LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[17] Bertemu Nina dan Ingatan Soal Hari Itu


__ADS_3

Dirga pulang kerumah setelah bertarung dengan lelah fisik dan psikis akibat banyak hal. Memasuki rumah yang tentu saja terkunci di pukul satu pagi, membuatnya memanjat pagar yang sebelum-sebelumnya kerap ia lakukan jika pulang di jam-jam seperti ini. Persetan dengan motornya diluar pagar, kalaupun ada yang ambil, semuanya akan ketahuan karena ia memasang alarm keamanan di motornya.


Memasuki rumah yang tentu saja sepi di pukul satu pagi, Dirga lebih dulu hinggap ke dapur. Dahaganya benar-benar tak tertolong lagi. Di tenggaknya satu botol air dingin dalam hitungan detik. Napasnya naik turun menetralkan air yang masuk ke tubuh.


Kepalanya berputar menyisir sisi rumah. Rumah besar ini bukti nyata tumbuhnya ia sejak usia lima tahun; memasuki sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai ke sekolah menengah atas yang masih hangat dalam ingatannya. Dirga benar-benar tersenyum lebar mengingat-ingat kisah hidupnya. Tak sadar usianya sudah hampir kepala tiga. Bahkan pernikahannya sudah mulai di persiapkan.


Oh iya, ngomong-ngomong tentang pernikahannya, sejauh ini ia belum berkontak dengan perempuan itu. Bagaimana kabarnya? Apa ia sudah dekat dengan Mama? Ah, bahkan nomornya saja Dirga tak punya.


Dirga sebetulnya sempat berniat untuk menemuinya segera. Bagaimanapun, perempuan itu akan menemani sisa hidupnya nanti. Ya ... itu kalaupun mereka bisa cocok selama menjalani bahtera rumah tangga. Dirga sempat tak yakin apakah ia bisa jadi laki-laki  yang bertanggung jawab. Semestinya memang begitu, tapi lagi-lagi Dirga mempertanyakan banyak hal yang akan terjadi nantinya.


Apakah dapat ia menjalani cinta sedang pertemuan mereka tak se-intens pasangan yang akan menikah lainnya? Tak ada sesi pendekatan sejauh ini. Bahkan ia dan Nina benar-benar tak memiliki kontak apapun setelah lamaran serius hari itu.


Mama memang menyinggung soal acara pernikahan yang keseluruhannya akan beliau urus dengan bantuan beberapa keluarga, ditambah wedding organizer yang dikelola salah seorang keluarga besarnya. Dirga mengatakan jika ia tak ambil pusing soal hal-hal yang berkaitan dengan acara, toh dia tak perlu banyak hal detil perihal penampilan nantinya. Dirga hanya mulai mencicil permintaan Mamanya soal berkas dan beberapa hal administratif lainnya.


Sebelum semua itu akan memusingkan pikirannya yang sudah lelah ini, ada baiknya Dirga segera memasuki kamar dan menikmati ranjangnya untuk meluruskan tubuh sebelum hari esok yang lebih mendebarkan.


Laki-laki itu tiba di kamarnya, menyalakan lampu, lantas menarik handuk untuk memasuki kamar mandi.


Air dingin akan menjadi solusi bagi penatnya hari yang telah ia lalui.


Selamat datang dirinya menuju fase kehidupan yang baru.


-


Dirga sudah keluar rumah sejak sebelum adzan subuh tadi, tapi jejak Mama masih belum terlihat juga di ruang makan. Kini sudah hampir setengah enam pagi, dan dengan langkah gontai, ia dudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Kemana Mama?


Menunggu sambil menikmati kukis kering buatan Mama, Dirga menyalakan televisi. Hari ini tayangan televisi dipenuhi dengan berbagai macam berita. Sungguh, Dirga benar-benar kudet-alias kurang update-karena keterbatasan waktu. Begitu pun dengan ponsel mahalnya yang hanya bisa tergeletak tak berdaya di dalam kantung bajunya.


"Assalamualaikum ..." Suara salam memasuki pendengarannya ketika ia lihat Mama berdiri di depan  pintu bersama seseorang.


"Waalaikumsalam." Dirga berdiri sambil menjawab salam dengan wajah terpana melihat siapa yang di bawa Mama pagi-pagi.


Seorang perempuan.


Mama tampak bergerak kearahnya, mengajak serta perempuan itu. Tiba-tiba ia menampakkan senyum kearahnya seraya menunduk setelahnya. Dirga menggaruk tengkuknya, membalas dengan senyum singkat. Mengapa Mama membawa perempuan itu kesini pagi-pagi sekali?

__ADS_1


"Hari ini Nina mau belajar masak kukis sama Mama. Kamu temani dia dulu ya, Mama mau ganti baju sebentar,” Ujar Mama padanya.


Perempuan itu masih berdiri disamping Mama.


“Nin, sama Aa’ dulu, ya? Mama ke dalam sebentar, ganti baju. A’, ajak Nina duduk.”


Sepeninggal Mama, perempuan itu hanya berdiri mematung setelah Dirga mempersilakannya masuk. Lalu mereka berdua duduk di sofa dengan saling berhadapan.


Kenapa dia jadi begini? Padahal semalam Dirga sudah bertekad untuk menemui perempuan itu, kan? Kenapa dia jadi ikut diam seribu bahasa?


Perempuan itu tahu-tahu membuka suaranya duluan.


"Pagi, Kak.” Katanya terdengar sedikit ragu.


“Oh iya, pagi,” Balas Dirga. Tak ingin hanya berdiam diri, ia pun berinisiatif memulai permbicaraan.


“Dari mana saja sama Mama?” Tanyanya. Kenapa ia jadi ikut-ikutan gugup padahal ini kedua kalinya mereka berbincang berdua saja seperti ini.


“Oh ... itu, tadi kami ke pasar setelah Mama jemput saya di kost.” Terang Nina yang dibalas anggukan oleh Dirga.


"Eh? Kok saling diam? Ngobrol dong kalian. Sudah mau menikah masih diam-diam begini." Terang Mama kembali setelah selesai berganti pakaian.


“Bisa saja kamu, A’,”


Nina terkekeh.


"Mama mau masak apa sekarang? Biar Aa’ belikan keluar." Inisiatif Dirga, hendak beranjak dari sana.


“Nggak, sudah Mama beli semua. Kalau mau, kamu bantu Mama disini, A’? Sekalian kita ngobrol-ngobrol sama Nina. Ya, Nin?” Tegur Mama melirik Nina dengan senyum.


Nina mengangguk, membalas senyum Mama. Matanya melirik Dirga yang masih duduk ditempatnya.


"Nggak deh, Mama dulu saja sama Nina." Tolak Dirga.


“Ya sudah kalau begitu. Yuk kita ke dapur, Nin. Kamu A’, bantu Mama bawa barangnya ke dalam, ya.”

__ADS_1


“Oke, Ma.”


Mama mendahului mereka, sementara Nina masih duduk ditempatnya, sebelum hendak mengekor dibelakang karena ia tampak repot dengan kaus kakinya yang akan ia lepas.


“Nina ... boleh saya bicara sama kamu setelah masak? Kayaknya kita terlalu kaku untuk ukuran orang yang sudah mau menikah.” Pinta Dirga menatap Nina di posisinya.


“Boleh, Kak.”


“Oke, ke dapur saja duluan, nanti saya menyusul. Terima kasih ya sudah menemani Mama masak hari ini.”


Nina yang sudah berdiri tak jauh dari Dirga yang juga berdiri, diam-diam menarik napas cepat.


Dari nada bicaranya, Dirga tampak tulus. Seolah dia benar-benar mensyukuri kehadiran Nina hari ini.


“Nina duluan, Kak.” Izinnya.


“Silahkan, nanti saya menyusul.”


Sepeninggal Nina, Dirga yang masih berdiri memandang kepergian perempuan itu, seketika menyentuh dadanya.


Detak jantungnya memompa cepat.


Dia nggak salah kan, berterima kasih kepada perempuan itu karena telah menemani Mama memasak hari ini?


Semoga Nina nyaman dengan hari ini.


-


Seharian ini Dirga hanya menyibukkan diri di dalam kamar. Entah itu bermain game online, atau sekadar berbincang dengan Firdaus dan teman-teman masa kecilnya. Beberapa hal yang ia bahas bersama Firdaus tadi, salah satunya soal Novia dua hari lalu. Setelah pergi meninggalkan Novia yang termangu sendirian, Dirga tak lagi menunjukkan batang hidungnya didepan perempuan itu. Dia langsung menukar jadwal dengan yang lain, lantas berlalu dari sana. Sejak kepergiannya dan sekembalinya ia kerumah, Dirga belum menghubungi Dahlan sama sekali.


Lama-lama dia merasa konyol mengurusi Novia yang jelas-jelas sudah dewasa. Belum lagi kata-kata asal yang mau tak mau ia dengar darinya.


Masih suka? Setan mana yang memberi tahu Novia kabar burung tak jelas itu?


Dirga memang tak yakin jika menyangkut perasaan, tapi dia merasa lebih baik dibandingkan ketika menerima kenyataan bahwa Novia menolaknya, dan menikah dengan orang lain. Namun, dengan teganya Novia berkata jika ia menyesal menikahi suaminya, dan berandai jika itu Dirga, mungkin kejadiannya akan berbeda.

__ADS_1


Memang apa bedanya dengan Dirga jika ia selingkuh? Tak ada jaminan jika mereka akan terus baik-baik saja jika Dirga menikah dengan Novia. Toh akhirnya pun mereka hanya tetap menjadi teman. Seharusnya Novia tak perlu membahasnya lagi, dipikir-pikir, perempuan itu terlalu jahat karena melibatkannya lagi seolah Dirga tak memiliki harapan cinta pada orang lain.


Nina mungkin ... ya, seharusnya sih begitu.


__ADS_2