
Happy Reading 😉
🍃🍃🍃
Celia tersentak kaget, hampir saja ia menjerit, begitu juga Ulfi yang reflek ikut kaget dibuatnya.
Ketika Celia menoleh kebelakang untuk melihat siapa orang iseng yang menariknya, Celia malah dibuat lebih kaget lagi.
"Sorry ... sorry gak maksud ngagetin," Alim dengan polosnya menyilangkan dua jarinya ke udara.
"Astaghfirullah, mas Alim, tetep aja itu bikin Celia kaget." Celia mengusap pelan dadanya, pipinya yang chubby ia gembungkan, membuat bibirnya mengerucut lucu. Alim tertawa gemas melihat tingkah Celia, tak bisa dipungkiri, barulah Celia seorang yang bisa mengacak-acak hati dan dunianya. Seandainya Celia tahu, bagaimana hancurnya hati Alim kala putus dengannya.
"Ayo berenang, spot disana bagus lho," ajak Alim.
"Mas aja deh, Celia gak bisa berenang."
"Aku pegangin kaya tour guide tadi," Alim mengulurkan tangannya.
Celia ingin menolak, tapi ia tak enak hati pada Alim, tak bisakah ia berteman meski pernah ada kisah di antara mereka?! Celia dapat melihat ketulusan di dalam sorot mata Alim.
"Kalau mas pegang tangan Celia nanti mas Alim gak bisa berenang, Celia pegang tali pelampung mas Alim aja, kaya tadi waktu Celia pegang tali pelampung mas tour guide."
Apa kata dunia kalau mereka lihat Celia pegangan tangan sama mas Alim, bisa dikira cinta lama belum kelar ntar, apalagi ada pakdhe Rano disini. Mau nolak juga gak enak. Mas Alim, anggap aja ini sebagai tanda pertemanan kita, sekaligus permintaan maaf Celia. Khai, Celia gak selingkuh kok, hati Celia masih tetap punya kamu seorang.
Bukannya cepat-cepat berpegangan pada tali pelampung milik Alim, Celia justru melamun, asik dengan pikirannya sendiri.
"Cel ... Cel ... ," Alim mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Celia.
__ADS_1
"Eeh ... maaf mas," gadis cantik si kembang desa itu hanya bisa nyengir kuda.
"Yeee ... dia bengong, ayo buru pegang," Alim mengulurkan tali pelampungnya, dan Celia segera meraihnya.
Alim berenang perlahan menuju spot diving yang menurutnya indah dan masih bisa dijangkau oleh Celia. Celia berpegangan erat dengan kedua tangannya, sementara kedua kakinya mengayuh dan menendang berusaha menyeimbangkan dengan gerakan Alim, setidaknya itu yang bisa Celia lakukan, kan gak lucu Alim berenang sambil narik Celia sedangkan Celianya sendiri diem aja mirip gedebong pisang hanyut disungai.
Baru sebentar berenang Celia menarik Alim untuk berhenti, "Mmm ... mas, kayanya percuma deh mas Alim bawa Celia kesana, toh Celia kan ga bisa nyelem."
"Yaudah, kalau gitu aku ajak kamu berenang aja muter-muter."
Tanpa menunggu persetujuan Celia, Alim kembali berenang perlahan, mau tidak mau Celia mengikutinya. Mau dilepas kok ya takut tenggelam. Celia berdoa dalam hatinya semoga saja tidak akan ada masalah dikemudian hari hanya karena adegan berenang hari ini bersama Alim.
Kok rasanya seperti berkhianat ya, padahal Celia kan gak ngelakuin yang aneh-aneh sama mas Alim, tapi kenapa hati Celia gak tenang rasanya.
Celia kembali bergerak mengikuti Alim, mereka hanya berenang disekitar perahu, berputar kesana kemari beberapa kali. Beruntung semua diam tak menghiraukan dua anak manusia yang sudah berstatus mantan tersebut, mereka sudah asik dengan kegiatannya sendiri-sendiri, terkecuali Hari dan Bayu tentunya yang notabene mereka berdua adalah sahabat Celia. Sepertinya nanti Celia akan jadi bulan-bulanan dua sahabat kurang sajennya itu.
"Mas, Celia capek nih, boleh anter Celia ke perahu lagi gak?"
"Ya gak bisa gitu nanti mas Alim capek narik Celia, minta tolong anterin Celia ke perahu aja deh mas, lagi kayaknya mau udahan juga ini acara *snorkelingnya*." Pinta Celia pada Alim, sebenarnya Celia belum lelah, itu hanya alasannya saja agar ia tidak terus-terusan berenang berdua dengan Alim.
"Yaudah kalau kamu udah capek, ayo aku anter, pegangan lagi ya," Alim mulai berenang lagi menuju perahu, lalu membantu Celia naik, setelah itu Alim kembali berenang bergabung dengan teman-teman yang lain.
Setelah puas snorkeling, agenda selanjutnya adalah menuju ke Pulau Bulat. Sepanjang perjalanan Celia terus berpegangan kuat pada perahu, goncangan ombak meski tidak besar namun tetap saja itu membuat Celia was-was, untung saja Celia tidak mabuk laut. Sesekali percikan air laut yang menabrak perahu mengenai tangan Celia, airnya terasa sejuk ditengah cuaca terik meski sudah mau menjelang sore.
Sesampainya di Pulau Bulat Celia dan rombongan terlebih dahulu mengambil gambar untuk kenang-kenangan.
Sejak menginjakkan kakinya di Pulau ini, gadis cantik bermanik coklat itu tak henti-hentinya berdecak takjub akan keindahan yang memanjakan matanya. Pulau seluas 1,28 hektar milik salah satu keluarga tersohor di nusantara ini memang bukan destinasi utama wisata di gugusan kepulauan Seribu, namun karena keindahannya pulaunya sendiri yang juga sekaligus menyajikan panorama sunset yang memukau, serta hamparan pasir putih lembutnya, seakan menjadi daya tarik tersendiri untuk para wisatawan mengunjungi pulau itu.
__ADS_1
Celia dan rombongan berjalan kaki menyusuri jalan setapak mengelilingi pulau, disana Celia juga beberapa kali berfoto ria bersama teman-temannya, setelah lelah berkeliling Celia dan yang lainnya memutuskan untuk bermain air sembari melihat sunset.
Puas berkeliling dan melihat sunset di Pulau Bulat, tour guide mengajak mereka untuk kembali ke homestay di Pulau Pramuka.
Sampai di homestay, Celia bergegas untuk mandi sebelum antriannya panjang, karena hanya ada dua kamar mandi untuk homestay perempuan.
Malam harinya setelah makan malam acara dilanjutkan dengan ramah tamah, sambutan sekaligus pelepasan purna bakti. Agar acaranya tidak mengandung bawang panitia juga menyiapkan acara hiburan seperti pemberian hadiah untuk kategori karyawati ter_fashionable, ter_heboh, ter_rajin, dan juga ter_baik. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri ketika Celia masuk salah satu nominasi dan berhasil menyabet hadiah sebagai karyawati ter_fashionable.
Ketika Celia maju kedepan untuk menerima hadiah dari ibu Kepala Bagian, Alim selalu mencuri pandang kearah gadis cantik itu. Bukan tidak peka ataupun tidak tahu, Celia pun juga menyadari jika Alim selalu mencuri pandang pada dirinya, akan tetapi Celia lebih memilih seolah-olah dia tidak tahu dan tidak melihatnya.
"Acara selanjutnya adalah acara yang paling kita tunggu-tunggu ..."
Pembawa acara dadakan pada kegiatan malam hari itu membacakan urutan acara terakhir yaitu hiburan live musik, panitia sudah menyiapkan organ tunggal beserta pengiring musik dan penyanyinya.
Ada beberapa teman Celia yang menyumbangkan suara emasnya, sedangkan para pria memilih menikmati alunan musik sembari membakar ikan dan jagung di halaman.
Celia dan Dian duduk di depan aula, ya, mereka menyewa sebuah aula kecil untuk acara tersebut.
"Bocil, nyanyi lo," Bayu datang menghampiri Celia dengan membawa satu piring berisi ikan dan jagung bakar, lalu duduk disamping kiri Celia.
"Enggak ah, Celia gak bisa nyanyi, mending duduk disini sambil menikmati ikan bakar," tanpa aba-aba Celia mencomot daging ikan bakar di piring Bayu, lantas memasukkannya kedalam mulutnya sendiri.
"Hmmm, enak a', manis daging ikannya, nanti kalau abis aa ambil lagi ya! Mba Dian nih cobain enak lho," Celia mengambil piring ditangan Bayu dan menyodorkan pada Dian.
"Sok atuh abisin, emang itu sengaja gue bawain buat lo," ucap Bayu, kepalanya manggut-manggut dan bergoyang mengikuti alunan musik.
"Mantab, pengertian banget sih temen aku ini, uluh-uluh jadi pengen nabok pake duit segepok."
__ADS_1
"Yoyoiii ... " Bayu membisikkan sesuatu ditelinga Celia, "iya itu gue bawain buat lo, tapi dari Alim, doi sendiri lho yang bakarin ikan sama jagungnya, babang saksinya," kata Bayu santai sambil menaik turunkan alisnya.
"What ...," perkataan Bayu sukses membuat mata Celia membola.