
"Babaaaaanggg ...baang ..." Celia berlari menyusuri koridor lantai 4, mencari-cari keberadaan Hari, hingga akhirnya yang dia cari pun ketemu, sedang nyempil di pantry bikin kopi.
"Ya Allah, ya Rabbi, apaan sih bocil, baru juga ditinggal sebentar udah nyariin." Gemas sekali Hari dibuatnya, pasalnya ia baru saja bisa bernafas lega setelah drama menyiapkan acara penandatanganan Nota Kesepahaman yang melibatkan pejabat eselon I dengan beberapa Pemda di tanah air. Ingin sekali rasanya ia menyeruput kopi susu barang sejenak biar pikiran kembali fresh sebelum kembali bergelut dengan hiruk pikuk acara tersebut, tapi sirna sudah semua angan dan cita-cita mulianya, Baru sekejap Celia sudah datang mencarinya.
"Idih lo malahan disini, tiga puluh menit lagi acara mulai bambang, proyektornya nggak mau diturunin tu, ntar buat presentasi gimana lah, kemarin Gladi Resik masih fine-fine aja, Celia udah minta Bagian Rumga juga buat segera dibenerin, tapi babang yang handle ya, abis ini Celia harus keruangan Bapak dulu baru ketempat acara." Masih berusaha mengatur nafas yang ngos-ngosan, ingin sekali rasanya Celia mencomot lalu memelintir pipi chubby Hari sebagai bentuk kekesalannya, bisa-bisanya dia nyempil kaya upil di pantry, saat suasana genting begini.
__ADS_1
"Lo kali tadi nggak permisi dulu sama dedengkotnya ruang pertemuan sana." Hari meletakkan cangkir kopinya yang belum tersentuh, lalu segera ia ayunkan cepat langkah kakinya mengikuti Celia menuju tempat acara.
"Lo dedengkotnya bang." Sewot Celia. Emang dasarnya kurang afdol bagi mereka kalau tidak debat dulu, dunia rasa sunyi dan hambar.
Acara sebentar lagi dimulai, Celia, Hari dan Bayu, masing-masing dari mereka sudah siap mengawal pejabatnya, mereka sudah siao dengan jobdes nya masing-masing. Celia memberikan pengawalan pada Sekretaris Utama, Hari memberikan pengawalan pada Deputi, sedangkan Bayu adalah gongnya, ia memberikan pengawalan pada Kepala Lembaga, menggantikan pakdhe Rano sebagai ajudan yang sebentar lagi akan memasuki masa purna bakti. Memberikan pengawalan atau protokoler baik di dalam maupun di luar, serta memastikan kelancaran jalannya acara adalah salah satu dari tugas mereka bertiga.
__ADS_1
Celia yang hanya gadis desa, tak pernah menghayal hingga setinggi ini, tapi siapa sangka takdir kehidupan membawanya terbang lebih tinggi dari hayalannya.
Celia menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya, meresapi rasa pegal di kakinya. Ting! Ada satu pesan masuk di handphone Celia, berisi sebuah foto kelopak bunga krisan yang disusun sedemikan rupa oleh Khai diatas meja hingga membentuk sebuah kata "SEMANGAT". Sederhana lebih ke nggak modal, hanya dari bunga krisan itu juga boleh ngambil dari karangan bunga di depan kantor, yang kemudian kelopaknya dipereteli oleh Khai, lalu disusun diatas meja, difoto lalu dikirimkan untuk Celia, biar sederhana yang oenting kan niat dan hasilnya ye khaaan?! Kalau sudah begini buket mawar mah lewat ceunah!
Celia dibuat senyum-senyum sendiri, malu-malu meong. Lucu sekaligus sweet sekali menurut nya. Boleh di contoh ni buat calon bapack-bapack, yang mau menyelamatkan isi dompet, apalagi di akhir bulan. Hematnya dapet, sweetnya juga dapet.
__ADS_1
Khai nyatanya mampu membuat Celia bahagia dengan caranya. Ia membuat Celia nyaman dengan sikapnya. Khai membuat Celia merasa menjadi wanita yang istimewa, ia selalu diperlakukan dengan hangat. Hingga tanpa Celia sadari lama-kelamaan mulai muncul kuncup-kuncup bunga Khai di hati Celia, tanpa sadar ia mulai membandingkan antata Khai dan Alim. Celia semakin jauh dari Alim, hubungan mereka terasa semakin hambar