengan hubungan kita Khai."


Celia menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap mata Khai, ia tak sanggup jika harus melihat kesedihan ataupun juga kemarahan dimata pria yang mengisi hatinya, mata tajam namun meneduhkan.


Jegeeerrrr.... seperti petir menyambar disiang bolong. Bagi Khai ini seperti kabar duka, duka dalam hati karena cinta yang tak direstui.


"Kenapa? Apa alasannya orangtua kamu tidak merestui hubungan kita? Apakah karena pekerjaan dan pendidikanku?" Khai bertanya dengan suara pelan.


Celia tak mampu menjawab, airmatanya sudah menganak sungai. Khai mengangkat dagu Celia agar Celia mau menatap matanya.


"Hmmm ... Sayang, apakah benar yang aku katakan, semua karena pekerjaanku yang hanya seorang satpam dan juga pendidikanku yang hanya tamatan SMK?" Khai kembali bertanya pada Celia.


Dengan airmata yang sudah membasahi pipi Celia menganggukkan kepalanya, membenarkan pertanyaan Khai.


Pemuda bermanik tajam itu mengusap wajahnya dengan satu tangan, karena tangan satunya masih digenggam Celia. Ia menundukkan kepalanya, sembari berkali-kali mengucap istighfar dalam hatinya agar tak terbawa emosi.


"Lalu bagaimana? Ada lagi yang dikatakan oleh bapak?"


"Bapak, minta agar kita tidak berhubungan lagi Khai, jika tidak bapak akan menjodohkan Celia dengan laki-laki pilihan bapak." Celia semakin terisak, beruntung tidak begitu banyak orang ditaman, dan lagi kebanyakan dari mereka juga anak-anak muda, tak mau ambil pusing dengan urusan orang lain.


Jeggeerrr ... petir kedua menyambar hati Khai, pemuda bermanik tajam itu kehilangan senyumannya yang sejak malam sebelumnya terus terukir karena bisa bertemu lagi dengan wanita yang dia sangat cintai, bisa melepas rindu dengan kekasih hatinya. Kini justru badai yang begitu besar harus ia hadapi. Sanggupkah Khai dan Celia melewati ujian cinta mereka?

__ADS_1


__ADS_2