
Happy Reading 😉
You are my support system, don't forget to like, coment and vote 👍 Big hug and thanks 🤗
🍃🍃🍃
Masih dengan kepanikan yang mendera dan airmata berlinang, bu Sujadi terus berusaha membangunkan putrinya. Minyak kayu putih yang di pegang bu Sujadi masih setia bertengger di depan hidung Celia.
Perlahan, gadis cantik bermata bulat itu membuka matanya, manik coklat itu mulaibterlihat. Seketika Bu Sujadi dan Wingit dapat bernafas lega.
"Lee, cepat buatkan teh untuk mbakmu," pinta bu Sujadi pada putra bungsunga.
"Nggih buk," Wingit segera berlari ke dapur untuk membuatkan teh. Tangannya dengan cekatan mengambil teko, mengisinya dengan air dari galon, melwtakkannya di atas kompor dan lekas menyalakannya, lalu tinggal menunggu hingga air dalam teko mendidih. Sembari menunggu, tangannya terampil memgambil dua gelas belimbing menuangkan dua sendok teh gula dan sejumput teh original khas kaki gunung.
"Hmm ...," belum di seduh saja aroma wanginga sudah menguar.
Kembali ke dalam kamar Celia, gadis cantik yang baru siuman dari pingsannya itu memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Nduk, Alhamdulillah kamu sudah bangun, kenapa bisa sampai begini nduk, apa yang kamu rasakan? kepalamu masih sakit nduk?" rentetan pertanyaan dari ibunya hanya bisa ia jawab dengan gelengan.
Dengan lembut bu Sujadi mengusap rambut putrinya, manik coklat putrinya yang biasanya memancarkan keceriaan itu kini terlihat redup. Kelopaknya terasa berat karena bengkak.
__ADS_1
"Nduk, jangan bikin khawatir to nduk, jangan kamu siksa dirimu sendiri, kamu ndak mau keluar kamar dari kemarin, ndak makan ndak minum, sampai pingsan, ibu tahu kamu marah, kamu sesih, kamu kecewa, tapi jangan menyiksa diri ya nduk," bu Sujadi menggenggam tangan sang putri, menyalurkan kasih sayang yang tak terhingga untuk putri cantiknya. Celia tak mampu menjawab, bibirnya seakan terkunci rapat, semua kata-kata yang ingin ia ungkapkan seperti tertahan, tercekat, menumpuk di tenggorokan, lidahnya kelu, mata bulatnya mulai mengembun siap meluncurkan bulir beningnya kapan saja. Bibir indah yang biasanya selalu membuat suasana rumah menjadi hidup, menjadi ceria dan hangat dengan celotehannya itu kini hanya membisu.
"Nduk ...," tangan lembut bu Sujadi membelai wajah ayu Celia. Gadis cantik bermata bulat itu menggigit bibir bawahnya, menahan agar air matanya tidak tumpah. Namun sia-sia, pertahanan Celia runtuh, air mata gadis itu meluncur bebas membasahi pipinya yang halus.
"Kenapa bapak tega bu?", hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya.
"Jangan bicara seperti itu nduk, terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu baik dimata orang lain nduk."
"Tapi Celia ndak mau dijodohkan bu, jika nanti menikah, Celia hanya ingin menikah dengan orang yang Celia cintai, bukan dengan laki-laki yang baru Celia kenal, kenapa bapak tega melakukan itu, ibu ... tolong Celia bu, Celia benar-benar ndak mau dijodohkan," Celia terisak merengek pada ibunya, dia pikir saat ini hanya ibunyalah yang bisa mengubah keputusan ayahnya.
"Nduk, cobalah berpikir dulu, bapak melakukan itu karena sangat menyayangi kamu nduk, kamu adalah permata hatinya, putri kesayangannya. Bapakmu itu sangat mencemaskan masadepanmu nduk, bahkan sejak kamu kecil bapak itu sudah punya kriteria calon suami untuk putri cantiknya, lucu memang, tapi itulah bapakmu yang sangat menyayangi kamu nduk," bu Sujadi mencoba memberi penjelasan kepada Celia, walau sekesal dan semarah apapun ia pada suaminya, setidaknya keputusan yang diambil suaminya memang baik untuk putri mereka, meskipun memang cara yang digunakan menurutnya juga kurang tepat. Bu Sujadi tak ingin putrinya marah atau sampai membenci ayahnya karena masalah ini. Ia merasa semua masih bisa dibicarakan.
"Bu, ini tehnya, hat-hati masih panas," wingit datang dengan membawa nampan berisi dua gelas teh tubruk panas yang menguarkan aroma khas teh kaki gunung.
Celia menyeruput perlahan teh yang masih panas itu, aroma teh yang wangi membuatnya merasa rileks, merasa tenang dan lebih baik. Minum teh tak pernah terasa senikmat ini sebelumnya, apa iya dia harus puasa dulu 24 jam agar bisa menikmati teh seenak ini, pikir Celia.
"Diminum pelan-pelan nduk, biar pulih tenaganya."
Celia mengangguk meng_iyakan.
"Perlu tak celukne dokter ora mbak (perlu aku panggilkan dokter tidak mbak)?" tanya Wingit.
__ADS_1
"Ora perlu, aku ora opo-opo (nggak perlu, aku nggak apa-apa)," jawab Celia menggeleng pelan.
"Tenane? Nek sih loro sirahe tak celukne dokter, dokter jiwa tapi, opo psikiater mbak (Yang bener? Kalau kepalanya masih sakit aku panggilkan dokter, dokter jiwa tapi, atau psikiater mba)?" Wingit menggida kakaknya, ia ingin kakaknya kembali seperti biasanya, sesih ia melihat kakaknya yang kacau seperti itu hanya karena yang namanya cinta.
Celia mengerucutkan bibirnya, matanya memicing dengan alis menukik tajam, lebih tajam dari tikungan mantan, "Lha po gendheng, aku isih waras (lha apa gila, aku masih waras)."
Wingit terkekeh mendengar jawaban dari kakaknya.
"Lee, bapakmu mau wis mbok kabari durung (Lee, bapakmu tadi sudah kamu beritahu belum)? tanya bu Sujadi pada putranya, untuk mengalihkan bibit-bibit perdebatan antara dua anaknya itu.
"Sampun bu, tapi HPne bapak mboten aktif, mboten saged dihubungi, tapi kulo sampun kirim pesan, dadose mangke mawi sampun aktif bapak saged langsung maos (Sudah bu, tapi HPnya bapak nggak aktif, tidak bisa dihubungi, tapi aku sudah mengirim pesan jadi nanti kalau sudah aktif bapak bisa langsung baca)."
"Ooo ... Yowis rapopo, sing penting wes dikabari (Ooo ... Ya sudah nggak apa-apa, yang penting sudah dikabari)," ucap bu Sujadi pada si bungsu Wingit. Semenjak Celia pergi merantau, bu Sujadi selalu mengandalkan putra bungsunya, jika dulu ia bisa bersantai ria karena ada Celia sang kakak, berbeda dengan saat ini, Wingit yang sekarang adalah Wingit yang sedang belajar menjadi dewasa, belajar bertanggung jawab sebagai anak laki-laki dikeluarganya, penerus dari ayahnya kelak.
Celia yang masih lemah, menyapukan pandangannya ke seisi kamar, netranya menemukan serpihan benda berkilau yang berserakan dilantai, "Bu, itu apa yang berserakan? seperti pecahan piring," tanya Celia pada ibunya.
"Astaghfirullah, ya Allah nduk, ibu lupa, tadi itu ibu lagi nyuci piring waktu adikmu tiba-tiba bilang kalau kamu pingsan, ibuk panik lihat kamu tergeletak dilantai, piringnya ibuk lempar sembarangan," jelas ibunya. Bu Sujadi bangkit dari duduknya, ia kembali mengusap pelan kepala Celia sebelum akhirnya beranjak pergi untuk mengambil sapu dan pengki guna membersihkan serpihan beling, takut jika nantinya terinjak. Namun sebelum benar-benar meninggalkan kamar putrinya bu Sujadi berbalik, "Ibu, buatkan bubur ya nduk, kamu belum makan dari kemarin." Celia mengangguk pada ibunya.
"Mbak, ibuk sangat khawatir, jangan mengurung diri lagi, semua bisa dibicarakan dengan baik-baik," ucap Wingit dengan logat Javanese nya.
"Hemmm ... I know it," jawab Celia, ia masih terus menyeruput teh buatan adiknya itu.
__ADS_1
"Hiliih, sok Inggris, bar semaput kok rodo konslet (Hilih, sok Inggris, habis pingsan kok sedikit konslet)."