
Setelah drama ikan terbang yang berujung berpelukan ala Teletubbies dengan kak Nur, Celia kembali ke ruang kerjanya untuk segera mengerjakan RAB yang barusan diminta oleh kak Nur, Celia lupa tujuannya ingin mengambil air di pantry. Rasa hausnya menguap entah kemana, yang Celia pikirkan saat ini, ia ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaannya, ia bahkan melewatkan jam makan siang.
🍁🍁🍁
Sang surya mulai terbenam di ufuk barat, menyisakan semburat jingga keemasan.
"Cantik sekali." Celia bergumam, seorang diri ia berada di roof top, menatap lurus ke depan, mengagumi indahnya siluet senja, hasil dari maha karya Yang Maha Kuasa.
Angin sepoi berhembus menyapu wajah Celia, sejuk, tapi sayangnya membawa debu dan polusi, bagaimana tidak?! Lihatlah cerobong-cerobong asap dari kawasan industri, menjulang tinggi mengepulkan asap tebal berwarna hitam pekat, membubung tinggi lalu tersapu angin, terhempas, terbawa kemanapun angin berhembus. Jangan lupakan asap-asap tak terlihat dari sekian banyak kendaraan bermotor yang tumpah ruah di jalanan, hingga menimbulkan kemacetan. Berapa banyak gas karbon yang dihasilkan dari setiap knalpotnya?
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Metropolitan menyatakan, sebanyak 75 persen polusi udara berasal dari emisi kendaraan bermotor roda dua dan roda empat. Belum lagi dampak yang ditimbulkan oleh emisi gas buang dari industri dan juga dari kendaraan bermotor tersebut yang mengakibatkan global warming, naiknya permukaan air laut, anomali cuaca serta menipisnya lapisan ozon, sedangkan bagi kesehatan, gas timbal yang terus-menerus dihirup akan menumpuk hingga dapat mengakibatkan gangguan saluran pernafasan atau asma juga penyakit jantung, selain itu juga dapatmemicu peradangan, hingga mengembangkan sel kanker. Meski teramat mengerikan dampaknya, warga kota metropolitan mau tidak mau harus berteman dengan keadaan ini setiap harinya, tak terkecuali Celia.Ia jadi amat rindu menikmati sejuknya embun dipagi hari, rindu menghirup aroma padi yang di panen, juga rindu dengan gelak tawa anak-anak yang berlarian di sawah bermain layang-layang.
"Pak ... buk ... Celia rindu ingin pulang." Matanya menyapu kesegala penjuru, senja yang sudah berganti petang menyajikan pemandangan yang berbeda, lampu-lampu mulai menyala berkelap-kelip, memang indah, tapi tetap tak seindah kerlipan lampu kunang-kunang seperti bintang tapi dapat disentuh.
"Liburan nanti Celia harus pulang." Celia menyemangati dirinya sendiri.
Seharian ini Celia tak mencoba menghubungi Alim juga Khai, bahkan chat terakhir dari Khai belum ia balas. Celia ingin sebentar saja mendinginkan hati dan pikirannya. Memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil, apakah harus mempertahankan Alim, atau melepaskan Alim demi Khai. Celia ingin bertanya pada hatinya, siapa yang bertahta disana. Ia ingin bertanya pada hatinya, apakah ia sedang dilanda rasa jenuh menjalani hubungan yang monoton dengan Alim, jenuh dengan sifat dan sikap Alim hingga ia merasa begitu nyaman dan diistimewakan saat bersama dengan Khai. Ia ingin bertanya pada hatinya, apa yang sebenarnya ia rasakan pada Khai, rasa cinta kah, atau hanya sekedar pelarian semata. Celia harus benar-benar tahu apa yang di mau oleh hatinya agar bisa menetapkan pilihannya, dimana hatinya akan berlabuh dan dppengan siapa hatinya akan bahagia, agar kedepannya tak ada lagi yang terluka, cukup sekali ini saja.
__ADS_1
"Mas Alim ... Khai ... mas Alim ... Khai ...? Ah Celia pusing." Kenapa begitu sulit menetapkan pilihan? Karena urusan hati tak semudah itu ferguso. Rumit, lebih rumit dari rumus phytagoras. Pilihannya saat ini akan menentukan masa depannya kelak. Jika Celia memilih Alim, masa depan Celia akan terjamin, terang saja Alim sudah berstatus pegawai negeri, itu artinya dia punya pekerjaan mapan serta penghasilan yang cukup besar, beroendidikan lulusan perguruan tinggi ternama, bahkan saat ini sedang kembali mengajukan ijin tugas belajar untuk melanjutkan ke jenjang S2, Selain itu Alim berasal dari keluarga berada yang cukup religiuspp. Hanya saja jika dengan Alim, Celia takut tak bisa mengimbangi nya, belum lagi karakter Alim yang cuek, datar, dingin juga saklek. Baru pacaran saja Celia merasa ada rasa jenuh, bagaimana nanti jika sampai ke jenjang pernikahan?! Apakah ia akan merasa bahagia?!
Jika Celia memilih Khai, ada ketakutan Khai hanya sebagai pelarian bagi dirinya tapi pun tak menampik jika dihatinya memang sudah tumbuh benih-benih rasa cinta. Lain daripada itu, sudah tergambar jelas di depan mata perjalanannya tak akan mudah, banyak lika liku yang harus Celia hadapi. Masa depannya tak akan secerah jika bersama Alim, karena Khai hanya seorang security lulusan SMK, dari keluarga biasa, kuliahnya pun masih abu-abu apakah akan lanjut atau mandeg di tengah jalan. Jika bersama Khai maka Celia harus siap berjuang bersama mulai dari nol. Celia juga harus siap menghadapi keluarganya. Celia yakin seyakin yakinnya, ayahnya pasti akan menolak Khai, termasuk budhe, pakdhe, juga keluarganya yang lain. Sedari dulu Ayah Celia selalu berharap agar kelak putrinya dapat menikah dengan abdi negara, dengan seseorang yang tentu saja sudah mapan baik dari segi ekonomi juga pendidikannya, selain akan menjamin masa depan putrinya secara tidak langsung dapat semakin mengangkat derajat keluarga, apalagi bagi orang desa, tentu menjadi kebanggaan memiliki menantu abdi negara, mapan, berpendidikan tinggi. Celia teringat dulu sewaktu masih duduk di bangku kuliah pernah sekali ia membawa laki-laki yang sedang dekat dengannya untuk datang kerumah, namun belum apa-apa ayahnya langsung menolak mentah-mentah hanya karena laki-laki itu bukan anak kuliahan. Semenjak saat itu Celia kapok mengenalkan seseorang yang sedang dekat dengannya pada keluarganya.
Hal itu pasti akan terulang kembali jika Celia memilih Khai. Semakin dipikirkan semakin Celia pusing dibuatnya, bukannya dingin, otaknya justru semakin ngebul.
Angin malam bertiup kencang, membuat rok putih panjang model payung milik Celia berkibar-kibar indah bak model kelas dunia. Dirasa lelah Celia memutuskan untuk segera pulang saja, tapi sebelum itu Celia harus memesan ojek online terlebih dahulu, agar ketika dia turun, pak ojolnya sudah datang.
Wuuussshh ... wuuuushhh ... angin semakin kencang, semakin berkibar melambai-lambai pula rok putih Celia, mendadak gadis itu ingat blowing up scene nya Merilyn Monroe lalu dengan iseng menirukannya.
"Mana setannya?"
"Itu ... itu ... di roof top." Tunjuknya tepat kearah tempat dimana kain putih yang dikiranya kuntilanak berada.
"Allahu, baca ayat kursi buruan!!!" Titah temannya ikut panik.
"Bismika allohumma ahyaa wa bismika amuut.”
__ADS_1
"Itu doa tidur pe_@k, anak TK juga tau."
"Gue hafalnya itu pe_@k, tiap mau tidur gue baca biar nggak dikelonin setan, mendadak lupa gue ayat kursi awalannya gimana."
"Payah lo, keburu nyamperin kesini setannya."
"Lo yang payah, kenapa nggak lo aja yang baca ayat kursinya."
"Kalo gue hafal udah gue baca dari tadi nyet."
Dua security itu malah terlibat perdebatan, sedang si biang keladinya yang tadi asik joget-joget Merilyn Monroe sudah ngacir turun ke lantai bawah karena sudah ditunggu pak ojolnya, ketika Celia melewati dua security itu mereka tak begitu memperhatikannya, tetapi Celia dapat mendengar mereka sedang khusyuk mendengarkan lantunan ayat kursi dari ponsel masing-masing.
Apa di kantor ini ada setannya, kok pada dengerin ayat kursi. Pikir Celia.
......................
Keesokan paginya kantor heboh dengan adanya berita kuntilanak nangkring di atas roof top.
__ADS_1