Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 29 : Olahraga


__ADS_3

🍃🍃🍃


Mentari pagi telah menyapa, hangatnya menyentuh kulit putih Celia, meresap masuk hingga ke setiap syaraf-syaraf dan tulangnya, menyalurkan energi positif ke seluruh tubuh. Kicauan burung tetangga yang merdu membawa ingatan Celia pada suasana pagi di desa. Celia tersenyum, meski kini yang ia lihat bukan hamparan sawah dengan padi yang menguning melainkan deretan rumah tetangga yang pagarnya selalu tertutup rapat, namun sejauh ini ia sudah bisa beradaptasi dengan baik.


Celia duduk santai di teras depan rumah, sabtu pagi yang menyenangkan pikirnya, ia hirup dalam-dalam udara pagi yang mungkin belum terlalu tercemar dengan polusi.


"Hueekk ...."


Salahnya yang menghirup udara terlalu dalam, hingga aroma gunung sampah dari TPS terbesar di tanah pertiwi ikut terhirup pula. Jaraknya yang hanya 9 KM membuat aroma-aroma tak sedap itu masih dapat tercium jika terbawa angin. Celia jadi semakin tidak sabar untuk segera pulang kampung, satu minggu lagi, ia sudah teramat rindu dengan kampung halamannya, juga dengan orangtua, adik, bahkan tetangga-tetangga julidnya.


Celia sudah mengajukan cuti dari satu minggu yang lalu agar tidak terkesan mendadak.


Celia kembali melengkungkan senyumnya, ingatannya terbang melintasi lorong waktu kembali pada kejadian semalam tadi. Refleks Celia menyentuh bibirnya. "Kamu mengambil yang pertama Khai." Gumamnya lirih mengingat momen ketika bibir Khai mendarat lembut di bibirnya.


Getaran-getaran mirip aliran listrik kembali ia rasakan, dadanya berdesir , jutaan kupu-kupu seakan kembali terbang memenuhi perutnya, menggelitik.


"Aaarrrggghhh ... !!" Celia menutup wajahnya malu, entah malu pada siapa, wong kenyataannya disana sedang tak ada siapapun kecuali dirinya, mungkinkah Celia malu pada cicak-cicak di plafon yang diam-diam merayap, menatapnya curiga dan penuh tanya, kenapa ada gadis cantik tapi sedikit gi_La, pagi-pagi sudah senyam-senyum sendiri.


Celia duduk bersila di atas kursi, mengambil sikap yoga, sepertinya dia harus segera menetralisir debaran, desiran dan letupan di dadanya, takut jantungnya tak kuat menahan efek jatuh cinta.


Ia berusaha memfokuskan pikirannya, matanya terpejam sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, begitu terus Celia lakukan berkali-kali, baru kemudian setelah dirasa jantungnya kembali normal ia baru membuka matanya.


"Astaga naga bergola!" Jantungnya yang sudah normal kembali harus kembali dibuat shock. Bagaimana tidak, persis ketika Celia membuka matanya pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah meringis kaka sepupunya tepat berada di depannya, hanya berjarak tiga jengkal.


"Woi, A min, ngapain kamu? Latihan semedi?" Mas Fajar rupanya sejak tadi memperhatikan tingkah aneh Celia.


"Kepooo ... jangan kepo uda, orang kepo e_e nya sembelit!" Celia beranjak dari duduknya hendak menonton televisi.


"Eeiittsss mau kemana kamu A min, ayo olahraga, buruan ganti baju kamu."


"Libur uda, Celia mau menikmati hari yang indah ini sambil nonton berita gosip terupdate."

__ADS_1


"Nggak ada gosip-gosipan, ayo buruan ganti baju." Mas Fajar menarik kerah baju Celia layaknya anak kucing.


"Aaaa ... uda libur sekali aja lah." Celia masih berusaha menego meski kini ia sudah dibawa sampi ke depan kamarnya, mas Fajar tak menjawab, ia hanya menyilangkan tangannya di depan dada yang berarti tak ada penolakan, tak ada alasan.


"Huuuh ... dasar suami jomblo, mbak roroooo ... suami mbak ni rese, mbak kapan wisudanya sih, kan gegara tiap weekend ditinggal ngampus istrinya si uda nyiksa Celia." Celia terus menggerutu di dalam kamarnya.


"A min cepetan keburu panas." Mas Fajar memang sering memanggil Celia dengan sebutan A min, karena menurutnya ukuran dada Celia tergolong kecil jika dibanding dengan wanita-wanita lain seusianya. Sungguh amazing sekali kakak sepupunya ini, tak adakah alasan yang lebih bagus, kenapa harus dari ukuran dada.


"Iya ... iya uda." Celia keluar dari kamarnya sudah lengkap dengan pakaian olahraga.


Setelah melakukan pemanasan Celia dan mas Fajar jogging bersama, ini adalah kebiasaan mereka setiap hari sabtu, oh mungkin lebih tepatnya kebiasaan mas Fajar yang dia terapkan juga pada adik sepupunya.


1 blok pertama masih aman, Celia masih bisa membersamai langkah kakah sepupunya, tapi lama kelamaan tenaganya mulai berkurang, kakinya mulai lelah dan nafasnya sudah kembang kempis. Seperti yang sudah-sudah Celia hanya mampu berlari sampai ujung blok 1, di blok selanjutnya ia hanya akan jalan cepat, sedangkan mas Fajar pasti ngacir duluan dan akan menunggunya di rumah.


"Uda, udah nggak kuat lah Celia, uda duluan aja, Celia nyusul di belakang." Ucap Celia ngos-ngosan.


"OK!" Mas Fajar mengacungkan jempolnya.


Tak langsung pulang, Celia justru mampir dulu ke pasar di blok 3 demi menghindari kakak sepupunya yang gila olahraga itu.


Celia tahu niat mas Fajar baik mengajaknya untuk rajin olahraga, tapi sungguh, pagi ini Celia sedang malas, ia ingin bermalas-malasan ria.


"Apalagi ya?? Sayur mayur udah, ikan, ayam, tahu, tempe udah semua, cemilan juga udah kok. Pulang ah, udah pegel nenteng belanjaan." Gumam Celia, kini ia sudah sangat mirip dengan emak-emak berdaster yang hobbynya nawar belanjaan di warung.


Hampir dua jam Celia habiskan hanya untuk belanja. Kedua tangannya serasa mau lepas, saking pegal menenteng beberapa kantong plastik penuh berisi belanjaan. Berharap sampai rumah tinggal mandi terus cooking time santuy lanjut leha-leha sambil baca novel ngabisin waktu, namun naas sekali, harapannya harus menguap begitu saja, mas Fajar masih dengan semangat 45 nya menunggu Celia di depan rumah. Bibirnya tersenyum smirk, matanya memancarkan kilatan-kilatan rencana perploncoan.


"Gleekk ..."


Celia menelan ludahnya kasar.


"Eh uda, hehe ... permisi ya uda." Celia berjalan melipir melewati kakak sepupunya. Siapa sangka, mas Fajar malah menarik lengan bajunya.

__ADS_1


"Mau kemana lagi, olahraga belum selesai."


"Ya mau naro belanjaan lah uda. Uda ga liat ini Celia bawa kantong belanjaan banyak gini, bantuin kek."


Celia menyerahkan beberapanya pada mas Fajar.


"Abis ini jangan harap bisa lolos kamu A min, ditungguin dari tadi bukannya pulang malah mampir."


Celia berjalan lesu kearah dapur, meletakkan kantong-kantong belanjaan, mencuci tangannya lalu pergi mengikuti mas Fajar ke teras depan, untuk apalagi kalau bukan untuk melanjutkan olahraga yang tertunda.


**** up, push up, back up, plank, hingga latihan pernafasan, kalau sudah begini mas Fajar akan memposisikan dirinya bak gym trainer.


Ambil hikmahnya, Celia tak perlu bersusah-susah pergi ke gym, pun tak perlu merogoh kocek alias gratis, karena si uda Aikidoka Black Belt YonDan -DAN 4- ini dengan senang hati akan menjadi personal trainer bagi adik sepupunya.


🍃🍃🍃


# Sayang, lagi apa? (Khai)


# Abis disiksa sama uda. (Celia)


# 😂 olahraga? (Khai)


# Iyaaaa 😭😭😭 (Celia)


# Biar sehat 😉 Semangat sayang 💪 (Khai)


# 🏳🏳


Celia berbalas pesan dengan Khai sembari menunggu keringat-keringat hasil kerja kerasnya meliatkan otot menjadi kering. Jangan tanya kemana orang yang selalu menyiksanya di hari sabtu yang harusnya Ceria, karena orangnya sudah ngacir pergi ke Dojo untuk latihan.


Ditempat Khai berada, ia tengah memandangi wajah cantik kekasihnya di layar ponsel, teringat bibir semanis madu milik Celia.

__ADS_1


Tahan iman Khai, jangan kebablasan, jangan rusak anak orang, cukup sekali aja khilafnya.


Semoga aku bisa segera menghalalkan kamu Celia. Batin Khai memohon pada Yang Kuasa.


__ADS_2