Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 37 : Tamu Bapak 1


__ADS_3

Happy Reading 😉


Hati-hati typo bertebaran 😵


🍁🍁🍁


Sore Hari yang indah di desa yang asri, tenang, dan damai, sedamai tidurnya tuan putri Celia Novalia Sujadi. Dengkuran halusnya terdengar syahdu, sampai ia tak mendengar berkali-kali adiknya mengetuk pintu kamar juga memanggil namanya.


"Mbak ... mbak ...," panggil Wingit.


tok ... tok ... tok ...!!!


Berulang kali Wingit mengetuk pintu, dari ketukan kalem sampai ketukan penagih hutang.


Wingit terus memanggil-manggil kakaknya akan tetapi Celia tak kunjung menyahut.


"Mbak, koe turu opo semaput to (mbak, kamu tidur atau pingsan ya)?" Wingit mulai dilanda kesal, jika saja bukan ibunya yang menyuruh untuk membangunkan sang kakak tentu ia ogah melakukannya.


Di saat yang di luar sedang frustasi, yang di dalam kamar masih asik bergelung di dunia mimpi, sesekali ia menggeliat merenggangkan ototnya, berganti posisi yang bisa membuatnya merasa semakin nyaman. Celia sama sekali tak terlengaruh dengan teriakan adiknya, benar-benar definisi deep sleep yang sesungguhnya.

__ADS_1


Tak sabar lagi, Wingit menarik handle pintu kamar Celia dan membukanya. Ia mengacak rambutnya kesal, sedari tadi nungguin di depan pintu, teriak-teriak layaknya tarzan di hutan, tak taunya yang dipanggil masih pulas tertidur. Wingit tersenyum smirk, terlintas ide untuk menjahili kakak perempuannya itu.


"Hei kebowati, rasakan ini," ucapnya penuh dendam-dendam kesumat, dengan gerakan pelan Wingit membuka kaus kakinya yang sudah seminggu tak di cuci, seketika ruangan yang hanya berukuran 3 x 4 meter itu semerbak beraroma menusuk indra penciuman.


Perlahan-lahan Wingit berjalan mendekati ranjang kakaknya, dan dengan pelan tapi pasti dia mulai menjulurkan tangannya mendekatkan kaus kakinya itu ke hidung Celia hingga menempel sempurna. Tangannya ikut bergetar karena mati-matian menahan tawa agar tak meledak dan menggagalkan rencana sedikit jahatnya. OK! katanlah ini keterlaluan, tapi bagi Wingit dan Celia ini adalah hal biasa, cukup biasa untuk membuat amarah seketika meledak.


Celia mulai bergerak gelisah dalam tidurnya, ia mencium bau sesuatu, bau yang seperti sudah tak asing di hidungnya, sangat tajam dan menusuk sampai ke pangkal hidung. Alam bawah sadar Celia memaksanya untuk mengingat bau apakah itu, sambil perlahan ia membuka matanya, samar-samar Celia melihat adiknya berdiri membungkuk, bibirnya terlipat menahan sesuatu, sedang tangannya ... yaaaa... tangannya terulur menempelkan sesuatu ke hidung Celia, Celia terbelalak, tangannya refleks menyingkirkan benda beraroma bu_suk itu dari hidungnya lalu segera bangun. Dengan jelas kini dapat dia lihat benda yang berbau bu_suk itu adalah kaus kaki adiknya. Mata Celia langsung melotot sebesar biji beton, betonnya durian ya tapi, bukan beton nangka.


"Si cupid si_@lan, nggilani koe ki reti ra (si cupid si_@lan, jijik kamu tu tau nggak)!!!" teriak Celia marah pada adiknya, mimpinya berkencan dengan Jang Geun Suk harus kandas hanya gara-gara aroma kaus kaki adiknya itu.


hueeek ... hueeeekk ... Celia merasa mual meski tak ada apapun yang ia keluarkan dari dalam perutnya. Sedang tersangkanya saat ini malah tertawa terpingkal-pingkal sampai meringkuk di pojokan kamar sambil memegangi perutnya yang kram saking terlalu banyak tertawa.


"Nah iki wes tangi bocahe, mau ibu ngakon Wingit nggugah koe nduk, kok suwe timen lagi njedul, ayo gek ndang adus, dandan sing ayu (Nah ini sudah bangun anaknya, tadi ibu minta Wingit buat bangunin kamu nduk, kok lama sekali baru keluar, ayo buruan mandi, dandan yang canti)."


"Lha nopo bu? Ajeng kesah nopo bu, kok Celia di ken dandan ayu (lha kenapa bu? Apa mau pergi ya bu, kok Celia disuruh dandan cantik)?" tanya Celia heran membuat ia melupakan kekesalannya pada Wingit. Selain itu Celia juga melihat ibunya sedang sibuk menyiapkan sesuatu seperti mau ada acara dirumahnya.


"Kancane bapakmu arep mampir dolan mrene nduk (teman bapakmu mau mampir main kesini nduk)," jelas bu Sujadi.


"Lha terus kenapa Celia harus dandan cantik to bu, kan bapak sama ibu yang nemuin tamunya, Celia dibelakang saja nyiapin minum," tukas Celia, kenapa juga Celia diharuskan untuk berdandan, biasanya jika ada tamu ayahnya dia tak pernah dilibatkan, paling-paling hanya kebagian job membuatkan teh atau kopi.

__ADS_1


"Wis to, ora usah protes, bapakmu sing maringi dawuh, manuto wae to nduk, wong gari adus terus dandan wae kok yo angel (sudah, jangan banyak protes, bapakmu yang memberi perintah, nurut saja to nduk, orang tinggal mandi terus dandan saja kok ya sulit)," pungkas bu Sujadi agar Celia tak banyak protes dan bertanya terus, karena ia pun tak tau apa maksud suaminya meminta sang putri ikut menemui tamunya itu.


"Inggih kanjeng ibu, sendiko dawuh (Iya kanjeng ibu, siap laksanakan)," Celia menghormat ala-ala abdi kerajaan, membuat sang ibu geli melihat tingkahnya.


"Wo lha bocah iki kayane sih ngelindur, mbok kiro ibumu iki ratu pie (wo lha anak ini sepertinya masih ngeli dur, kamu kira ibumu ini ratu)." Bu Sujadi selalu dibuat tertawa oleh ulah Celia.


Setelah mendapat perintah dari ibunya Celia segera mandi dan berdandan, ibunya meminta agar Celia terlihat anggun. Jadilah ia sekarang kembali mengenakan dress model A Line dibawah lutut berwarna soft orange dengan hiasan pita di pundak kirinya, sederhana namun anggun dan elegan, di padukan dengan rambut keriting gantungnya yang ia biarkan tergerai indah membuat kesan dewasa.


Celia memoles bibirnya dengan lipstick matte berwarna nude, blush on warna pink membuat pipi chubby Celia terlihat merona namun terkesan lembut. Jika saja Khai melihat penampilan Celia saat ini dia pasti akan terpesona tak berkedip dibuatnya.


Celia masih bertanya-tanya siapakah gerangan tamu yang konon katanya teman ayahnya itu, sampai ia harus berdandan seperti mau kondangan seperti ini.


Sebelum Celia keluar kamar ia sempatkan untuk memberi kabar dulu pada Khai, tak lupa Celia mengirimkan foto dirinya yang sedang tersenyum manis dengan satu tangan di dagu, ia katakan jika akan ada tamu dirumahnya.


# Slow respon ya sayang, mau ada tamu bapak, tapi Celia nggak tau siapa. (Celia)


# Cantiknya peri kecilku, bikin hati abang meleleh. (Khai)


# Iya sayang nggak apa-apa, temuin dulu tamunya. (Khai)

__ADS_1


Khai sangat terpukau dengan kecantikan Celia, meski hanya sebuah foto namun aura kecantikan Celia memang terpancar, apalagi dengan ia berdandan seperti itu. Namun entah mengapa perasaan Khai tidak enak, ada yang mengganggu hatinya, seperti rasa khawatir akan sesuatu tapi tak tau apa itu. Khai berusaha mengacuhkan perasaannya itu, ia tak ingin dirinya berpikiran negatif tentang apapun itu.


__ADS_2