![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Mama tak terlihat di meja makan karena melanjutkan tidur pagi ini sebab Mama baru sembuh dari demam mendadak dua hari yang lalu selepas pulang dari bogor.
Sebelum pulang dari hotel ke rumah hari itu, Mama meminta untuk pergi ke pemandian air panas, lalu esoknya Mama mengaku tak enak badan dan demam.
“Makan, Kak ...”
“Roti saja, Nin, jangan nasi.” Diatas meja makan, Nina hendak mengangkat centong nasi tapi tidak jadi setelah Dirga menginterupsinya.
Tangan laki-laki itu kini bergerak di tangan kanannya memasang arlojinya.
“Jangan pakai selai, telur saja.”
Nina baru menata roti dipiring, tapi Dirga lagi-lagi mengintrupsi.
“Sausnya sedikit, saja. Aku nggak terlalu suka saus, terima kasih Nin.” Dirga kembali menginterupsi.
Nina menghembus napasnya malas, memilih tak menjawab.
“Jangan, jangan, mayonaise aku sama sekali nggak suka. Mayo sudah ada kandungan telurnya, nanti jadi dobel telurnya.” Ujar Dirga lagi.
Nina masih sabar dengan diam meladeni suaminya yang ternyata cukup picky eater.
“Sayurnya?” Tanya perempuan itu pada akhirnya. Kini giliran dirinya. Dirga menatap Nina, lalu tersenyum dengan tidak biasa.
“Nggak usah ya, aku nggak terlalu suka selada. Segar, tapi suka pahit di akhir.” Terangnya dengan senyum.
Nina lalu membuang mukanya malas.
“Bukan aku yang marah ya nanti, tapi Mama.”
Dirga mengangguk.
“I know, asal jangan bilang saja.” Ujar Dirga seraya terkekeh.
Nina mengangguk lagi.
“Nggak janji.” Responnya singkat yang dijawab Dirga dengan dengusan.
__ADS_1
Keduanya duduk bersama di meja makan. Entah berapa banyak lagi waktu bercengkrama seperti ini akan hadir diantara mereka. Sedangkan setelah ini, Dirga lebih banyak di luar rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Kamu kelihatan nggak bersemangat, Nin? Ada masalah? Just cill, jalani saja hari-hari kayak biasa.” Tegur Dirga melihat Nina yang hanya terdiam dengan wajah datar memandangi piring rotinya.
Nina masih terdiam. Mungkin ini efek periode bulanannya yang datang semalam. Namun mengingat apa yang ia khawatirkan pagi tadi dan Dirga yang menyinggung soal ‘jangan rindu’ membuat moodnya berantakan. Padahal maksud Dirga adalah bercanda, tapi Nina terlalu menanggapinya serius.
“Siapa yang nggak bersemangat, Kak? Biasa saja, mungkin efek bulanan yang baru saja hadir semalam.” Ujarnya santai.
“Perlu aku belikan sesuatu sebelum berangkat? Ya ... biasanya perempuan yang sedang bulanan merasa nyaman kalau makan atau minum sesuatu, atau hal lainnya. Maaf ya aku nggak bisa bersama kamu dulu sementara waktu. Atau aku kirimkan saja nanti, bagaimana?” Tawar Dirga dengan tenang sambil mengigit rotinya.
Nina melirik laki-laki itu sekilas.
“Nggak apa-apa, Kak. Nina nggak terlalu biasa menuruti apa yang Nina mau walaupun pengin.”
“Nin ... Kali ini biar aku upayakan untuk kamu, ya? Kalau nggak mau dibelikan, pakai saja ATM yang pagi tadi aku kasih, ya ...”
Nina tak berujar lagi, dia mengambil fokus pada sarapannya seraya melirik Dirga sesekali.
Dia hanya merasa tak nyaman walau Dirga menunjukkan perhatian yang menurut Nina berbeda dari biasanya. Tak mengerti apa sebetulnya suaminya melakukan ini karena ia merasa bersalah saja, atau memang ingin membangun kesan yang baik pada hari pertama kepergiannya bekerja.
Nina merapihkan tasnya walau sarapan itu belum tandas. Tak menunggu lama, langsung berdiri kehadapan suaminya seraya mengulurkan tangan.
Laki-laki itu tampak tak mengerti apa yang istrinya mau, tapi kemudian Nina menginstrusikan untuk suaminya memajukan tangan.
“Cium tangan, Kak. Nina berangkat ya, semoga Kak Dirga selamat sampai tempat kerja dan sehat hingga pulang nanti. Nggak perlu khawatir soal Mama, insyaAllah nanti Nina yang menjaga Mama.” Putusnya seraya mencium punggung tangan sang suami takzim.
Tanpa menunggu Dirga memberi respon berikutnya, Nina sudah melenggang pergi.
Namun belum tiba di depan pintu, Dirga memanggilnya.
“Aku tahu kamu marah, tapi jangan simpan kemarahan kamu lebih lama lagi ya, Nin. Setidaknya sampai aku tiba nanti ...”
Ia hanya berhenti sejenak, tak mengindahkan lagi perkataan suaminya lantas berlalu cepat menuju luar.
Nina hanya tak ingin hatinya terlalu banyak menyimpan keinginan untuk mencinta, alih-alih tanggung jawab yang Dirga lakukan semata-mata itu kemampuannya selama ini.
Hidup berkecukupan, dengan harta berlebih.
__ADS_1
...-
...
“... Capek banget damn! Sumpah ya itu dosen ngerjain orang saja. Bisa-bisa tambau semesteran deh gue!”
“Iya ih, kesal banget gue. Mana nggak terbayang pula uang untuk tambah semester. Belum cari narasumber, buat penelitian, siapkan hadiah untuk narasumber pula! Ah ... campur aduk banget!”
Nina masih diam dalam posisinya yang duduk di depan gedung tempatnya baru saja selesai konsultasi bersama dosen pembimbing. Dirinya cukup terdistraksi dengan keluhan beberapa teman sesama bimbingan dengannya. Nina tahu, beasiswanya hanya selesai di semester delapan, sekarang sudah akan masuk semester delapan dan Nina tak yakin bisa selesai setengah dari bab yang ada akhir semester ini.
Bagaimana mencari uang tambahan untuk menutupi biaya beasiswa yang tak lagi dikeluarkan?
“Lo sih enak Nin sudah acc di bab tiga sekarang. Sudah mau mulai penelitian kan? Siap-siap deh cari narasumber untuk penelitian. Sudah terpikir juga nanti hadiahnya apa saja?” Tanya Kalia menatapnya.
Nina menoleh kesamping, Kalia yang duduk dibatas Tika menunggu jawaban darinya.
“Sudah siap sih kalau soal pertanyaan, pengelompokkan narasumber, tapi kalau soal hadiah ... memang harus semuanya? Bukan kah hanya sebatas penjawab yang terbaik?”
“Ya ... kalau mau banyak dijawab, banyak bahan penelitian, pastinya butuh banyak narasumber. Bahkan harus cari yang kompeten di bidangnya misalkan butuh narasumber kuat.”
Nina menggeleng diam-diam.
Ternyata setelah cobaan tempat tinggal selesai, kini berlanjut dengan cobaan kuliahnya seperti ini.
“Enak jadi si Melani, gue dengar-dengar dia sudah menikah lusa lalu. Suaminya kantoran gitu, kebayang deh ada yang bantu biaya skripsian. Ya ... walau menikah bukan solusi masalah skripsi yang alot ini, setidaknya dia nggak begitu pusing masalah biaya kecil dan remeh kayak begini. Buat kita sih berat juga, kerasa lah intinya.” Ujar Tika membuat Nina merefleksikan diri pada apa yang perempuan itu ceritakan.
Melani yang menikah, mendapat nafkah tambahan dari suaminya.
Bukankah Nina juga begitu?
Gengsinya terlalu besar untuk memasukkan kartu ATM Dirga pada mesin ATM. Membayangkan menggunakan uang suaminya itu pun Nina tak tahu. Ia hanya takut tak bisa mengembalikannya, atau semua hal itu berlangsung sebagai budi.
Jujur dia memang merasa hampa setelah Dirga memilih meninggalkannya tanpa penjelasan setelah merasa bodoh karena sudah menyatakan cinta lebih dulu-wich means seolah murahan. Walau itu wajar, tapi tanggapan Dirga tak sama. Dia memang baik, bertanggung jawab, namun semua itu semata-mata karena ia merasa perlu melakukan itu pada Nina.
Dia bukan seorang pekerja, Nina tak selalu butuh uang, walau nyatanya ia butuh.
Nina juga butuh menunmbuhkan cinta dalam hatinya, yang pada akhirnya hanya sebelah sisi saja.
__ADS_1
Konyol, ia menertawakan dirinya.
Haruskah Nina meminta Dirga untuk melepaskannya, atau memilih menggunakan uangnya yang suaminya itu berikan, lalu menutup mata akan semua yang ia rasakan?