Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 6 : Mulai Kerja


__ADS_3

Wow ... jadi ini kantornya pakdhe ya?!, eh! kantor tempat kerja pakdhe maksudnya, besarnya mashaAllah, mana sampingan sama mall lagi, ini kalo abis gajian bisa langsung bures duitnya, duh kok tambah deg-degan ya.


Setelah memarkirkan sepeda motornya, pakdhe Rano mengajak Celia untuk segera masuk ke dalam kantor. Bangunan berlantai empat itu terlihat begitu megah dimata Celia, hingga terkagum-kagum ia dibuatnya. Ruang kerja pakdhe Rano terletak di lantai paling atas, satu lantai dengan para Pimpinan, jadi mereka menggunakan lift untuk sampai kesana, fix! Celia semakin kagum saja rasanya.


Lift yang mereka naiki telah sampai di dilantai tujuan, begitu pintu lift terbuka, Celia dan pakdhenya segera keluar. Di depan lift itu ada sebuah pintu kayu berwarna coklat yang langsung menghubungkan dengan ruangan tempat kerja pakdhe Rano.


"Ini tadi lift belakang Cel, kalo naik lift ini bisa langsung ke ruangan, kalau pakai lift depan juga bisa tapi nanti sedikit memutar, lift ini paling dekat dari tempat parkir". Pakdhe memberi penjelasan.


"Ooo ... iya pakdhe". Sebenarnya Celia hanya setengah-setengah mendengarkan penjelasan dari pakdhenya, otaknya masih melanglang buana, belum connect sama servernya, karena dari tadi pikirannya terus sibuk mengagumi semua yang ada di dalam kantor itu.


Pakdhe Rano membuka handle pintu, lalu ia menyuruh Celia untuk masuk lebih dulu, ladies first dong.!


Dan begitu Celia masuk, foalaahhh ..!! Nampak olehnya ruangan yang cukup luas, bersih dan wangi, seperti yang sering ia lihat di televisi, ruang kerja dengan tiga belas kubikel dan beberapa kursi, dimana disetiap meja kubikel terdapat satu pesawat telepon, personal computer, scanner dan juga printer, nampak juga olehnya berkas-berkas yang tertata rapi di beberapa kubikel. Celia merasa minder, ia merasa kerdil, bagaimana tidak?! Ia hanyalah gadis desa, lalu tiba-tiba nasib membawanya berkelana hingga sampai ditempat se wah ini.


"Kamu duduk dulu disini Cel, nanti jam setengah sembilan baru interview dengan Kepala Bagian Sumber Daya Manusia, pakdhe antar nanti ke ruangan beliau". Pakdhe Rano bicara dari balik kubikelnya sembari merapikan meja kerja.


"Iya pakdhe, tapi nanti Celia tidak akan ditanya yang sulit-sulit kan pakdhe?" tanya Celia dengan nada cemas dan sepertinya ia mulai merasa mulas.


Pakdhe Rano tersenyum menjawab pertanyaan keponakannya, "yang penting kamu sudah belajar Cel, jawab saja apa yang ditanyakan nanti sesuai dengan kemampuan kamu, semampu yang kamu bisa, jangan panik, mau sarapan dulu?"


"Tidak pakdhe, terima kasih, Celia merasa kenyang pakdhe, pakdhe sarapan duluan saja". Celia meremas ujung kemejanya untuk menetralisir rasa gugup yg belum apa-apa sudah melanda hingga buku-buku jarinya nampak putih.

__ADS_1


Tak lama pintu belakang yang tadi dilewati Celia terbuka, menampilkan sesosok laki-laki cubby namun sedikit lebih tua dari Celia, "Assalamualaikum", ia melewati Celia, tersenyum dan sedikit mengangguk tanda sapaan padanya, Celia membalasnya dengan tersenyum.


"Wa'alaikumsalam, eh Hari, udah dateng Ri, kenalin Cel, ini namanya mas Hari, nanti mas Hari ini yang akan ngajarin kamu Cel". Celia dan Hari bersalaman dan saling berkenalan.


"Tolong bantuannya ya mas Hari, kalau nanti Celia beneran udah diterima dan kerja disini".


"Iya, santai aja Cel, nanti diajarin pelan-pelan". Hari berjalan ke kubikelnya, iamerapikan berkas-berkasnya untuk di pindahkan ke kubikel lain.


Ceklek ... pintu belakang kembali terbuka, dan terbitlah seorang om-om berpenampilan necis, kaca mata hitam, kemeja hitam dengan satu kancing terbuka, dan celana jeans ketat, jangan lupakan sepatu pantofelnya yang super mengkilat, Celia saja sampai tak berkedip melihatnya. Siapa pula ini orang ya, masa pegawai sini, kalau pegawai sini kenapa penampilannya beda dengan yang lain, ini sih lebih mirip om-om yang mau nganter istrinya arisan.


"Assalamualaikum, Hari ... pak Rano". Wa'alaikumsalam pak Yadi", pakdhe Rano dan Hari menjawab salamnya bersamaan.


"Hei pak Yadi, ponakan saya itu, jangan digodain! Cel, kenalin itu pak Yadi drivernya pak Kepala, dia si raja gombal, di kantor ini semua perempuan sudah digombali sama dia, hati-hati kamu", pakdhe rano tertawa.


"Hani, jadi kamu keponakan pak Rano yang mau kerja disini? Aaww ... jadi takut ah eike mau godain, takut di cubit pak Rano", pak Yadi bicara dengan gaya melambai membuat semua yang ada disana tertawa.


Ya Allah, ini kenapa ada om-om jejadian di Kantor begini, mana jadi drivernya Kepala lagi, kok bisa ya?!, kirain yang begini cuma mitos, gaya boleh cool ala-ala jaman Rhoma Irama masih muda, tapi kenapa dalemnya bercabang, hahaha, sakit lah perut Celia kalau nanti sering-sering ketemu pak Yadi. Celia tak dapat menahan tawanya.


"Jangan heran Cel, pak Yadi emang gitu orangnya, ajaib", Hari menimpali, ia saja geleng-geleng melihat kelakuan om-om hampir paruh baya itu. Setidaknya kedatangan pak Yadi sekejap mampu mengalihkan rasa gugup dan takut yang dirasakan Celia. Celia juga merasa sedikit lega, karena kelihatannya orang-orang disini baik-baik, tidak jahat seperti yang di sinetron ikan berenang.


Jam di dinding mulai menunjuk angka keramat untuk Celia, dimana jarum pendek di angka delapan sedang jarum panjangnya menunjuk angka lima. Jantung berdebar-debar tapi bukan debaran cinta, telapak tangan dingin dan berkeringat, bisalah keringatnya buat ngairin sawah. Sesekali Celia meraup udara dan menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


Kok rasanya mirip-mirip mau sidang skripsweet gini ya, meski ada pakdhe Rano tapi kan tetep aja ini interview pertama Celia. Pak ... buk, doain Celia, Celia sudah sampai di titik ini, Celia akan berjuang demi mewujudkan harapan bapak dan ibu melihat Celia sukses menjadi wanita karir. Anggaplah ini adalah sebuah tantangan untuk Celia, menapaki dunia baru yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Celia, sudah setengah sembilan ini, ayo pakdhe antar ke ruangan Kabag SDM, kamu bawa semua berkas lamarannya". Pakdhe Rano memberi instruksi.


"Baik pakdhe", Celia berjalan mantap mengikuti pakdhenya dengan membawa amplop coklat berisi berkas lamaran kerja miliknya, padahal kalau dikasih mic mungkin suara detak jantung Celia sudah seperti pertunjukan barongsai.


Tok ... tok ... tok ... pakdhe mengetuk sebuah pintu kaca lalu membukanya ketika sudah ada jawaban dari dalam, terlihat seorang pria paruh baya yang tengah duduk di kursi kebesarannya, di depan mejanya ada sebuah ukiran kayu bertuliskan Kabag SDM. Pakdhe Rano mengenalkan Celia pada pak Kabag, untuk selanjutnya dilakukan interview oleh beliau.


Proses interview berlangsung selama setengah jam. Hasilnya, hari ini juga Celia bisa langsung bekerja. Ia ditempatkan di Sub Bagian Tata Usaha Pimpinan, satu ruangan dengan pakdhe Rano. Selesai dari interview, pakdhe Rano membawa Celia menemui Kasubbag Tata Usaha Pimpinan (Ibu Fina) karena beliau adalah sebagai atasan langsung Celia. Bu Kasubbag memberikan penjelasan tentang jobdes Celia, tentang apa-apa saja yang harus Celia kerjakan, dan untuk trainingnya Celia akan dibantu oleh Hari.


Finally, Celia duduk di meja kubikelnya sendiri, menyeruak di dada. Pak ... buk ... maafin Celia ya, nggak seharusnya Celia sedih berlarut-larut, harusnya Celia bersyukur, di luar sana masih banyak orang yang kesulitan mencari pekerjaan, sedangkan Celia diberikan jalan yang lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan ini.


Dengan bantuan Hari, Celia mulai belajar sedikit demi sedikit seputar pekerjaannya. Celia mengerjakan apa yang sebelumnya menjadi jobdes Hari, dikarenakan Hari kini telah menjadi sekretaris Deputi. Meski sedikit mengalami kesulitan, Celia berusaha sebaik mungkin agar ia tidak membuat kesalahan di hari pertamanya bekerja. Selain dari Hari, Celia juga banyak belajar dari rekan kerjanya yang lain. Ia pun tak segan menanyakan sesuatu yang ia tidak mengerti, ingat pepatah malu bertanya sesat di jalan.


Di lain tempat, Khai baru saja pulang dari mengantar Nita ke tempat kerjanya, namun anehnya meskipun ia bersama Nita, dalam pikirannya justru terus terbayang-bayang wajah Celia. Bahkan ia tidak fokus ketika Nita mengajaknya bicara, dan hal itu tentu sukses membuat Nita sedikit merasa jengkel karena tidak biasanya Khai bersikap seperti itu padanya.


Selepas mengantar Nita, Khai langsung pulang ke rumah, sesampainya dirumah ia segera mandi, kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Ia senyum-senyum sendiri, roman-romannya hati dan pikiran Khai masih kompak memikirkan si pemilik wajah ayu yang di bonceng pakdhe Rano.


Sepertinya aku harus mencari tahu siapa gadis itu, wajah ayunya sulit sekali hilang dari ingatanku, mungkin besuk pagi aku bisa bertanya pada OB lantai empat tempat Pak Rano.


Khai sampai terlupa setelah jaga malam adalah jadwalnya libur, dan baru akan masuk lagi lusa, itu artinya Khai masih harus menahan rasa penasarannya untuk dua hari kedepan, sabar ya Khai.

__ADS_1


__ADS_2