Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 11 : Diantar pulang Mr. Coolkas


__ADS_3

Hari berganti, waktu terus berputar, ini adalah bulan ketiga Celia bekerja, Instansi pemerintah tempat Celia bekerja melakukan reorganisasi, guna tercapainya Reformasi Birokrasi, upaya untuk melakulan perubahan dan pembaharuan terhadap sistem penyelenggaraan yang menyangkut aspek organisasi, tatalaksana, serta Sumber Daya Manusia. Ini berarti akan ada perubahan manajemen kepemimpinan dari pejabat struktural eselon II hingga eselon IV. Ada yang akan tetap bertahan pada posisinya, ada yang terpilih dari fungsional menjadi struktural, ada yang naik jabatan, ada pula yang kena rolling ke Bagian atau divisi lain. Termasuk pula bu Fina, beliau kini harus menjadi Kasubbag di Sub Bagian lain, namun masih di bawah satu Divisi dengan Sub Bagaian sebelumnya, sedangkan posisi bu Fina akan digantikan oleh Kasubbag dari bagian Kerjasama.


...****************...


Hari ini Kasubbag yang baru akan datang dan mulai menempati ruangannya. Celia belum pernah bertemu dengan beliau sebelumnya meski mereka ada di bawah atap kantor yang sama.


"Bang, hari ini Kasubbag yang baru dateng kan ya, dari Bagian mana bang sebelumnya?" Celia bertanya pada Hari.


"Kalau dari kabar yang gue denger sih dari Kerjasama." Pagi-pagi mereka udah ngerumpi di pantry.


"Semoga nggak galak ya bang, Celia takut kalo galak, kan nggak lucu pas dibentak Celia pipis di celana." Celia mengaduk coklat hangat yang baru saja ia seduh.


"Gue sih berharap yang galak malahan Cel, biar lo dimarahin, ha ... ha ... ha...." Hari mengambil mug berisi coklat hangat milik Celia lalu membawanya keluar dari pantry.


"Eh, wooii.. bang-bang tut, itu coklat Celia mau dibawa kemana?"


"Buat gue, lo bikin aja lagi Cel, enak nih bikinan lo, besok bikinin lagi ya."


"Kan! bambang kebiasaan, besok Celia bikinin segalon." Celia mengambil mug lainnya lalu kembali membuat coklat hangat.


Kejadian barusan menjadi tontonan dua orang OB disana, mereka sudah tidak asing dengan kelakuan Celia dan Hari yang kadang berebut, kadang akur, kadang saling ejek. Paling banter mereka hanya bisa geleng-geleng kepala, merasa heran kantor kadang serasa taman kanak-kanak.


Baru selesai Celia membuat coklat hangatuntuk kali keduanya, belum sempat pula ia mencicipi rasanya, Hari sudah berteriak dari arah ruang kerja.


"Cel … Celia … ada talipon buat lo." Jarak antara pantry dengan ruang kerja yang memang dekat membuat Hari hanya perlu berteriak sedikit, daripada harus jalan ke belakang. Besok-besok mending disediain toa aja kantornya.


"Yoi bang, wait." Celia berjalan cepat keluar dari pantry.


"Nih, dicariin sama Alim, cieeeee." Hari menyerahkan gagang telepon pada Celia sembari menggodanya.

__ADS_1


"Hallo mas, ada yang bisa Celia bantu?"


Suara dari ujung sana menjawab dengan cepat.


"Iya, Cel ada Takah Kerjasama nggak di atas?"


"Takah kerjasama ya, ada mas, tapi masih di dalem, diruangan Pak Kepala." Lah, kalo cuma mau nanya takah kenapa ga langsung aja tadi sama babang, kan sama aja babang ataupun Celia, dasar Mr. Coolkas.


"Ooh, yaudah kalo masih di pak Kepala, nanti kalo udah tolong turunin ya, ada surat yang mau naik."


"Ok mas."Sambungan telepon diakhiri.


Entah sejak kapan, tanpa disadari oleh Celia, kini ia lebih sering berkomunikasi dengan Alim, terkadang hanya untuk hal sederhana seperti menanyakan surat dinas, meskipun sifat dingin dan cueknya Alim masih mendominasi tapi setidaknya itu lebih baik pikir Celia. Mencairkan es di kutub itu tidaklah mudah bestie.


Waktu istirahat telah usai, saat akan memulai kembali aktifitas kerjanya, Celia dan yang lainnya diminta untuk berkumpul di ruang kerja Kasubbag.


Seperti yang diharapkan, Kasubbag Celia yang baru sangat baik, terkesan nyablak dan apa adanya. Sosok yang menyenangkan menurut Celia. Beliau bahkan lebih suka dipanggil mpok daripada ibu oleh rekan-rekannya. Kapan lagi coba ada atasan se-santuy ini.


Disana usia Celia yang paling muda, jika ia memanggil Hari dengan sebutan babang, maka ia memanggil bu Kasubbag yang baru dengan sebutan kakak.


Hampir empat bulan bekerja, kini Celia sudah menjadi sekretaris dari salah satu Eselon I disana, sama seperti Hari. Celia punya satu ruangan kerja sendiri yang menempel langsung dengan ruangan Eselon I nya.


Nikmat mana lagi yang ku dustakan, dapat tempat kerja enak, kerjaan bagus, bonus kakak-kakak ketemu gedhe. Aaaiihh...senangnya dalam hati...jadi bontot sendiri!


Celia sangat bersyukur atas nikmat yang Allah berikan padanya.


......................


Hari itu Celia tidak pulang bareng pakdhenya, ada banyak deadline yang harus ia selesaikan. Bersamaan dengan itu, Bagian Persuratan juga melakukan rapat di luar jam kerja atau lembur istilahnya.

__ADS_1


Celia berkirim pesan dengan Alim terkait pekerjaan, mumpung sama-sama masih di kantor ye khaan.!


Melihat jam yang sudah menunjukkan waktu mulai larut, sekedar iseng, Celia minta diantar pulang oleh Alim, meski Celia tau kalau rumah Alim berlawanan arah dengan Celia. Celia pikir Alim akan menolaknya, secara ya kan si Alim ini cuek dan dingin, mana mau nganter pulang Celia yang bukan siapa-siapanya, mana rumahnya berlawanan.


Namun siapa sangka, Alim justru meng-iyakan permintaan Celia dengan mudahnya.


"Kamu tunggu di atas, nanti aku kesana." Begitulah bunyi pesan singkat dari Alim untuk Celia.


"Iya mas, Celia siap-siap." Jadi nggak enak nih sama mas Alim, tapi kan katanya yang namanya rejeki nggak boleh di tolak, anggap aja ini rejeki Celia pulang ada yang nagnter. Tapi kok mas Alim mau ya, mmmmm ... mungking mas Alim kasian kali ya sama Celia, masa anak perawan malem-malem pulang sendirian, dingin-dingin gitu ternyata baik ya mas Alim. Batin Celia.


Kira-kira pukul 21.00 WIB Alim naik ke lantai empat untuk menjemput Celia. Suasana kantor sudah sepi kala itu, diruangannya pun juga tinggal Celia sendirian, mungkin hanya tinggal beberapa orang saja yang masih lembur. Setelah Alim datang, mereka berdua segera turun, takut jadi fitnah sistah., fitnah itu lebih kejam daripada tidak memfitnah..


Celia berjalan bersama menuju tempat parkir, ketika mereka berdua keluar dari area kantor, ada beberapa pasang mata yang melihat, termasuk teman-teman Khai, kebetulan Khai sedang libur hari itu.


Di Perjalanan, Celia mulai merasa kedinginan, ia lupa tidak membawa jaket.


"Kamu kedinginan Cel, tadi suruh pake jaket punyaku kamu nggak mau?" tanya Alim. Cie Baru sadar mamggilnya udah aku kamu, Ihiirrrr....


"Engga kok mas, nggak dingin." Suara Celia agak bergetar menahan dingin.


Alim memutuskan untuk menepi sejenak.


"Kamu pake jaket aku, itu kamu udah kedinginan." Alim akan membuka jaketnya, tapi Celia melarang.


"Enggak mas, jangan, kalau Celia yang dibelakang aja kedinginan apalagi mas Alim yang bawa motor, udah Celia nggak apa-apa, lagian Celia kan bisa ngumpet dibelakang mas Alim. Jalan lagi yuk mas, keburu makin malem." Celia tidak mungkin menerima tawaran Alim untuk memakai jaket miliknya, ia tak tega jika Alim nantinya harus kedinginan, apalagi rumahnya jauh. Tanpa di duga-duga, Alim menarik tangan Celia lalu memasukkan kedua tangan Celia kedalam saku Jaketnya kiri dan kanan. Degh ... Untuk sesaat Celia terpaku, tidak menyangka dengan apa yang barusan terjadi.


"Tangan kamu disitu aja biar nggak dingin." Ucap Alim datar, lalu kembali melajukan sepeda motornya. Sebenarnya Alim merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Alim selalu merasa nyaman saat dia bersama dengan Celia, hanya saja dia pandai menyembunyikan apa yang ia rasakan dibalik ekspresi datar, cuek dan dinginnya itu.


"Mmm, iya mas." Jawab Celia singkat, ia masih merasa canggung.

__ADS_1


Hangat ...


__ADS_2