
Manusia kalau sedang jatuh cinta, kata orang berjuta indahnya, manis, asem, asin, pahit, nano nano rasanya. Ada yang bilang jatuh cinta bikin perut rasanya kenyang hanya dengan memandang wajahnya, mungkin wajahnya mirip-mirip nasi padang atau hamburger kali ya. Ada pula yang bilang kalau lagi di mabuk asmara kentutnya aja baunya wangi, parah sih ini, mana ada kentut bau wangi. Begitu pula lah yang Khai rasakan, kalau ketemu bawaannya jantung berdebar nggak karuan, pandangan mata lebih terang, seterang lampu mercusuar, seperti ada yang meletup-letup di dada kaya popcorn lagi digoreng.
Sudah beberapa hari Khai mulai mencoba berkomunikasi dengan Celia, ia memberanikan diri mengirimkan pesan untuk gadis pujaan hatinya. Sederhana, hanya bertanya sedang apa, apakah ada sesuatu yang bisa dia bantu, juga mengingatkan Celia untuk tidak lupa makan. That's it! Se simple dan sesederhana itu. Khai belum berani terlalu intens menghubungi Celia, ia takut Celia justru akan ilfeel dengan sikapnya yang sok kenal sok dekat. Let it flow, biarkan semua mengalir apa adanya, Khai akan melalui jalan ninjanya dengan perlahan, tapi pasti. Pelan-pelan yang penting target akan kena pada saatnya.
Hubungan Celia dengan Alim stuck ditempat. Alim dengan kesibukannya, begitu pula dengan Celia, tak ada kemajuan. Seperti biasanya Celia yang adalah seorang sekretaris hampir setiap hari pulang malam, paling cepat Celia bisa pulang habis Magrib, itu sudah yang paling cepat ya, karena ia baru bisa pulang setelah Pejabatnya pulang. Apalagi jika akhir bulan tiba, sudah pasti ia akan lembur sampai jam delapan malam setiap harinya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa ia kerjakan di jam kerjanya, loyalitas tanpa batas.
"Deeek, kamu kok belom pulang?" kaka Nur masuk keruangan Celia, sebagai Kasubbag yang kerjaannya tentu jauh lebih banyak dari Celia, dia juga selalu pulang larut, terkadang pukul sepuluh malam baru pulang.
"Iya ni kak, lagi nyicil bikin rekab laporan bulanan, kalo siang nggak kepegang yang perintilan begini kak, udah tek tok sana sini, kakak udah mau pulang?"
"Belom dek, mau ke bawah dulu nih, mau ngerjain disana aja bareng yang lain di Kerjasama, kamu jangan malem-malem pulangnya. Pulang bareng siapa nanti? Sendiri apa di anter Alim?"
"Dianter sama mas Alim kak, kebetulan dia juga ada rapat sampe malem."
"Yaudah, sukur deh kalau ada yang anter pulang. Yaudah kalo gitu ogut turun ya dek, berani kan sendirian?" Kaka Nur memastikan anak buahnya akan baik-baik saja jika ia tinggal sendirian di lantai yang katanya kalau malem sedikit horor ini, apalagi hanya sendirian.
"Berani kakak, kan udah biasa, Celia udah temenan ama mereka, lagian bentar lagi Celia pulang, ini mas Alim udah ngabarin juga kok kak." Celia berbohong karena kenyataannya, Alim mengirim pesan jika ia masih lama.
__ADS_1
"Ok dek, ogut turun, kamu hati-hati ya, daaa ..."
"Daaa kak, kaka juga hati-hati, jangan malem-malem pulangnya, jangan kelamaan ngangkrem di Kerjasama, ntar ngantuk dijalan, kakak kan nyetir sendiri." Bawelan Celia hanya di balas tertawa, sudah biasa baginya berlama-lama di Bagian Kerjasama, yang ujung-ujung pulang kemaleman terus ngantuk dijalan.
Selepas kakak Nur pergi, Celia merapikan berkas-berkas yang menumpuk dimejanya, udah mirip kaya gunungan Bantar Gebang. Penuh takah, juga map-map SK dan surat-surat lainnya, tak lupa ia juga membalas pesan dari Alim, Celia akan pulang sendiri malam ini, terlalu lama jika ia harus menunggu Alim, badannya sudah lelah, sudah nggak sabar pengin kangen-kangenan sama kasur.
Ting ... sebuah pesan masuk di terima. Celia pikir itu pesan balasan dari Alim, namun setelah ia buka ternyata isinya bukan dari Alim melainkan dari Khai.
*Mbak Celia belum pulang ya? Saya lihat lampu ruangan mbak Celia masih menyala.*
*Iya mas Khai, saya baru mau pulang ini*
Sejenak Celia berpikir, apakah tidak apa-apa jika ia pulang diantar oleh Khai, tapi jika ia naik bus, ini sudah malam, dan lagi Celia merasa sudah sangat lelah.
*Boleh deh mas Khai, saya siap-siap dulu, sebentar lagi turun.*
*Baik mbak Celia, saya tunggu di depan.*
__ADS_1
Sebelum pulang, Celiamengirim pesan untuk Alim, bahwa ia akan pulang bareng dengan Khai. Walau bagaimanapun menurut Celia penting baginya untuk memberitahu Alim, karena ia masihlah berstatus sebagai pacarnya, terlepas dari bagaimana sikap Alim padanya.
"Mari mbak Celia silahkan naik, ini helmnya jangan lupa di pakai dulu." Khai menyerahkan sebuah helm pada Celia agar kepala gadis itu terlindungi, sekaligus biar nggak banyak mata yang mengagumi pikir Khai.
"Makasi mas Khai." Celia menerima helm dari Khai lalu memakainya, sedikit longgar dikepala Celia, terang saja wong itu helm juga Khai boleh minjem dari temannya, tapi itu bukan masalah bagi Celia, daripada nggak pakai helm sama sekali, nanti bisa ditilang sama pak polisi, cukuplah urusan dengan polisi saat salah jalan masuk tol menjadi peristiwa memalukan seumur hidup.
Awalnya sepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara, Khai bingung ingin memulai dari mana, sedang Celia dia terlalu lelah hanya untuk sekedar mengobrol, bahkan matanya kini malah semakin sayup-sayup ingin merem, keenakan terkena hembusan angin malam yang sepoi-sepoi, menyapu wajahnya. Gadis ini memang benar-benar keterlaluan, mau dengan Alim atau dengan Khai, bahkan dengan ojek sekalipun, dia pasti akan merasa mengantuk jika dibonceng waktu malam.
"Mbak Celia, kenapa pulangnya malem terus?" Khai mulai membuka obrolan, biar nggak kaku-kaku amat.
"Banyak deadline mas, oh iya panggilnya Celia aja mas, nggak udah pakai mbak segala, berasa tua Celia."
"Iya mbak Celia, tapi saya nggak enak mbak."
"Kasih kucing aja mas kalau nggak enak."
Celia menjadi navigator untuk Khai, sesekali ia menunjukkan arah jalan kerumah budhenya. Padahal tanpa sepengetahuan Celia, Khai sudah hafal betul jalannya. Berkat bakat terpendam nya menjadi agen CIA yang pernah membuntuti Celia, stalker berbakat kamu Khai.
__ADS_1
Khai mengantarkan Celia Pulang hingga tepat di depan rumahnya. Basa-basi Celia menawarkan pada Khai untuk mampir terlebih dahulu, namun Khai menolaknya dengan alasan sudah malam, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tidak enak jika pria berkunjung di rumah seorang gadis malam-malam. Setelah itu Khai berpamitan pada Celia dan ia langsung pulang. Cukup merasa salut Celia pada Khai dengan etikanya, ia ingat kemarin malam ia mendapat teguran dari budhe Rani karena sudah pukul 22.00 Alim belum mau pulang dari sana, budhe Rani merasa tidak enak pada suaminya, juga ia takut menimbulkan fitnah jika tetangga-tetangga nya melihat. Celia merasa sangat malu pada budhe dan pakdhenya, bukan Celia tidak meminta Alim untuk segera pulang, tapi Alim beralasan jika dia masih lelah untuk melanjutkan perjalanan. Hal itu berujung dengan keesokan harinya sikap budhe Rani pada Celia jadi sedikit berubah, budhe Rani terlihat kesal. Sangat wajar, Celia adalah tanggung jawab mereka, dan memang tidak sepantasnya laki-laki bertandang dirumah wanita hingga selarut itu. Masih untung nggak digrebek warga, pasalnya di dekat rumah budhe Rani banyak pemuda yang sering berkumpul, budhe khawatir menyulut amarah mereka.